Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Tim Nasional’ Category

Setelah lama ditunggu, akhirnya bayi podcast Indonesian Football Diary ini lahir juga dengan susah payah. Edisi perdana podcast ini mengambil topik soal situasi umum sepakbola Indonesia dewasa ini dengan narasumber: Wolga Setyanto dari @gilasepakbola, Aditya Nugroho (@aditchenko), dan Aleh Assegaf (@aleh21)

Sebagai edisi perdana, podcast yang satu ini lebih mirip bahan lawakan sebenarnya. Bagaimana tidak, host talkshownya saja tidak sadar di mana posisi kamera utama. Dasar amatir.

Sebenarnya podcast perdana ini terdiri dari 3 part yang tadinya hendak dibundel jadi 1, tapi berhubung kendala teknis, terpaksa dipecah menjadi 3 bagian terpisah yang akan diupload bergantian. Maklum, produksi gerilya.

Podcast ini gue produksi sendiri dengan bantuan Shani Budi Scorsese dari SaveAs TV.

Selamat menonton, menyimak, dan tertawa. Mudah-mudahan di edisi yang kemudian, presenternya sudah tahu posisi kamera di mana.

Read Full Post »

“Indonesia masih bisa lolos ke Piala Dunia 2014!”, “Indonesia bebas korupsi tahun depan!” “Singapura membekukan aset koruptor Indonesia”, “Syahrini berhenti memakai make-up”. Minuman apa pun yang anda pesan, saya mau segelas juga.

Kita kalah postur! Dari zaman ompung saya masih menerabas hutan Tarutung sampai sekarang, tinggi badan rata-rata orang Indonesia tidak pernah berubah, demikian juga dengan tinggi rata-rata pemain tim nasional kita. Maka alangkah tidak bijaknya menyalahkan postur badan ketika Javad Nekounam sukses dua kali menyundul bola yang merobek jala Markus Horison kemarin.

Markus sebenarnya bermain baik, terlebih di babak pertama saat berulang kali ia menyerobot umpan-umpan silang Iran yang tahu benar bahwa lawan mereka tidak diberkahi dengan postur menjulang.

Untuk tim sedominan Iran, sebenarnya mereka cukup cemen karena kurang garang di dalam kotak penalti. Di babak pertama, strategi offside Indonesia sukses berulang kali menjebak Iran, kecuali satu kali saat Zulkifli Syukur tertinggal di belakang layaknya pemudik yang ketinggalan kereta sapu jagat. Dari 4 pemain bertahan Indonesia, Zulkifli rasanya yang paling mengkhawatirkan semalam. Terlihat grogi saat kehilangan bola, tak heran Iran berulang kali menyerang lewat sisi kanan pertahanan Indonesia.

Kita memang kalah postur, tapi daripada mengutuk tinggi badan pemain kita yang pas-pasan, bukankah lebih baik mencari cara untuk mengatasi kekurangan itu? Tadinya saya mengharapkan Indonesia akan bermain taktis dengan bola pendek sebagai kompensasi tinggi badan, tapi para gelandang Indonesia kerap kalah bertarung di tengah sehingga lebih suka mengirim bola langsung ke depan.

Strategi route one macam itu sebenarnya tidak sepenuhnya inefektif karena Cristian Gonzales mempunyai kemampuan menjaga bola yang tidak dimiliki striker Indonesia lainnya. Gonzales juga yang set-up satu-satunya peluang Indonesia di babak pertama saat ia menyodorkan bola kepada Bambang Pamungkas yang tendangannya sayang masih melambung.

Tanpa adanya Boaz Solossa, Indonesia kehilangan variasi serangan. Apalagi Firman Utina sebagai dirigen gagal bersinar karena pressing ketat dari Iran. Dari kedua sayap Indonesia, M. Ilham terlihat lebih menjanjikan saat penetrasinya di kanan beberapa kali merepotkan bek lawan. Tapi capek-capek melewati bek lawan akan sia-sia jika keputusan terakhirnya adalah melepaskan umpan lambung ke kotak penalti yang dengan senang hati dihalau oleh bek-bek Iran.

Dua kali kebobolan lewat set-piece di babak kedua, postur badan tidak sepenuhnya bisa dijadikan kambing hitam, terlebih gol kedua. Aturan elementer bertahan dari bola mati adalah pilih pemain mana yang akan dijaga dan tempel terus kemana ia bergerak seperti Ashanty menempel Anang. Nyatanya, Nekounam bisa bergerak bebas dan menyundul bola tak terkawal.

Pelatih Wim Rijsbergen mencoba mengorek asa dengan memasukkan Irfan Bachdim di babak kedua, tapi yang membingungkan, ia menarik M Ilham yang cemerlang untuk memberi tempat bagi Tendangan Dari Langit. Butuh 80 menit bagi Rijsbergen untuk meyakini bahwa sudah saatnya Firman Utina diganti dengan Oktovianus Maniani. Saya pikir Okto bisa dimasukkan lebih cepat usai ketinggalan karena toh lini serang kita tak jalan.

Kredit patut diberikan pada Bambang Pamungkas dan Cristian Gonzales yang berulang kali terlihat ingin memainkan bola pendek satu-dua sentuhan walau berulang kali juga gagal. Ini jauh terlihat lebih masuk akal dibanding deretan umpan lambung yang sia-sia ke kotak penalti.

Ketiga lawan Indonesia di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia ini semuanya dari jazirah Arab dengan postur yang superior. Apakah kita harus berserah pada kenyataan fisiologis yang menyebabkan sehari sebelum pertandingan para wartawan sepakbola diyakini telah menulis template artikel, “Kita kalah postur dari <masukkan nama tim lawan di sini>”.

Kita adalah negara yang gemar membajak, dari zaman kartu telepon magnetik, DVD hingga jailbreak iPad. Orang Indonesia selalu menemukan celah untuk menembus proteksi/regulasi apa pun yang dirasa membatasi. Tugas Wim Rijsbergen (dan siapa pun pelatih tim nasional) adalah menemukan cara untuk “membajak” tinggi badan. Postur lawan selalu menyulitkan kita. Mencari cara untuk mengakali keterbatasan lebih berguna dibanding menyerah pada takdir tinggi badan.

Read Full Post »

 

 

 

 

 

 

Aldhi Febrianto menumpahkan uneg-unegnya soal pemecatan mendadak Alfred Riedl sebagai pelatih tim nasional Indonesia

Kemarin sore (Rabu 13 Juli) saya sedang iseng gak ada kerjaan di rumah. Seperti biasa, akhirnya saya hanya buka – buka timeline Twitter saya. Ada satutweet dari @detikcom yang berbunyi “Riedl Bukan Lagi Pelatih Timnas Indonesia” beserta link beritanya. Pertama saya baca biasa saja. Tapi kemudian berpikir “Riedl dipecat??!!”. Saya sangat terkejut

Berita itu kemudian diikuti tweet-tweet berita berikutnya yang lebih mendetail.

Alasan pemecatan Alfred salah satunya adalah untuk “Penyegaran”. Ya, kata itu yang keluar dari mulut Bapak Djohar Arifin selaku ketua PSSI yang baru. Penyegaran? Apa yang mau disegerin coba? Dan apakah memecat pelatih di H – 11 pertandingan Pra Piala Dunia akan membuat tim menjadi segar?

Kemudian tertulis juga bahwa PHK terhadap Alfred juga disebabkan oleh kontrak beliau yang tidak jelas. Alfred mengikat kontrak terhadap individu (yang kabarnya adalah salah satu pengusaha terkaya di dunia yang sering berkecimpung di dunia sepakbola nasional, anda tahulah siapa.) dan bukan terhadap PSSI. Jadi, pengurus PSSI yang baru tidak dapat memeriksa keabsahan kontrak itu, kontrak itu menjadi tidak jelas.

Eaaaa… kok jadi gini? Apakah masalah ini tidak bisa ditunda sampai sesudah pertandingan Pra Piala Dunia Melawan Turkmenistan? Timnas U-23 yang sudah dipersiapkan jauh – jauh hari saja masih keok di Pra Olimpiade (sama Turkmenistan juga) apalagi sekarang pakai ganti pelatih di tengah jalan segala ( H – 11 men..)?

Apakah PSSI kurang mengapresiasi jasa Alfred (Beliau lebih suka dipanggil Alfred, daripada Riedl)? Karena timnas yang dipoles oleh beliau, timnas mampu bermain cantik. Animo masyarakat Indonesia terhadap timnas pun menjadi gila. Pertandingan AFF Cup timans Indonesia selalu dibludaki oleh suporter, bahkan sampai ada (banyak) yang melawat ke Malaysia saat timnas bermain disana. Sedikit banyak ini adalah jasa Alfred. Bukankah itu adalah rapor pekerjaan yang memuaskan?

Untuk menukangi timnas di dua laga PPD, PSSI menunjuk Wim Rijsbergen, yang sebelumnya menukangi PSM Makassar di LPI. CV nya sih lumayan oke, pernah melatih beberapa klub Eredivisie dan menjadi asisten pelatih Leo Beenhakker saat menukangi Trinidad-Tobago di Piala Dunia 2006. Okelah. Hanya, dalam waktu 11 hari dan dengan pemain yang bukan pilihannya (Alfred sudah memanggil pemain untuk PPD) bisakah dia meramu komposisi tim yang oke?

Ada kabar lagi bahwa Alfred Riedl mengaku meneken kontrak bersama PSSI, bukan ke individu seperti yang dituduhkan. Dan beliau ingin mengajukan kasus ini ke FIFA. Duh, ada – ada saja ya masalah di sepakbola kita.

Walaupun begitu, negara kita pernah dibuat terpesona oleh pekerjaan Alfred. Beliau hampir membawa kita ke mimpi yang tertinggi. Kekalahan di final AFF kemarin juga bukan kesalahan beliau sepenuhnya (bukan salah dia sama sekali malah menurut saya). Tapi bila pemecatan ini adalah hal terbaik bagi kedua belah pihak, saya (dan mungkin seluruh rakyat Indonesia) hanya ingin mengucapkan..

Terima Kasih Opa Alfred Riedl 🙂

Read Full Post »

Belum terlambat untuk kembali menengok euforia yang terjadi akhir tahun silam. Bukankah masa lalu adalah sarana belajar yang terbaik? Arrayanov menulis artikel brilian ini.

Ya! tentang BOLA, permainan sepak bola sudah menjadikan penyakit LATAH menggerayangi nadi BANGSA INDONESIA! Sehari setelah putaran final yang digelar di negara jiran, pagi-pagi buta, kulihat sekumpulan ibu-ibu bergerombol di depan sebuah warung yang kulihat masih dalam keadaan TUTUP, tapi hiruk-pikuk yang kudengar begitu seru! penasaran kudekati gerombolan itu, demi mencuri dengar apa sih yang sedang diperdebatkan…OMG..mereka sedang mendemo pemilik warung! Tapi kenapa? ketika kutanyakan hal ini…jawabanya..Ceu Iroh pemilik warung sedang mogok jualan, Ceu Iroh menangis berjam-jam, karena ga terima TimNas dikalahkan Tim Malay…LHO??!! Kulihat sekitar tak kurang dari 8orang ibu yang bergerombol di depan warung tersebut, dan sungghun mengejutkan 7dari 8orang ibu-ibu itu mengenakan seragam sepak bola berwarna MERAH! masing2 dengan nomor punggung dan nama-nama pemain sepak bola PSSI, ada Gonzales, Irfan Bachdim, Octo Maniani, Bambang Pamungkas, Arif, wah..wah… eiiit… hanya satu yang beda! satu dari 8orang itu memang mengenakan seragam sepak bola, hanya saja nomor punggung dan nama yang tertera pada seragam tersebut bukan milik salah satu pemain PSSI, nama itu tertera lebih tebal dan lebih garang..“SULE” lho kok Sule??!! dan si Ibu pemilik seragam unik itu menjawab: “Lho saya kan fans-nya Sule.. tapi saya juga suka Bola, saya lihat Sule ada di antara pemain bola, di siaran TV, sambil menawarkan minuman berenergy rasa buah..” gubraaakkkssss……

Tulisan ini memang permintaan seorang teman, di malam hari ketika usai laga final piala AFF 2010. Sebut saja teman itu si Andi, tahu kah kau, Andi..dengan menulis ini pun aku merasa telah terbawa arus…LATAH…untungnya bukan latah yang seperti diderita Mpok Atie, seorang seleb nasional. Aku sempat kepikiran…ternyata LATAH itu penyakit menular, dan bersifat epidemic! bagaimana tidak..seluruh pelosok negeri tercinta tersihir, terbuai, terbakar, bahkan tergerak untuk menjadi sangat IDEALIS, NASIONALIS, dengan atau tanpa KUMIS, tak peduli berwajah MANIS atau tidak. Ya, Andi benar..Bangsa Indonesia baru saja terkena serangan EPIDEMIC LATAH..LATAH BOLA!!!

Tak kalah seru cerita sekitar latah ini, pagi hari selanjutnya ketika kubuka Face Book, ada status wall seorang keponakan yang usianya baru 10 tahun, bertuliskan “JANGAN SAMPAI KEKALAHAN INI MENETAP..BANGKITLAH GARUDAKU”  dengan perasaan heran bin bingung kutanyakan saja langsung tentang status wall yang baru saja ditulisnya, bukan apa-apa..keponakanku itu baru saja mengganti NAMA di FACE BOOK..nama yang sebenarnya kan Alma Athira..kenapa harus diganti? bagiku itu nama yang sangat indah! Dan yang lebih mengejutkan, yang menjawab pertanyaanku malah adik si Alma..Aliya..yang baru berumur kurang dari 4tahun… “Uwa.. nama teteh bukan Alma Atila, tapi  ALMA GONZALES!! Adek dong ganti juga.. jadi ALIYA BADIM…..” jawaban yang sangat meyakinkan walau harus cadel menyebut BACHDIM…ck ck ck…

“Wah! kamu ga tau sih… ku bilang ya…ketika mendengar lagu kebangsaan INDONESIA RAYA diperdengarkan di stadion GBK, aku merasakan hal yang aneh! bulu kuduk meremang, jantungku berdebar kencang! ada perasaan haru, semangat membara, rasa cinta, dan rasa memiliki yang amat kuat bercampur baur di dalam hatiku! RASA NASIONALISME ku bangkit seketika!” itu ungkapan seorang teman yang sangat beruntung mendapatkan tiket bangku VVIP saat Indonesia mengalahkan Malaysia dengan skor 5 gol.

NASIONALISME??? huuh apa yang terjadi dengan kericuhan di tempat antrian tiket di GBK Senayan Jakarta pada tanggal 24-25 Desember lalu? Hampir saja kerusuhan besar terjadi, kita tahu kerusuhan selalu berdampak pembakaran, pengrusakkan, perkelahian massal, pokoknya segala hal yang berbau anarkis..harus kah?? Tapi selidik punya selidik, ternyata kekisruhan itu hanya sebuah kategori KEBODOHAN di akhir tahun, bayangkan ribuan orang disuruh ngantri tiket dengan harga yang telah disepakati sebelumnya, jumlah tiket yang dijual sudah diumumkan sebelumnya. Saat-saat terakhir yang krusial.. seluruh panitia malah berangkat ke Malaysia, termasuk panitia yang mengurusi penjualan tiket untuk Laga Final tanggal 29 Desember!!! Tugas penjualan tiket diserahkan pada satpam, petugas keamanan GBK!!! what a stupid!!!! yang lebih bodoh lagi, tiba-tiba harga tiket melambung 2x lipat dari harga resmi yang telah diumumkan!!! ini STUPID KUADRAT namanya! Untung saja FIFA tidak langsung memberikan sanksi terhadap PSSI, atas ketidakbecusannya mengurus penonton pertandingan yang harusnya menjadi tanggung jawab yang serius!

Satu lagi tentang NASIONALISME yang hampir saja dicederai oleh oknum pejabat, konglomerat, pengusaha, orang kaya raya, dan berkuasa..atau jangan-jangan memang cedera sungguhan? hanya saja karena euforia besar-besaran dari pendukung TIMNAS mengalahkan kepekaan terhadap cedera yang harusnya bisa mengakibatkan borok dan kebobrokan terulang di tubuh PSSI, bayangkan saja..kehadirannya membawa bau busuk lumpur! tapi dengan wajah sok’ kebapaan, sok polos, dan sok berwibawa, dia menjelma jadi sinterklas, membagi-bagikan uang, menjanjikan hadiah besar untuk para pemain sepak bola yang bisa membawa nama Indonesia jadi harum! Oh Tuhan… sungguh dia tak tau ada anak berumur 4tahun kurang yang sudah hafal nama para pemain sepak bola PSSI, anak berumur 10 tahun yang dengan tulusnya memberi dukungan pada para pahlawan olah raga Indonesia, doa tulus dari CEU IROH sang pelaku ekonomi nasional di  strata sosisal paling bawah, ada seorang pemuda yang baru saja menghayati rasa nasionalisme nya bangkit, dan dicurahkannya dalam bentuk doa dan dukungan untuk bangsa Indonesia, untuk para pemain bola dari PSSI.

Terus terang untuk ku pribadi, berlaku hal yang sama, aku mendukung, dan berdoa agar SEPAK BOLA INDONESIA bisa sekelas internasional, bisa kubanggakan seperti aku bangga saat Chelsea jadi juara tahun lalu, aku sangat fanatik terhadap tim-tim dunia, diantaranya Chelsea, ikut sedih kala Chelsea sekarang terpuruk!, kekalahan-demi kekalahan dideritanya. Semangat dan kecintaanku terhadap permainan bola sempat terobati ketika pemain-pemain lokal di laga PIALA AFF 2010 memperlihatkan perkembangan yang tak terduga, aku yakin itu berkat kerjasama tim dan pelatih yang profesional! Pelatihan ketat! Disiplin tinggi! Dan sedikit menekan perasaan curiga bahwa perkembangan pesat itu hanya dikarenakan janji-jani yang menggiurkan, hadiah uang dalam jumlah banyak!

Sebenarnya wajar para pemain bola mendapatkan hadiah yang layak, apapun bentuknya, buka mata dan pikiran! betapa rakyat Indonesia begitu mudah dibangkitkan rasa nasionalisme nya, betapa penyakit LATAH itu sangat fenomenal di akhir tahun 2010 ini..Betapa perasaan haru ini menyeruak ketika mendapati lambang GARUDA ada di mana-mana, dan slogan GARUDA DI DADA bagai sebuah ‘magic word’  yang sangat ampuh untuk membangkitkan rasa NASIONALISME BANGSA INDONESIA!!tapi sangat pedih dan luka hati ini ketika ada usaha-usaha yang telah dan terus dilakukan oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab.. MEMASUKKAN UNSUR POLITIK ke dalam persepakbolaan kita.

Bukan! Bukan NASIONALISME 90 MENIT!!! Bangsa Indonesia sebenarnya bangsa yang penuh cinta! terbuka! dan mudah dipersatukan, kita sudah punya slogan yang gagah BHINEKA TUNGGAL IKA yang menggambarkan eksistensi bangsa yang besar!

Jangan! Jangan jadikan penyakit LATAH BOLA sebagai isme baru… NASIONALISME 90 MENIT…cegah bau busuk lumpur merusak kebangkitan nasionalisme! Junjung tinggi PROFESIONALISME!

*tulisan ini juga pernah dimuat di Kompasiana.com pada 29 Desember 2010

Read Full Post »

I love thee, I love but thee, with a love that shall not die till the sun grows cold, and the stars grow old – William Shakespeare

Seperti yang mereka ajarkan kepada saya, ada beberapa jenis cinta yang didasarkan pada kata aslinya dalam bahasa Yunani:

  1. Eros, cinta romantis yang berapi-api yang anda temukan saat anda tertarik pada lawan jenis
  2. Philia, cinta persahabatan yang anda rasakan kepada keluarga, teman, dan segala bentuk persaudaraan
  3. Agape, cinta sejati tak bersyarat yang terlihat pada hubungan Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya, ibu kepada anaknya, atau………..suporter sepakbola kepada timnya.

”Buat apa sih pergi ke Malaysia? Paling-paling nanti diejek satu stadion,” ujar mereka sinis ketika saya mengutarakan rencana ingin bertandang ke Kuala Lumpur mengikuti tim nasional Indonesia. Kultur bepergian untuk menonton sepakbola memang tidak dikenal luas dalam masyarakat kita. Wilayah Indonesia yang membentang luas terpisahkan lautan membuat kita tak akrab dengan fakta bahwa dalam dunia sepakbola dikenal suporter tandang.

Dalam level pertandingan apa pun, suporter tandang selalu membuat saya kagum. Mereka menyisihkan uang dan waktu untuk berkelana ke mana pun tim pujaan mereka pergi tidak peduli menang atau kalah. Suporter tandang merasa bahwa timnya butuh mereka dan mereka butuh timnya.

Beberapa suporter klub lokal memang rutin melakukannya – meski dalam jumlah kecil sekalipun, tapi dalam konteks tim nasional, bepergian untuk menonton Merah Putih berlaga masih asing di telinga kita. Sejak beberapa bulan lalu saya mencoba menggali informasi apakah pernah ada catatan suporter Indonesia bertandang keluar negeri, dan hasilnya memang tidak ada. Beberapa orang mengatakan kepada saya bahwa beberapa tahun lalu pernah ada beberapa suporter yang bertandang ke Singapura, tapi mereka disponsori oleh sebuah perusahaan apparel ternama. Selebihnya, setiap kali Indonesia berlaga di luar negeri, yang menonton hanya sebatas pekerja Indonesia di negara setempat plus staf KBRI. Faktor geografis dan ekonomi yang menyebabkannya.

Sejak pertengahan tahun saya telah bertekad bahwa sebelum tahun 2010 berakhir, saya akan mengikuti Indonesia bertanding di luar negeri setidaknya sekali. Saya memenuhinya.

***

”Di mana orang Indonesia yang lain?” tanya Andibachtiar Yusuf (Ucup) saat kami berkeliaran di Bukit Bintang pada Minggu dini hari selepas mendarat di Kuala Lumpur. Dalam bayangan saya yang dijejali dengan berbagai literatur suporter sepakbola plus video Youtube dan bayangan Ucup yang sudah berulang kali menonton sepakbola di Eropa, suporter tandang selalu ”menjajah” kota tujuan mereka. Mereka akan memenuhi pusat keramaian dan membuat kebisingan sendiri. Tapi malam itu, hanya kami berlima yang terlihat di jalanan dengan syal merah tersampir di tas ransel kami.

Yang saya tahu sebenarnya kami hanya berangkat berempat dari Jakarta. Saya dan Ucup memang sudah berikrar sejak lama untuk melancong sepakbola, ditambah dengan Aang dan Mega, dua kolega Ucup. Di Soekarno-Hatta rupanya Rusmin, Ongston (Obe), dan Andreas Marbun bergabung menambah jumlah anggota laskar kami.

Pesawat Air Asia yang kami tumpangi memang mengangkut beberapa suporter Indonesia yang datang khusus untuk menonton sepakbola. Kaus berlogo Garuda adalah busana yang lazim malam itu, tapi tidak seorang pun dari kami yang mengenakannya. Hanya syal merah lambang identitas kami.

Waktu hampir tengah malam saat kami tiba di LCCT, bandara internasional Malaysia untuk penerbangan murah. Beberapa jam sebelumnya seorang teman yang sedang transit di Kuala Lumpur dari Swiss menuju Jakarta mengabarkan bahwa ia melihat ratusan suporter Indonesia mengusung bendera Merah Putih. Larutnya malam membuat saya mengerti mengapa pemandangan serupa tak terlihat.

Lazimnya bandara di kota besar, lokasi LCCT terletak di pinggir kota. Walaupun Soekarno-Hatta juga demikian, rasanya lokasi LCCT jauh lebih ke pinggir dari pusat kota karena dengan jalan yang sedemikian lancar kami membutuhkan satu jam untuk mencapai tempat perhentian kami, KL Sentral, stasiun kereta pusat di Kuala Lumpur.

Kereta sudah berhenti beroperasi lewat tengah malam dan terpaksa kami menaiki taksi yang mentalnya sama persis dengan mental supir taksi bedeng di Jakarta: borongan. Karena rombongan kami yang cukup banyak, kami terpaksa memakai dua taksi. Saya lupa berapa nominal harga yang harus kami bayar, tapi rasanya cukup mahal. Saya, Ucup, dan Rusmin menumpang taksi satu, sedang sisanya yang lain.

Saya cukup terkejut mendapati seorang gadis duduk di bangku depan dan mulai berpikir keras apakah ini termasuk servis taksi mahal ini. Rupanya sang gadis adalah pacar sang supir yang memang masih muda itu. Saya tidak tahu pengalaman anda, tapi baru kali ini saya melihat supir taksi membawa pasangannya ke tempat kerja.

Dalam perjalanan kami bersenda gurau tentang pertandingan besok dengan sang supir yang cukup ramah. Si supir mengatakan bahwa Malaysia akan menang besok 3-0 sedang Ucup ngotot Indonesia akan menang 7-0. Secara spesifik juru mudi kami itu menanyakan apakah Bambang Pamungkas masih bermain. Karir Bepe yang sukses bersama Selangor FC rupanya menyisakan kenangan manis bagi kebanyakan warga Malaysia. Ucup lalu menjelaskan bahwa Bepe sekarang cadangan tapi langsung menambahkan bahwa Bepe akan masuk sebagai pemain pengganti dan mencetak 5 gol ke gawang Malaysia.

Tentu saja sang supir agak keberatan dengan prediksi skor asal-asalan dari Ucup, tapi ia tak memungkiri kemampuan Bepe mencetak gol.

”Di sini namanya bukan Bambang Pamungkas, kita sebut dia Bambang Pemusnah,” ujar sang supir.

Ucup yang suporter Persija sejati itu terkekeh-kekeh saat tahu jagoannya ternyata ditakuti di negara lawan. Saya dan Rusmin tak banyak bicara dalam perjalanan. Kami berdua takjub menyimak perdebatan kocak antara Ucup dengan supir taksi. Saya sendiri geli mendengar Ucup berbicara bahasa Melayu karena kadang-kadang hanya aksennya saja yang dicengkokkan Melayu, kosakatanya tetap bahasa Indonesia.

***

Kami telah memesan hotel dari Jakarta dan saya memang tak pernah membayangkan penginapan yang mewah, tapi apa yang kami dapatkan cukup mencengangkan. Kawana Tourist Inn adalah sebuah penginapan di Jalan Pudu, pengelolanya seorang ibu paruh baya yang nampaknya masih saudara jauh Rajagobal.

Saya tak tahu apakah citra orang Indonesia di sana sedemikian jahat, tapi si ibu ini kelihatan kaget dan takut melihat kami datang bertujuh. Ia bersikeras bahwa kami hanya memesan kamar untuk berempat dan tidak ada ruang lagi bagi sisanya. Pintu masuk ke hotel lebih mirip pintu penjara, dengan jeruji tebal dengan kunci grendel. Hanya 4 dari kami yang diizinkan masuk untuk melihat kamar.

Melihat kondisi hotel yang tidak kondusif dan mengaku dirinya Claustrophobic, Ucup menyerah dan mengatakan ia tidak bisa tinggal di ruang terisolasi seperti itu. Yang lain pun mengamini dan akhirnya kami melanjutkan perkelanaan kami meninggalkan Mega dan Aang yang memang sedang tidak fit.

Kami berlima berjalan menyusuri jalan hingga kawasan Bukit Bintang. Awalnya saya mengira bahwa kawasan Bukit Bintang ini adalah padanannya Jalan Jaksa di Jakarta, kawasan untuk turis budget rendah. Tapi keramaiannya dan luas areanya lebih besar dari Jalan Jaksa yang hanya satu gang itu.

Untuk sebuah negara yang katanya memegang teguh nilai agama, Bukit Bintang sebagai bagian dari Kuala Lumpur adalah sebuah tempat yang sangat sekuler. Saya cukup terkejut karena awalnya memperkirakan Kuala Lumpur tak lebih dari sekedar Depok yang dipimpin Nur Mahmudi Ismail.

Setelah mengisi perut dengan Chinese Food di pinggir jalan, kami menyambangi semua penginapan yang kami temui dan semuanya jawabannya sama, tidak ada kamar kosong. Saya merasa seperti Yusuf dan Maria yang ditolak semua hotel di Betlehem malam itu.

Kami berjalan mengitari Bukit Bintang dan hasil yang kami temui tetap nihil. Kami membutuhkan tempat untuk meluruskan kaki dan istirahat sejenak kami membutuhkan tenaga untuk berperang esok malam di Bukit Jalil. Berdasarkan pengalamannya melancong ke berbagai daerah di Indonesia, Obe datang dengan ide brilian untuk mencari masjid atau gereja untuk tempat menumpang beberapa jam. Entah kenapa ide tersebut diacuhkan, Ucup tak begitu antusias.

Karena lelah berjalan kaki, kami harus mencari tempat untuk menarik napas. Ide brilian lain muncul untuk menjadi duta budaya dan memperkenalkan kultur urban Jakarta kepada warga Kuala Lumpur. Kali ini idenya kami sambar dan beberapa menit kemudian kami mendapati diri kami sedang melakukan apa yang dilakukan mayoritas anak muda Jakarta: nongkrong di depan 7-11 !

Semua orang yang hilir mudik mengamati kami dengan aneh. Empat orang pemuda plus satu bapak-bapak (Ucup, tentu saja) dengan syal Merah duduk di lantai sambil menenggak bir, minuman ringan, dan mengunyah cemilan. Kami sudah lelah dan kantuk menyerang. Ucup bahkan tertidur dalam posisi duduk tanpa sandaran. Kami telah mencari hotel sejak pukul 2 dini hari dan kami berada di depan 7-11 hingga pukul 6.

Akhirnya kami bangkit dan memutuskan untuk mencari penginapan lagi. Target kami sederhana, tempat apa pun yang memiliki atap dan pintu serta bisa menampung kami berlima. Jika memang tersedia kandang binatang seperti yang ditemui Yusuf dan Maria, jadilah itu.

Satu jam lagi matahari muncul, tapi tempat menginap belum kami dapat juga. Andreas yang memang pernah tinggal di Kuala Lumpur menjadi juru bicara kami dan selalu kembali dengan berita yang sama. Di tengah keputusasaan, tiba-tiba seorang pria India muncul dan memberikan titik terang. Andreas sempat mengiranya sebagai supir taksi, tapi rupanya ia hendak menyewakan kamarnya di Hotel 168 kepada kami separuh harga. Selidik punya selidik, ternyata si om India ini baru saja memakai kamar tersebut untuk kegiatan seksualnya dan seperti katanya Russell Peters, orang India tak akan melewatkan kesempatan untuk tidak rugi.

Karena terlampau lelah, kami langsung menyambut tawarannya meski sulit bagi kami menepikan pikiran bahwa beberapa jam yang lalu seorang pria India dan pasangannya baru saja berkopulasi di tempat tersebut.

Di dalam kamar yang sempit itu kami berlima berjejalan. Ucup dan Obe kebagian tempat di kasur, sementara saya, Andreas, dan Rusmin terpaksa merebahkan diri di lantai. Meski harus merasakan kerasnya ubin, paling tidak mereka yang tidur di lantai terhindarkan dari kemungkinan bercak cairan yang menempel di seprai.

***

Bangun pagi sekitar pukul 10, permufakatan jahat yang tak disengaja menyebabkan Obe tertinggal di kamar ketika kami keluar mencari sarapan. Kami mendapatkan santapan pagi di sebuah restoran nasi hainam sekaligus janjian dengan Assidra, mahasiswa Indonesia yang mengurus pembelian tiket kami. Pagi itu juga kami kedatangan pasukan lagi, Didit yang baru mendarat di Kuala Lumpur dari Jakarta bergabung dengan kami.

Karena jumlah anggota rombongan bertambah ditambah rasa enggan untuk bermalam di tempat yang sama lagi, kami berpindah ke penginapan lain dan mendapatkan kamar berupa barak dengan 8 tempat tidur bertingkat.

Spanduk yang kelak bermasalah itu sedang dibentangkan di kamar hotel kami

Inilah Andreas Marbun yang tersohor itu. Dasar orang Batak, tersenyum pun masih kaya mau mukul orang

Selesai beres-beres, kami segera memulai perjalanan menuju stadion. Bukit Jalil terletak sedikit di luar kota dan untuk mencapainya kami perlu berganti kereta dua kali: naik monorail hingga ke stasiun Hang Tuah dan berganti LRT hingga stasiun Bukit Jalil.

Ada sebuah perasaan yang tak terlukiskan yang menerpa saat kami berjalan kaki dengan syal dan bendera Merah Putih. Kami adalah orang Indonesia yang kalian remehkan itu dan sekarang kami sedang menginvasi negara kalian. Tak usah dibayangkan bagaimana jumawanya kami saat orang-orang yang kami temui memberi tatapan aneh kepada batalion kami yang sedang berbaris menuju medan perang. Hari itu kami mendapat izin untuk menjadi chauvinis sejati yang lebih fasis dari laskar Manohara sekalipun.

Hari ini kami sah untuk jadi chauvinis

Dalam perjalanan kami menemui beberapa orang Indonesia yang sedang berlibur, beberapa datang untuk sepakbola, beberapa tidak. Tapi di stasiun LRT menuju Bukit Jalil lah terjadi momen terbaik dalam perjalanan sepakbola saya sejauh ini.

Dengan suporter Indonesia lain, kebanyakan pekerja lokal

Kami bertemu dengan beberapa suporter Indonesia di stasiun dan kami ketahui bahwa mereka adalah pekerja kasar di Malaysia. Kebanyakan kuli bangunan atau pekerjaan yang setara. Mereka menyisihkan gajinya yang tak seberapa itu untuk menonton negara yang sudah lama mereka tinggalkan itu berlaga di lapangan hijau. Orang-orang ini mungkin akan tergagap jika ditanya arti kata ”patriot”, tapi yang mereka tahu mereka harus hadir di stadion hari itu.

Bersiap menunggu kereta

Tak lama kemudian beberapa suporter Indonesia lainnya turut mengantri tiket kereta. Saya mengenal beberapa dari mereka yang tergabung dalam Arsenal Indonesian Supporters (AIS) itu. Kami mengantri tiket bersama dan beberapa menit kemudian peron stasiun tersebut memerah, penuh dengan suporter Indonesia. Warna kuning terlihat samar karena beberapa suporter Malaysia juga menunggu kereta yang sama, tapi stasiun tersebut jelas telah jatuh ke tangan suporter Indonesia.

Situasi berbalik saat kereta tiba dan pintu gerbongnya terbuka. Kereta tersebut dipadati massa beratribut kuning yang lebih pekat dari kuningnya Jalan Sudirman saat Golkar sedang kampanye. Berbekal jiwa ultra-nasionalisme dan semangat jingoistik yang menyala-nyala, kami menapakkan kami ke dalam gerbong di tengah lautan kuning. Setelah gagal menyemburkan adrenalin sejak kemarin, kali ini kami menemukan apa yang kami cari-cari: musuh!

Awalnya atmosfer tetap dingin, tapi ketika kereta mulai berjalan, suporter Indonesia di gerbong sebelah mulai nge-chant, ”In-do-ne-sia! In-do-ne-sia!” dan bernyanyi Garuda di Dadaku. Tidak ada jawaban dari suporter Malaysia yang kebanyakan terperangah melihat makhluk-makhluk primitif ini teriak-teriak di kereta.

Saya ikut menimpali dan bersama Ucup nge-chant ”Five and one, you know you’re shit!”, merujuk pada skor pertandingan penyisihan di Jakarta. Lagi-lagi tidak ada jawaban dari suporter Malaysia. Obe, yang pernah tinggal di Newcastle dan bekas pemegang tiket terusan St James Park, malah menyanyikan beberapa chant Newcastle United.

Menjelang tiba di stadion, tensi di dalam kereta semakin memanas. Suporter Indonesia di gerbong sebelah tetap bernyanyi Garuda di Dadaku dan berteriak, ”In-do-ne-sia!”, kali ini sambil memukul-mukul dinding kereta. Kami menyambut mereka dengan teriakan yang sama dan turut memukul dinding kereta.

Kali ini suporter Malaysia nampaknya sudah gerah dengan kami dan setiap selesai satu nyanyian, mereka serentak meneriaki kami balik, ”Wooo!!”. Kejadian itu berulang terus hingga kereta tiba di Bukit Jalil dan nampaknya hanya itu yang mereka bisa.

***

Stadion Bukit Jalil terlihat lusuh dari luar, seperti pembangunannya terhenti saat baru dicor dan tidak sempat dicat. Warnanya kusam dan terkesan tidak megah. Bila dibandingkan dengan tiang-tiang besi Gelora Bung Karno yang terlihat jelas dari luar, stadion Bukit Jalil nampak seperti barang KW.

Kami tiba di stadion pukul 5 sore dan suporter kedua belah pihak sudah memadati lingkungan stadion. Suporter Indonesia yang kebanyakan pekerja setempat berkumpul di satu sisi, sedang Ultras Malaya, suporter garis keras Malaysia di sisi satunya lagi. Saat berbicara mengenai suporter ultras di Malaysia, jangan bayangkan ultras di Italia atau Aremania di Indonesia. Suporter Ultras di negeri jiran ini tak lebih dari sekelompok orang dengan alat musik tabuh, bendera raksasa, dan mercon yang kebetulan lebih berisik di banding yang lainnya.

Meski kalah jumlah, anda tak akan bisa meragukan militansi orang Indonesia. Mereka akan membuat kebisingan di mana pun mereka berada. Saya bisa membedakan mana suporter Indonesia yang memang bermukim di Malaysia dan mana yang khusus datang dari Jakarta untuk menonton. Mereka yang terbang dari penjuru nusantara menuju Kuala Lumpur kebanyakan berwujud turis sepakbola, terlihat dari berbagai simbol kenyamanan yang mereka kenakan. Berbeda dengan kami, gembel-gembel yang lusuh dan kurang tidur.

Anak kecil aja tahu!

Teeettt! Salah kaos! YSB

Polisi-polisi Malaysia di belakang tidak terlalu antusias dengan pemandangan yang dilihatnya

Santa goes rasta

Anak-anak punya cara tersendiri memahami sepakbola

Seandainya lawan kita malam itu cuma Upin-Ipin.....

Tipikal aksi provokasi suporter Malaysia hari itu, menyelip-nyelip di antara suporter Indonesia sambil bawa bendera Malaysia

Sumpah, di Malaysia juga ada calo!

Obe dan Didit dengan suporter Indonesia tercantik hari itu di Bukit Jalil. Ada yang kenal ini cewe siapa gak? *serius nanya

Macam di Inggris, pengamanan pun termasuk pasukan kavaleri

Larangan membawa petasan tertulis gede-gede di pintu masuk. Suporter Malaysia sendiri yang melanggarnya

Walaupun penuh semangat meneriakkan yel-yel dan semangat, kebanyakan suporter Indonesia ini hanya bisa meneriakkan ”In-do-ne-sia!” (tanpa lanjutan tepukan tangan pada intervalnya), tidak ada lagu lain. Tidak juga lagu Garuda di Dadaku dan Kita Harus Menang. Mereka sudah terlalu lama tidak menonton sepakbola Indonesia dan asing dengan segala macam budaya stadion. Atmosfer sepakbola Malaysia yang payah sudah mempengaruhi mereka.

Menjelang gelap, kami bergerak menuju pintu stadion. Satu gerbang khusus didedikasikan untuk suporter tandang, persis di stadion-stadion Inggris. Saat sedang menunggu di pintu gerbang itu, tiba-tiba konvoi beberapa bis besar lewat. Kami bersemangat karena mengira bis tersebut ditumpangi pemain. Kekecewaan besar terjadi karena pada kaca depan bis tersebut tertempel kertas bertuliskan, ”Rombongan DPP Partai Demokrat”. Anas Urbaningrum terlihat tersenyum melambaikan tangan ke arah suporter serasa pahlawan. Suporter yang muak dengan politisi meneriaki, mencemooh rombongan pengurus Partai Demokrat tersebut. Beberapa mengacungkan jari tengah dan menendang bis. Anas Urbaningrum tak lagi tersenyum.

Lusuhnya Stadion Bukit Jalil dari luar rupanya tidak menggambarkan isi dalamnya. Di luar dugaan stadion ini nampak megah dari dalam dengan arsitektur mentereng. Saya rasa stadion ini memenuhi standar Eropa dan dari jauh pun saya bisa memastikan bahwa rumputnya lebih baik dari di GBK.

Pemandangan Stadion Bukit Jalil dari tempat saya berdiri

Indonesian Red Army....satu-satunya yang merusak adalah spanduk muka-muka politisi yang berwarna hijau itu

Satu sisi tribun khusus disiapkan untuk suporter Indonesia dan kami memilih tingkat 2. Jatah tiket suporter Indonesia adalah 15.000 lembar dan semuanya habis terjual, tapi tetap saja tidak semua bangku pada tribun Indonesia terisi penuh. Saya menduga memang pihak panitia sengaja tidak melepas jumlah tiket sama dengan kapasitas tribun. Hal ini menjadi masalah saat suporter Malaysia merangsek masuk ke tribun Indonesia (karena memang masih ada bagian kosong) yang berdampak pada aksi lempar-lemparan botol.

Saya betul-betul kecewa saat Indonesia Raya berkumandang dan mayoritas suporter Indonesia tidak bernyanyi, lebih sibuk berteriak-teriak tak jelas. Benar memang bahwa panitia sengaja tidak memasang volume maksimal, tapi menyanyikan lagu kebangsaan adalah sesuatu yang selalu saya tunggu sehingga selalu awas menantinya. Mayoritas suporter kita baru mulai bernyanyi di tengah lagu.

Saat lagu kebangsaan Malaysia, Negaraku berkumandang, Bukit Jalil bergemuruh. Saya hanya tergelak geli saat Ultras Malaya membentang bendera Malaysia raksasa dengan posisi terbalik! Saya tidak tahu kalau Kuala Lumpur sudah jatuh ke tangan musuh malam itu. Tidak hanya itu, flare yang dinyalakan para suporter Malaysia pun berwarna merah. Aneh jika negara yang bisa membangun twin tower Petronas tidak mampu memproduksi mercon berwarna kuning.

Suporter Malaysia mempunyai cara yang unik untuk menyemangati timnya. Entah komando dari mana (hanya suporter Indonesia yang memiliki dirigen yang berdiri di depan untuk mengarahkan gerakan), orang-orang Malaysia ini akan mengangkat bendera Malaysia yang terbentang dengan perlahan menggunakan kedua tangannya, lalu ketika sampai di atas kepala, mereka akan mengibar-ngibarkan bendera sambil meneriakkan yel-yel yang tidak bisa jelas saya dengar.

Di tingkat bawah suporter Indonesia dan Malaysia lempar-lemparan botol. Perhatikan di tingkat 2 tidak ada buffer pemisah kedua suporter karena fans Malaysia menginvasi wilayah kita

Berbeda dengan berita di media massa keesokan harinya bahwa suporter kita ditimpuki suporter Malaysia, yang benar terjadi adalah suporter Indonesia lempar-lemparan botol dengan suporter Malaysia, sebuah perang yang seimbang. Hal ini tak terelakkan karena suporter Malaysia menginvasi beberapa titik tribun kita. Apalagi di tribun belakang gawang, suporter Malaysia masuk ke tingkat 3 dan dengan mudah melempari suporter Indonesia di bawahnya. Saya menyayangkan suporter kita yang membiarkan suporter Malaysia menginvasi tribun kita, tapi saya mengerti karena kebanyakan mereka adalah pekerja lokal yang sebisa mungkin menghindari masalah. Seandainya 15.000 lembar tiket jatah kita diberikan kepada The Jak, Viking, Aremania, yang memang jemaah sepakbola reguler di tanah air, bentrok hebat pasti terjadi dan Bukit Jalil sudah pasti jatuh ke tangan kita.

Drama di luar lapangan terjadi saat beberapa petinggi PSSI dikawal Polisi Diraja Malaysia naik ke tribun kami untuk melepas spanduk “Turunkan Nurdin Halid” yang kami bentangkan beberapa jam sebelum pertandingan. Pengurus-pengurus PSSI tersebut, yang diidentifikasi bernama Mafirion dan Togar Manahan Nero, marah-marah sambil mencari-cari siapa yang berani memasang spanduk yang menghina bosnya tersebut. Ucup adalah figur yang paling dikenal dan Mafirion menghardiknya. Ucup mengelak dan Mafirion serta Togar mengalihkan pandangan kepada Andreas yang memang mengenakan kaus “Turunkan Nurdin Halid”.

Duo PSSI ini lalu menginstruksikan Polisi Malaysia untuk menahan Andreas. Luar biasa. Orang Indonesia menyuruh polisi Malaysia untuk menahan orang Indonesia lainnya. Brengsek. Ucup berusaha untuk membela Andreas dan menawar agar spanduk dan kaus saja yang dilepas, orangnya tidak ditahan. Tapi rupanya Mafirion dan Togar tidak bergeming dan terus menekan Polisi Malaysia agar menggelandang Andreas.

Melihat gelagat buruk, saya berusaha mencegah penahanan Andreas. Saya memprovokasi ribuan suporter Indonesia yang awalnya secara ajaib tidak terusik sedikit pun melihat saudaranya sesama suporter hendak ditahan. Orang-orang Indonesia yang bermukim di Malaysia ini tidak begitu familiar dengan isu Nurdin Halid dan reformasi PSSI, tapi mereka langsung gerah melihat Polisi Diraja Malaysia dan sontak ribuan orang di belakang saya berdiri dan meneriaki Mafirion dan Togar sambil mengarahkan telunjuk. Saya tempat dihardik dan hendak ditarik oleh beberapa anggota rombongan PSSI ini karena membangkitkan massa, tapi provokasi saya berhasil karena Mafirion, Togar, dan Polisi Malaysia akhirnya sepakat untuk menyita spanduk dan kaus Andreas saja.

Mood saya untuk menonton pertandingan rusak dalam sekejap karena orang-orang dungu itu. Kemarahan bisa sedikit terobati karena Indonesia mendominasi babak pertama dan hampir mencetak gol pada beberapa kesempatan. Optimisme saya membubung tinggi dan saya percaya kita bisa pulang dari Bukit Jalil dengan kemenangan.

Indonesia kembali menyerang ketika babak kedua dimulai dan hampir unggul jika gol Cristian Gonzales tidak dianulir karena berdiri offside. Perilaku suporter Malaysia yang kurang ajar dengan menyorotkan laser kepada pemain Indonesia sudah terjadi sejak babak pertama, tapi baru pada babak kedua Indonesia melakukan protes dengan keluar dari lapangan. Belakangan baru diketahui bahwa aksi protes itu tidak dinstruksikan oleh pelatih Alfred Riedl, tapi oleh Nurdin Halid sendiri yang turun ke pinggir lapangan.

Saat pemain Indonesia keluar dari lapangan itu sebuah petasan besar dilemparkan suporter Malaysia dan meledak di dalam lapangan. Hal tersebut kembali terulang beberapa menit kemudian saat pemain Indonesia sudah kembali ke lapangan dan menurut saya harusnya pertandingan dihentikan saat itu juga karena membahayakan pemain.

Tribun Indonesia mulai kosong setelah tercipta gol ketiga...

Ritme permainan Indonesia terganggu dan kita tak pernah bermain sebaik sebelumnya pada pertandingan itu. Indonesia kebobolan tiga gol dalam 20 menit terburuk dalam perjalanan sepakbola saya. Mayoritas suporter Indonesia meninggalkan stadion usai gol ketiga tercipta padahal waktu masih menyisakan 15 menit lagi. Saya tidak peduli anda penggemar sejati atau penonton dadakan, tapi suporter tidak seharusnya meninggalkan stadion sebelum pertandingan selesai. Saya mencoba mengerti perasaan mereka dan berkesimpulan bahwa mereka kecewa karena tujuan mereka datang ke stadion tidak tercapai. Mereka adalah orang-orang yang kalah dalam kehidupan sehari-hari, saat mereka datang untuk menang dan kembali kalah, tak ada guna mereka berlama-lama di sana.

Saya terus berdiri di tribun sampai sekitar 10 menit setelah pertandingan usai. Saya terpukul dan tak mampu berkata apa-apa. Saya memandangi Ucup, Andreas, Obe, Didit, Rusmin, dan Aang dengan tatapan nanar. Kita menyeberangi lautan untuk melihat Garuda dipermalukan tiga gol tanpa balas. Lidah saya kelu.

Dengan langkah gontai kami melangkah keluar dari stadion. Di luar kami melihat reporter sebuah TV Indonesia sedang mewawancarai fans Indonesia dengan pertanyaan tipikal, ”Bagaimana perasaan anda setelah kalah?” Emosi dan mental yang sedang labil menyebabkan darah saya menggelegak sehingga saya langsung menyambar mikrofon dari tangan si reporter dan berteriak di depan kamera, ”Bakrie jangan ikut campur sepakbola Indonesia!”

Ucup yang tak kalah emosi langsung merebut mikrofon dari tangan saya dan menumpahkan makiannya, ”Kalian a*****! Media a*****! Kalian yang bikin kita kalah! Bangsat kalian semua!” Hampir terjadi bentrok antara kami dengan kru tv tersebut sebelum dipisahkan oleh suporter Indonesia lainnya.

Sebelum berangkat ke Malaysia kami memang sudah kesal sekali dengan berbagai terpaan yang dilakukan seluruh media nasional terhadap timnas Indonesia. Entah mereka sadar atau tidak, tapi segala sorotan yang berlebihan kepada tim nasional hanya menambah beban berat kepada para pemain yang diharapkan bisa membawa pulang kemenangan. Tidak terkecuali TV yang krunya kami maki-maki itu, berkat koneksi pemiliknya yang mendadak peduli sepakbola karena dijadikan ajang cari muka, mereka bisa satu pesawat dengan skuad timnas saat bertolak ke Kuala Lumpur. Pertama kali terjadi di dunia, tim nasional berangkat bersama kru media.

Perjalanan kami keluar dari kompleks stadion adalah perjalanan penuh nestapa. Karena mayoritas suporter Indonesia sudah pulang sebelum pertandingan usai, kami bersembilan harus membelah lautan kuning suporter Malaysia. Ucup berjalan paling depan memimpin pasukan kami. Bendera Merah Putih yang menutupi punggungnya terikat di lehernya. Kami mengikuti dari belakang. Tidak satu pun dari kami yang menanggalkan atribut Indonesia.

Setiap kali berpapasan dengan kerumunan suporter Malaysia, teriakan mengejek dialamatkan kepada kami. Mereka mengibar-ibarkan bendera Malaysia ke arah kami, beberapa bahkan beranjak dari tempatnya berdiri untuk menghampiri kami dan melakukan hal yang sama. Kepala kami tetap tegak, mereka terus-menerus memprovokasi kami tapi kami berusaha tenang tidak terpancing.

Pada satu titik kesabaran saya habis dan memutuskan nekat untuk menabrak kerumunan suporter Malaysia yang sengaja jalan melambat untuk menghalangi kami. Saat itu saya sudah mengharapkan bentrokan fisik, minimal adu jotos. Tapi mereka hanya melihat sejenak, lalu tertawa dan pergi tanpa berbuat apa-apa.

Di situlah saya merasakan bagaimana kita dan bangsa Malaysia mempunyai pandangan yang berbeda tentang sepakbola. Seandainya situasi dibalik, kita tak akan bisa melihat orang Malaysia dibiarkan berjalan bebas mengusung bendera negaranya di kompleks GBK. Tapi kami bisa berjalan selamat keluar dari Bukit Jalil dengan atribut Indonesia yang tetap melekat.

Pasukan yang kalah perang itu berbaris pulang ke barak...

Setelah turun dari kereta menuju hotel, beberapa warga setempat menertawai kami sambil mengejek, ”3-0, 3-0…”. Menyebalkan memang, tapi sekedar demikian yang mereka lakukan. Tidak ada intimidasi fisik. Jika kejadian tersebut terjadi di Jakarta, minimal botol sudah beterbangan di atas kepala kami.

Kita kalah telak malam itu, tapi ada sesuatu perasaan ganjil yang membuat kami tetap bangga mengibarkan Merah Putih malam itu di jalanan Kuala Lumpur. Sebuah kebanggaan menjadi minoritas yang tak terlukiskan. Saya tahu anda tak akan mengerti perasaan itu sampai anda sendiri yang pergi menyeberangi lautan menonton negara anda bertanding di lapangan sepakbola.

Read Full Post »

Pengantar: Indonesian Football Diary dengan bangga mengumumkan bahwa entri artikel kali ini akan diisi oleh penulis tamu, Zen Rahmat Sugito, yang akan menceritakan kisahnya menyusun dan mengedarkan zine PLAK! hingga ia akhirnya gagal masuk ke dalam stadion saat semifinal leg 2 kemarin

Propagandis PLAK!

 

Setelah pontang panting menyebarkan zine PLAK!, disusul usaha sekuatnya untuk mendapatkan tiket tambahan, saya pun gagal masuk ke Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) untuk menyaksikan langsung semifinal kedua Indonesia vs Filipina. Saya berdiri di depan gerbang besi berjeruji  berwarna biru. Di depan saya, seorang bocah  yang sedang dipanggul di pundak ayahnya terlihat mengenakan jersey timnas bernomor punggung 10. Ia, anak kecil itu, berteriak-teriak penuh semangat, sementara saya berdiri dengan pasrah. Badan terasa lemas, terasa letih.

Lalu gemuruh suara dahsyat itu pun terdengar dari dalam GBK:

“Indonesia, tanah airku, tanah tumpah darahku….”

Sungguh, mendengar gemuruh suara nyanyian itu perasaan saya campur aduk. Sudah banyak yang bilang bahwa menyanyikan Indonesia Raya di dalam stadion bersama puluhan ribu orang akan selalu terasa menggetarkan. Saya sering mengalaminya, sangat sering, berkali-kali. Menggetarkan, memang. Tapi, sungguh, kecamuk perasaan yang menjalar saat mendengar gemuruh nyanyian itu sangat berbeda dalam posisi saya saat itu. Tak sekadar merasa tergetar, tapi juga sedih dan kecewa, juga marah.

Indonesia Raya di luar GBK

Saya diam beberapa detik. Orang-orang masih hilir mudik mencoba mencari sisa tiket. Petugas keamanan berjejer di pintu masuk. Iqbal Prakara, kawan saya yang paling keras kepala, sama-sama terlihat muram wajahnya. Lalu, dengan spontan, saya angkat syal merah putih ke atas kepala dan lalu dengan lantang bergabung bersama gemuruh nyanyian dari dalam itu, bedanya saya dari luar stadion, di depan sebuah gerbang berjeruji yang membuat sejumput kecil pemandangan di dalam GBK terlihat lamat-lamat.

“Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, bangsaku, rakyatku, semuanya….”

Iqbal mengepalkan tangannya dan mengangkatanya tinggi-tinggi ke udara dan bergabung dengan saya menyanyikan Indonesia Raya. Orang-orang di sekeliling yang tadinya diam mulai ikut angkat suara.

Saya tak ingin mengalami momen dan suasana macam itu. Saya ingin ada di dalam stadion, sangat ingin. Tapi nasib memang kesunyian masing-masing. Dan saya, bersama Iqbal juga beberapa yang lain, menyanyikan Indonesia Raya dalam kesunyiannya yang justru terasa lebih mengharukan, sejenis keharuan yang tak biasa, terasa lebih khas ketimbang yang pernah saya rasakan saat menyanyikan Indonesia Raya dari tribun selatan GBK.

“Asu, aku mbrebes mili (anjing, aku berkaca-kaca),” kata Iqbal kemudian.

Orang harus mengalami apa yang kami rasakan untuk sepenuhnya paham umpatan Iqbal.

***

Saya tahu, sangat tahu bahkan, kalau laga semifinal kedua akan jauh lebih ramai dan riuh ketimbang laga semifinal pertama. Kepada Baihaqi, saat dalam perjalanan menuju GBK pada pukul setengah 3 sore, saya bilang: “Kamu akan lihat sebuah festival.”

Baihaqi seorang suporter Barito Putra yang lama kuliah di Bandung. Dua bulan terakhir dia melakukan riset tentang sebuah masyarakat terpencil di Sulawesi, sembari traveling sampai ke daerah Luwu, hulu dari folklore agung La Galligo. Ia jadi saksi mata kisruh yang terjadi di Stadion Mattoangin saat PSM dikalahkankan tamunya, Semen Padang, pada awal 28 November kemarin. Sempat ia injakkan kakinya di kompleks lapangan Karebosi, salah satu lapangan paling legendaris dalam sejarah panjang sepakbola Indonesia, lapangan yang melahirkan pemain seperti Ramang dan Ronny Pattinasarani. Dia tiba di Jakarta Minggu pagi dan kami bertemu di daerah Langsat, Kebayoran Baru.

Sebelum kedatangan Bai – begitu saya biasa memanggilnya—saya lebih dulu menjemput kedatangan Islah, orang Sumbawa yang kuliah di Jogja, di Stasiun Jatinegara, pada pukul 6 pagi. Ia datang ke Jakarta bukan hanya untuk menonton laga timnas, tapi terutama untuk mengantarkan 1700 eksemplar zine PLAK! yang akan diedarkan di GBK menjelang pertandingan. Islah berangkat dari Jogja dengan kereta ekonomi Gaya Baru Malam, duduk di bordes kereta selama 12 jam, bersama suporter-suporter lain yang berangkat dari kota-kota di timur Jawa.

Sesampainya di Langsat, Islah tak sempat mandi dan sarapan. Bersamanya, saya, Ipung dan Ndaru langsung sibuk melipat-lipat zine PLAK! Butuh waktu sekitar 3 jam untuk melakukannya. Setelah kerjaan itu selesai, tepat pada tengah hari, sebuah pekerjaan lain sudah menunggu: menyelesaikan spanduk besar bertuliskan “PSSI SARANG KORUPSI” yang rencananya akan saya selundupkan dan bentangkan di dalam GBK saat pertandingan berlangsung.

Lalu, ke mana Iqbal? Dia yang bertanggungjawab mencarikan kami tiket. Sudah dua hari dia sekuatnya dan kelimpungan mencari belasan tiket. Ia sampai harus antri di sebuah gang sempit di kawasan Cempaka Putih, untuk antri mendapatkan tiket, dari orang dalam (entah orang dalam PSSI atau orang dalam Panpel lokal Piala AFF). Bayangkan, tiket bisa dijual di sebuah gang di kawasan Cempaka Putih!

Pukul setengah tiga sore, kami (saya, Islah dan Bai) bergerak menuju GBK. Iqbal masih pontang-pontang mencari tiket. Entah di mana posisinya. Jalanan sudah macet sedari Bundaran Senayan. Jalan dari arah Sudirman menuju GBK via Hotel Atlet Century sudah penuh dengan orang-orang berwarna merah.

Merah di mana-mana, di mana-mana merah.

“Penaka sebuah festival, bukan?” kata saya pada Bai. Dia mengangguk.

Spanduk hitam sudah terlipat rapi di dalam tas, di bungkus sebuah jaket yang juga berwarna hitam. 1700 eksemplar zine PLAK! sudah dibagi ke tas kami masing-masing, dengan porsi terbanyak tersimpan di tas ransel Islah. Sepanjang trotoar menuju Mesjid Albina, distribusi zine PLAK! langsung dilakukan. Kami bertiga menyebar ke titik-titik di seputaran Mesjid Albina. Islah bergerak di sisi selatan Albina, saya di depan tangga Albina dan Bai bergerak menuju pintu masuk GBK.

Pertarungan urat-syarat pun dimulai!

20 menit kemudian Islah memberitahu saya bahwa ada dua orang yang memaksanya menyerahkan zine PLAK! Sekitar 50 eksemplar pun melayang. “Seorang memegang bahu saya, satunya dengan cepat merampas segepok PLAK! yang sedang saya pegang. Kalau mereka nekat memaksa ngambil sisa PLAK! lainnya yang ada di tas, saya nekat akan melawannya,” kata Islah. Saya memintanya untuk lebih berhati-hati.

Saya juga menyerahkan segepok zine PLAK! pada Beni Maryanto, kawan Pasoepati. Belum lagi diedarkan, tiga sampai empat orang tiba-tiba langsung menyerobot PLAK! yang dipegang Beni. Suasana makin panas. Saya minta Beni menepi dan dari sudut yang agak sepi saya masukkan beberapa bundel PLAK! ke tasnya dengan gerak cepat.

Waktu terus bergerak. Orang-orang kian banyak yang datang. Saya pindah posisi ke arah luar Albina menjauhi GBK. Sepanjang trotoar itu saya membagikan PLAK! dengan gerak yang ringkas dan cepat. Tapi orang-orang itu memang sudah tersebar di mana-mana. Di depan Gedung Diknas, dua orang mendekati saya dan menarik tas yang berisi kamera (di dalamnya memang ada sekitar 400 eksemplar PLAK!).

“Kamu orang suruhan siapa?” bentak salah satu dari mereka. “Kau suruhan Nurdin!” balasku. PLAK! yang ada di tanganku, sekitar 10 eksemplar, saya lempar ke arah mereka. Mereka berlalu tanpa memunguti PLAK! yang berserak di trotoar. Saya memungutinya lagi. Diam-diam ternyata seorang polisi melihat adegan di atas. Saat saya lewat di depannya, ia berbisik: “Hati-hati, Bang!”

Lalu saya kembali ke Mesjid Albina. Sekitar 30an eksemplar PLAK! saya titipkan pada Resa untuk dibagi pada teman-teman wartawan di press area. Seratusan eksemplar lagi saya titipkan pada Arista Budiyono yang masih kelimpungan mencarikan 300an tiket  untuk kawan-kawan Pasoepati yang datang langsung dari Solo.

Saya khawatir dengan Bai dan berharap dia tak mengalami hal buruk. Dia tak banyak membawa PLAK!, tapi spanduk hitam itu ada di tasnya. Tugas dia untuk menjaganya sebisa-bisanya. Saya bersyukur Bai ternyata tak mengalami apa yang saya dan Islah alami.

Lalu Islah datang dengan muka kusut. “Saya demam, mas,” katanya. Saya paham. Sejak kemarin dia menunggu PLAK! di sebuah percetakan milik seorang kawan saya yang lain di Jogja sana. Sore kemarin sampai subuh Islah berjuang di atas kereta ekonomi, paginya langsung melipat PLAK!, siangnya membantu bikin spanduk, dan sorenya lagi bergerak menyebar PLAK! dan harus berkonfrontasi dengan preman-preman. Dua hari satu malam dia tak tidur. Saya memintanya istirahat di samping barat Albina.

Saat saya menengoknya setengah jam kemudian, dia terlihat tertidur dengan tas berisi zine PLAK! terpegang rapat dalam pelukannya. Dia menjaga tas berisi penuh PLAK! itu bahkan saat ia sedang tertidur.

Saya kembali menengok Islah sekitar pukul 5 setelah bertemu Agiel, anak Jakarta yang kuliah di Bandung. Dia yang mencetak massal kaos bertuliskan “Aku Berlindung dari Godaan Nurdin yang Terkutuk”. Saya memintanya membantu menyebarkan PLAK! Dengan gerak yang cepat, 300an eksemplar PLAK! berpindah dari tas Islah ke tas Agiel. Kami berpisah sambil saling berjabatan tangan.

“Hati-hati. Gak usah ladeni kalau ada preman-preman yang memaksa minta PLAK. Kasihkan  saja!” kata saya pada Agiel. Saya tak enak jika harus melibatkan Agiel dengan urusan konfrontasi fisik dengan preman-preman itu.

Tapi Agiel tidak menuruti permintaan saya. Malamnya saya baru tahu ia berkejar-kejaran dengan preman-preman Nurdin itu.

“Saya bagikan PLAK! sepanjang jalan dari Albina menuju Gate 2 tempat saya masuk. Ada dua orang yang ngeliatin dan ngikutin saya terus. Saya menyelinap di balik kerumunan orang. Saat kejar-kejaran itulah tiket saya jatuh. Jadinya saya gak nonton di dalam stadion, Mas,” ujar Agiel pada malam harinya.

Saya minta maaf padanya karena secara tak langsung ikut membuatnya gagal masuk ke GBK. Dengan halus dia menampik permintaan maaf saya. Melalui sebuah pesan pendek, Agiel berkata: “Sama sekali saya gak nyesal masuk GBK. Saya ikhlas.”

Propagandis PLAK!

***

Lalu di mana Iqbal? Lalu di mana tiket?

Jawabannya baru saya ketahui  sekitar pukul lima atau setengah enam. Iqbal datang dengan muka murung, juga terlihat letih dengan sangat. Tubuhnya yang tambun basah oleh keringat. Misinya tak mulus. Tiket masih kurang empat buah. Dengan agak berat dua tiket terakhir untuk tribun selatan yang sedianya akan saya dan Iqbal gunakan “terpakda” diserahkan pada Islah dan Bai. Saya dan Iqbal tak mungkin masuk ke GBK dengan meninggalkan Isla dan Bai di luar. Apa boleh bikin, tapi pilihan memang harus diambil.

Pukul enam tepat rombongan kami bergerak. Sebelum berpisah, saya berbisik pada Bai: “Hati-hati!” Ya, hati-hati. Tanggungjawab meloloskan spanduk dan membentangkannya di dalam GBK kini berpindah ke pundak keduanya.

Setengah tujuh saya dan Iqbal bergerak ke arah GBK dan berharap bisa mendapatkan tiket tambahan. 15 menit jelang kick off seorang calo menawarkan sebuah tiket, hanya sebuah tiket. Saya memintanya mencari satu tiket lagi. Nihil. Kami putuskan tidak membelinya. Kami harus masuk bersama atau tidak sama sekali.

Kami panik bukan main. Menit berlalu dengan cepat. Sorak sorai membahana terdengar dari dalam GBK. Dengan langkah cepat kami menyisir kemungkinan terakhir mendapatkan tiket tambahan. Lagi-lagi nihil. Lalu, di depan gerbang berjeruji yang menyisakan sejumput pemandangan di dalam GBK kami berhenti dan pasrah. Lalu, terdengarlah gemuruh Indonesia Raya yang membikin kami berdua terpaku selama beberapa detik, untuk kemudian dengan sisa-sisa tenaga kami berdua ikut sama-sama menyanyikannya dari arah luar GBK yang sudah mulai gelap.

Semua sudah dicoba, tapi barangkali kami berdua memang harus menyanyikan Indonesia Raya dari luar GBK. Lalu kami bergerak mencari layar lebar yang disediakan untuk para suporter yang tak bisa masuk ke GBK.

Saya akan selalu ingat umpatan Iqbal saat itu, ketika kami baru saja kelar menyanyikan Indonesia Raya dari luar GBK: “Asu, aku mbrebes mili!”

****

Dari paper John Bale berjudul “In the Shadow of the Stadium: Football Grounds as Urban Nuisance”, saya menemukan bagaimana istilah topophilia (“topos” = tempat, “philia” = cinta) digunakan untuk menjelaskan afeksi yang mendalam seorang suporter pada sebuah stadion.

Kuil dan Jamaahnya

Istilah itu menjelaskan bagaimana hubungan intim antara seorang suporter dengan stadion yang barangkali tak punya aspek estetik dan fungsional yang bagus. Keindahan stadion memang khas, khusus, sebentuk keakraban yang hanya berharga bagi mereka yang mampu menghubungkan dirinya dengan lapangan: atapnya yang mungkin terlihat tua dan rapuh, catnya yang kusam dan sudah mulai mengelupas, hingga lengkung luarnya yang doyong seakan hendak rubuh.

Saya merasakan topophilia itu pada GBK. Saya masih ingat satu sore di tahun 1996, menjelang laga antara tim pra Olimpiade Indonesia (masyhur disebut tim Primavera) melawan Korea Selatan. Sorenya cerah. Saya berdiri di sisi luar sebelah timur laut GBK. Semburat senja terlihat jelas, terpercik di tembok tua GBK yang catnya sudah mulai mengelupas. Lengkung luarnya dan pilar-pilarnya yang condong ke luar membuat GBK seperti sebuah mangkuk raksasa yang sedang kepayahan mencoba menampung senja.

Mendadak timnas...

Saya masih ingat momen itu. Setelah tinggal di Jakarta, saya selalu datang ke GBK tiap kali tim nasional berlaga. Saya selalu berusaha menemukan momen yang sama nikmatnya dengan pengalaman saya di tahun 1996 itu.Juga pada hari itu, dan semua laga Indonesia di Piala AFF 2010.

Saya dan Iqbal sama sekali tidak tenang duduk menatap layar besar di sisi timur GBK bersama 10 ribuan orang yang sama-sama gagal masuk. Di tengah babak pertama, kami tak tahan lagi. Kami beranjak menyisiri pintu-pintu masuk. Petugas keamanan memberitahu di dalam sudah sesak. Bahkan kendati sudah di dalam pun mustahil bisa nonton. Saya tahu. Tahu sekali. Saya bisa melihat dari atas stadion orang-orang yang sudah di dalam pun berderet-deret di sisi luar memilih menyaksikan pertandingan dari layar besar. Tapi gemuruh suara dari arah dalam GBK tak henti-hentinya memanggil, terus-terusan menggedor gendang pendengaran saya.

Saat menyisir kemungkinan mendapatkan tiket sisa, Gonzales mencetak gol. Suasana meledak dalam keriuhan. Saya dan Iqbal melompat kegirangan. Segera kami berlari mencari posisi untuk bisa melihat layar lebar. Gagal! Tempat kami berdiri dihalangi sebatang pohon palem. Kami makin semangat mencari tiket. Akhirnya dapat juga!

Beberapa menit setelah babak kedua dimulai, segera kami berlari dan masuk melalui salah satu pintu di sisi utara GBK. Iqbal berlari lebih dulu. Badannya yang bongsor tak menghalanginya melewati anak tangga demi anak tangga. Di lorong menuju tribun, Iqbal tiba-tiba menjerit. Ia terjungkal sambil berteriak: Kram, kram! Saya terbahak. Kubilang padanya, “Yang main bola itu Gonzales, dkk., kok malah kowe yang kram!”

Setelah otot di kaki kirinya mengendur, kami merengsek lorong tribun utara. Tak bisa. Sama sekali tak bisa. Di depan kami hanya ada punggung-punggung orang yang juga berdesak-desakan. Lalu Iqbal tiba-tiba berteriak: “Itu spanduknya!” Saya dipanggul oleh Iqbal untuk bisa melihat spanduk hitam “PSSI Sarang Korupsi” yang terpasang di sektor 5 tribun atas. Kami bersorak-sorak sendirian. Orang-orang memperhatikan kami dengan muka yang aneh. Kami tak peduli.

Mentok di pintu tribun

Pertandingan tersisa 20 menit lagi. Kami mencoba lorong yang lain dan hasilnya sama. Tak bisa merengsek masuk. Hanya ada punggung-punggung orang lain yang berdesakan di mulut lorong. Saya menepuk bahu Iqbal dan mengajaknya ke pinggiran tembok luar GBK untuk menonton pertandingan di layar besar dari atas GBK.

Tidak bisa masuk, di luar pun jadi

Dari situ saya tahu ternyata tadi menonton layar besar itu dari arah belakang. Pantas saja nama di punggung pemain terlihat terbalik. Dari atas GBK, saya juga sadar bahwa penonton yang menyaksikan layar besar itu sama banyaknya dari arah depan layar maupun belakang layar. Sejauh mata memandang hanya ada orang-orang yang menyemut menyaksikan pertandingan dari layar lebar.

Bahkan yang di dalam stadion pun menonton ke luar...

Saya menyandar di palang besi mencoba menikmati sisa-sisa pertandingan sebisanya. Tapi fisik sudah terasa sangat lelah. Iqbal tetap antusias dan beberapa kali terdengar memaki-maki, termasuk saat Markus Harison diterjang seorang pemain Filipina. Iqbal berteriak saat pluit panjang dibunyikan. Orang-orang di bawah sana yang menyaksikan pertandingan dari layar lebar terlihat bersorak, banyak yang melompat-lompat dan mengibar-ngibarkan bendera merah putih.

Iqbal mengajak saya masuk ke tribun karena lorong sudah mulai kosong. Kami masuk begitu saja dan berdiri di anak tangga di sesela 85-90 ribu suporter yang masih bertahan di dalam stadion, bernyanyi-nyanyi, bersorak-sorai. Saya melihat merah di mana-mana, di mana-mana saya melihat merah. Tapi ini bukan merah yang muram dan marah, tapi merah yang bercahaya, merah yang terang benderang.

Terang bulan di dalam GBK

Dalam hati saya berkata: Saya memang tidak masuk ke stadion, tapi saya sudah terlibat dan melibatkan diri dalam festival sepakbola ini. Saya sangat menikmatinya. Jouissance (kenikmatan), kata Mikhail Bakhtin, adalah sensasi yang lumrah muncul dalam semangat karnaval.

Saya ingat deskripsi Giulianotti tentang aura Stadion Maracana yang agung itu. Saya kutipkan utuh: “Permainan dimulai saat Maracana berada pada posisi setengah gerhana, melengkung agung terbagi antara siang dan malam, terterangi matahari dan bayangan. Permainan itu sendiri merupakan nyanyian pujian illahiah dan perdamaian, melantun secara ritmis antara lambat dan cepat, berjalan dan melangkah mengikuti pukulan drum para suporter. …(lalu) pluit final menyeret akhir upacara ini; tepuk sorak-sorai …memburu sang pemenang yang segera lenyap ditelan perut Maracana, diburu para fotografer yang sedang mengejar berhala. Kumpulan manusia lalu mencair ke dalam malam Rio de Jeneiro yang sejuk…”

Mungkin berlebihan, tapi untuk saya yang sudah memulai upacara dan karnaval itu sejak pagi hari sebelumnya: semua kata “Maracana” dalam paragraf di atas kok rasanya bisa diganti dengan “GBK”, dan kata “Rio de Jeneiro” di situ terasa bisa juga diganti dengan “Jakarta”.

Saya berlari ke luar dan memburu kembali kerumunan orang di bawah sana yang tadi menyemut di depan layar raksasa. Mata saya nanar memandang kerumunan itu, orang-orang yang menyemut sampai jauh. Gedung-gedung tinggi terlihat di kejauhan. Sesekali ada kilatan cahaya berpijaran di langit Jakarta.  Beberapa lampu menyala terang di kedua sisi kerumunan orang di bawah sana. Suasana cerah, sangat terang, benderang, bercahaya….

Malam yang terang di GBK

Untuk sejenak saya sangat ingin melupakan koruptor yang terkutuk satu itu. Setidaknya malam itu saja: sebuah malam terang di GBK.

Read Full Post »

Ini bukan cerita saya nonton pertandingan di stadion. Ini cerita saya yang jangankan menonton di stadion, menyaksikan siaran langsung di televisi saja harus curi-curi kesempatan.

Kegalauan telah melanda sejak berhari-hari silam setelah Indonesia dipastikan memuncaki grup A. Saya mengetahui dengan jelas bahwa saya tak akan bisa menyaksikan dua partai semifinal karena pekerjaan. Benar bahwa ”Tak ada kerja di hari sepakbola”, tapi prinsip saya berbasis pada komitmen yang tak bisa saya ingkari. Jika saya telah mengetahui dari jauh hari bahwa Indonesia akan berlaga tanggal 16 dan 19 Desember, saya tak akan ragu mengosongkan jadwal, sama seperti yang saya lakukan tanggal 1 Desember saat menghadapi Malaysia.

Saya tidak tahu rasanya PMS, tapi mungkin mirip dengan apa yang saya rasakan beberapa hari terakhir. Uring-uringan dan sensitif. Setiap kali ada bahasan soal tim nasional, saya mencoba menjauh karena kesal rasanya tak bisa menonton. Setiap kali ada SMS masuk yang berbunyi ”Elo beli tiket yang berapa lawan Filipina?” atau ”Ketemuan dong di stadion”, saya langsung menghapusnya segera sambil memaki-maki dalam hati. Dalam seminggu terakhir, saya tak ubahnya tukang gerutu kelas wahid.

Menabur garam pada kulit yang tersayat, saya akan berada di sebuah hotel seputaran Sudirman saat pertandingan berlangsung. Maka saya memutuskan untuk datang cepat ke lokasi event agar tidak berpapasan dengan rombongan suporter yang akan memenuhi jalan dengan bendera Merah Putih yang berkibaran. Terlalu menyakitkan. Dari rumah di bilangan Cibubur, saya bahkan memilih jalan memutar via tol JORR-Ampera-Kemang-Tendean-Senopati-SCBD karena jika melalui rute yang lebih dekat, tol dalam kota lalu turun lewat Semanggi, maka kompleks GBK akan berada dalam pandangan mata. Terlalu menyakitkan.

Saya tak bisa membentangkan syal bersama puluhan ribu saudara lainnya di dalam stadion, maka saya mengikatnya pada tas kerja karena meski raga tak menyaksikan laga, separuh jiwa ada di tribun penonton.

Saya berusaha keras untuk membereskan semua persiapan event yang harus dilakukan karena waktu penyelenggaran yang mundur memungkinkan saya untuk mencuri waktu 10-15 menit menonton pertandingan. Sebuah booth vendor telekomunikasi menyediakan beberapa buah TV yang menyiarkan pertandingan ini dan ratusan hadirin yang seharusnya masuk ke dalam sebelum acara dimulai terpaku di depan layar kaca.

”Pertandingannya udah mulai nih”, bunyi SMS Christabelle kepada saya.

”Nonton di mana?”

”Di booth Speedy ada TV. Ke sini gih!”

“Nanti, masih agak ribet. Kalau udah agak lowong baru ke sana. Berapa-berapa?”

“Masih 0-0.”

Beberapa menit kemudian saya SMS lagi.

“Udah menit berapa?”

“Berapa belas gitu, gak kelihatan. Masih 0-0.”

Oke, saya tak tahan lagi. Setelah memastikan segala persiapan aman terkendali, saya melangkah ke depan TV dengan syal melingkar di leher.

Tidak lebih dari 15 menit saya menyaksikan pertandingan karena harus segera kembali. Tapi Tuhan mengerti masalah umatNya dan Ia memberi saya kesempatan untuk melihat gol sundulan Christian Gonzales. Saya hilang kendali setelah gol tercipta dan berjingkrak seperti orang gila. Jika anda kebetulan hadir di event yang sama dan melihat seorang pria berkacamata, berambut cepak, mengenakan jas coklat muda dengan earpiece menempel di telinga dan berlari-lari kesetanan melambaikan syal Merah Putih, itu saya.

Teriakan ”Indonesia! Indonesia!” yang disambung dengan tepukan tangan membahana di lobby ballroom tersebut. Saya tak kalah merindingnya menyaksikan pemandangan tersebut dibanding di stadion. Betapa tidak, orang-orang ini tidak peduli mereka tidak mendapatkan kursi yang strategis di dalam event yang berdasarkan siapa cepat dia dapat dan mengorbankannya untuk menonton negaranya bertanding barang sejenak.

Babak pertama belum usai, saya sudah beringsut pergi karena harus mengurusi pekerjaan lagi. Belakangan saya tahu bahwa gol Christian Gonzales itu adalah satu-satunya dalam pertandingan tersebut.

Ah, Gusti ora sare. Tuhan tidak tidur. Tentu saja, Ia menonton sepakbola.

Read Full Post »

Older Posts »