Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘tim nasional’

Setelah lama ditunggu, akhirnya bayi podcast Indonesian Football Diary ini lahir juga dengan susah payah. Edisi perdana podcast ini mengambil topik soal situasi umum sepakbola Indonesia dewasa ini dengan narasumber: Wolga Setyanto dari @gilasepakbola, Aditya Nugroho (@aditchenko), dan Aleh Assegaf (@aleh21)

Sebagai edisi perdana, podcast yang satu ini lebih mirip bahan lawakan sebenarnya. Bagaimana tidak, host talkshownya saja tidak sadar di mana posisi kamera utama. Dasar amatir.

Sebenarnya podcast perdana ini terdiri dari 3 part yang tadinya hendak dibundel jadi 1, tapi berhubung kendala teknis, terpaksa dipecah menjadi 3 bagian terpisah yang akan diupload bergantian. Maklum, produksi gerilya.

Podcast ini gue produksi sendiri dengan bantuan Shani Budi Scorsese dari SaveAs TV.

Selamat menonton, menyimak, dan tertawa. Mudah-mudahan di edisi yang kemudian, presenternya sudah tahu posisi kamera di mana.

Advertisements

Read Full Post »

“Indonesia masih bisa lolos ke Piala Dunia 2014!”, “Indonesia bebas korupsi tahun depan!” “Singapura membekukan aset koruptor Indonesia”, “Syahrini berhenti memakai make-up”. Minuman apa pun yang anda pesan, saya mau segelas juga.

Kita kalah postur! Dari zaman ompung saya masih menerabas hutan Tarutung sampai sekarang, tinggi badan rata-rata orang Indonesia tidak pernah berubah, demikian juga dengan tinggi rata-rata pemain tim nasional kita. Maka alangkah tidak bijaknya menyalahkan postur badan ketika Javad Nekounam sukses dua kali menyundul bola yang merobek jala Markus Horison kemarin.

Markus sebenarnya bermain baik, terlebih di babak pertama saat berulang kali ia menyerobot umpan-umpan silang Iran yang tahu benar bahwa lawan mereka tidak diberkahi dengan postur menjulang.

Untuk tim sedominan Iran, sebenarnya mereka cukup cemen karena kurang garang di dalam kotak penalti. Di babak pertama, strategi offside Indonesia sukses berulang kali menjebak Iran, kecuali satu kali saat Zulkifli Syukur tertinggal di belakang layaknya pemudik yang ketinggalan kereta sapu jagat. Dari 4 pemain bertahan Indonesia, Zulkifli rasanya yang paling mengkhawatirkan semalam. Terlihat grogi saat kehilangan bola, tak heran Iran berulang kali menyerang lewat sisi kanan pertahanan Indonesia.

Kita memang kalah postur, tapi daripada mengutuk tinggi badan pemain kita yang pas-pasan, bukankah lebih baik mencari cara untuk mengatasi kekurangan itu? Tadinya saya mengharapkan Indonesia akan bermain taktis dengan bola pendek sebagai kompensasi tinggi badan, tapi para gelandang Indonesia kerap kalah bertarung di tengah sehingga lebih suka mengirim bola langsung ke depan.

Strategi route one macam itu sebenarnya tidak sepenuhnya inefektif karena Cristian Gonzales mempunyai kemampuan menjaga bola yang tidak dimiliki striker Indonesia lainnya. Gonzales juga yang set-up satu-satunya peluang Indonesia di babak pertama saat ia menyodorkan bola kepada Bambang Pamungkas yang tendangannya sayang masih melambung.

Tanpa adanya Boaz Solossa, Indonesia kehilangan variasi serangan. Apalagi Firman Utina sebagai dirigen gagal bersinar karena pressing ketat dari Iran. Dari kedua sayap Indonesia, M. Ilham terlihat lebih menjanjikan saat penetrasinya di kanan beberapa kali merepotkan bek lawan. Tapi capek-capek melewati bek lawan akan sia-sia jika keputusan terakhirnya adalah melepaskan umpan lambung ke kotak penalti yang dengan senang hati dihalau oleh bek-bek Iran.

Dua kali kebobolan lewat set-piece di babak kedua, postur badan tidak sepenuhnya bisa dijadikan kambing hitam, terlebih gol kedua. Aturan elementer bertahan dari bola mati adalah pilih pemain mana yang akan dijaga dan tempel terus kemana ia bergerak seperti Ashanty menempel Anang. Nyatanya, Nekounam bisa bergerak bebas dan menyundul bola tak terkawal.

Pelatih Wim Rijsbergen mencoba mengorek asa dengan memasukkan Irfan Bachdim di babak kedua, tapi yang membingungkan, ia menarik M Ilham yang cemerlang untuk memberi tempat bagi Tendangan Dari Langit. Butuh 80 menit bagi Rijsbergen untuk meyakini bahwa sudah saatnya Firman Utina diganti dengan Oktovianus Maniani. Saya pikir Okto bisa dimasukkan lebih cepat usai ketinggalan karena toh lini serang kita tak jalan.

Kredit patut diberikan pada Bambang Pamungkas dan Cristian Gonzales yang berulang kali terlihat ingin memainkan bola pendek satu-dua sentuhan walau berulang kali juga gagal. Ini jauh terlihat lebih masuk akal dibanding deretan umpan lambung yang sia-sia ke kotak penalti.

Ketiga lawan Indonesia di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia ini semuanya dari jazirah Arab dengan postur yang superior. Apakah kita harus berserah pada kenyataan fisiologis yang menyebabkan sehari sebelum pertandingan para wartawan sepakbola diyakini telah menulis template artikel, “Kita kalah postur dari <masukkan nama tim lawan di sini>”.

Kita adalah negara yang gemar membajak, dari zaman kartu telepon magnetik, DVD hingga jailbreak iPad. Orang Indonesia selalu menemukan celah untuk menembus proteksi/regulasi apa pun yang dirasa membatasi. Tugas Wim Rijsbergen (dan siapa pun pelatih tim nasional) adalah menemukan cara untuk “membajak” tinggi badan. Postur lawan selalu menyulitkan kita. Mencari cara untuk mengakali keterbatasan lebih berguna dibanding menyerah pada takdir tinggi badan.

Read Full Post »

It's so fuckin' easy, it's so fuckin' easy. Can we play you every week?

 

Pernahkah anda mengamati bagaimana cara kerja promotor musik internasional bekerja di Indonesia? Mereka akan memeriksa jadwal artis yang diincar dari jauh hari sebelumnya dan mengecek apakah mereka mempunyai jadwal tur Asia (lebih baik lagi Asia Tenggara). Jika dinilai bahwa artis tersebut potensial mendatangkan massa berlimpah, maka si promotor akan berusaha membujuk sang artis dan membajaknya agar singgah barang sejenak di Indonesia untuk menghibur para penggemar. Kenapa demikian? Karena menjadwalkan bermain di Indonesia tidak pernah terpikir oleh para artis mancanegara.

Demikian juga semifinalis Piala Dunia 2010, Uruguay. Tidak pernah terlintas dalam pikiran federasi sepakbola mereka di Montevideo bahwa Indonesia adalah negara yang akan mereka tuju dalam tur pertandingan persahabatan. Tidak mengherankan jika PSSI meminjam kiat Adrie Subono dan “membajak” Uruguay sebelum lawatan mereka ke China. Juara dunia dua kali tersebut pun menjejakkan kaki mereka di Jakarta pekan lalu.

Untuk ukuran pertandingan persahabatan, PSSI mematok harga tiket yang menggelikan. Harga tiket termurah adalah Rp 75.000 untuk kelas rata-rata dan Rp 150.000 untuk kelas II yang notabene terletak di belakang gawang. Harga tiket kelas I Rp 300.000 dan harga tiket kelas VIP yang mencapai angka Rp. 2 juta itu jelas-jelas di luar batas kewajaran. Saya tidak akan keberatan mengeluarkan uang Rp. 1 juta untuk menyaksikan sebuah pertandingan kompetitif, tapi untuk sebuah laga pemanasan? Keterlaluan.

....dan kursi-kursi yang kosong itu....

 

Di sinilah terasa sekali bahwa PSSI memperlakukan para penonton sepakbola Indonesia sebagai sapi perah yang dungu. Dengan mendatangkan tim sekelas Uruguay dan mematok harga tiket tinggi, penonton kita dianggap sama seperti penonton Java Jazz yang datang ingin menonton artis pujaan dan terhibur. Kita tidak dianggap sebagai bagian dari mereka yang bermain dengan lambang Garuda di dada sebelah kiri sehingga mereka tidak terlalu peduli bahwa sebagian besar kursi GBK kosong karena banyak orang yang tidak sanggup menebus harga tiket yang sedemikian mahal.

Beberapa hari sebelum pertandingan saya sudah mengurus akreditasi pers walaupun ragu mendapatkannya karena ada kesalahan teknis. Tapi dari jauh hari saya telah merasakan bahwa menonton sepakbola dari area wartawan sungguh seperti menonton film porno tanpa boleh masturbasi dan bersuara. Tidak ada emosi di sana. Sebelum saya mengajukan akreditasi pers, saya telah berpikir untuk membeli tiket saja dan bergabung dengan mereka yang berdiri di tribun. Akhirnya saya memutuskan untuk memesan tiket kelas II lewat seorang teman dan menjadi dilema saat akreditasi pers saya ternyata disetujui. Setelah menimbang dengan seksama, maka saya merelakan kartu pers tidak terpakai dan membiarkan seratus lima puluh ribu Rupiah raib dari dompet.

Pertandingan digelar jam 8 malam, tapi karena ada undangan screening film terbarunya Andibachtiar Yusuf, HOPE di Kemang pada jam 3 sore, maka sejak siang saya telah berkeliaran di Senayan dan memarkir mobil di pusat perbelanjaan terdekat. Menembus Jakarta di hari Jumat petang lebih sulit dari membongkar pertahanan tim lawan yang memarkir 10 pemain di dalam kotak penalti. Menonton HOPE sebelum menyaksikan tim nasional bermain menyulut semangat lebih besar untuk buru-buru datang ke GBK (Review film ini akan saya muat di blog yang lain). Sebelum jarum menunjukkan pukul 6 sore, saya dan Iwan Widjaya memutuskan menerjang hujan dan jalanan Jakarta yang laknat itu menuju katedral sepakbola Indonesia, Gelora Bung Karno. Ada perasaan yang tak terjelaskan saat anda dalam perjalanan untuk menyaksikan tim nasional sepakbola anda berlaga. Saya tidak tahu apakah anda merasakannya juga, tapi saban kali Indonesia akan berlaga, anda akan melihat banyak kendaraan bermotor yang memasang bendera Merah Putih. Tidak asing untuk melihat orang yang dibonceng di atas motor mengibarkan bendera Merah Putih, sesuatu yang tidak anda lihat pada 17 Agustus sekalipun.

Karena Iwan memilih untuk memakai akreditasi persnya, kami pun berpisah dan bergabung dengan rekan-rekan United Indonesia yang membantu saya mendapatkan tiket yang seperti biasa penjualannya agak ribet. Sejam sebelum pertandingan saya telah masuk ke tribun kelas II yang terletak di sebelah kanan layar televisi. Karena terletak tepat di belakang gawang, maka saya menganggap saya berada di Stretford End saat itu. Hal pertama yang mengganggu mata saya setiba di dalam stadion adalah spanduk menggelikan di bawah ini:

Saya PRIHATIN atas spanduk ini

 

Terima kasih kepada SBY? Atas dasar apa? Karena ia datang ke GBK untuk menghadiri partai seremonial ini? Atau karena ia mencetuskan Kongres Sepakbola Nasional di Malang tempo hari yang tidak lebih dari sekedar ajang silaturahmi pengurus PSSI dengan wartawan? Ada beberapa spanduk serupa di sepanjang tribun timur sehingga mengundang kecurigaan bahwa sebenarnya spanduk-spanduk tersebut adalah buatan oknum PSSI sendiri. Menyedihkan. Spanduk lainnya berbunyi “Maju Terus PSSI…”, absurd.

Saat pengumuman starter kedua tim, nama Luis Suarez yang paling banyak mendapat sambutan penonton. Aneh bagi saya melihat suporter kita bersorak untuk pemain lawan. Walaupun ia berkelas dunia, siapa pun yang memakai kostum selain Merah Putih adalah lawan. Sebelum pertandingan saya cemas apakah nanti para penonton malah akan bersorak gembira bila para pemain lawan yang selama ini kita lihat di layar kaca seperti Suarez atau Cavani menjebol gawang timnya sendiri. Belum lagi antusiasme berlebih masyarakat akan pertandingan ini seolah-olah ini adalah partai terakhir yang menentukan lolosnya kita ke Piala Dunia.

Tribun sebelah kanan dihuni mereka yang percaya Indonesia akan menang. Tribun sebelah kiri sebaliknya. Suara rakyat suara Tuhan.

 

Momen yang paling menggetarkan setiap menyaksikan tim nasional berlaga adalah saat Indonesia Raya berkumandang di udara. Saya dan puluhan ribu kompatriot di dalam stadion mengangkat syal Merah Putih kami tinggi-tinggi dan menyanyikan Indonesia Raya. Saya tidak pernah menganggap diri nasionalis dan satu-satunya event di mana saya menyanyikan lagu kebangsaan dengan sepenuh hati hanya pada saat pertandingan sepakbola. Nasionalisme bagi saya hanya eksis di arena olahraga.

"Teman-teman, kita boleh kalah kelas tapi jangan sampai kebobolan 7 gol. In-do-ne-siaaaaa!"

 

Saya tidak mengenali permainan tim negara saya pada 20 menit pertama. Semangat yang tinggi dan keberanian untuk mengolah bola serta memainkan bola pendek tidak mencerminkan Indonesia yang saya kenal selama ini. Adrenalin membuncah keluar saat Bambang Pamungkas melepaskan umpan terobosan brilian yang menyebabkan kartu as kita, Boaz Solossa berhadapan langsung dengan kiper Juan Castillo. Si Mutiara Hitam ini menggocek Castillo dan menceploskan bola ke gawang yang kosong. GBK meledak.

Boaz Solossa membuat versi sendiri dari adegan Forrest Gump lari dari lapangan American Football

 

Kita bertahan dengan sporadis sampai menit 30. Penampilan Nova Arianto dan Maman Abdurahman dikritik habis pada babak kedua, tapi sesungguhnya mereka sempat membuat Suarez dan Cavani frustrasi pada setengah jam pertama. Yang terjadi selanjutnya adalah kehabisan tenaga dan itu bukanlah sesuatu yang baru bagi kita yang dulu pernah menahan imbang Uni Soviet ini

Memang Edinson Cavani yang berpostur 184 cm itu membuat Nova dan Maman bagaikan dua orang point guard yang mencoba mengawal seorang center, tapi perbedaan fisik tidak pernah sah menjadi alasan. Dengan posisi di belakang gawang, saya bisa melihat jelas bagaimana koordinasi lini pertahanan kita yang sekenanya. Kita selalu kocar-kacir setiap Uruguay mengirim bola ke sayap dan buruknya pemahaman taktik kita bukanlah penemuan terhebat di dunia.

Alfred Riedl memasukkan dua pemain muda, Yongki Aribowo dan Oktovianus Maniani di babak kedua. Yongki adalah favorit saya dan ia membuktikan kelasnya ketika ia membuat sebuah turn yang akan membuat Wayne Rooney bangga. Okto menawarkan kecepatan dan rasanya kerjasamanya dengan Boaz di masa depan akan membuat barisan pertahanan mana pun bergidik. Tapi terlalu sedikit waktu yang mereka dapatkan untuk memberi impresi lebih.

Saya sedih dan kesal saat pemain kesayangan kita selama bertahun-tahun, Bambang Pamungkas dicemooh penonton saat ditarik keluar. Para penonton merasa tidak puas dengan performa Bepe yang dituduh malas di lapangan. Di sinilah titik yang saya tidak mengerti dari mayoritas suporter kita. Bagaimana bisa mereka mencemooh pemain mereka sendiri yang berkontribusi satu assist malam itu? Banyak orang menuduhnya pemalas karena enggan berlari dan minim ledakan, tapi bukankah Zinedine Zidane dan Dimitar Berbatov juga terlihat sama malasnya? Kita perlu menyadari bahwa bermain bagus dalam tim sepakbola itu tidak melulu harus berlari kencang dan mendribel bola ala Ronaldinho. Saat Piala Dunia kemarin banyak orang kita yang menuding Sergio Busquets tidak pantas menjadi starter karena ia hanya bisa membagi bola pendek kepada Xavi dan Iniesta, padahal tugasnya memang hanya itu! Kerangka berpikir yang sama mungkin dipakai oleh mereka yang mencemooh Bambang hari Jumat malam itu.

Uruguay menggelontorkan tujuh gol ke gawang Markus Horison dan penonton mulai bersorak pada dua gol terakhir karena mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi. Mereka merasa dipermalukan, tapi saya tidak. Skor 7-1 lebih baik dari selisih dua digit yang saya perkirakan sebelumnya.

Senyum bisa tersungging di bibir saya ketika sebelum pertandingan berakhir karena teriakan ”Nurdin Turun!” bergema di seantero GBK. Hanya beberapa tribun yang meneriakkannya, termasuk tribun rata-rata yang tepat di atas tribun saya. Beberapa waktu sebelumnya saya sempat berbincang dengan Arista dan memang rekan-rekan suporter ingin menggelar aksi anti Nurdin Halid. Saya percaya bahwa medium yang paling tepat untuk demonstrasi bagi suporter sepakbola adalah di dalam stadion saat pertandingan berlangsung. Anda tidak tahu betapa senangnya saya melihat hal itu terwujud. Lebih banyak penonton yang tersenyum mendengar seruan itu dibanding turut menebalkan suara, tapi saya merinding saat melihat tribun seberang yang mayoritas dihuni The Jak menyambut teriakan kami. Kemarin Nurdin Halid mengklaim bahwa para suporter yang menghendakinya turun tersebut adalah suporter bayaran. Feck off, saya membayar 150 ribu Rupiah untuk masuk ke dalam stadion dan jika itu adalah harga yang harus saya tebus untuk berteriak ”Nurdin Turun!”, maka merelakannya dengan senang hati.

Dalam perjalanan menuju lapangan parkir, saya berpapasan dengan segerombol ABG yang sedang bernyanyi I’m Forever Blowing Bubbles disambung chant ”United…United…” sambil bertepuk tangan. Saya terperangah takjub melihat pengaruh Green Street Hooligans kepada para remaja karena ini bukan pertama kalinya saya bertemu para ”penggemar” West Ham United di Indonesia. Saya gatal dan ingin iseng bertanya apakah mereka kenal nama Sir Trevor Brooking, tapi saya pikir, ya sudahlah…

NB: Saya bukan penggemar Bondan Prakoso.

Read Full Post »