Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2011

Anda punya akun Twitter? Siapa yang anda promosikan lewat hashtag #FF (Follow Friday) hari ini? Saya menominasikan @TheReal_Abi_LPI untuk anda follow agar tahu apa yang boleh anda lakukan dan apa yang tidak boleh anda lakukan dalam corporate PR.

Anda tahu ada yang salah dalam strategi humas anda saat akun Twitter yang sejatinya diharapkan menjadi jembatan penghubung bagi LPI (Liga Primer Indonesia) dengan masyarakat malah membuat banyak orang marah. Seorang juru bicara (jubir) lazimnya adalah seseorang dengan kemampuan komunikasi diplomatis, yang menerima kritik dengan simpatik dan menyerang tanpa menyakiti. Tapi rupanya akun @TheReal_Abi_LPI menganut mazhab yang lain.

Kita tahu memang LPI didirikan dengan semangat pembaruan sepakbola Indonesia, salah satunya soal penghapusan ketergantungan dana APBD dalam pengelolaan klub sepakbola. Tapi menjadi konyol dan tidak bijak jika akun @TheReal_Abi_LPI berulang kali memprovokasi klub-klub ISL (Indonesian Super League) lewat ejekan-ejekan yang ia lontarkan terhadap klub-klub berbasis APBD. Akun @TheReal_Abi_LPI yakin sekali bahwa pelarangan APBD akan membuat LPI satu-satunya kompetisi liga yang bertahan di Indonesia. Kesimpulan yang prematur tentu saja.

Saya tidak tahu sudah berapa tahun @TheReal_Abi_LPI bergelut dalam dunia sepakbola sampai ia ditunjuk menjadi juru bicara, tapi dari berbagai kalimat tidak simpatik yang ia cetuskan di Twitter, nampak ia belum mengerti bahwa bagi suporter, klub adalah identitas yang akan dibela sampai mati. Oleh sebab itu berbagai provokasi yang ia lakukan, termasuk me-retweet kalimat yang ofensif, menjadikannya target kemarahan.

Bukannya tidak ada yang mencoba mengingatkan @TheReal_Abi_LPI soal pendekatan komunikasinya yang agresif itu, tapi nyatanya banyak yang mencoba berdiskusi dengannya malah berakhir dengan pemblokiran di Twitter, terlebih bila ia tidak lagi punya argumen untuk diberikan kepada lawan debatnya.

Saya percaya bahwa untuk menjadi menyenangkan di Twitter jauh lebih mudah daripada memberikan balasan provokatif yang ujung-ujungnya menjadi sasaran kemarahan. Maka pertanyaannya untuk apa @TheReal_Abi_LPI capek-capek melakukan gaya komunikasinya yang tidak simpatik itu?

LPI adalah kompetisi seumur jagung yang sedang dalam tahap mengenalkan diri. Ada banyak hal yang saya tidak sependapat dengan LPI, terlebih soal transparansi kepemilikan klub dan nama-nama di balik konsorsium pemodal kompetisi ini, tapi saya percaya penghapusan dana APBD dari sepakbola adalah hal yang harus didukung.

Dalam fase introduksi kepada masyarakat ini, menjadi aneh bagi LPI jika penghubung utama mereka kepada target pasar yang mereka sasar adalah @TheReal_Abi_LPI dengan segala agresivitasnya.

Bagaimana bisa LPI mengambil hati masyarakat Indonesia dan suporter sepakbola lainnya jika kesan yang ditampilkan @TheReal_Abi_LPI sebagai juru bicara adalah arogan dan pencibir?

Kenyataan bahwa dari semua akun Twitter punggawa teras LPI hanya akun @TheReal_Abi_LPI yang mencitrakan demikan menandakan bahwa arogansi sesungguhnya bukan esprit de corps dari kompetisi ini. Ironisnya, ia yang berpredikat sebagai juru bicara-lah yang memberikan kesan itu.

Semangat perubahan LPI direfleksikan dalam motto “Change The Game”, tapi belakangan banyak suara di Twitter yang menghendaki “Change The Jubir” karena ketidakpuasan akan gaya komunikasi si jubir. Sesungguhnya saya tidak melihat bahwa ia akan dimutasi dari posnya tersebut dalam waktu dekat, tapi setidaknya akan bermanfaat bila LPI menyisihkan dana konsorsiumnya yang katanya miliaran Rupiah itu untuk melakukan training pemakaian media sosial.

Advertisements

Read Full Post »

Bajingan kalian semua

Read Full Post »

Mengumpat kinerja wasit dan hakim garis adalah aktivitas rutin usai menonton tayangan sepakbola Indonesia, terlebih di layar kaca karena anda bisa melihat lebih jelas bagaimana payahnya performa mereka di lapangan. Selama ini saya selalu mengeluh melihat bagaimana bobroknya kinerja para pengadil di lapangan hijau, entah disengaja atau memang tidak adanya pemahaman yang baik akan peraturan sepakbola. Tapi hari ini saya benar-benar kesal performa wasit dan asistennya dengan gamblang terlihat merugikan klub yang saya dukung, PSMS Medan, yang berlaga melawan PSAP Sigli di babak 8 besar Divisi Utama.

Memang sudah jamak menyaksikan bagaimana lemahnya pemahaman para hakim garis Indonesia tentang peraturan offside, di mana bola tidak akan dianggap offside apabila pemain yang menerima bola berlari dari belakang garis pemain lawan meskipun ada rekan setimnya yang berada dalam posisi offside selama tidak mengganggu permainan. PSMS 2 kali divonis offside hari ini oleh hakim garis karena pemahamannya yang primitif akan peraturan tersebut.

Karena tidak ingin berburuk sangka, maka saya mengambil kesimpulan bahwa mayoritas hakim garis Indonesia tidak memiliki pengertian yang baik dan benar akan peraturan sepakbola sesungguhnya, khususnya offside. Para penonton awam yang hobi menonton sepakbola tentunya mafhum akan peraturan offside yang sudah dimodernisasi tersebut. Pertanyaannya, jika penonton awam saja tahu, mengapa hakim garis menjadi pengadil di lapangan hijau tidak tahu?

Juga menjadi perhatian adalah kinerja wasit Iis Isya Permana yang menjadi juru adil di lapangan pada pertandingan hari ini. Ia memberikan kartu merah kepada bek PSMS, Vagner Luis yang dituduh dengan sengaja melayangkan tinju kepada penyerang PSAP yang saya lupa namanya.

Dalam tayangan ulang terlihat bahwa Vagner hanya berusaha melepaskan diri dari jepitan pemain PSAP tersebut dan gerakan tangannya tidak bermaksud menyerang, hanya gerakan membebaskan diri. Yang lebih konyol, wajah penyerang PSAP tersebut sama sekali tidak terkena langsung “pukulan” Vagner, tapi ia jatuh mengerang memegangi wajah dan Iis Permana memberi kartu merah.

Dengan dasar yang sama pula, Iis Permana memberikan kartu kuning kedua kepada pemain PSAP, Fery Komel karena terlihat menyikut. Saya tidak tahu dengan anda, tapi jika saya yang jadi wasit, saya tidak akan memberi kartu merah kepada pemain PSAP tersebut. Terlalu ringan dan cukup dengan peringatan saja. Kedua tim tidak harus menerima kartu merah.

Keanehan berikutnya adalah perihal waktu injury time yang diberikan Iis Permana di penghujung babak kedua. Ada 2 kartu merah yang dikeluarkan di babak kedua dan berbagai pelanggaran yang memakan waktu, tapi Iis Permana hanya memberikan injury time 1 menit! Yang lebih ajaib lagi, Iis Permana menyudahi pertandingan saat injury time baru memasuki 50 detik dengan kondisi PSMS sedang menyerang dan bola hampir masuk di kotak penalti lawan!

Entah penjelasan apa yang logis terhadap tingkah wasit Iis Permana ini tapi saya barusan mengoprek beberapa arsip mengenai kinerja wasit ini di masa lampau dan tebak apa yang saya temukan.

Pada hari Sabtu 9 Oktober 2010, Iis Permana menjadi wasit pada pertandingan Persema Malang melawan Persibo Bojonegoro. Ia memberikan waktu 3 menit injury time dan ia menghadiahkan penalti kepada Persema saat waktu pertandingan menunjukkan 93:21!

Seusai pertandingan, pelatih Persibo Sartono Anwar murka dan mengatakan bahwa sebelum pertandingan ia menerima SMS yang menawarkan “bantuan” dari wasit. Karena ingin main fair dan tidak punya uang, ia tidak menerima tawaran tersebut. Setelah pertandingan yang hasilnya terkesan dipaksakan itu, wajar bila Sartono marah. Wasit Iis Permana dan kedua hakim garis pun dipanggil untuk diperiksa PSSI meski mungkin mereka hanya kongkow sambil makan gorengan bersama petinggi PSSI saat pemeriksaan.

Tingkah lain dari Wasit Iis Permana yang berhasil saya temukan adalah saat Bontang FC bertamu ke Sidoarjo melawan Deltras. Tim tuan rumah mendapat penalti pada menit 60 hanya karena Marcio Souza disenggol sedikit di dalam kotak penalti. Bodycheck biasa, bukan pelanggaran keras.

Manajer Bontang FC, Andi Satriya Adi Saputra geram dan mengatakan, ”Timnas Spanyol saja, asal wasit itu yang pimpin, ya menang Deltras.”

Pelatih Bontang FC, Fachry Husaini tak kalah kesal dan menggerutu, ” Sebelum laga wasit selalu bilang fair play, tapi wasit jangan fair play untuk tuan rumah saja. Sepakbola itu olahraga laki-laki, masa sedikit adu badan sudah free kick”

”Tadi, semua doa sudah saya ucapkan. Hanya satu yang tidak saya ucapkan, Wasit tersambar petir,” sambung Fachry.

Dengan sejarah seperti itu, kita dapat mafhum dengan keanehan wasit Iis Permana dalam pertandingan PSMS melawan PSAP Sigli hari ini. Mungkin memang ada pihak yang diuntungkan apabila PSMS tidak memperoleh kemenangan hari ini, oleh karena itu, injury time dibatasi 1 menit dan pertandingan disudahi pada detik ke-50 tepat saat Ayam Kinantan sedang menyerang.

Saat PSMS berlaga melawan tuan rumah Mitra Kukar hari Minggu nanti, mungkin saya tidak usah kaget dengan apa yang akan terjadi di lapangan.

Pangeran Siahaan

Read Full Post »

Sejak saya follow akun Twitter milik juru bicara Liga Primer Indonesia (LPI), Abi Hasantoso, sepertinya saya mendapat kesan yang salah mengenai liga profesional yang belum setahun berdiri itu. Karena selama ini tidak pernah tertarik untuk menonton pertandingan LPI di televisi, maka saya memutuskan untuk mencicipi langsung atmosfernya di Stadion Lebak Bulus kala Jakarta FC menjamu Persema Malang.

Saya sempat berpikir akan memarkir mobil di hipermarket seberang stadion sebelum ingat bahwa pertandingan LPI tidak akan mengundang animo massa sebesar pertandingan ISL. Maka tidak ada masalah untuk parkir di dalam area stadion. Memang terbukti sampai akhir pertandingan pun jalan keluar dari stadion sangat lengang.

Selembar uang lima puluh ribu saya tukar dengan tiket VIP (Gold Ticket, menurut istilah LPI) yang membawa saya masuk ke tribun tengah. Saya kira saya akan berbagi tribun dengan Jennifer Kurniawan dan deretan kembang stadion lainnya, tapi rupanya mereka ada di tribun VVIP, terpisahkan sekat dengan kami.

Anda bisa mendengar suara jarum jatuh.....

Tiger Ghoster, suporter loyal Jakarta FC

Bagi saya yang selalu menonton pertandingan sepakbola Indonesia yang riuh rendah dan sarat penonton, aneh rasanya berada dalam stadion yang minim penonton. Tribun kelas 1 terisi setengah, sedang tribun belakang gawang dihuni oleh suporter Jakarta FC yang menamakan dirinya Tiger Ghoster (Hantu harimau?). Tapi tribun VIP terisi penuh, rata-rata yang hadir adalah keluarga lengkap dengan anak-anak.

Sehari sebelum pertandingan Zen mengatakan bahwa atmosfer pertandingan LPI adalah pertandingan keluarga dan saya menemui hal itu benar adanya. Tidak ada potensi kekerasan suporter, tidak ada nyanyian dan seruan kasar, tidak ada lemparan botol, semua hadir untuk menonton sepakbola dan hanya itu. Maka orangtua bisa mengajak anak-anaknya untuk menyaksikan Irfan Bachdim, sang idola, dari dekat.

Sejak LPI pertama kali bergulir, hal pertama yang selalu ingin saya tanyakan kepada mereka adalah bagaimana strategi mereka untuk merebut hati suporter sepakbola Indonesia yang sudah memiliki tim sendiri, karena sebagus apa pun liga tidak berarti tanpa kehadiran penonton di stadion. Pertanyaan itu belum terjawab sampai sekarang, tapi dengan penuhnya tribun VIP dengan harga tiket yang lebih mahal dari yang biasa dibayar suporter, rasanya LPI harus lebih serius lagi menggarap segmen potensial mereka, golongan menengah dan keluarga.

Mbak, mbak, boleh minta foto gak?

Halo pak, jangan cemas gitu dong. Ada 78 pemilik suara kongres yang siap pasang badan untuk anda

Jakarta FC? Persema Malang? Orang ini Persija sampai mati

Suasana ”kekeluargaan” memang kental terasa pada partai hari itu. Para remaja perempuan dengan histeris meneriakkan nama Irfan Bachdim setiap bekas pemain FC Utrecht itu memegang bola. Anak-anak duduk manis di depan orangtuanya. Saat turun minum, para penonton menyerbu Jennifer Kurniawan untuk foto bersama. Bahkan polisi pun duduk santai di kursi sambil menghadap lapangan, tidak ada tensi dan ketegangan sama sekali.

Ekspektasi saya terhadap level kualitas permainan tidak muluk-muluk, jadi saya tidak begitu kecewa saat menyaksikan bagaimana permainan Jakarta FC. Bagaimana pun mereka adalah klub yang baru berdiri dan separuh dari anggota legiunnya baru jadi pemain profesional, kebanyakan anggota Angkatan Udara. Yang cukup mengganggu adalah bagaimana Persema bermain. Pemuncak klasemen adalah tim terbaik sebuah liga dan jelas bahwa masih banyak hal yang bisa ditingkatkan LPI dari sisi teknis.

Kiper Jakarta FC, Rahmat Nofri, bermain gemilang sepanjang pertandingan dengan beberapa kali melakukan penyelamatan spektakuler yang membuat frustrasi para pemain Persema. Seorang teman mengatakan bahwa sesungguhnya Rahmat adalah kiper cadangan karena kiper utama Jakarta FC kabur dari tim (Kabur?!).

Persema akhirnya memecahkan kebuntuan setelah striker asal Korea Selatan, Han Sang Min, memecah kebuntuan sesaat sebelum waktu normal habis. Bachdimania pun tidak merasa rugi telah membayar mahal tiket.

Penyelamat Persema dan Bachdimania

Bekas penyerang Persija, Emmanuel de Porras, hampir menyamakan kedudukan di injury time setelah tendangan jarak jauh dengan sisi kaki sebelah luar menaklukkan kiper Persema, sayang tendangannya hanya membentur mistar.

Satu pemain Jakarta FC mencuri perhatian saya, Salim Ohorella yang bernomor punggung 11. Ia bermain sebagai bek kiri sore itu, tapi dengan modal dribble dan akselerasi ciamik, beberapa kali ia menerobos hingga kotak penalti lawan. Jika saya seorang pencari bakat, maka Salim Ohorella akan dapat rekomendasi top dari saya.

Absennya atmosfer pertandingan yang gegap gempita karena suporter cukup mengganggu saya karena itu adalah alasan utama saya menonton sepakbola Indonesia. Tapi, apakah saya akan menonton lagi pertandingan LPI? Tentu saja. Ada faktor kenyamanan dan nuansa ”kekeluargaan” yang ingin saya cicipi lagi saat menonton sepakbola. Tapi jika saya ingin memacu adrenalin dan menggidik bulu kuduk, maka saya akan menonton ISL.

Pangeran Siahaan

Kerumunan orang ini bukan lagi kebelet, mereka sedang menunggu Irfan Bachdim keluar dari ruang ganti

Read Full Post »