Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2011

Dalam sebuah tatanan negara demokrasi, sejatinya kuasa ada di tangan rakyat yang melakukan kegiatan politik lewat partai-partai politik sebagai kendaraannya. Lewat pemilihan umum, para pemimpin dan legislator terpilih melalui suara rakyat. Sebagaimana pun klise terdengar, ”dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat” mungkin benar adanya pada level tertentu. Sebagai pemberi mandat kekuasaan, rakyat bisa mengontrol penguasa yang mereka pilih seandainya tidak memenuhi harapan, yang paling mudah dengan tidak memberi suara lagi di pemilu selanjutnya. Secara umum rakyat punya kekuatan besar. Sayangnya, dunia sepakbola Indonesia bukan negara demokrasi.

Suporter sepakbola Indonesia sejatinya tidak berdaya. Jika mengandaikan badan sepakbola tertinggi Indonesia, PSSI, sebagai sebuah negara, maka suporter sebagai rakyat jelata tidak punya kuasa apa-apa. Kita, suporter sepakbola Indonesia adalah entitas terbesar dalam semesta sepakbola negara ini, tapi kita adalah makhluk terlemah di hadapan segelintir elit yang bertarung memperebutkan piring kekuasaan di puncak. Kita tak punya kuasa, tak punya daya. Suporter sepakbola adalah proletar mayoritas yang tidak diikutsertakan saat borjuis minoritas sedang asyik bermain.

Nurdin Halid, sang mamon besar itu tidak akan kembali lagi ke singgasananya, tapi pergerakan perbaikan sepakbola Indonesia jauh dari usai karena yang sedang terjadi sekarang adalah sindrom pasca revolusi, semua pihak beradu otot untuk naik ke puncak, termasuk orang-orang yang baru menumpang belakangan di gerbong revolusi ini. Nurdin Halid telah jatuh, tapi masalah malah berlipat ganda.

Ada 32 nama yang terdaftar dan siap bertarung memperebutkan kursi ketua umum PSSI yang baru, berarti ada 32 kepentingan berbeda yang siap berbenturan. Komite Normalisasi yang dibentuk dengan harapan sebagai mediator transisi kekuasaan di PSSI sejauh ini belum terlihat efektif. Kubu Arifin Panigoro – George Toisutta masih ngotot untuk ikut pemilihan ketua umum PSSI meski keputusan FIFA menyatakan sebaliknya.

Kelompok 78 (pemilik 78 suara kongres PSSI) kukuh mendukung AP-GT dan siap pasang badan. Jangan lupa, 78 orang ini adalah 78 orang sisa rezim terdahulu yang melompat keluar naik sekoci saat perahu induknya akan tenggelam. Belum lagi ada KONSEN, sebuah komite independen untuk rekonsiliasi sepakbola nasional. Keadaannya riuh, mirip tawuran massal, sulit membedakan mana lawan dan kawan, salah lempar batu bisa kena teman sendiri.

Saat para elit di menara gading sibuk baku hantam, apa yang terjadi pada suporter di level akar rumput? Tidak ada, karena mereka sibuk berpesta tapi kita, suporter, tidak diundang. Nama kita tidak pernah ada dalam daftar tamu karena mereka menganggap kita hanya pantas ada di jalanan untuk demonstrasi. Mereka bisa memakai aksi kita sebagai dasar argumen, ”lihat aksi suporter, rakyat Indonesia menginginkan perubahan sepakbola nasional”, tapi kepentingan mereka terhadap kita sebenarnya tak lebih dari itu.

Suporter sepakbola Indonesia memang tak diinginkan untuk maju, apalagi bersatu. Maka selamanya kita akan jadi penonton. Jadi kerbau yang dicucuk hidungnya yang manut saja ke mana pun ditarik. Selamanya kita akan puas hanya dengan membayar tiket pertandingan dan menguras peluh keringat tanpa punya pengaruh terhadap olahraga yang kita cintai ini. Suporter sepakbola Indonesia adalah mayoritas yang dilemahkan (weakened majority), golongan jelata yang dianggap tidak tahu apa-apa.

Sampai kapan?

Karena tidak adanya upaya dan keinginan dari elit untuk mendidik para suporter sebagai bagian terbawah dari piramida sepakbola Indonesia, maka para suporter harus mendidik dirinya sendiri. Program-program edukasi kepada sesama suporter harus digalakkan. Mereka harus diajari untuk sadar dan awas akan situasi sepakbola Indonesia di level elit. Ini penting, karena ketidaktahuan kita adalah kegembiraan mereka.

Kelompok-kelompok diskusi harus digalakkan, para suporter harus memperkaya khazanah masing-masing dengan pemikiran progresif. Jika dalam satu daerah hal ini bisa terjadi, niscaya efeknya bisa merembet ke daerah lain.

Selain itu, para suporter harus dilibatkan (atau melibatkan diri) pada lingkup kekuasaan sepakbola Indonesia, dalam hal ini PSSI. Peraturan hanya mengizinkan perwakilan klub dan pengda yang memiliki suara untuk ikut dalam kongres.

Suporter seharusnya dilibatkan dalam proses penentuan kekuasaan melalui mekanisme yang bisa dipikirkan lebih lanjut nanti. Tapi keterlibatan suporter penting adanya karena kita adalah bagian hutan rimba sepakbola Indonesia. Selain itu, suporter harus menciptakan kelompok-kelompok penekan (pressure group) sebagai alat kontrol kekuasaan dan media suara suporter.

Sekarang saatnya suporter sepakbola Indonesia untuk bangkit bersatu dan memperdengarkan suaranya. Sekarang, atau selamanya kita hanya jadi penonton, jadi kerbau yang diperas keringatnya, yang dikuras uangnya.

Satu kelas atas satu bangsa yang tidak mampu melemparkan peraturan-peraturan kolot serta perbudakan dengan perantaraan revolusi, niscaya musnah atau ditakdirkan menjadi budak buat selama-lamanya” – Tan Malaka, Massa Actie.

Pangeran Siahaan

Advertisements

Read Full Post »

Suporter bersatu tak bisa dikalahkan, tapi mengapa lebih sering bentrok satu sama lain? Thanon Aria Dewangga menuliskan pemikirannya.

Di alam baka Josip Broz Tito mungkin menangis. Bagaimana mungkin negara sebesar Yugoslavia yang dengan susah payah dibangun pecah begitu saja? Berawal dari masalah pemilihan lokal yang berujung pada kekerasan berakibat negara besar ini pecah menjadi beberapa negara. Banyak faktor yang membuat negara ini runtuh. Diawali dengan meninggalnya pemimpin pemersatu legendaris kelahiran Kroasia Josip Broz Tito, kondisi perekonomian yang carut marut awal 80-an, desentralisasi yang kebablasan dan satu hal yang mungkin terlupa oleh kita semua adalah pertentangan antar etnis yang menjalar salah satunya melalui sepakbola (Ingat peristiwa kerusuhan Dynamo Zagreb vs Red Star Belgrade tahun 1991).

Masih segar dalam ingatan kita kerusuhan sepakbola besar yang dicatat oleh sejarah terjadi di Zagreb, Kroasia. Saat itu tahun 1991 bertanding Dynamo Zagreb melawan Red Star Belgrade. Pertandingan ini termasuk pertandingan klasik dalam sejarah sepakbola Yugoslavia saat itu karena melibatkan dua klub besar yang berasal dari etnis yang berseteru dari masa lampau dan mempunyai basis pendukung fanatik yang tidak pernah akur. Kerusuhan akhirnya pecah dan pakar sejarah Yugoslavia meyakini pertandingan ini merupakan salah satu faktor yang berperan besar membuat Yugoslavia pecah seperti sekarang. Terjadi karena terjadi pembiaran oleh pemerintah Yugoslavia terhadap ketegangan antar pendukung sepakbola yang tidak pernah diupayakan untuk diselesaikan.

Indonesia mempunyai karakteristik yang sama dengan Yugoslavia. Negara yang besar secara geografis, mempunyai pemimpin besar kharismatis masa lalu, kondisi perekonomian yang timpang dan multietnis serta maniak sepakbola. Rasanya pernah kita mendengar berbagai ramalan beberapa saat setelah reformasi bergulir tahun 1998 dimana tidak lama lagi Indonesia akan bernasib sama seperti Yugoslavia. Alhamdullilah hal itu tidak terjadi karena kita masih percaya bahwa nasionalisme kita masih kuat. Namun demikian kita tidak boleh lengah dan tetap waspada akan bahaya laten separatisme yang mungkin bisa masuk lewat berbagai meia, termasuk olahraga.

Rasanya kita cukup berbangga bahwa ramalan banyak pakar mengenai separatisme Indonesia tidak terbukti. Namun demikian ada satu celah yang perlu mendapatkan perhatian khusus yaitu pertentangan antar supporter klub sepakbola di Indonesia. Ada gesekan antara pendukung Persib dengan Persija, Persebaya dengan Arema, Persis dengan Persebaya dan lain-lain. Bukan tidak mungkin ada upaya dari oknum yang tidak bertanggung jawab yang berupaya memecah belah bangsa Indonesia melalui sepakbola.

Dulu tenang rasanya kita menonton sepakbola di Jakarta atau dimana-mana. Betul seringkali ada adu ejek atau saling mencerca antar supporter namun tidak pernah rasanya mendengar ada kasus pemukulan yang bersifat masif apalagi sampai meninggal dunia. Kita berseteru selama pertandingan namun damai setelah selesai atas nama olahraga. Sekarang? Surat kabar tidak pernah lupa menampilkan beberapa kasus kekerasan dalam sepakbola nasional. Bahkan anak-anak kecil sejak dii sudah didoktrin untuk membenci kesebelasan tertentu, bahkan sudah mulai SARA karena mendiskreditkan suku-suku tertentu.

PSSI seharusnya cepat bertindak. Segera berinisiatif menjadi mediator untuk membangun rasa kedamaian diantara kelompok-kelompok supporter di Indonesia. Namun sayangnya mereka sepertinya sudah buta dan tuli. Sepertinya terjadi pembiaran kerusuhan supporter. Nyaris tidak ada action. Bila PSSI sudah tidak punya nurani untuk membenahi kerusuhan supporter, saya pikir KONI dan Kementerian Pemuda dan Olahraga dapat mengambil alih peran ini atas nama negara dan pemerintah.

Perlu ada kekhawatiran kemungkinan meluasnya kerusuhan supporter menjadi ke arah separatisme. Rasanya memang hal yang sepele dan rutin dalam konteks kacamata sepakbola Indonesia, namun bukan tidak mungkin ada upaya dari pihak luar yang mencoba memecah belah Indonesia melalui sepakbola setelah gagal melalui organisasi separatisme atau upaya ekonomi. Semoga apa yang terjadi di Yugoslavia masa lalu tidak terjadi di negara kita

Read Full Post »

Dari stadion mewah di Eropa hingga lapangan kampus di Jatinangor, kenikmatan sepakbola tidak mengenal kelas. Tulisan kedua Mahir Pradana di laman ini menceritakan serunya sepakbola dalam level yang sederhana sekalipun.

Ingar-bingar sepakbola Indonesia di beberapa hari terakhir ini memang dahsyat. Beberapa partai seru menyita perhatian publik sepakbola tanah air, terutama karena liga-liga di Eropa sedang libur, diselingi jadwal international call-up. Terhitung, rating televisi lokal sangat tinggi menonton parta-partai seru Liga Super Indonesia, antara lain, Persib vs Persipura, Arema vs Sriwijaya, dan juga beberapa pertandingan Liga Primer Indonesia.

Namun, bagi para mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) jurusan Hubungan Internasional (HI) di Universitas Padjadjaran (Unpad), panasnya dunia sepakbola nasional bertambah satu ruang lingkup lagi. Dalam sebulan terakhir, yaitu sejak minggu ketiga Februari sampai minggu ketiga Maret 2011, perhatian mereka terpusat di seputar persaingan antar-tim sepakbola di Pekan Olahraga Antar Angkatan (disingkat PORANG). Event ini memang hanya merupakan event internal tahunan yang diselenggarakan di ruang lingkup mahasiswa jurusan ini saja. Namun, ketatnya persaingan sama sekali tidak kalah dari sepakbola amatir di mana pun. (Bisa dilihat dari foto-foto yang saya lampirkan)

Lengkap dengan wasit, layaknya kompetisi profesional

Karena belum ada shelter, para pemain cadangan terpaksa duduk di bawah

 

 

Berhubung kampus HI berlokasi di Jatinangor, yaitu kawasan pendidikan yang terletak sekitar 30 kilometer di luar kota Bandung, maka seluruh pertandingan sepakbola di event PORANG ini dilaksanakan di sana. Khusus untuk cabang olahraga sepakbola, pesertanya ada 6 tim, yaitu dari angkatan 2006 sampai 2010, plus angkatan 2005 ke atas yang disebut tim ‘Oldstar’ (tua-tua tapi statusnya tetep bintang, hehehe).

Saya sendiri merupakan mahasiswa jurusan HI angkatan 2003, jadi otomatis tergabung ke dalam tim Oldstar. Saat menerima informasi mengenai dilaksanakannya event PORANG tahun melalui status Twitter salah seorang teman, saya tidak pikir panjang lagi. Saya harus ikut! Agar tidak selamanya hanya bisa jadi penonton pertandingan bola di televisi, hehehe. Beberapa hari kemudian, saya sudah mendapati diri saya kembali ke kampus Unpad Jatinangor. Namun, kali ini bukan untuk kuliah menuntut ilmu, melainkan untuk bermain sepakbola.

Pada pertandingan pertama, kami menghadapi tim 2006. Begitu tiba di lokasi pertandingan, saya terkesima dan takjub. Di tengah-tengah kampus Unpad ternyata telah dibangun sebuah stadion yang tergolong megah untuk ukuran lingkungan kampus. Yang bikin saya geleng-geleng kepala, ternyata stadion tersebut memiliki fasilitas yang tergolong lumayan. Bahkan saya yakin, stadion yang teadang dikenal dengan nama GOR Pakuan tersebut lebih bagus dari beberapa stadion ‘beneran’ yang kelihatannya sangat kacrut jika dilihat di TV. Rumput lapangan terawat dengan baik. Lapangannya dilengkapi tiang gawang dan jala gawang sesuai standar lapangan profesional. Tribun penonton dibangun dengan fasilitas lumayan mewah, lengkap dengan seat bersandaran punggung, meskipun mungkin kapasitasnya hanya memuat 500-an orang penonton. Ruang ganti dan shower juga tersedia. Yang kurang mungkin hanya lampu stadion, yang katanya masih dalam tahap pengerjaan. Bisa dibilang, dalam hal ini, rektor Unpad melakukan pekerjaannya dengan baik dalam hal memfasilitasi kebutuhan mahasiswa dalam berolahraga.

Penulis artikel ini konon pemalu, maka ia pun menutupi wajahnya dengan rompi. Eh, itu yang nomor dua dari kanan lagi ngapain?

 

 

Ketika saya sempat ngobrol dengan bapak penjaga stadion pun, terdapat sebuah fakta menarik. Katanya, tim kebanggaan Jawa Barat, Persib, sempat beberapa kali mengajukan proposal menggunakan lapangan Stadion Unpad tersebut untuk latihan. Hanya saja, pihak manajemen stadion menolak karena tidak ingin lingkungan kampus dipenuhi gerombolan massa. Mereka menginginkan suasana akademik tetap terjaga di sekitaran lingkungan kampus, sekaligus memelihara fasilitas kampus agar tidak rusak oleh orang-orang tak bertanggung jawab.

Saya sih hanya bisa menghela napas, sesal sekaligus lega. Heuh, sewaktu zaman saya kuliah dulu, belum ada fasilitas stadion sebagus ini. Yang ada hanya lapangan keras tanpa rumput dan berbatu, serta tentu saja, belum ada tribun penonton. Tapi yang jelas, saya pribadi merasa puas dan bersyukur diberi fasilitas selengkap ini, meskipun baru bisa menikmatinya seteah berstatus ‘alumni’ Unpad. Singkat kata, setelah menjalani beberapa pertandingan di event PORANG jurusan HI tersebut, saya cukup puas juga karena akhirnya bisa kembali merasakan ketatnya kompetisi sepakbola. Di sini, saya bisa berbangga karena langsung bermain, bukan hanya sekadar jadi penonton atau beradu kekuatan di konsol game Playstation.

Oh ya, setelah bergulir dalam sistem setengah kompetisi selama hampir sebulan, event turnamen sepakbola PORANG itu sendiri akhirnya menghasilkan angkatan 2007 sebagai juaranya. Tim saya dan teman-teman saya sendiri sesama alumni, harus puas menjadi runner-up alias juara dua. Not bad, for old team. Hehehe.

Apapun level pertandingannya, kegembiraan sepakbola itu universal

 

 

Read Full Post »

Dulu Sulawesi Utara pernah punya Persma Manado, Persmin Minahasa, hingga Persibom Bolaang Mongondow. Semuanya sudah almarhum sehingga kemunculan Manado United di Liga Primer menghadirkan kebanggaan sendiri bagi orang-orang Sulut. Arnold Max menulisnya untuk anda.

Sore itu hujan rintik-rintik membasahi Stadion Persikabo yang terletak di bilangan Cibinong, Kab.Bogor, Ya pada hari itu berlangsung pertandingan LPI antara Jakarta FC berhadapan dengan Manado United. Jakarta FC yang menggelar home di Bogor? Ya mungkin terdengar aneh match yang seharusnya digelar di kandang mereka (Lebak Bulus) harus berlangsung puluhan kilometer jaraknya dari Jakarta, hal tersebut dikarenakan Persija Jakarta sore itu menggelar pertandingan yang sama di ajang ISL berhadapan dengan Persiba Balikpapan sehingga lumrah ketika keputusan Jakarta FC harus mengalah menggelar pertandingan bukan di homeground mereka.

Di sekitar stadion sore itu sepi sekali hanya beberapa orang penonton yang dapat dihitung dengan jari, serta terlihat para steward dan panitia yang sibuk sesekali mondar-mandir, hadirlah 5 buah mobil rombongan The Man, ya The Man ialah kelompok supporter Manado United yang baru berdiri tahun 2010 lalu seiring dengan lahirnya Manado United yang menjadi icon sepakbola Sulut kini. Sulawesi Utara yang dulu memiliki Persma Manado, Persmin Minahasa, sampai Persibom Bolaang Mongondow ini harus sirna ditengah eksistensi mereka dikarenakan bubarnya club-club tersebut.

The Man nampaknya menikmati awaydays mereka di kandang Jakarta FC, sekitar 50 orang pun beraksi mensupport Manado United layaknya yang mereka lakukan di laga kandang di Stadion kebanggaan mereka, Stadion Klabat.  Arnold Max salah satunya yang hadir mengatakan sepakbola merupakan pemersatu dan martabat sulut. “Manado United membuat sepakbola sulut semakin bergairah,” ujarnya seraya merujuk antusiasme penonton di Stadion Klabat di beberapa laga home LPI mereka.

Silakan ditebak kira-kira mereka sedang nyanyi lagu apa

 

 

Bahkan Ketua Umum The Man, Marvil Budiman beserta Dirigent Presly hadir langsung di cibinong untuk memberikan support lengkap dengan peralatan supporter mereka yang dibawa langsung dari Manado, di tengah bingar-bingar The Man dalam memberikan dukungan dari tribun timur terlihat kelompok supporter Jakarta FC yang tergabung dalam Tiger Ghoster dan jumlah mereka pun hanya kurang dalam 10 orang. Hal tersebut ditanggapi dengan kegembiraan kami yaitu dengan kekerabatan dan primordialisme orang-orang Manado di Jabodetabek hingga Bandung masih terasa kental hanya dengan kesadaran mereka mau berkumpul dan merencanakan aksi supporter sore itu.

Yel-yel terus digelorakan The Man membuat suasana Stadion yang sepi melompong dapat dibuat gaduh oleh suara The Man, walau pertandingan sore itu dimenangkan Jakarta FC 3-0, tapi dalam crowd dan feel sore itu ada dalam Manado United dan kelompok supporternya, Hingga kami beranjak pulang meninggalkan Stadion dengan perasaan tugas kami mendukung daerah kami telah selesai.

Menang Kalah itu biasa, Manado United, Torang Samua Basudara.

Ngana pe bodi...poco-poco....

 

 

Read Full Post »