Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘PSSI’

Setelah lama ditunggu, akhirnya bayi podcast Indonesian Football Diary ini lahir juga dengan susah payah. Edisi perdana podcast ini mengambil topik soal situasi umum sepakbola Indonesia dewasa ini dengan narasumber: Wolga Setyanto dari @gilasepakbola, Aditya Nugroho (@aditchenko), dan Aleh Assegaf (@aleh21)

Sebagai edisi perdana, podcast yang satu ini lebih mirip bahan lawakan sebenarnya. Bagaimana tidak, host talkshownya saja tidak sadar di mana posisi kamera utama. Dasar amatir.

Sebenarnya podcast perdana ini terdiri dari 3 part yang tadinya hendak dibundel jadi 1, tapi berhubung kendala teknis, terpaksa dipecah menjadi 3 bagian terpisah yang akan diupload bergantian. Maklum, produksi gerilya.

Podcast ini gue produksi sendiri dengan bantuan Shani Budi Scorsese dari SaveAs TV.

Selamat menonton, menyimak, dan tertawa. Mudah-mudahan di edisi yang kemudian, presenternya sudah tahu posisi kamera di mana.

Advertisements

Read Full Post »

Playmaker Indonesia?

Setelah sekian lama tidak ada entri baru di blog berdebu ini, Aditya Nugroho dari Football Junkie menuntaskan kerinduan anda

Playmaker. Trequartista. Fantasista. Atau apapun sebutannya dalam sepakbola adalah seorang pemain yang memiliki karakteristik spesial. Spesial karena lewat pemain di posisi inilah sering kali permainan sebuah tim bergantung. Pemain ini menghubungkan lini depan dan belakang, biasanya bernomor punggung 10, memiliki visi yang jelas dalam permainan dan utamanya adalah mempraktekkan strategi pelatih kedalam lapangan. Pemain seperti Johan Cruyff, Zinedine Zidane maupun Maradona seringkali sendirian menentukan hasil pertandingan timnya. Pemain ini adalah roh dari tim, pemain ini adalah strategi dari tim itu sendiri. Itulah playmaker pada tingkat tertingginya.

Ada juga pemain yang menentukan alur permainan tim. Bermain cepat, lambat, direct maupun dari kaki ke kaki layaknya seorang dirigen dalam simfoni musik. Andrea Pirlo, Xavi Hernandez, Xabi Alonso adalah contoh dari sedikit pemain tersebut. Bahkan ada sebutan lazy wizard, sebutan untuk seorang pengatur serangan yang malas berlari tapi punya skill luar biasa seperti Juan Roman Riquelme ataupun almarhum Socrates.

Di Indonesia, pemain dengan posisi dan peran seperti maestro diatas sebenarnya cukup banyak dihasilkan pada tahun 80-90an, hanya dengan tingkatan prestasi dan kebintangan yang berbeda dari playmaker-playmaker dunia tersebut. Terhitung Yoesoef Bachtiar, Fachry Husaini, Ansyari Lubis, Francis Wewengkang hingga Eduard Ivakdalam. Mereka adalah pengatur permainan papan atas Indonesia pada masa jayanya.

Tetapi dalam 10 tahun terakhir ini, pemain Indonesia berkarakter demikian sangat langka. Tercatat hanya Firman Utina, Ahmad Bustomi dan kini Egi Melgiansyah saja yang memiliki kemampuan mengatur permainan. Mantan pelatih Alfred Riedl bukannya tidak menyadari permasalahan ini. Dia mengeluhkan terbatasnya pemain lokal berposisi playmaker di kompetisi Liga Indonesia.

Anehnya, ini adalah fenomena yang mulai terjadi sejak kepemimpinan rezim sebelum sekarang. Posisi pemain-pemain ini di klub Liga Indonesia sudah nyaman diduduki pemain-pemain asing. Zah Rahan, Danilo Fernando, Ronald Fagundez, Milijan Radovic sampai Robertino Pugliara semuanya bukan pemain lokal. Gelandang-gelandang lokal kebanyakan berposisi sebagai gelandang bertahan yang berkarakter keras, bukan karakter flamboyan, karena memang posisi pengatur permainan seolah sudah dipatenkan untuk pemain asing. Ada juga pendapat kerasnya permainan di Indonesia juga menjadi faktor terkikisnya peran seorang fantasista. Keras karena karakter atau keras karena wasit sering membiarkan pelanggaran berbahaya terjadi tanpa dihukum? Tanya kenapa.

Seperti apapun strategi tim, dan se-rigid apapun formasi sebuah tim, peranan playmaker tetaplah penting. Manchester United walaupun terkenal memberikan nomor 10nya kepada striker utama, tetap merindukan Paul Scholes yang memiliki kemampuan memegang kendali permainan. Seperti halnya Jerman yang mampu memaksimalkan Bastian Schweinsteiger dan Mesut Ozil di akhir era Michael Ballack.

Untuk itu semoga klub-klub Indonesia, khususnya ISL berani memberikan kepercayaan posisi strategis ini kepada pemain lokal. Hanya Firman, Bustomi dan Egi sebagai output dari kompetisi dalam bentuk playmaker bukanlah hal baik bagi persepakbolaan Indonesia, khususnya tim nasional. Kita butuh playmaker lokal berkualitas internasional. Malaysia sekarang punya Baddrol dan Safiq. Indonesia tentu butuh sesosok playmaker yang bisa bermain di wilayah setengah lapangan lawan, sehingga serangan tidak melulu melalui long-pass dari full-back ataupun gelandang bertahan, serta tidak sporadis mengandalkan kecepatan lari striker. Permainan seperti itu jelas sudah usang, dan pastinya tidak menarik dan terbaca lawan.

Pemain tidak bisa disalahkan, karena timnas yang kita saksikan adalah produk dari kompetisi. Apa yang kita saksikan bersama adalah cerminan kompetisi kita. Permainan keras, tekel berbahaya, umpan lambung, serangan sporadis, mental labil adalah pemandangan yang akan kita tetap saksikan, dan kekalahan akan tetap kita akrabi. Kata-kata pelipur lara akan terus jadi sahabat kita, dan adik-adik kita penggemar sepakbola dan calon penerus penghuni timnas hanya akan bisa mendengar cerita pedih kekalahan senior-seniornya. Jika ingin melihat pemain dengan visi sebaik Paul Scholes, umpan seakurat Andrea Pirlo dan daya jelajah sejauh Ramires dan punya prestasi secemerlang mereka, atau perkembangan sepesat timnas Jepang, kita harus merubah semuanya. Merubah sikap dan pendekatan, dimulai dari merubah kompetisi.

Read Full Post »

“Indonesia masih bisa lolos ke Piala Dunia 2014!”, “Indonesia bebas korupsi tahun depan!” “Singapura membekukan aset koruptor Indonesia”, “Syahrini berhenti memakai make-up”. Minuman apa pun yang anda pesan, saya mau segelas juga.

Kita kalah postur! Dari zaman ompung saya masih menerabas hutan Tarutung sampai sekarang, tinggi badan rata-rata orang Indonesia tidak pernah berubah, demikian juga dengan tinggi rata-rata pemain tim nasional kita. Maka alangkah tidak bijaknya menyalahkan postur badan ketika Javad Nekounam sukses dua kali menyundul bola yang merobek jala Markus Horison kemarin.

Markus sebenarnya bermain baik, terlebih di babak pertama saat berulang kali ia menyerobot umpan-umpan silang Iran yang tahu benar bahwa lawan mereka tidak diberkahi dengan postur menjulang.

Untuk tim sedominan Iran, sebenarnya mereka cukup cemen karena kurang garang di dalam kotak penalti. Di babak pertama, strategi offside Indonesia sukses berulang kali menjebak Iran, kecuali satu kali saat Zulkifli Syukur tertinggal di belakang layaknya pemudik yang ketinggalan kereta sapu jagat. Dari 4 pemain bertahan Indonesia, Zulkifli rasanya yang paling mengkhawatirkan semalam. Terlihat grogi saat kehilangan bola, tak heran Iran berulang kali menyerang lewat sisi kanan pertahanan Indonesia.

Kita memang kalah postur, tapi daripada mengutuk tinggi badan pemain kita yang pas-pasan, bukankah lebih baik mencari cara untuk mengatasi kekurangan itu? Tadinya saya mengharapkan Indonesia akan bermain taktis dengan bola pendek sebagai kompensasi tinggi badan, tapi para gelandang Indonesia kerap kalah bertarung di tengah sehingga lebih suka mengirim bola langsung ke depan.

Strategi route one macam itu sebenarnya tidak sepenuhnya inefektif karena Cristian Gonzales mempunyai kemampuan menjaga bola yang tidak dimiliki striker Indonesia lainnya. Gonzales juga yang set-up satu-satunya peluang Indonesia di babak pertama saat ia menyodorkan bola kepada Bambang Pamungkas yang tendangannya sayang masih melambung.

Tanpa adanya Boaz Solossa, Indonesia kehilangan variasi serangan. Apalagi Firman Utina sebagai dirigen gagal bersinar karena pressing ketat dari Iran. Dari kedua sayap Indonesia, M. Ilham terlihat lebih menjanjikan saat penetrasinya di kanan beberapa kali merepotkan bek lawan. Tapi capek-capek melewati bek lawan akan sia-sia jika keputusan terakhirnya adalah melepaskan umpan lambung ke kotak penalti yang dengan senang hati dihalau oleh bek-bek Iran.

Dua kali kebobolan lewat set-piece di babak kedua, postur badan tidak sepenuhnya bisa dijadikan kambing hitam, terlebih gol kedua. Aturan elementer bertahan dari bola mati adalah pilih pemain mana yang akan dijaga dan tempel terus kemana ia bergerak seperti Ashanty menempel Anang. Nyatanya, Nekounam bisa bergerak bebas dan menyundul bola tak terkawal.

Pelatih Wim Rijsbergen mencoba mengorek asa dengan memasukkan Irfan Bachdim di babak kedua, tapi yang membingungkan, ia menarik M Ilham yang cemerlang untuk memberi tempat bagi Tendangan Dari Langit. Butuh 80 menit bagi Rijsbergen untuk meyakini bahwa sudah saatnya Firman Utina diganti dengan Oktovianus Maniani. Saya pikir Okto bisa dimasukkan lebih cepat usai ketinggalan karena toh lini serang kita tak jalan.

Kredit patut diberikan pada Bambang Pamungkas dan Cristian Gonzales yang berulang kali terlihat ingin memainkan bola pendek satu-dua sentuhan walau berulang kali juga gagal. Ini jauh terlihat lebih masuk akal dibanding deretan umpan lambung yang sia-sia ke kotak penalti.

Ketiga lawan Indonesia di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia ini semuanya dari jazirah Arab dengan postur yang superior. Apakah kita harus berserah pada kenyataan fisiologis yang menyebabkan sehari sebelum pertandingan para wartawan sepakbola diyakini telah menulis template artikel, “Kita kalah postur dari <masukkan nama tim lawan di sini>”.

Kita adalah negara yang gemar membajak, dari zaman kartu telepon magnetik, DVD hingga jailbreak iPad. Orang Indonesia selalu menemukan celah untuk menembus proteksi/regulasi apa pun yang dirasa membatasi. Tugas Wim Rijsbergen (dan siapa pun pelatih tim nasional) adalah menemukan cara untuk “membajak” tinggi badan. Postur lawan selalu menyulitkan kita. Mencari cara untuk mengakali keterbatasan lebih berguna dibanding menyerah pada takdir tinggi badan.

Read Full Post »

 

 

 

 

 

 

Aldhi Febrianto menumpahkan uneg-unegnya soal pemecatan mendadak Alfred Riedl sebagai pelatih tim nasional Indonesia

Kemarin sore (Rabu 13 Juli) saya sedang iseng gak ada kerjaan di rumah. Seperti biasa, akhirnya saya hanya buka – buka timeline Twitter saya. Ada satutweet dari @detikcom yang berbunyi “Riedl Bukan Lagi Pelatih Timnas Indonesia” beserta link beritanya. Pertama saya baca biasa saja. Tapi kemudian berpikir “Riedl dipecat??!!”. Saya sangat terkejut

Berita itu kemudian diikuti tweet-tweet berita berikutnya yang lebih mendetail.

Alasan pemecatan Alfred salah satunya adalah untuk “Penyegaran”. Ya, kata itu yang keluar dari mulut Bapak Djohar Arifin selaku ketua PSSI yang baru. Penyegaran? Apa yang mau disegerin coba? Dan apakah memecat pelatih di H – 11 pertandingan Pra Piala Dunia akan membuat tim menjadi segar?

Kemudian tertulis juga bahwa PHK terhadap Alfred juga disebabkan oleh kontrak beliau yang tidak jelas. Alfred mengikat kontrak terhadap individu (yang kabarnya adalah salah satu pengusaha terkaya di dunia yang sering berkecimpung di dunia sepakbola nasional, anda tahulah siapa.) dan bukan terhadap PSSI. Jadi, pengurus PSSI yang baru tidak dapat memeriksa keabsahan kontrak itu, kontrak itu menjadi tidak jelas.

Eaaaa… kok jadi gini? Apakah masalah ini tidak bisa ditunda sampai sesudah pertandingan Pra Piala Dunia Melawan Turkmenistan? Timnas U-23 yang sudah dipersiapkan jauh – jauh hari saja masih keok di Pra Olimpiade (sama Turkmenistan juga) apalagi sekarang pakai ganti pelatih di tengah jalan segala ( H – 11 men..)?

Apakah PSSI kurang mengapresiasi jasa Alfred (Beliau lebih suka dipanggil Alfred, daripada Riedl)? Karena timnas yang dipoles oleh beliau, timnas mampu bermain cantik. Animo masyarakat Indonesia terhadap timnas pun menjadi gila. Pertandingan AFF Cup timans Indonesia selalu dibludaki oleh suporter, bahkan sampai ada (banyak) yang melawat ke Malaysia saat timnas bermain disana. Sedikit banyak ini adalah jasa Alfred. Bukankah itu adalah rapor pekerjaan yang memuaskan?

Untuk menukangi timnas di dua laga PPD, PSSI menunjuk Wim Rijsbergen, yang sebelumnya menukangi PSM Makassar di LPI. CV nya sih lumayan oke, pernah melatih beberapa klub Eredivisie dan menjadi asisten pelatih Leo Beenhakker saat menukangi Trinidad-Tobago di Piala Dunia 2006. Okelah. Hanya, dalam waktu 11 hari dan dengan pemain yang bukan pilihannya (Alfred sudah memanggil pemain untuk PPD) bisakah dia meramu komposisi tim yang oke?

Ada kabar lagi bahwa Alfred Riedl mengaku meneken kontrak bersama PSSI, bukan ke individu seperti yang dituduhkan. Dan beliau ingin mengajukan kasus ini ke FIFA. Duh, ada – ada saja ya masalah di sepakbola kita.

Walaupun begitu, negara kita pernah dibuat terpesona oleh pekerjaan Alfred. Beliau hampir membawa kita ke mimpi yang tertinggi. Kekalahan di final AFF kemarin juga bukan kesalahan beliau sepenuhnya (bukan salah dia sama sekali malah menurut saya). Tapi bila pemecatan ini adalah hal terbaik bagi kedua belah pihak, saya (dan mungkin seluruh rakyat Indonesia) hanya ingin mengucapkan..

Terima Kasih Opa Alfred Riedl 🙂

Read Full Post »

“Ya, Bung. Kalau mau revolusi, banyak yang mundur. Tapi kalau sudah menang, banyak yang mau ikut.” – Sjam Kamaruzaman

Gerbong revolusi kerap kali ditemukan mengangkut kontainer yang berbeda dengan harapan ketika sampai ditujuan. Revolusi  sering kali hanya memindahkan mahkota dari satu kepala despot ke despot lainnya, layaknya menjatuhkan Tsar Nicholas untuk mengangkat Lenin lalu Stalin atau mendepak Shah Reza Pahlevi untuk merajakan Khomeini. Biasanya rakyat dituntut mafhum, yang melawan akan dilabeli “musuh revolusi”.

Sepakbola Indonesia baru saja melewati akhir dari sebuah rezim yang begitu lama mencokok PSSI. Revolusi, kata mereka. Ketua dan wakil ketua PSSI beserta 9 anggota Executive Committee telah terpilih dan di atas pundak merekalah kita menaruh segala harapan, termasuk angan-angan kembali jadi Macan Asia yang sering kali ketinggian.

Dengan terpilihnya para pengurus PSSI yang baru, maka lazim jika berbagai perubahan kebijakan drastis dilakukan termasuk penunjukan pelatih tim nasional yang baru meski harus ditelaah lebih lanjut apakah bijak melakukannya selang 10 hari dari pertandingan perdana.

Tapi tuan-tuan, apa yang harus kita awasi dengan seksama adalah segala kebijakan baru yang diambil harus dilandasi semangat perubahan ke arah sepakbola Indonesia yang lebih baik. Kita tak bisa lagi menolerir aksi-aksi pengayaan parsial rezim terdahulu yang terbukti memarjinalkan jutaan pendukung sepakbola Indonesia.

Banyak yang sudah dan akan tergilas dengan gerbong revolusi yang menolak berhenti sebelum sampai di tujuan. Pertanyaan untuk kita cermati, untuk benefit siapakah hal tersebut dilakukan. Jika untuk kepentingan nasional yang luas, biarkanlah hal itu terjadi, tapi jika untuk pemuasan nafsu personal, apa bedanya dengan rezim terdahulu, tuan?

Perubahan yang kita idam-idamkan hendaknya bukan berupa sekedar masturbasi jargon, rangkaian diskursus politik sepakbola, dan aksi massa yang dengan cepat terlupakan ketika singgasana telah tercapai.

Tidak, tuan-tuan, kita sudah cukup dizalimi dengan kesewenang-wenangan dan penonton sepakbola Indonesia berhak mendapat perlakuan yang lebih baik. Selagi anda merasakan hari-hari pertama empuknya tampuk kepemimpinan, kami setia menunggu perbaikan sepakbola nasional yang kita harapkan bersama.

Hendaknya kita terus menancapkan pandangan mata kita pada mereka di PSSI dan mengingatkan jika lupa, karena mudah untuk tak mengingat saat berada di atas angin.

Kita harus memastikan dengan betul bahwa revolusi sepakbola ini bukan sekedar memindahkan mahkota dari satu kepala despot ke kepala despot lainnya.

Read Full Post »

Dalam sebuah tatanan negara demokrasi, sejatinya kuasa ada di tangan rakyat yang melakukan kegiatan politik lewat partai-partai politik sebagai kendaraannya. Lewat pemilihan umum, para pemimpin dan legislator terpilih melalui suara rakyat. Sebagaimana pun klise terdengar, ”dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat” mungkin benar adanya pada level tertentu. Sebagai pemberi mandat kekuasaan, rakyat bisa mengontrol penguasa yang mereka pilih seandainya tidak memenuhi harapan, yang paling mudah dengan tidak memberi suara lagi di pemilu selanjutnya. Secara umum rakyat punya kekuatan besar. Sayangnya, dunia sepakbola Indonesia bukan negara demokrasi.

Suporter sepakbola Indonesia sejatinya tidak berdaya. Jika mengandaikan badan sepakbola tertinggi Indonesia, PSSI, sebagai sebuah negara, maka suporter sebagai rakyat jelata tidak punya kuasa apa-apa. Kita, suporter sepakbola Indonesia adalah entitas terbesar dalam semesta sepakbola negara ini, tapi kita adalah makhluk terlemah di hadapan segelintir elit yang bertarung memperebutkan piring kekuasaan di puncak. Kita tak punya kuasa, tak punya daya. Suporter sepakbola adalah proletar mayoritas yang tidak diikutsertakan saat borjuis minoritas sedang asyik bermain.

Nurdin Halid, sang mamon besar itu tidak akan kembali lagi ke singgasananya, tapi pergerakan perbaikan sepakbola Indonesia jauh dari usai karena yang sedang terjadi sekarang adalah sindrom pasca revolusi, semua pihak beradu otot untuk naik ke puncak, termasuk orang-orang yang baru menumpang belakangan di gerbong revolusi ini. Nurdin Halid telah jatuh, tapi masalah malah berlipat ganda.

Ada 32 nama yang terdaftar dan siap bertarung memperebutkan kursi ketua umum PSSI yang baru, berarti ada 32 kepentingan berbeda yang siap berbenturan. Komite Normalisasi yang dibentuk dengan harapan sebagai mediator transisi kekuasaan di PSSI sejauh ini belum terlihat efektif. Kubu Arifin Panigoro – George Toisutta masih ngotot untuk ikut pemilihan ketua umum PSSI meski keputusan FIFA menyatakan sebaliknya.

Kelompok 78 (pemilik 78 suara kongres PSSI) kukuh mendukung AP-GT dan siap pasang badan. Jangan lupa, 78 orang ini adalah 78 orang sisa rezim terdahulu yang melompat keluar naik sekoci saat perahu induknya akan tenggelam. Belum lagi ada KONSEN, sebuah komite independen untuk rekonsiliasi sepakbola nasional. Keadaannya riuh, mirip tawuran massal, sulit membedakan mana lawan dan kawan, salah lempar batu bisa kena teman sendiri.

Saat para elit di menara gading sibuk baku hantam, apa yang terjadi pada suporter di level akar rumput? Tidak ada, karena mereka sibuk berpesta tapi kita, suporter, tidak diundang. Nama kita tidak pernah ada dalam daftar tamu karena mereka menganggap kita hanya pantas ada di jalanan untuk demonstrasi. Mereka bisa memakai aksi kita sebagai dasar argumen, ”lihat aksi suporter, rakyat Indonesia menginginkan perubahan sepakbola nasional”, tapi kepentingan mereka terhadap kita sebenarnya tak lebih dari itu.

Suporter sepakbola Indonesia memang tak diinginkan untuk maju, apalagi bersatu. Maka selamanya kita akan jadi penonton. Jadi kerbau yang dicucuk hidungnya yang manut saja ke mana pun ditarik. Selamanya kita akan puas hanya dengan membayar tiket pertandingan dan menguras peluh keringat tanpa punya pengaruh terhadap olahraga yang kita cintai ini. Suporter sepakbola Indonesia adalah mayoritas yang dilemahkan (weakened majority), golongan jelata yang dianggap tidak tahu apa-apa.

Sampai kapan?

Karena tidak adanya upaya dan keinginan dari elit untuk mendidik para suporter sebagai bagian terbawah dari piramida sepakbola Indonesia, maka para suporter harus mendidik dirinya sendiri. Program-program edukasi kepada sesama suporter harus digalakkan. Mereka harus diajari untuk sadar dan awas akan situasi sepakbola Indonesia di level elit. Ini penting, karena ketidaktahuan kita adalah kegembiraan mereka.

Kelompok-kelompok diskusi harus digalakkan, para suporter harus memperkaya khazanah masing-masing dengan pemikiran progresif. Jika dalam satu daerah hal ini bisa terjadi, niscaya efeknya bisa merembet ke daerah lain.

Selain itu, para suporter harus dilibatkan (atau melibatkan diri) pada lingkup kekuasaan sepakbola Indonesia, dalam hal ini PSSI. Peraturan hanya mengizinkan perwakilan klub dan pengda yang memiliki suara untuk ikut dalam kongres.

Suporter seharusnya dilibatkan dalam proses penentuan kekuasaan melalui mekanisme yang bisa dipikirkan lebih lanjut nanti. Tapi keterlibatan suporter penting adanya karena kita adalah bagian hutan rimba sepakbola Indonesia. Selain itu, suporter harus menciptakan kelompok-kelompok penekan (pressure group) sebagai alat kontrol kekuasaan dan media suara suporter.

Sekarang saatnya suporter sepakbola Indonesia untuk bangkit bersatu dan memperdengarkan suaranya. Sekarang, atau selamanya kita hanya jadi penonton, jadi kerbau yang diperas keringatnya, yang dikuras uangnya.

Satu kelas atas satu bangsa yang tidak mampu melemparkan peraturan-peraturan kolot serta perbudakan dengan perantaraan revolusi, niscaya musnah atau ditakdirkan menjadi budak buat selama-lamanya” – Tan Malaka, Massa Actie.

Pangeran Siahaan

Read Full Post »

Suporter bersatu tak bisa dikalahkan, tapi mengapa lebih sering bentrok satu sama lain? Thanon Aria Dewangga menuliskan pemikirannya.

Di alam baka Josip Broz Tito mungkin menangis. Bagaimana mungkin negara sebesar Yugoslavia yang dengan susah payah dibangun pecah begitu saja? Berawal dari masalah pemilihan lokal yang berujung pada kekerasan berakibat negara besar ini pecah menjadi beberapa negara. Banyak faktor yang membuat negara ini runtuh. Diawali dengan meninggalnya pemimpin pemersatu legendaris kelahiran Kroasia Josip Broz Tito, kondisi perekonomian yang carut marut awal 80-an, desentralisasi yang kebablasan dan satu hal yang mungkin terlupa oleh kita semua adalah pertentangan antar etnis yang menjalar salah satunya melalui sepakbola (Ingat peristiwa kerusuhan Dynamo Zagreb vs Red Star Belgrade tahun 1991).

Masih segar dalam ingatan kita kerusuhan sepakbola besar yang dicatat oleh sejarah terjadi di Zagreb, Kroasia. Saat itu tahun 1991 bertanding Dynamo Zagreb melawan Red Star Belgrade. Pertandingan ini termasuk pertandingan klasik dalam sejarah sepakbola Yugoslavia saat itu karena melibatkan dua klub besar yang berasal dari etnis yang berseteru dari masa lampau dan mempunyai basis pendukung fanatik yang tidak pernah akur. Kerusuhan akhirnya pecah dan pakar sejarah Yugoslavia meyakini pertandingan ini merupakan salah satu faktor yang berperan besar membuat Yugoslavia pecah seperti sekarang. Terjadi karena terjadi pembiaran oleh pemerintah Yugoslavia terhadap ketegangan antar pendukung sepakbola yang tidak pernah diupayakan untuk diselesaikan.

Indonesia mempunyai karakteristik yang sama dengan Yugoslavia. Negara yang besar secara geografis, mempunyai pemimpin besar kharismatis masa lalu, kondisi perekonomian yang timpang dan multietnis serta maniak sepakbola. Rasanya pernah kita mendengar berbagai ramalan beberapa saat setelah reformasi bergulir tahun 1998 dimana tidak lama lagi Indonesia akan bernasib sama seperti Yugoslavia. Alhamdullilah hal itu tidak terjadi karena kita masih percaya bahwa nasionalisme kita masih kuat. Namun demikian kita tidak boleh lengah dan tetap waspada akan bahaya laten separatisme yang mungkin bisa masuk lewat berbagai meia, termasuk olahraga.

Rasanya kita cukup berbangga bahwa ramalan banyak pakar mengenai separatisme Indonesia tidak terbukti. Namun demikian ada satu celah yang perlu mendapatkan perhatian khusus yaitu pertentangan antar supporter klub sepakbola di Indonesia. Ada gesekan antara pendukung Persib dengan Persija, Persebaya dengan Arema, Persis dengan Persebaya dan lain-lain. Bukan tidak mungkin ada upaya dari oknum yang tidak bertanggung jawab yang berupaya memecah belah bangsa Indonesia melalui sepakbola.

Dulu tenang rasanya kita menonton sepakbola di Jakarta atau dimana-mana. Betul seringkali ada adu ejek atau saling mencerca antar supporter namun tidak pernah rasanya mendengar ada kasus pemukulan yang bersifat masif apalagi sampai meninggal dunia. Kita berseteru selama pertandingan namun damai setelah selesai atas nama olahraga. Sekarang? Surat kabar tidak pernah lupa menampilkan beberapa kasus kekerasan dalam sepakbola nasional. Bahkan anak-anak kecil sejak dii sudah didoktrin untuk membenci kesebelasan tertentu, bahkan sudah mulai SARA karena mendiskreditkan suku-suku tertentu.

PSSI seharusnya cepat bertindak. Segera berinisiatif menjadi mediator untuk membangun rasa kedamaian diantara kelompok-kelompok supporter di Indonesia. Namun sayangnya mereka sepertinya sudah buta dan tuli. Sepertinya terjadi pembiaran kerusuhan supporter. Nyaris tidak ada action. Bila PSSI sudah tidak punya nurani untuk membenahi kerusuhan supporter, saya pikir KONI dan Kementerian Pemuda dan Olahraga dapat mengambil alih peran ini atas nama negara dan pemerintah.

Perlu ada kekhawatiran kemungkinan meluasnya kerusuhan supporter menjadi ke arah separatisme. Rasanya memang hal yang sepele dan rutin dalam konteks kacamata sepakbola Indonesia, namun bukan tidak mungkin ada upaya dari pihak luar yang mencoba memecah belah Indonesia melalui sepakbola setelah gagal melalui organisasi separatisme atau upaya ekonomi. Semoga apa yang terjadi di Yugoslavia masa lalu tidak terjadi di negara kita

Read Full Post »

Older Posts »