Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2011

Saat ada permintaan bahwa sesi diskusi akan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya disusul dengan rangkaian lagu-lagu Pasoepati yang dipimpin oleh dirigen mas Gondrong, saya menyambutnya dengan mafhum. Tapi ketika di tengah-tengah acara diskusi diminta diskors sebentar agar audiens bisa bernyanyi lagi sambil berjoget, saya terkekeh, “Pasoepati edan tenan!”. Beberapa detik kemudian, saya tenggelam berjoget bersama teman-teman Pasoepati sambil menggerakkan tubuh yang kaku ini di area Taman Balekambang, Solo (12/6).

Saat hadirin menari, para pembicara menatap nanar layar Blackberry

Solo adalah kota kedua dalam rangkaian Diskusi Revolusi PSSI Untuk Sepakbola Bersih yang rencananya akan digelar di beberapa kota. Sebelumnya diskusi digelar di Semarang (5/6) dan akan ada beberapa kota lagi yang disasar. Terakhir Surabaya menghelat acara diskusi ini kemarin (16/6) di Monumen Kapal Selam. Reputasi Pasoepati sudah sering hinggap di telinga tapi selaku moderator diskusi, baru kali itu saya menyaksikan betapa mereka tahu benar cara bersenang-senang, seirama dengan slogan mereka, Edan Tapi Mapan.

Itu adalah kali pertama saya menjejakkan kaki di kota Solo dan hampir menyangka saya salah mendarat di Medan berkat agresivitas supir taksi yang mengantar dari Bandara Adisumarmo. Sumarno, nama supir taksi itu, akan membuat banyak pengemudi angkot dan Metromini di Jakarta terkesan.

B-A-L-E-K-A-M-B-A-N-G

Diskusi hari itu digelar di Taman Balekambang, tak jauh dari Stadion Manahan dan sebagai orang Jakarta, kota yang miskin akan lahan terbuka untuk publik, saya terkesan dengan suasana dan lanskap taman tersebut. Tak jauh dari pintu masuk ada panggung terbuka dengan band yang menghibur pengunjung pada hari libur itu – dan lagu pertama yang mereka mainkan, Hysteria-nya Muse. Orang-orang duduk bersila beralas tikar sambil menyantap makanan dan bersantai, anak-anak berlarian, muda-mudi berpacaran. Pemandangan yang menyejukkan. Kasihan jadi orang Jakarta memang.

Mereka-mereka yang menjadi pembicara diskusi hari itu adalah, mas Anwar dan mas Langgeng (Pasoepati), Akmal Marhali (setengah wartawan setengah komedian profesional), Apung Widadi (ICW), Andi Peci (KORUPSSI), dan tamu istimewa hari itu, legenda Arseto Solo dan Indonesia, Rochy Putiray.

Na na na na na...Rochy Putiray...Putiray....Rochy Putiray....

Sebagai orang yang tumbuh menyaksikan Rochy beraksi di lapangan hijau, sebuah kebanggaan bisa berbagi panggung bersama striker yang pernah 2 kali membobol gawang AC Milan saat berbaju Kitchee (Hongkong) dalam pertandingan ujicoba.

Rochy adalah Dennis Rodman sepakbola Indonesia dalam hal keeksentrikan. Hanya Tuhan dan ia sendiri yang tahu apa warna rambut Rochy setiap pertandingan. Ia juga salah satu pemain Indonesia pertama yang ditindik telinganya. Sekali waktu, telinganya pernah sobek karena tertarik pemain lawan saat pertandingan.

Dalam diskusi, Rochy ternyata salah satu pesepakbola Indonesia paling artikulatif yang pernah saya lihat. Ia berbicara banyak mengenai pengalamannya saat bermain dulu, termasuk tentang berbagai dugaan suap, pengaturan skor, dan berbagai kekejian sepakbola lainnya yang ia akui terjadi. Ia sendiri menolak ikut dalam skema kotor itu, tapi tak menyangkal bahwa hal-hal semacam itu lumrah.

Andi Peci, Mas Gondrong, Fat Bastard, Andreas Marbun

Dengan kecenderungan yang terlihat di awal dan tengah acara, tak mengagetkan bila diskusi diakhiri dengan sesi nyanyi-nyanyi bersama 2 biduan lokal diiringi organ tunggal dan gendang. Semua orang tenggelam dalam kegembiraan seiring lantunan lagu-lagu Pasoepati dinyanyikan. Mungkin Kongres PSSI nanti bisa menerapkan susunan acara yang sama. Sidang, dangdutan, sidang, dangdutan, sidang, ditutup dengan dangdutan. Agum, nyok kita ngibing!

Nyok!

Advertisements

Read Full Post »