Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Bambang Pamungkas’

“Indonesia masih bisa lolos ke Piala Dunia 2014!”, “Indonesia bebas korupsi tahun depan!” “Singapura membekukan aset koruptor Indonesia”, “Syahrini berhenti memakai make-up”. Minuman apa pun yang anda pesan, saya mau segelas juga.

Kita kalah postur! Dari zaman ompung saya masih menerabas hutan Tarutung sampai sekarang, tinggi badan rata-rata orang Indonesia tidak pernah berubah, demikian juga dengan tinggi rata-rata pemain tim nasional kita. Maka alangkah tidak bijaknya menyalahkan postur badan ketika Javad Nekounam sukses dua kali menyundul bola yang merobek jala Markus Horison kemarin.

Markus sebenarnya bermain baik, terlebih di babak pertama saat berulang kali ia menyerobot umpan-umpan silang Iran yang tahu benar bahwa lawan mereka tidak diberkahi dengan postur menjulang.

Untuk tim sedominan Iran, sebenarnya mereka cukup cemen karena kurang garang di dalam kotak penalti. Di babak pertama, strategi offside Indonesia sukses berulang kali menjebak Iran, kecuali satu kali saat Zulkifli Syukur tertinggal di belakang layaknya pemudik yang ketinggalan kereta sapu jagat. Dari 4 pemain bertahan Indonesia, Zulkifli rasanya yang paling mengkhawatirkan semalam. Terlihat grogi saat kehilangan bola, tak heran Iran berulang kali menyerang lewat sisi kanan pertahanan Indonesia.

Kita memang kalah postur, tapi daripada mengutuk tinggi badan pemain kita yang pas-pasan, bukankah lebih baik mencari cara untuk mengatasi kekurangan itu? Tadinya saya mengharapkan Indonesia akan bermain taktis dengan bola pendek sebagai kompensasi tinggi badan, tapi para gelandang Indonesia kerap kalah bertarung di tengah sehingga lebih suka mengirim bola langsung ke depan.

Strategi route one macam itu sebenarnya tidak sepenuhnya inefektif karena Cristian Gonzales mempunyai kemampuan menjaga bola yang tidak dimiliki striker Indonesia lainnya. Gonzales juga yang set-up satu-satunya peluang Indonesia di babak pertama saat ia menyodorkan bola kepada Bambang Pamungkas yang tendangannya sayang masih melambung.

Tanpa adanya Boaz Solossa, Indonesia kehilangan variasi serangan. Apalagi Firman Utina sebagai dirigen gagal bersinar karena pressing ketat dari Iran. Dari kedua sayap Indonesia, M. Ilham terlihat lebih menjanjikan saat penetrasinya di kanan beberapa kali merepotkan bek lawan. Tapi capek-capek melewati bek lawan akan sia-sia jika keputusan terakhirnya adalah melepaskan umpan lambung ke kotak penalti yang dengan senang hati dihalau oleh bek-bek Iran.

Dua kali kebobolan lewat set-piece di babak kedua, postur badan tidak sepenuhnya bisa dijadikan kambing hitam, terlebih gol kedua. Aturan elementer bertahan dari bola mati adalah pilih pemain mana yang akan dijaga dan tempel terus kemana ia bergerak seperti Ashanty menempel Anang. Nyatanya, Nekounam bisa bergerak bebas dan menyundul bola tak terkawal.

Pelatih Wim Rijsbergen mencoba mengorek asa dengan memasukkan Irfan Bachdim di babak kedua, tapi yang membingungkan, ia menarik M Ilham yang cemerlang untuk memberi tempat bagi Tendangan Dari Langit. Butuh 80 menit bagi Rijsbergen untuk meyakini bahwa sudah saatnya Firman Utina diganti dengan Oktovianus Maniani. Saya pikir Okto bisa dimasukkan lebih cepat usai ketinggalan karena toh lini serang kita tak jalan.

Kredit patut diberikan pada Bambang Pamungkas dan Cristian Gonzales yang berulang kali terlihat ingin memainkan bola pendek satu-dua sentuhan walau berulang kali juga gagal. Ini jauh terlihat lebih masuk akal dibanding deretan umpan lambung yang sia-sia ke kotak penalti.

Ketiga lawan Indonesia di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia ini semuanya dari jazirah Arab dengan postur yang superior. Apakah kita harus berserah pada kenyataan fisiologis yang menyebabkan sehari sebelum pertandingan para wartawan sepakbola diyakini telah menulis template artikel, “Kita kalah postur dari <masukkan nama tim lawan di sini>”.

Kita adalah negara yang gemar membajak, dari zaman kartu telepon magnetik, DVD hingga jailbreak iPad. Orang Indonesia selalu menemukan celah untuk menembus proteksi/regulasi apa pun yang dirasa membatasi. Tugas Wim Rijsbergen (dan siapa pun pelatih tim nasional) adalah menemukan cara untuk “membajak” tinggi badan. Postur lawan selalu menyulitkan kita. Mencari cara untuk mengakali keterbatasan lebih berguna dibanding menyerah pada takdir tinggi badan.

Advertisements

Read Full Post »

Dulu seorang rekan mengatakan kepada saya bahwa tribun belakang gawang adalah tempat paling magis dalam stadion sepakbola. Bagian yang paling tinggi desibelnya dari semua sektor di dalam stadion karena di situlah suporter yang paling lantang berdiri. Sebelum laga ini, saya baru sekali menonton pertandingan dari belakang gawang, saat partai persahabatan kontra Uruguay beberapa bulan silam. Iqbal tanpa henti memanas-manasi saya untuk bergabung dengannya dan beberapa teman yang akan mengokupasi sektor 20. Tanpa pikir panjang, saya terima ajakannya.

GBK, 3 jam sebelum laga

Bersama dengan Christabelle yang merangkap sebagai fotografer resmi Indonesian Football Diary,  saya tiba sekitar jam 5 di stadion. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari itu Gelora Bung Karno nampak lebih padat dari biasanya. Sebuah kenyataan yang aneh mengingat hasil pertandingan sudah tidak menentukan lagi. Apa pun hasil yang dipetik Indonesia hari itu, kita tetap akan menempati puncak klasemen dan melangkah ke semifinal dengan status juara grup.

Hanya sekitar 30 ribu penonton yang memenuhi GBK pada pertandingan perdana melawan Malaysia dan 43 ribu pada pertandingan kedua melawan Laos. Ada sekitar 65 ribu orang yang hadir di GBK saat Indonesia berhadapan dengan Thailand dan saya penasaran dari mana datangnya tambahan sekitar 20 ribu orang lagi? Yang paling mungkin tentu saja karena lawan malam itu, Thailand, adalah musuh bebuyutan di Asia Tenggara dan selalu jadi momok sepakbola kita selama ini. Alasan lain adalah mereka tertarik datang langsung ke stadion setelah sebelumnya menyaksikan Merah Putih menang besar dua kali lewat layar kaca. Euforia memang lumrah, tapi saya cukup tergelitik mendapati kemungkinan yang sangat besar orang-orang yang baru pertama kali datang ke stadion itu akan kecewa karena peluang kita untuk kalah cukup besar mengingat Thailand berada di posisi harus menang untuk lolos ke semifinal.

Berada di stadion sejak petang, saya bisa mengamati orang-orang yang secara kasat mata tak biasa hadir di stadion. Hedi menyebut fenomena ini sebagai wisata stadion dan benar GBK menampung banyak sekali turis sepakbola yang penasaran dengan atmosfer Senayan yang tersohor itu. Yang membuat saya geli adalah melihat beberapa penonton perempuan yang datang dengan alas kaki berhak. Mereka, saya yakin, adalah jemaah Irfan Bachdim.

Beribadah sebelum "beribadah"

Karena hadir lebih dulu dari rekan-rekan yang lain, saya bergabung dengan Arista di pelataran mesjid Al Bina di dalam kompleks GBK. Menarik sekali melihat penonton sepakbola melakukan ibadahnya terlebih dahulu sebelum melanjutkannya dengan ritual di dalam stadion. Sesaknya pelataran mesjid memaksa saya duduk di atas aspal, bergabung dengan rekan-rekan Pasoepati Jakarta. Saya tidak bisa berbahasa Jawa, tapi tingkah dan kelakar yang mereka lontarkan satu sama lain bisa membuat saya tertawa tanpa harus mengerti apa yang mereka maksud. Humor, seperti sepakbola, adalah universal.

Ketika matahari mulai turun dan gelap menjelang, saya bergabung dengan rekan-rekan sepertandingan yang sudah berkumpul, termasuk Iqbal, Hedi, dan Zen yang rupanya telah memangkas rambutnya sehingga tak lagi terlihat seperti pendekar silat. Dengan beriringan kami memasuki stadion di sektor 20 dan memilih tempat tepat di belakang gawang selatan. Tidak seperti tribun belakang gawang utara yang penuh dipadati The Jak, tribun belakang gawang selatan relatif melompong meski kelas rata-rata di tribun atas penuh sesak

Jakantor, mengesankan seperti biasa

Saya relatif kalem di babak pertama, efek dari Indonesia Raya yang membahana sebelum laga dimulai. ”Boys Don’t Cry” kata Robert Smith dari The Cure, tapi meneteskan air mata sebelum laga telah menjadi kebiasaan yang tak tertolongkan bagi saya. Kegaiban stadion hanya bisa anda rasakan bila berada di tribun penonton karena saya nyaris tak tergerak saat duduk di area pers saat pertandingan sebelumnya melawan Laos. Jika anda takjub melihat barisan flare merah yang menyala saban kali kita bertanding, yang menyuguhkan atraksi tersebut adalah Jakantor Community, komunitas suporter Persija berbasis pekerja kantor. Saya mendapat kehormatan untuk menyaksikan atraksi mereka dari dekat karena posisi mereka tepat berada di atas kepala kami.

Saya masih duduk anteng sambil menenangkan emosi sebelum babak kedua dimulai saat darah saya bergejolak menyaksikan satgas Nurdin Halid yang menjijikan itu melakukan sweeping spanduk di tribun atas. Jakantor terpaksa menarik spanduk mereka sejenak, padahal spanduk mereka hanya bernada dukungan bagi Bambang Pamungkas, sang ikon Persija. Kontan saya berdiri dan secara tak sadar melontarkan makian kepada pasukan Nurdin yang penuh tato itu di atas. Zen dan Iqbal juga ikut serta memberi dorongan bagi anak-anak Jakantor untuk segera menggelar spanduk mereka kembali, tapi nampaknya mereka menahan diri. Pemandangan luar biasa terjadi saat satgas Nurdin mencoba menyita spanduk Aremania yang digantung di sektor sebelah. Tidak seperti suporter-suporter lain yang memilih mengalah saat hulubalang Nurdin ini hendak menyita spanduk, Aremania melakukan perlawanan. Sadar mereka menang jumlah orang, mereka mengepung satgas Nurdin yang hendak melepas spanduk. Saya berlari ke sektor sebelah dan menyaksikan bagaimana satgas Nurdin tidak berdaya menghadapi Aremania. Insiden itu melecut semangat suporter lainnya karena Jakantor juga menggelar kembali spanduk mereka tak lama kemudian.

Spanduk Aremania yang tak bisa diturunkan preman-preman Nurdin itu

Memasang banner dan spanduk klub saat tim nasional sedang bermain memang bukan tindakan terbaik yang bisa dilakukan, tapi kediktatoran Nurdin yang ia tunjukkan dengan sweeping spanduk sana-sini itu butuh perlawanan dari suporter. Jika memang perlawanan baru muncul jika menyangkut identitas klub, biarlah demikian karena hal ini tak bisa didiamkan begitu saja. Bukan kebetulan setelah kami berteriak-teriak mengecam preman-preman Nurdin, tiba-tiba tribun kami dipenuhi oleh polisi yang tiba-tiba mengawal setiap sudut.

Nikmatnya berdiri menonton sepakbola. Tebak gue yang mana?

Sejak insiden spanduk, saya tak lagi duduk dan memilih berdiri di atas bangku. Sebagai orang yang selalu kesal setiap kali diteriaki dari belakang menyuruh duduk, berada di tribun ini sungguh melegakan karena saya bebas berdiri di mana saja dan kapan saja, tidak hanya jika Indonesia sedang mendapat peluang emas.

Celebrating the equaliser. I went mental

Gelora Bung Karno sempat terhenyak ketika Thailand mencetak gol yang akan meloloskan mereka ke semifinal. Indonesia nampaknya harus menerima kekalahan dalam partai yang tidak lagi menentukan tapi penuh gengsi ini. Teriakan ”Bambang Pamungkas sekarang juga!” terdengar menginginkan agar sang primadona diturunkan. BP20 yang diturunkan menggantikan Irfan Bachdim akhirnya sukses menyamakan kedudukan lewat titik penalti. Gol ini meruntuhkan semangat Thailand yang berada dalam posisi harus menang.

Indonesia mendapat penalti kedua beberapa menit kemudian dan sebelum penalti dieksekusi BP, entah kenapa saya tergerak untuk memanjat pagar pembatas dan bertengger di sana. Setelah penalti sukses diceploskan, saya lepas kendali, menggoyang dan menendang pagar hingga memancing perhatian dari polisi yang mengira saya hendak merobohkan pembatas.

Tak pelak lagi ini adalah pertandingan sepakbola terbaik yang pernah saya hadiri. Bubur hanya enak disajikan hangat dan es krim hanya nikmat disajikan dingin. Pertandingan sepakbola, kawan, berada dalam wujud yang terbaik jika anda menyaksikannya dari belakang gawang.

Bersama Zen

Die Nurdin die!

all photos are taken by Christabelle

Read Full Post »

Saya tidak tahu siapa yang menciptakan istilah ini, tapi dalam beberapa musim terakhir laga Persija melawan Persib selalu disebut sebagai Derby Indonesia. Antony Sutton dari Jakarta Casual menyamakan rivalitas dan kebencian antar kedua kelompok suporter dengan rivalitas Manchester United dan Liverpool di Inggris.

Jika Macan Kemayoran berhadapan dengan Maung Bandung di Senayan, lebih baik kendaraan berplat D jauh-jauh dari area tersebut. Begitu juga dengan mobil berplat B jika pertandingan digelar di Bandung. Belum lagi aksi beberapa suporter yang kerap merazia KTP untuk mengetahui mana suporter lawan yang berani menginfiltrasi hingga ke belakang garis musuh.

Now it would be nice to see "Viking Jakarta"

Entah apa yang ia makan, tapi sore itu Macan makan Maung

Pendidikan sepakbola sejak usia dini. Ayah teladan

Memang ada larangan bagi suporter tim lawan untuk hadir di stadion dengan warna identitasnya demi alasan keamanan. Kita memang belum mampu menjamin keamanan suporter tim lawan dengan faktor resiko yang sedemikian tinggi. Tak jarang beberapa suporter Persib yang datang ke GBK mengenakan warna oranye, demikian juga suporter Persija di Bandung.

Sebenarnya saya mengidamkan sebuah pertandingan bertensi tinggi di mana suporter lawan bisa bertandang tanpa harus sembunyi-sembunyi seperti itu. Harusnya ada jaminan dari pihak tuan rumah dan kepolisian bahwa suporter tim lawan dapat hadir. Mekanisme pengamanannya sebenarnya sudah jelas dan kita bisa menggunakan prosedur di Eropa sebagai acuan. Pada pertandingan yang dikategorikan ”high risk” seperti Persija – Persib ini, suporter tandang sudah harus dikawal sejak berangkat dari kota asal hingga tiba di kota tujuan. Sesampai di tujuan, mereka akan dikumpulkan di satu titik dan dikawal terus hingga masuk stadion. Mereka ditempatkan di tribun yang terisolasi dengan pihak keamanan dan stewards yang berjaga. Selesai pertandingan mereka akan menjadi pihak terakhir yang keluar setelah stadion kosong dan lingkungan sekitar steril.

Saya tak tahu apakah BLI dan PSSI memiliki manual seperti itu dalam prosedur tetap mereka, tapi itu adalah sebuah mekanisme yang sudah umum dalam dunia sepakbola modern. Makanya saya selalu bilang bahwa pengamanan sepakbola Indonesia itu setengah hati karena sebenarnya langkah-langkah yang harus dilakukan itu sudah jelas. Saya rasa prosedur itu pun telah distandarisasi FIFA. Percuma punya manual bagus jika tak sepenuh hati menjalankannya.

Menyadari atmosfer pertandingan yang akan luar biasa, saya sebenarnya janjian dengan Andibachtiar Yusuf untuk duduk di tribun. Ia bahkan telah memesan tiket untuk saya. Tapi karena satu dan lain hal (termasuk susahnya komunikasi dan tawaran mendadak untuk interview dengan seorang rekan), maka saya kembali duduk di kursi kuning yang sebenarnya tak nyaman untuk ditempati itu. Beberapa wajah yang selalu menemani saya menonton juga nampak di sana: Iwan Widjaya, Gotcha Michel, dan Nindia Satiman.

Gotcha, Nindia, dan pria Batak berperut buncit

Meninggalkan mereka bertiga yang duduk di VVIP, saya turun ke bawah untuk membaur bersama Jakmania lain yang memadati bagian VIP. Mereka bilang tribun VIP biasanya ditempati oleh orang tua dan suporter kelas kafe yang adem ayem, tapi hari itu semua orang nampak emosional. Tidak jauh dari tempat saya duduk seorang bapak tak hentinya memaki ketika para pemain Persib memasuki lapangan untuk pemanasan. Tak lama, seisi GBK mencemooh Persib dengan berbagai teriakan kasar dan berbalik menyoraki saat skuad Persija menjejakkan kaki di rumput.

Teriakan cinta membahana ketika mereka menjejakkan kaki di rumput

Agent Orange. I believe US troops used this back in Vietnam

Sumpeh lo?

Pertandingan sepakbola adalah sebuah arisan di mana semua orang merasa bersaudara dan seperasaan. Seorang pria menawarkan segenggam kacang kulit yang awalnya saya tolak tapi saya terima juga setelah ia bersikeras. Ia mengatakan bahwa hari itu, sebagai sesama orang Jakarta, apa yang miliknya akan menjadi milik semua orang yang mendukung tim Oranye juga. Saya tidak merasa perlu menjelasan kepadanya bahwa saya bukanlah suporter Persija atau Persib. Saya datang hanya untuk merayakan sepakbola, olahraga paling hebat sejagat.

Ini kacangku!

Ketika saya sedang sibuk mengamati sekeliling stadion, dari seberang saya bisa melihat segerombolan suporter berpakaian casual memenuhi sektor 16 dan meneriakkan, ”Persija! Persija”, sebuah chant yang tak lazim untuk suporter Indonesia yang biasanya lebih gemar menyanyikan lagu-lagu populer. Di pagar tergantung jelas spanduk yang menunjukkan identitas mereka, Tiger Bois. Anda bisa menyamakan mereka dengan casual firm di Inggris. Saya ingin berdiri bersama mereka di sektor 16 suatu saat nanti.

Sektor 3 hingga sektor 6 menyajikan aksi spektakuler sore itu dengan membakar flare dan bom asap berwarna oranye yang merasuki sekujur tubuh GBK. Saat beberapa suporter di sektor 3 memanjat pagar dan berbaris memegang flare secara paralel, saya langsung teringat pada tifo yang biasa dibakar Ultras di Serbia dan negara-negara Balkan lainnya.

Tifo, just like in Serbia

Konon kostum macan ini aromanya ajaib. Tak pernah dicuci

Demonstrasi singkat di depan tribun VVIP saat jeda soal kontroversi PS Blora

Pertandingan berlangsung ketat pada babak pertama, tapi Rahmad Darmawan membuktikan mengapa ia adalah pelatih terbaik Indonesia saat ini dengan mengubah strategi timnya di babak kedua. Greg Nwokolo, yang musim ini nampaknya akan menjadi momok bagi barisan pertahanan klub-klub Liga Super, memecah kebuntuan setelah lolos dari jebakan offside. Aliyudin yang masuk sebagai pemain pengganti menggandakan keunggulan Persija. Seusai pertandingan, lewat akun Twitternya Aliyudin mendedikasikan gol tersebut untuk ”komentator amatir”, Barry Sihotang yang pada pertandingan sebelumnya melawan Semen Padang mencap dirinya tidak berguna.

In your face, Barry Sihotang!

Gol terakhir dicetak oleh Bambang Pamungkas lewat sebuah tendangan melengkung berteknik tinggi. Mereka yang mengklaim bahwa Bepe lamban dan sudah habis tak bisa banyak cakap pada pertandingan. Saya sebenarnya bingung mengapa kelambanan Bepe baru sering diangkat sekarang karena ia memang tidak pernah dikenal sebagai pemain yang cepat. Ia adalah pemain yang cerdas dan visioner. Ia membuktikannya dengan beberapa kali melepaskan umpan terobosan yang merobek pertahanan Persib. Jika yang dipermasalahkan adalah kelambanan, Zinedine Zidane juga tidak dikenal sebagai pemain yang cepat…..

Bapak baju hitam yang pake kupluk mukanya sangar abis, padahal timnya menang

Pemandangan umum seusai laga Persija

Sempat terjadi kericuhan di beberapa tribun penonton. Saya sendiri tak melihat jelas tapi menurut kabar beberapa suporter Persib ketahuan membaur dengan suporter tim tuan rumah dan terjadi gesekan. Saya tak tahu pasti apa yang menimpa mereka selanjutnya.

Ini adalah kedua kalinya saya memarkir mobil di dalam stadion utama GBK dan memang tidak ada keributan saat saya hendak keluar. Tapi setiba di rumah saya mendapatkan kabar tidak mengenakkan soal aksi pemukulan terhadap Ronaldikin dan beberapa suporter Persib lain, belum lagi tindakan intimidasi terhadap wartawan Detiksport dan Pikiran Rakyat. Di sinilah sebenarnya saya masih agak keberatan dengan pendekatan kekerasan suporter kita. Saya sangat mengagumi segala teror mental dan intimidasi emosional dalam bentuk dukungan suporter di dalam stadion, tapi saya tidak pernah membenarkan kekerasan.

Harusnya kita semua bisa bergandengan dan tersenyum unyu seperti ini. Keep smiling, Gotch!

Untuk foto-foto lain bisa dilihat di sini

Read Full Post »

It's so fuckin' easy, it's so fuckin' easy. Can we play you every week?

 

Pernahkah anda mengamati bagaimana cara kerja promotor musik internasional bekerja di Indonesia? Mereka akan memeriksa jadwal artis yang diincar dari jauh hari sebelumnya dan mengecek apakah mereka mempunyai jadwal tur Asia (lebih baik lagi Asia Tenggara). Jika dinilai bahwa artis tersebut potensial mendatangkan massa berlimpah, maka si promotor akan berusaha membujuk sang artis dan membajaknya agar singgah barang sejenak di Indonesia untuk menghibur para penggemar. Kenapa demikian? Karena menjadwalkan bermain di Indonesia tidak pernah terpikir oleh para artis mancanegara.

Demikian juga semifinalis Piala Dunia 2010, Uruguay. Tidak pernah terlintas dalam pikiran federasi sepakbola mereka di Montevideo bahwa Indonesia adalah negara yang akan mereka tuju dalam tur pertandingan persahabatan. Tidak mengherankan jika PSSI meminjam kiat Adrie Subono dan “membajak” Uruguay sebelum lawatan mereka ke China. Juara dunia dua kali tersebut pun menjejakkan kaki mereka di Jakarta pekan lalu.

Untuk ukuran pertandingan persahabatan, PSSI mematok harga tiket yang menggelikan. Harga tiket termurah adalah Rp 75.000 untuk kelas rata-rata dan Rp 150.000 untuk kelas II yang notabene terletak di belakang gawang. Harga tiket kelas I Rp 300.000 dan harga tiket kelas VIP yang mencapai angka Rp. 2 juta itu jelas-jelas di luar batas kewajaran. Saya tidak akan keberatan mengeluarkan uang Rp. 1 juta untuk menyaksikan sebuah pertandingan kompetitif, tapi untuk sebuah laga pemanasan? Keterlaluan.

....dan kursi-kursi yang kosong itu....

 

Di sinilah terasa sekali bahwa PSSI memperlakukan para penonton sepakbola Indonesia sebagai sapi perah yang dungu. Dengan mendatangkan tim sekelas Uruguay dan mematok harga tiket tinggi, penonton kita dianggap sama seperti penonton Java Jazz yang datang ingin menonton artis pujaan dan terhibur. Kita tidak dianggap sebagai bagian dari mereka yang bermain dengan lambang Garuda di dada sebelah kiri sehingga mereka tidak terlalu peduli bahwa sebagian besar kursi GBK kosong karena banyak orang yang tidak sanggup menebus harga tiket yang sedemikian mahal.

Beberapa hari sebelum pertandingan saya sudah mengurus akreditasi pers walaupun ragu mendapatkannya karena ada kesalahan teknis. Tapi dari jauh hari saya telah merasakan bahwa menonton sepakbola dari area wartawan sungguh seperti menonton film porno tanpa boleh masturbasi dan bersuara. Tidak ada emosi di sana. Sebelum saya mengajukan akreditasi pers, saya telah berpikir untuk membeli tiket saja dan bergabung dengan mereka yang berdiri di tribun. Akhirnya saya memutuskan untuk memesan tiket kelas II lewat seorang teman dan menjadi dilema saat akreditasi pers saya ternyata disetujui. Setelah menimbang dengan seksama, maka saya merelakan kartu pers tidak terpakai dan membiarkan seratus lima puluh ribu Rupiah raib dari dompet.

Pertandingan digelar jam 8 malam, tapi karena ada undangan screening film terbarunya Andibachtiar Yusuf, HOPE di Kemang pada jam 3 sore, maka sejak siang saya telah berkeliaran di Senayan dan memarkir mobil di pusat perbelanjaan terdekat. Menembus Jakarta di hari Jumat petang lebih sulit dari membongkar pertahanan tim lawan yang memarkir 10 pemain di dalam kotak penalti. Menonton HOPE sebelum menyaksikan tim nasional bermain menyulut semangat lebih besar untuk buru-buru datang ke GBK (Review film ini akan saya muat di blog yang lain). Sebelum jarum menunjukkan pukul 6 sore, saya dan Iwan Widjaya memutuskan menerjang hujan dan jalanan Jakarta yang laknat itu menuju katedral sepakbola Indonesia, Gelora Bung Karno. Ada perasaan yang tak terjelaskan saat anda dalam perjalanan untuk menyaksikan tim nasional sepakbola anda berlaga. Saya tidak tahu apakah anda merasakannya juga, tapi saban kali Indonesia akan berlaga, anda akan melihat banyak kendaraan bermotor yang memasang bendera Merah Putih. Tidak asing untuk melihat orang yang dibonceng di atas motor mengibarkan bendera Merah Putih, sesuatu yang tidak anda lihat pada 17 Agustus sekalipun.

Karena Iwan memilih untuk memakai akreditasi persnya, kami pun berpisah dan bergabung dengan rekan-rekan United Indonesia yang membantu saya mendapatkan tiket yang seperti biasa penjualannya agak ribet. Sejam sebelum pertandingan saya telah masuk ke tribun kelas II yang terletak di sebelah kanan layar televisi. Karena terletak tepat di belakang gawang, maka saya menganggap saya berada di Stretford End saat itu. Hal pertama yang mengganggu mata saya setiba di dalam stadion adalah spanduk menggelikan di bawah ini:

Saya PRIHATIN atas spanduk ini

 

Terima kasih kepada SBY? Atas dasar apa? Karena ia datang ke GBK untuk menghadiri partai seremonial ini? Atau karena ia mencetuskan Kongres Sepakbola Nasional di Malang tempo hari yang tidak lebih dari sekedar ajang silaturahmi pengurus PSSI dengan wartawan? Ada beberapa spanduk serupa di sepanjang tribun timur sehingga mengundang kecurigaan bahwa sebenarnya spanduk-spanduk tersebut adalah buatan oknum PSSI sendiri. Menyedihkan. Spanduk lainnya berbunyi “Maju Terus PSSI…”, absurd.

Saat pengumuman starter kedua tim, nama Luis Suarez yang paling banyak mendapat sambutan penonton. Aneh bagi saya melihat suporter kita bersorak untuk pemain lawan. Walaupun ia berkelas dunia, siapa pun yang memakai kostum selain Merah Putih adalah lawan. Sebelum pertandingan saya cemas apakah nanti para penonton malah akan bersorak gembira bila para pemain lawan yang selama ini kita lihat di layar kaca seperti Suarez atau Cavani menjebol gawang timnya sendiri. Belum lagi antusiasme berlebih masyarakat akan pertandingan ini seolah-olah ini adalah partai terakhir yang menentukan lolosnya kita ke Piala Dunia.

Tribun sebelah kanan dihuni mereka yang percaya Indonesia akan menang. Tribun sebelah kiri sebaliknya. Suara rakyat suara Tuhan.

 

Momen yang paling menggetarkan setiap menyaksikan tim nasional berlaga adalah saat Indonesia Raya berkumandang di udara. Saya dan puluhan ribu kompatriot di dalam stadion mengangkat syal Merah Putih kami tinggi-tinggi dan menyanyikan Indonesia Raya. Saya tidak pernah menganggap diri nasionalis dan satu-satunya event di mana saya menyanyikan lagu kebangsaan dengan sepenuh hati hanya pada saat pertandingan sepakbola. Nasionalisme bagi saya hanya eksis di arena olahraga.

"Teman-teman, kita boleh kalah kelas tapi jangan sampai kebobolan 7 gol. In-do-ne-siaaaaa!"

 

Saya tidak mengenali permainan tim negara saya pada 20 menit pertama. Semangat yang tinggi dan keberanian untuk mengolah bola serta memainkan bola pendek tidak mencerminkan Indonesia yang saya kenal selama ini. Adrenalin membuncah keluar saat Bambang Pamungkas melepaskan umpan terobosan brilian yang menyebabkan kartu as kita, Boaz Solossa berhadapan langsung dengan kiper Juan Castillo. Si Mutiara Hitam ini menggocek Castillo dan menceploskan bola ke gawang yang kosong. GBK meledak.

Boaz Solossa membuat versi sendiri dari adegan Forrest Gump lari dari lapangan American Football

 

Kita bertahan dengan sporadis sampai menit 30. Penampilan Nova Arianto dan Maman Abdurahman dikritik habis pada babak kedua, tapi sesungguhnya mereka sempat membuat Suarez dan Cavani frustrasi pada setengah jam pertama. Yang terjadi selanjutnya adalah kehabisan tenaga dan itu bukanlah sesuatu yang baru bagi kita yang dulu pernah menahan imbang Uni Soviet ini

Memang Edinson Cavani yang berpostur 184 cm itu membuat Nova dan Maman bagaikan dua orang point guard yang mencoba mengawal seorang center, tapi perbedaan fisik tidak pernah sah menjadi alasan. Dengan posisi di belakang gawang, saya bisa melihat jelas bagaimana koordinasi lini pertahanan kita yang sekenanya. Kita selalu kocar-kacir setiap Uruguay mengirim bola ke sayap dan buruknya pemahaman taktik kita bukanlah penemuan terhebat di dunia.

Alfred Riedl memasukkan dua pemain muda, Yongki Aribowo dan Oktovianus Maniani di babak kedua. Yongki adalah favorit saya dan ia membuktikan kelasnya ketika ia membuat sebuah turn yang akan membuat Wayne Rooney bangga. Okto menawarkan kecepatan dan rasanya kerjasamanya dengan Boaz di masa depan akan membuat barisan pertahanan mana pun bergidik. Tapi terlalu sedikit waktu yang mereka dapatkan untuk memberi impresi lebih.

Saya sedih dan kesal saat pemain kesayangan kita selama bertahun-tahun, Bambang Pamungkas dicemooh penonton saat ditarik keluar. Para penonton merasa tidak puas dengan performa Bepe yang dituduh malas di lapangan. Di sinilah titik yang saya tidak mengerti dari mayoritas suporter kita. Bagaimana bisa mereka mencemooh pemain mereka sendiri yang berkontribusi satu assist malam itu? Banyak orang menuduhnya pemalas karena enggan berlari dan minim ledakan, tapi bukankah Zinedine Zidane dan Dimitar Berbatov juga terlihat sama malasnya? Kita perlu menyadari bahwa bermain bagus dalam tim sepakbola itu tidak melulu harus berlari kencang dan mendribel bola ala Ronaldinho. Saat Piala Dunia kemarin banyak orang kita yang menuding Sergio Busquets tidak pantas menjadi starter karena ia hanya bisa membagi bola pendek kepada Xavi dan Iniesta, padahal tugasnya memang hanya itu! Kerangka berpikir yang sama mungkin dipakai oleh mereka yang mencemooh Bambang hari Jumat malam itu.

Uruguay menggelontorkan tujuh gol ke gawang Markus Horison dan penonton mulai bersorak pada dua gol terakhir karena mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi. Mereka merasa dipermalukan, tapi saya tidak. Skor 7-1 lebih baik dari selisih dua digit yang saya perkirakan sebelumnya.

Senyum bisa tersungging di bibir saya ketika sebelum pertandingan berakhir karena teriakan ”Nurdin Turun!” bergema di seantero GBK. Hanya beberapa tribun yang meneriakkannya, termasuk tribun rata-rata yang tepat di atas tribun saya. Beberapa waktu sebelumnya saya sempat berbincang dengan Arista dan memang rekan-rekan suporter ingin menggelar aksi anti Nurdin Halid. Saya percaya bahwa medium yang paling tepat untuk demonstrasi bagi suporter sepakbola adalah di dalam stadion saat pertandingan berlangsung. Anda tidak tahu betapa senangnya saya melihat hal itu terwujud. Lebih banyak penonton yang tersenyum mendengar seruan itu dibanding turut menebalkan suara, tapi saya merinding saat melihat tribun seberang yang mayoritas dihuni The Jak menyambut teriakan kami. Kemarin Nurdin Halid mengklaim bahwa para suporter yang menghendakinya turun tersebut adalah suporter bayaran. Feck off, saya membayar 150 ribu Rupiah untuk masuk ke dalam stadion dan jika itu adalah harga yang harus saya tebus untuk berteriak ”Nurdin Turun!”, maka merelakannya dengan senang hati.

Dalam perjalanan menuju lapangan parkir, saya berpapasan dengan segerombol ABG yang sedang bernyanyi I’m Forever Blowing Bubbles disambung chant ”United…United…” sambil bertepuk tangan. Saya terperangah takjub melihat pengaruh Green Street Hooligans kepada para remaja karena ini bukan pertama kalinya saya bertemu para ”penggemar” West Ham United di Indonesia. Saya gatal dan ingin iseng bertanya apakah mereka kenal nama Sir Trevor Brooking, tapi saya pikir, ya sudahlah…

NB: Saya bukan penggemar Bondan Prakoso.

Read Full Post »