Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2011

Penggemar Barito Putera, Andu Panduhup menceritakan pengalamannya menonton tim kesayangannya bertanding setelah absen berbulan-bulan dari stadion.

Pagi itu cuaca Banjarmasin cerah dan agak basah setelah semalaman diguyur hujan deras. Cuaca yang sangat bersahabat ini ,sangat mendukung untuk pertandingan nanti sore. Ya nanti sore tim kesayangan masyarakat Banjarmasin atau lebih luas masyarakat Kalsel bertanding. Kali ini tamu yang datang adalah Persidafon Dafonsoro dari Papua. Ini pertandingan kandang yang kedua diputaran kedua Divisi Utama untuk Barito Putera setelah pertandingan pertama melawan Perserui tidak disaksikan oleh Bartman ( pendukung Barito Putera ) karena sanksi dari PSSI yang “katanya” akibat intimidasi wasit ketika melawan Persebaya.

Sejak menjadi seorang pekerja kantoran, saya sudah lama tidak menonton pertandingan Barito Putera. Saya menonton Barito Putera terakhir kali ketika Barito Putera melakukan pertandingan delapan besar Divisi I tahun kemarin, waktu saya menuntut ilmu di Yogyakarta. Dengan membulatkan tekad untuk menonton tim kesayangan bertanding, saya berniat cabut dari kantor lebih awal untuk nonton  pertandingan.

Tepat pukul 15.30 saya sudah berada di Stadion 17 Mei, stadiun yang dulu pada awal tahun 2000an ketika format kompetisi kita masih terdiri dari 2 group menjadi stadiun paling angker bagi tim-tim tamu dari luar Kalimantan. Stadiun yang menjadi saksi lahirnya seorang Isnan Ali, Usep Munandar,Sunar Sulaiman dan stadiun yang pernah mencatatkan nama seorang Bako Sadisso di jejeran daftar pencetak gol terbanyak seri Liga Indonesia tahun 2002. Ketika saya memasuki stadiun ini, suasana stadiun jauh lebih baik dibandingkan waktu saya berseragam SMP menonton dan meneriakkan nama Frans Sinatra Huwue. Bartman yang dahulu lebih dominan menggunakan warna merah kini berganti menjadi kuning yang menjadi warna kejayaan Barito Putera pada tahun 90an.

Sudah tidak lagi merah, tapi kuning

Saya memilih tribun terbuka atau tribun Inggris nama yang diberikan oleh Bartman. Suasana stadiun cukup lenggang, tidak terlalu ramai. “Biasanya rame ne stadiun, kamu nggak mungkin bisa nonton berdiri disini” kata teman saya Calut yang selalu setia menonton pertandingan kandang Barito Putera, kebetulan tempat saya berdiri tepat di bagian atas stadiun yang memberikan sudut pandang ke lapangan sangat nyaman untuk menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola dengan harga tiket Rp 15.000,-.

Kick off dimulai, riuh Bartman mulai menyanyikan lagu pembangkit semangat. Pertandingan sendiri lebih didominasi tim tuan rumah. “Diam-diam aku tinggalkan pekerjaan, demi Barito apapun kulakukan…”, ya itu sepenggal lagu yang dinyayikan Bartman, dan dari dalam hati saya yang paling dalam saya meng”amini” apa yang dinyayikan para Bartman. Benar benar emosi saya tertuang dalam pertandingan ini. Setelah puasa nonton bola kurang lebih 10 bulan, terakhir kali saya nonton bola derby Yogyakarta antara PSIM vs PSS itupun pertandingan tidak selesai akibat kerusuhan. Puas rasanya bernyanyi, berteriak, mengumpat wasit. Hal yang tidak bisa didapat dimanapun.

Aksi Bartman Menyanyi Tanpa Henti Sepanjang Pertandingan

Pertandingan sempat terhenti beberapa menit setelah para pemain Persidafon memprotes keputusan wasit untuk memberikan tendangan penalty yang kedua untuk Barito Putera. Para pemain Persidafon sempat mengancam tidak meneruskan pertandingan. Tapi untungnya Persidafon memiliki seorang kapten yang penuh wibawa yaitu Edward Ivak Dalam yang kembali menyemangati para pemain Persidafon untuk meneruskan pertandingan. Pertandingan kembali diteruskan, tapi pertandingan menjurus kasar. Ada seorang pemain asing kulit putih Persidafon, saya kurang tahu namanya yang cukup memancing emosi Bartman. Pemain itu bermain kasar dan jauh dari tindakkan fair play. Sangat disayangkan pemain asing tidak memberikan contoh yang baik. Begitu menggelikan melihat ketika Bartman mengejek pemain asing tersebut dia bergaya dan mengejek balik Bartman, satu bagian lagi yang lama tidak saya rasakan ketika saya menjadi seorang pekerja kantoran.

Kandang Kami Masih Perawan

Saya masih menyayangkan sikap Bartman yang masih belum bersikap dewasa, masih sering melakukan pelemparan botol. Tak ada guna saya berteriak dan melarang puluhan orang yang melempar botol, perlu kesadaran sendiri untuk menjadi seorang penonton yang dewasa. Pemandangan yang jarang saya lihat ketika saya menonton pertandingan PSS Sleman atau PSIM. Babak pertama berakhir 1-0 untuk tuan rumah gol dicetak oleh Villalba.

Selebrasi Gol Kedua

Babak kedua dimulai, Persidafon menguasai  jalannya babak kedua. Yah saya akui fisik pemain Persidafon diatas rata2 pemain Barito, pemain Barito hanya sesekali melakukan serangan balik yang selalu kandas di jantung pertahan pemain Persidafon. Sesekali juga Bartman menyayikan lagu “Aku punya anjing kecil, kuberi nama Nurdin, dia senang korupsi dan main-main,sambil berlari-lari,Nurdin Anj*ng, Nurdin Anj*ng, Nurdin Tai Anj*ing”. Tidak hanya dipusat,wabah reformasi PSSI juga menular ke Bartman. Gol Septa dari tendangan bebas menutup pertandingan sore itu dengan skor 2-0 untuk Barito Putera. Kemenangan itu masih menjaga “perawan” stadiun 17 Mei yang belum pernah dilanda awan hitam kekalahan dan hanya Persiba Bantul yang mampu mencuri 1 angka.

SASAH LAKASI “Salam Satu Hati Laskar Antasari”

Banjarmasin juga menginginkan hal yang sama dengan kota-kota lain

Advertisements

Read Full Post »

Menanggapi tulisan di blog ini beberapa hari lalu, @antvBOLA melansir bantahan via Twitter mengenai dugaan rekayasa suara penonton pada siaran Persib vs Persija

Bantahan tulisan @pangeransiahaan : secara teknis, buat apa di dubb, menyulitkan dalan bekerja, dan sangat bodoh dan konyol. suara atmosfirnya ada koh. Untuk suara atmosfir itu bisa diambil dari empat boom mic, atau juga dari 8 camera. Hanya orang yang tak tahu produksi olahraga yang berpendapat itu hasil rekayasa. Kalau rekayasa maksuk akal bila penonton sepi, kemudian suara gaduh…….antv sudah 15 tahun memproduksi bola tak pernah melakukan dubbing suara atmosfir lapangan. Lihat saja pertandingan tanpa penonton tetap terlihat lenggang..

Read Full Post »

Bobotoh Persib, Regi Rivaldi, menuliskan laporannya dari Stadion Jalak Harupat.

Tanggal 18 Maret 2011 jatuh pada hari jum’at, hari dimana setiap Pria yang beragama Islam diseluruh dunia wajib menunaikan ibadah solat jum’at. Tapi ada pengecualian di jum’at tanggal 18 Maret 2011 khususnya bagi warga Jawa Barat atau Bandung sekitarnya seperti saya ibadah di hari jum’at bertambah satu yaitu menyaksikan laga Persib vs Persija. Ini adalah kali pertama Persib memulai laga kandang mereka  musim ini di stadion si Jalak Harupat, Soreang.

Entah kenapa pertandingan ini disebut Derby de Indonesia, padahal rivalitas Persib – Persija baru terjadi saat Liga Indonesia dimulai, sebelum- sebelumnya rival utama Persib adalah Persebaya dan PSMS Medan.Tidak seperti pertandingan lainnya laga ini mempunyai nilai yang lebih, mulai dari nama besar sampai rivalitas suporter kedua tim hingga PT KA Indonesia terpaksa harus melakukan pembatalan jadwal kereta api. Pembatalan itu berlaku dari keberangkatan Cibatu dan keberangkatan Purwakarta. Sementara KA Ekonomi Serayu jurusan Jakarta Kota-Kroya terpaksa harus berjalan memutar lewat jalur utara, yaitu Stasiun Cirebon.

Atmosfer laga mulai terasa pada pukul 10 pagi ribuan orang sudah berkumpul distadion si Jalak Harupat saat saya “dipaksa” bolakl- balik Bandung- Soreang untuk mengambil tiket padahal pertandingan baru dimulai sekitar pukul 17.45 WIB. Setelah melewatkan pengajian untuk nilai tambah mata kuliah akhlaq untuk ibadah yang sama pentingnya dan menunda keberangkatan selama satu jam akibat hujan deras yang melanda Kota Bandung tercinta, akhirnya saya bersama seorang teman memutuskan untuk pergi pukul 15.00 dibawah rintik- rintik hujan. Tak ada yang aneh bagi saya pribadi di perjalanan menuju stadion, tapi jika kalian baru pertama kali datang menyaksikan Persib Bandung berlaga di si Jalak Harupat mungkin akan terheran- heran, di perjalanan kalian akan melihat warga berkumpul dipinggir jalan meneriakan yel- yel kepada setiap suporter yang melintas, tak heran jalan yang tadinya dua arah berubah menjadi satu arah, seperti menceritakan kepada dunia bawa hari ini adalah hari Persib sedunia, atmosfer yang sedikit berbeda jika Persib bertanding di stadion Siliwangi yang posisinya berada di tengah kota Bandung. Sayapun kesulitan memarkir kendaraan saya dan terpaksa menumpang parkir dirumah warga yang berjarak sekitar 1 km dari stadion.

Anehnya masih saja ada beberapa suporter apalagi suporter ababil yang me,akai kaos bonek dan Persebaya yang katanya sama saja (entah sama apanya), padahal sama sekali tidak ada kaitannya dengan pertandingan yang digelar hari. Come on kids you should grow up!!!

Baru saja memasuki tribun beberapa keributan kecil sudah mewarnai besarnya laga ini, beberapa bobotoh menemukan segelintir penyusup memasuki zona bebas orange dan juga hampir terjadinya jotos antara seorang jawara dengan seorang bapak- bapak separuh baya, gagal beradu jotos dengan babak- bapak tersebut jawara tersebut menjotos seorang pemuda yang berada tepat didepan saya karena tidak mempunyai tiket masuk ke tribun VIP Utama. Sekitar setengah 5 sore bus yang membawa beberapa official Persija terlihat memasuki stadion dengan keadaan yang sangat mengkhawatirkan kaca jendela samping bus sudah bolong- bolong seperti bus korban tembakan di medan peperangan yang di ikuti 3 buah panser yang membawa rombongan pemain Persija. Sudah tak terhitung lagi sumpah serapah dan botol minuman yang dilemparkan oleh ribuan penonton yang memadati stadion saat pemain- pemain Persija turun dari kendaraan perangnya.

Hampir kesulitan mencari tempat duduk karena hampir seisi stadion sudah terisi penuh oleh warna biru anehnya tiket masih beredar dicalo- calo, belum lagi ribuan bobotoh tak bertiket yang memaksa masuk masih menumpuk diluar.

Ada sedikit keanehan bagi saya pribadi dan beberapa teman saya yang wartawan, Gonzales tiba- tiba hadir mengisi starting line Persib Bandung padahal saat saya menerima line up dari seorang teman wartawan yang didapat dari panpel Airlangga lah yang berada diposisi tersebut. Benar saja Gonzales tampil sangat buruk.

Keputusan berani yang harus dibayar mahal oleh Daniel Roekito yang memasang M. Agung dilaga sebesar ini dibanding menurunkan Nova Arianto atau Wildansyah dari awal pertandingan, Agung terlihat tak mampu mengawal pergerakan Greg. Benar saja pertandingan baru berjalan beberapa detik Greg Nwkolo sudah berhasil mengobrak- ngabrik lini pertahan Persib yang diisi oleh M. Agung, Maman Abdurrahman dan Abanda Herman. Hariono dan Radovic kesulitan mengimbangi lini tengah Persija, jarak antar lini tengah dengan depan Persib pun begitu jauh, Atep yang didorong masuk ketengah untuk mengisi kekosongan seperti orang kebinggungan yang hanya bisa mondar mandir mengejar bola, Isnan Ali yang tampil dibawah performa terbaiknya beberapa kali membuat kesalahan yang membahayakan gawang Markus Horisson bahkan gol pertama dan kedua pun berawal dari lubang di sektor kiri yang diisi Isnan Ali yang membuat beberapa bobotoh memaki dan meneriakan namanya agar segera diganti.

Jeda babak pertama pun diisi oleh cemoohan, makian dan lemparan botol aqua belum lagi petugas penjaga tiket yang terus memasukkan penonton kedalam stadion padahal di tiket tertulis “pintu akan ditutup 15 menit setelah kick off dimulai” tapi nyatanya penonton terus membludak padahal tiket belum terjual semua.

Dibabak kedua masuknya Eka Ramdani membuat Persib mempunyai nyawa di lini tengah, Siswanto yang hampir tidak kebagian bola dibabak pertama mulai menunjukan aksinya beberapa kali aksinya berhasil mengacak- ngacak lini belakang Persija. Saat laga memaasuki menit ke-51, penetrasi Miljan Radovic membuat Toni Sucipto harus menjatuhkannya dikotak penalti. Shohei “Tsubasa” Matsunaga yang ditunjuk sebagai eksekutor berhasil membuat seisi si Jalak Harupat bersorak.
Lini belakang Persib kembali ceroboh dengan membiarkan Bambang Pamungkas membelokan tendangan Markor yang membuat skor nerubah menjadi 1-3 untuk Persija. Para pemain Persib menganggap Bepe dalam keadaan offside yang membuat seisi stadion meneriakan “WASIT GOBLOK” walau saya melihat jelas masih ada satu pemain Persib yang telat naik. Apipun mulai terlihat dibebrapa titik di tribun timur, utara dan samping.

Walaupun menguasai Pertandingan Persib kesulitan menembus lini pertahanan Persija, Gonzales yang tidak fit malah dipaksakan tampil sepanjang 90 menit, anehnya dibanding mengganti Gonzales yang sudah tidak bisa berkutik, Daniel Roekito malah menggantikan Siswanto yang tampil cukup baik dengan Rahmat Affandi. Padahal teriakan penonton untuk mengganti Gonzales terdengar begitu keras.

Walau berhasil memperkecil ketertinggalan lewat gol Abanda Herman Persib gagal menyamakan kedudukan sekaligus menjadi kekalahan Persib pertama dikandang di musim ini. Saat peluit akhir dibunyikan beberapa penonton di tribun samping dan VIP mulai turun ke lapangan dan melempari pemain Persija, aksi tersebut dibalas oleh polisi. Dari arah timur terlihat polisi menyemprotkan air ke tribun timur dan utara untuk memaksa penonton keluar dari stadion. Keributan hanya terjadi didalam stadion, diluar stadion penonton pulang dengan sedikit ugal- ugalan ala geng motor.

Sayang andaikan Persib menang hari Jum’at itu pasti lebih suci dari Jum’at lainnya tapi apa dikata Persija memang tampil lebih baik dan siap secara mental dibandingkan tim kebanggan kami walaupun sulit untuk mengakuinya secara iklas dari dalam hati tapi Persib selalu dihati…

Read Full Post »

Saya memang tidak pernah puas menonton siaran pertandingan sepakbola Indonesia di televisi. Komentator yang hiperbolik, tentu saja, tapi ada keprihatinan yang lebih besar dari sekedar rasa lelah mendengar dua orang berjual beli kata-kata superlatif. Adalah soal bagaimana pertandingan itu disajikan kepada penonton yang hanya bisa menyaksikan via televisi yang mengusik pikiran saya.

Hari ini adalah hari pertandingan Persib Bandung vs Persija Jakarta, salah satu partai terpanas dalam Liga Super Indonesia. Pertandingan digelar pada hari yang tak biasa, hari Jumat, dengan jam kickoff yang tak biasa juga, 17.30. Nampaknya ANTV yang memegang eksklusif hak siar Liga Super Indonesia telah mencocokkan pemilihan hari pertandingan dengan hari ulang tahun stasiun televisi tersebut. Tidak lazim, tapi sah saja.

Sudah bukan rahasia lagi kalau siaran langsung sepakbola Indonesia selalu diwarnai dengan perlakuan aneh. Yang teranyar saat siaran Pelita Jaya versus Persib Bandung pekan lalu dimana audio suara suporter di dalam stadion sengaja dimatikan karena suporter dianggap meneriakkan chants yang tidak layak. Apa memang chants yang tidak layak itu? Biasanya makian terhadap suporter lawan dan seruan anti-Nurdin Halid. Apakah audio memang harus dimatikan? Anda bisa menilai kelayakannya.

Yang lain adalah soal tayangan ulang dan sudut kamera (angle). Saya tidak akan menjadi orang pertama bila mengatakan tayangan ulang dalam siaran sepakbola Indonesia sering kali tidak mengakomodasi kebutuhan penonton untuk membuat penilaian sendiri (self-judgement) terhadap peristiwa yang terjadi di lapangan. Keputusan wasit memang bulat dan tidak bisa digugat, tapi penonton seyogianya diberikan hak untuk menilai dan beropini?

Bagaimana memberikan hak penonton untuk menilai dan beropini? Dengan cara menyajikan tayangan ulang yang memungkinkan penonton menilai, dalam hal ini mengambil gambar dari sudut yang tepat. Ambil contoh tayangan ulang offside. Angle kamera yang diperlukan hanyalah mengambil gambar jauh dengan sudut tegak lurus terhadap lapangan. Yang sering terjadi adalah gambar diambil dengan sudut diagonal sehingga penonton di rumah tidak bisa menilai dengan sempurna apakah benar keputusan hakim garis mengangkat bendera offside itu tepat atau tidak.

Belum lagi mengenai minimnya tayangan ulang pada keputusan wasit yang kontroversial seperti pemberian kartu merah ataupun penghadiahan penalti. Tidak cuma sekali dua kali dimana tidak ada tayangan ulang pada kejadian seperti ini. Kalau pun ada, lagi-lagi dari sudut ajaib yang tidak memungkinkan terjadinya penilaian publik pada keputusan wasit.

Memang pemutaran tayangan ulang di stadion dilarang karena bisa memancing pergolakan suporter yang hadir di stadion, tapi saya rasa sudah menjadi tanggung jawab stasiun televisi mana pun yang menyiarkan tayangan olahraga untuk memberi kebebasan menilai pada penonton. Sama seperti produk jurnalistik lainnya, apa yang terjadi dalam lapangan olahraga itu adalah fakta dan publik berhak untuk mengetahuinya. Kecuali jika memang ada kebutuhan untuk melakukan hal sebaliknya. Sebuah tuduhan yang mungkin prematur, tapi bukan tidak mungkin.

Ada kecemasan sebelum pertandingan Persib kontra Persija bahwa pihak televisi akan sering mematikan audio suara suporter. Dalam pertandingan yang sarat emosi dan rivalitas seperti ini, nyanyian dan teriakan kasar tidak akan terelakkan. Secara mengejutkan hal itu tidak terjadi karena riuh rendah penonton di Jalak Harupat tetap terdengar di televisi. Tapi saya menangkap kejanggalan karena suara penonton di stadion terdengar statis dari awal hingga akhir, apa pun kejadiannya di lapangan.

Secara kasat telinga, suara penonton nyaris tak berubah dalam berbagai peristiwa: Saat kedua tim mencetak gol, saat kedua tim sedang menyerang dan mendapat peluang, saat pemain tim tamu tergeletak karena cedera, dan kejadian lainnya. Anda yang sering menonton sepakbola di televisi, apalagi sering hadir di stadion, pasti peka terhadap perubahan atmosfer stadion pada momen-momen tertentu. Pemikiran yang berlebihan? Bisa jadi, tapi bukan tanpa sebab.

Maka dari itu, besar harapan saya kepada stasiun-stasiun televisi yang menyiarkan sepakbola nasional untuk meningkatkan kualitasnya. Karena selain menghadirkan keriaan sepakbola ke rumah-rumah penduduk seantero nusantara, sejatinya mereka juga bertanggung jawab pada proses pendewasaan sepakbola Indonesia.

Pangeran Siahaan

Read Full Post »

Bobotoh Persib, Insureksionist, menyampaikan laporannya yang ditulis dengan brilian dari Stadion Singaperbangsa, Karawang

Jumat sore, selepas jam kantor usai saya langsung bergegas menuju Bandung karena malamnya saya harus bertemu teman-teman untuk membicarakan hal-hal teknis dan non-teknis mengenai keberangkatan ke stadion Singaperbangsa di kota Karawang untuk menyaksikan langsung laga Pelita Jaya vs Persib.  Sekitar pukul 08:30 malam bis yang saya tumpangi memasuki kota Bandung, udara dingin menyelimuti kota itu dan gemericik air hujan yang masih setia turun rintik-rintik membasahi jalanan. Saya langsung menuju rumah untuk mengambil motor kemudian tancap gas menuju tengah kota, ke sebuah tempat dimana biasanya saya dan teman-teman berkumpul setiap Jumat malam untuk membicarakan rencana menonton Persib ke stadion, rencana nonton bareng Persib jika pertandingan tandang dan terlalu jauh untuk didatangi, juga biasanya teman-teman menjadikan Jumat malam ditempat itu sebagai sarana bertukar pikiran dan berdiskusi mengenai sepakbola & suporter dalam negeri (Persib menjadi mayoritas bahasan) maupun luar negeri. Hujan gerimis malam itu tidak mengurangi semangat teman-teman untuk hadir disana, ketika saya tiba di lokasi sudah ada sekitar 20 teman. Malam itu juga kendaraan yang akan digunakan sudah ditentukan antara truk tentara atau mini bus tentara yang di koordinir oleh Boni, dua kendaraan tersebut di pesan sekaligus untuk memastikan jika salah satunya tidak dapat digunakan maka masih ada alternatifnya. Untuk masalah tiket masuk pertandingan pun langsung menghubungi kawan yang berada di Karawang untuk memesan langsung tiket tribun selatan sebelum kehabisan. Pertemuan malam itu dihiasi oleh bir, arak, dan canda tawa teman-teman serta membicarakan hal-hal non-teknis yang mungkin akan meramaikan tribun kelak. Pokoknya kami ingin terlihat beda dari suporter yang lainnya di dalam stadion.

Sabtu siang sekitar pukul 12:30, saya sudah berada ditempat keberangkatan yang sudah ditentukan semalam. Disana sudah ada beberapa teman yang menunggu teman lainnya yang berbudaya Indonesia banget, yaitu para pengguna jam karet. Mini bus yang kami gunakan ditempeli tulisan “Rombongan Study Tour Pelajar Teladan Cimahi” buatan Rizki, entah dia membuat tulisan itu karena emang iseng atau sekadar menjaga hal-hal yang tidak diinginkan terjadi saat dalam perjalanan. Tapi justru tulisan itu membuat kami tertawa. Ide cemerlang bung!

Dapat kabar dari teman yang di Karawang bahwa tiket tribun selatan yang kami pesan semalam ternyata sudah habis, akhirnya kami memutuskan untuk memesan tiket tribun timur, yang penting kami bisa masuk stadion agar dapat menonton langsung pertandingan. Kami lepas landas sekitar pukul 14:00 menuju Karawang.

Sekitar pukul 16:00 bus yang kami tumpangi tiba di Karawang dan bus diparkirkan jauh dari stadion untuk menghindari apabila ada kerusuhan yang tidak diinginkan terjadi  ketika papan skor tidak sesuai selera atau wasit memihak kepada salah satu tim. Saya dan teman-teman pun melakukan long march menuju stadion, sepanjang jalan menuju stadion sudah banyak bobotoh. Tampaknya hari itu kota Karawang dikuasai oleh bobotoh dari berbagai kota di Jawa Barat maupun provinsi lain.

Sekitar 1 KM dari stadion

Dont try this at home!

Setibanya di stadion, saya melihat sudah penuh bobotoh, seperti halnya ketika Persib bertanding dikandang sendiri, Stadion Siliwangi. Padahal menuju kick-off masih sekitar 2,5 jam lagi. Laga tandang kali ini terasa seperti laga kandang, mayoritas bobotoh memenuhi sekitar stadion, saya hanya melihat sedikit dari suporter  Pelita Jaya, hanya sekitar 5 atau 6 orang bergerombol.  Di stadion kami langsung mencari teman yang sudah memesankan tiket masuk stadion untuk kami dan beberapa teman lainnya sibuk foto-foto untuk menunjukkan bahwa suporter pun bisa narsis.

2,5 jam sebelum pertandingan mulai

Bukan calo tiket!

Setelah tiket sudah ditangan, kemudian kami bergegas membagi tugas, Anton dan 3 young boy masuk ke dalam untuk memasang banner dan menyiapkan tempat di tribun timur dekat utara, yang lainnya mencari makanan dan “minuman” sebagai pemacu adrenalin.  Ketika saya sedang menyantap makanan ada BBM masuk, ternyata dari Zen yang memberitahu bahwa dia sudah berada di stadion. Hahh?!?! Semalam kontak-kontakan dia masih di Magelang, sore itu sudah ada di Karawang. Saya lalu meninggalkan teman-teman yang masih menikmati makanannya untuk masuk ke dalam stadion menemui Zen. Di pintu masuk ternyata antrian sudah panjang, saya harus menunggu cukup lama untuk bisa masuk ke dalam. Dorong-dorongan pun terjadi dan mereka yang antri mulai gerah tidak sabar ingin masuk lalu mengeluarkan caci-maki karena penjaga pintu masuk stadion melakukan buka-tutup pintu sehingga yang masuk pun sedikit-sedikit.  Sayup-sayup dari luar stadion terdengar nyanyian “Happy Birthday PERSIB” dari bobotoh yang sudah berada di dalam membuat saya tak sabar ingin ikut nge-chant bareng bobotoh yang lain di dalam. Setelah perjuangan antri yang cukup melelahkan, akhirnya saya bisa masuk dan ternyata di tribun timur masih banyak tempat kosong, juga tribun utara yang ditempati Brutal Mania, P-mania & Sipermania suporter Pelita Jaya, kecuali tribun selatan yang sudah dipenuhi bobotoh.

Tribun selatan disesaki bobotoh, tribun utara masih lowong

Langit sore di Singaperbangsa

Saya menemui sebentar Anton yang sudah menyiapkan tempat tadi, kemudian saya mencari Zen ke tengah tribun, tapi saya tidak menemukan dia. Saya memutuskan kembali ke tempat yang dekat dengan tribun utara sambil menanyakan kepada Anton apakah teman-teman yang lain sudah masuk atau belum. Ternyata mereka masih tertahan ditengah antrian. Beberapa saat kemudian ada beberapa  teman saya sudah dapat masuk sambil ngos-ngosan karena terhimpit ditengah-tengah antrian dan ternyata Dicky pingsan juga karena terdorong-dorong, saya melihat dia sedang dikipasi oleh beberapa teman yang lainnya dibantu petugas keamanan dibawah tribun. Bobotoh begitu membludak karena pertandingan ini sekaligus sebagai perayaan hari ulang tahun Persib yang ke-78 tahun.

Perjuangan memasuki rumah ibadah

Ternyata 6 orang dari gerombolan kami tidak bisa masuk ke dalam, mereka tertahan diluar stadion.  Panpel sepertinya tidak becus mengurus penjualan tiket, tribun timur pun akhirnya penuh, bahkan jebol. Entah mengapa bisa terjadi, banyak yang tidak bertiket bisa masuk, sedangkan beberapa teman saya yang sudah memiliki tiket masih tertahan diluar tidak bisa masuk.  Matahari mulai terbenam dan langit pun mulai gelap, beberapa menit lagi pertandingan akan segera dimulai, kembang api pun mulai unjuk gigi menghiasi langit stadion Singaperbangsa malam itu.

Tribun timur jebol

Pemanasan

Saya memutuskan turun dari tribun dan mengambil foto-foto tribun timur dari arah pinggir lapangan hingga kick off pertandingan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Baru saja peluit wasit berbunyi pertanda pertandingan dimulai, sebuah insiden terjadi, ada kembang api dari tribun timur yang mengarah ke lapangan dan mengenai Isnan Ali hingga Kick Off terhenti sejenak. Namun, pertandingan dapat dimulai tidak lama setelah insiden tersebut. Suporter dari tribun timur mulai turun memenuhi pinggir lapangan sampai kurang-lebih 2 meter dari ads board, Sedangkan tribun barat tampak adem ayem tanpa harus berebutan tempat. Pertandingan sendiri berjalan seru, serangan-serangan mulai digencarkan oleh kedua tim hingga akhirnya pada menit ke-9 Matsunaga pemain anyar Persib asal Jepang menciptakan gol dan membuat seantero stadion bergemuruh, para bobotoh ber-euforia menyambut gol tersebut, beberapa spot di tribun terlihat handflare menyala.

Euforia!

Masih di babak pertama itu, banyak peluang-peluang akan terciptanya gol terjadi, namun banyak yang melambung melewati mistar gawang atau menyamping. Entah pada menit ke-berapa saya lupa, Afandi masuk menggantikan Gonzales. Hingga babak pertama selesai, skor pertandingan masih 0-1 untuk keunggulan Persib.  Jujur saja saya tidak menikmati menonton pertandingan karena berada dipinggir lapangan, tidak senikmat ketika berada diatas tribun. Sesekali saya harus bergerak mencari celah yang tidak terhalang bapak-bapak aparat yang menjaga para bobotoh agar tidak semakin mendekat ke lapangan, agar dapat melihat pertandingan.

Menghalangi pandangan, jenderal!

Tribun timur tumpah ruah

Jadi tamu di rumah sendiri, dicaci dan diserbu

Pada jeda pertandingan ini para suporter Pelita Jaya di tribun utara berhamburan, sepertinya ada gesekan antar supporter di tribun utara itu atau mungkin ada perang batu dengan supporter dari luar stadion, entahlah, mata saya kurang jelas menangkap kejadian sebenarnya di tribun tersebut. Sebagian besar dari mereka melanjutkan menonton dari pinggir lapangan, tidak diatas tribun.

Pertandingan babak kedua pun dimulai, chant dari bobotoh pun kembali menggema. Sekitar 5 atau 10 menit sejak peluit babak kedua ditiup, Pelita Jaya mendapatkan hadiah penalti karena Maman yang berusaha menghalau bola pendek dengan kepala menyentuh bola dengan tangannya. Ramirez berhasil menciptakan gol dari titik putih dan membuat supporter Pelita Jaya bergemuruh sekaligus membungkam para bobotoh. Kedudukan pun imbang 1-1. Tidak lama dari gol yang Ramirez ciptakan, sekitar 15 menit kemudian, Persib berhasil menambah gol yang entah siapa yang membuat gol tersebut, saya tidak jelas melihat karena gawang Pelita Jaya berada jauh sedangkan saya lebih dekat ke gawang Markus. Stadion pun meledak kembali oleh riuh kegembiraan bobotoh. Karena penasaran siapa yang membuat gol kedua untuk Persib akhirnya saya bertanya ke teman saya yang berada di tribun, ternyata pencipta gol tersebut adalah Abanda Herman. Pertandingan cukup keras, bahkan Ramirez ditandu keluar lapangan, bobotoh pun nge-chant seperti layaknya membacakan doa untuk orang meninggal. Saya tertawa mendengar chant tersebut. Sejak Ramirez ditandu keluar lapangan, otomatis Pelita Jaya hanya bermain dengan 10 pemain saja karena sudah melakukan pergantian pemain sebanyak 3 kali. Sepanjang pertandingan saya berdecak kagum dengan pemain baru Persib, Matsunaga, Aksinya dilapangan benar-benar membuat Karawang begoyang malam itu, lincah, gesit, aksi individu yang ciamik dan selalu membahayakan gawang Pelita Jaya. Menjelang akhir pertandingan bobotoh nge-chant happy birthday Persib hingga akhirnya wasit meniup peluit sebagai tanda pertandingan berakhir dan memastikan kemenangan berada di pihak Persib dengan skor 1-2 sebagai tim tamu.

Persib yang lahir 14 Maret 1933 dirayakan malam itu dengan kemenangan sebagai hadiah ulang tahun ke-78 sekaligus mengukuhkan diri sebagai pemegang hegemoni di Jawa Barat.

Read Full Post »

Seorang suporter Persisam, Annisa Maharani, menumpahkan kekesalannya pada performa tim kesayangannya yang mengecewakan

Rabu malam,9 Maret 2011,saat laga away Persisam Putra Samarinda melawan Persela Lamongan,mungkin menjadi mimpi buruk bagi pemain,pelatih,official,dan tentu saja,Pusamania.

Persisam mengalamin kekalahan besar lagi,di laga away kedua,dengan jumlah kebobolan gol yang sama.

Saya kecewa. Sama seperti Pusamania yang lain.

Kemana klub kebanggaan kami yang selalu tampil beringas ketika menghadapi lawannya?
Saya semakin miris saat melihat timeline teman saya yang menyebut Elang Borneo sebagai ‘tim jago kandang’. Ingin saya membalas perkataan dia. Tapi saya nggak mau cari masalah, walaupun sebenarnya saya sakit hati!

Pertandingan kemarin menurut saya merupakan pertandingan terburuk Persisam kedua,setelah sebelumnya dipecundangi Semen Padang dengan skor telak 4-0.

Saya kecewa, sangat sangat kecewa.Ada apa dengan Pesut Mahakam akhir-akhir ini? Mereka seperti anak ayam yang kehilangan induknya,yang nggak tahu harus bagaimana!

Saya bertambah kecewa ketika melihat sikap Coach Hendri Susilo. Pelatih yang akrab disapa Coach Siloy tersebut hanya berdiam diri saja di bench ketika pemain Persela Lamongan satu persatu menceploskan gol ke dalam gawang Wawan Hendrawan. Kemana Hendri Susilo yang selalu meneriakan motivasi dan instruksi dipinggir lapangan saat para pemain mendapat gempuran serangan dari pemain lawan? Saya tidak melihatnya sama sekali pada pertandingan kemarin!

Bukan hanya itu,menurut saya,ada beberapa faktor yang menjadi sebab kekalahan Persisam kemarin.

Pertama, sektor pertahanan yang sangat rapuh, sehingga pemain lawan dapat melihat celah besar dan mampu membuat 3 gol dalam kurun waktu kurang dari 16 menit!

Kedua, faktor lapangan yang habis diguyur hujan,sangat licin dan berlumpur. Sehingga pemain Persisam harus bersusah payah untuk mengendalikan alur bola.

Ketiga,faktor wasit yang tidak tegas. Saya ingat sewaktu salah satu pemain Persisam dilanggar di kotak putih. Seharusnya hal itu membuahkan tendangan bebas. Tetapi,sang wasit membiarkan saja kelakuan pemain Persela tersebut,tanpa memberikan kartu kuning.

Namun,ada satu hal yang membuat rasa kecewa saya sedikit terobati. Gol Irsyad Aras. Satu-satunya gol yang diceploskan ke gawang Persela dan merubah skor menjadi 3-1. Membuat saya kembali optimis bahwa Persisam bisa mengejar ketinggalan dengan waktu yang tersisa.

Nyatanya, beberapa saat kemudian,gawang Persisam kembali bergetar. Gol lagi untuk Persela. Skor berubah menjadi 4-1 dan tidak berubah sampai akhir pertandingan.

Kesimpulannya, wajar saja jika suporter marah-marah melihat tim yang dibelanya kalah. Apalagi dengan skor telak. Tapi,asal jangan terlalu berlebihan. Karena disetiap pertandingan pasti ada yang menang dan kalah. Kita harus menerima dengan lapang dada.

Yang terpenting adalah bagaimana sebuah tim bisa bermain dengan sportif dan bagus serta tanpa masalah dan keributan. Bagi saya, percuma saja suatu tim bisa menang tapi dengan cara yang licik dan curang. Lebih baik kalah tapi terhormat.

Pesan saya buat Persisam, jadikanlah kekalahan kemarin sebagai cambuk agar kalian bisa memperbaikinya dalam menghadapi pertandingan berikutnya. Jadikanlah saran dan kritik kami sebagai sugesti agar kalian lebih semangat dan pantang menyerah!

PERSISAMPEMATI!

Read Full Post »

Suporter setia PSM yang juga penulis novel “Here, After”, Mahir Pradana,  menuangkan keluh kesah perihal tim kesayangannya dan mengapa Nurdin Halid dulu adalah sosok yang membanggakan

Liga Primer Indonesia (LPI) memang sudah menjadi fenomena. Bukan saja di Indonesia, tetapi juga sudah sampai ke negara-negara lain. Setelah dibahas beberapa media Inggris dan Brazil, kabar terakhir menyebutkan bahwa seorang jurnalis Belanda bernama Elske Schouten, jurnalis asal koran Harian NRC Hendelsbald, sampai rela datang ke Makassar demi meliput sepak terjang dua orang prominent figure sepakbola Belanda yang terdampar di kompetisi tandingan Liga Super Indonesia tersebut. Kedua figur yang dimaksud adalah mantan pemain timnas Belanda, Wilhelmus “Wim” Gerardus Rijsbergen yang sekarang melatih PSM Makassar dan mantan bintang Ajax Amsterdam, Richard Knopper yang juga memperkuat tim Juku Eja.

Membahas LPI memang tidak pernah ada habisnya. Ketika bertemu dengan beberapa orang sahabat saya sesama pecinta sepakbola di Bandung beberapa minggu lalu, kami terlibat dalam sebuah percakapan santai yang topiknya tentu saja melibatkan LPI. Teman saya yang warga Bandung tidak habis-habisnya membahas Lee Hendrie, mantan pemain timnas Inggris yang sekarang menjadi superstar di LPI bersama Bandung FC. Saya sendiri tidak mau kalah. Sebagai orang Makassar dengan darah PSM yang mengalir di dalam raga, saya tentu saja membanggakan Knopper dan si rising star Diva Tarkas. Nama terakhir sempat disayangkan banyak kalangan karena dianggap membunuh masa depannya sendiri dengan bermain di kompetisi yang tidak diakui PSSI dan FIFA, bukannya berkarir di klub Liga Super seperti yang dilakukan salah seorang rekan seperjuangannya, Djayusman. Di lain pihak, teman saya satu lagi, yang rada malas mengikuti sepakbola Indonesia, hanya berkoar: ‘alah, LPI kan liga tarkam’. Mendengar itu, saya sedikit mendebatnya. Mana ada sih tarkam yang membayar pemainnya milyaran rupiah? Namun, saya membatin, jika mengingat liga ini dijalankan tanpa landasan hukum yang sah dari institusi berwenang, betul juga, apa bedanya LPI dengan tarkam?

Setelah itu, perdebatan tidak kami teruskan terlalu jauh. Meski demikian, kami mencapai sebuah kesimpulan yang agak lucu, yaitu: ‘LPI adalah liga masa depan dengan pemain masa lalu.’ Mungkin karena baru seumur jagung, keberadaan ‘pemain-pemain masa lalu’ yang cukup tenar di era keemasan mereka memang dibutuhkan untuk mendongkrak nilai jual LPI. Alasan inilah yang menjelaskan keberadaan Hendrie, Knopper, serta nama-nama lain seperti Amaral, Emanuel de Porras dan beberapa mantan bintang timnas yaitu Nur Alim, Kurniawan Dwi Julianto, Bima Sakti dan Kurnia Sandy.

Di akun Twitter, saya malah sempat menambahkan,’LPI adalah liga masa depan dengan pemain masa lalu. Plus stadion masa lalu karena stadionnya memiliki fasilitas yang memprihatinkan dan lapangannya becek melulu.’ Beuh, siapa yang tahan melihat pertandingan diadakan di lapangan yang becek jika hujan dan keras berbatu ketika panas? Celakanya, sebagian besar lapangan yang dipakai di LPI menghadapi kondisi seperti ini. Inikah liga yang digadang-gadang sebagai ‘liga masa depan’ itu?

Sejujurnya, saya sendiri juga mungkin tidak akan seheboh ini mengikuti update LPI jika tim yang saya dukung sejak kecil, PSM Makassar, tidak menyeberang ke liga tersebut. Sebagai putra Bugis yang lahir dan besar di Makassar, tentu saja warna merah adalah warna fanatisme sepakbola saya, semerah ikan merah (juku eja) yang menjadi julukan klub kebanggaan ibukota Sulawesi Selatan itu.

Saya telah mengikuti sepak terjang PSM sejak bangku sekolah dasar. Saya termasuk generasi yang berbangga hati melihat penampilan luar biasa PSM yang mencapai final Liga Dunhill (nama Liga Indonesia saat itu) pada tahun 1996 meskipun takluk oleh Mastrans Bandung Raya. Saat itu, anak-anak asuh M. Basri yang diperkuat oleh Jacksen Tiago, Luciano Leandro dan Yusuf Ekodono tersebut merupakan salah satu klub terkuat wilayah timur Indonesia. Bahkan, saya tidak malu-malu mengakui bahwa semasa kecil saya mengagumi sosok Nurdin Halid yang saat itu bagaikan seorang super-manager. Masih bersih dari segala tuduhan korupsi, saat itu Nurdin bahkan mengumpulkan lebih banyak pemain bintang di PSM pada musim 1999/2000. Beberapa pemain yang dikumpulkannya antara lain Kurniawan Dwi Julianto, Bima Sakti, dan Hendro Kartiko. PSM pun dibawanya menjadi juara liga pada musim tersebut.

Namun, memang menakjubkan melihat perubahan yang bisa terjadi dalam satu dekade. Keadaan berbalik total seratus delapan puluh derajat. Semua ketakjuban yang merekah di awal dekade 2000-an kini musnah tak bersisa. Lupakan kesaktian Nurdin Halid pada akhir tahun 2000. Di penghujung 2010, Indonesia dan bahkan dunia telah melihat Nurdin Halid sebagai musuh nomor satu di persepakbolaan Indonesia. Sebagai ketua PSSI yang telah menjabat sejak 2003, Nurdin adalah orang paling bertanggung jawab atas kemerosotan prestasi timnas Indonesia dan carut-marutnya kompetisi sepakbola nasional.

Bagaimana dengan kejayaan PSM? Yah, saya hanya bisa mengurut dada. Setelah melewati pertengahan dekade 2000-an dengan prestasi gemilang meskipun tidak pernah juara (tiga kali menjadi runner-up, sekali menjadi semifinalis, dan dua kali masuk delapan besar), PSM masih mengorbitkan beberapa pemain nasional seperti Ponaryo Astaman, Syamsul Chaeruddin, Irsyad Aras dan Syamsidar hingga ke level tim nasional. Beberapa pemain asing juga merintis kebintangan mulai dari klub ini, antara lain Christian Gonzales, Ronald Fagundes, Abanda Herman dan Ali Khaddafi. Namun, di akhir musim 2009/2010, PSM kekeringan prestasi. Finis di posisi ke-13 dan nyaris terkena degradasi sama sekali bukanlah suatu kebanggaan.

Puncaknya, di awal tahun 2011, ketua umum PSM, Ilham Arief Sirajuddin, mendeklarasikan pengunduran diri PSM dari Liga Super Indonesia untuk bergabung dengan LPI. Singkatnya, alasannya adalah Liga Super Indonesia sudah tidak sehat lagi karena terlalu banyak kecurangan yang diatur oleh PSSI. Bagi sebagian orang, tindakan mundur ini bagaikan petir di siang bolong. Padahal sebelum mundur, PSM duduk di posisi dua dan sempat mengecap puncak klasemen. Asa masyarakat Sulawesi Selatan yang sempat membubung untuk kembali melihat PSM menjadi juara liga pun lenyap. Banyak kalangan yang menyayangkan perpindahan yang ditengarai bermuatan politis tersebut. Mereka berpendapat bahwa tidak sepantasnya PSM, yang merupakan salah satu klub sepakbola tertua di Indonesia (berdiri tahun 1915), meninggalkan kompetisi padahal seharusnya menjadi contoh bagi klub-klub yang baru berdiri dan sedang berkembang. Selain itu, dengan berpindah ke liga yang masih baru tanpa struktur kompetisi maupun pengembangan usia muda yang jelas, PSM bagaikan membunuh bibit-bibit pemain mudanya sendiri.

Jadi, apa sebenarnya kesimpulan dari tulisan saya ini? Well, anggap saja ini sebagai semacam curahan hati seorang penggemar fanatik PSM yang hanya bisa mengurut dada melihat segala macam perubahan tidak menyenangkan yang muncul bertubi-tubi seperti benang kusut. Sekarang, konsekuensi yang harus dijalani oleh setiap penggemar PSM adalah harus mendukung sepak terjang klub kesayangan mereka tersebut di suatu liga yang sama sekali baru, ingar-bingar yang sama sekali berbeda, dan atmosfer yang benar-benar asing. Semoga keputusan pengelola PSM pindah ke LPI benar-benar demi kebaikan bersama dan bukan karena motif politis semata. Semoga PSM memang sedang berjalan menyusuri suatu garis yang menuju ke arah perubahan sepakbola Indonesia yang lebih baik, atau sebuah ‘liga masa depan’ yang katanya ideal. Meskipun semua ini harus ditempuh dengan cara berkompetisi dengan ‘pemain-pemain masa lalu’ dan bermain di beberapa ‘stadion masa lalu’.

Ewako, PSM!

Read Full Post »

Older Posts »