Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2011

Penulis kita kali ini adalah Mahfudin Akbar, seorang suporter Persibo Bojonegoro , yang sama seperti anda dan saya, mengidamkan sepakbola Indonesia yang lebih baik. Jika ingin tulisan anda dimuat di blog ini seperti Mahfudin, silakan kirimkan artikel anda segera.

Saya lahir dan besar di Bojonegoro, sudah barang tentu saya menjadi Boromania pendukung Persibo Bojonegoro, klub kebanggaan warga kota Bojonegoro. Persibo Bojonegoro adalah sebuah klub kecil yang baru berdiri tahun 2000 tapi dalam kurun waktu 10 tahun sudah berada di kasta tertinggi Sepakbola Indonesia yaitu ISL (Indonesia Super League) sebelum akhirnya ‘membelot’ ke LPI (Liga Primer Indonesia).

Akhir-akhir ini masyarakat bola Indonesia semakin lantang menyuarakan Revolusi PSSI, gelombang demo menuntut Nurdin cs. turun semakin menggelora di berbagai penjuru negeri tak terkecuali di Bojonegoro. Saya turut bangga saat melihat berita bahawa Boromania adalah Suporter ‘pertama’ yang datang ke Senayan untuk berdemo menuntut Revolusi PSSI yang akhirnya ‘diikuti’ oleh kelompok suporter lain – walaupun saya tidak ikut karena sibuk kuliah, saya tetap bangga pada Boromania yang mempunyai slogan SADABE (Salam Damai Bersaudara). Boromania hanya berada kurang lebih 2-3 hari di Jakarta karena pada Sabtu 26 Februari Persibo bertanding melawan Bali de Vata di ajang LPI.

Nah! ini kejadian unik yang ingin saya ceritakan, untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 6 bulan ini (setelah Persibo promosi ke ISL kemudian gabung LPI) Boromania tidak melakukan nyanyian rasis (sic) terhadap kelompok suporter lain. Kelompok Suporter yang saya maksud adalah LA Mania (suporter Persela lamongan). Ini sangat mengejutkan bagi saya karena setiap Persibo main di Bojonegoro, Boromania selalu menyanyikan nyanyian rasis (sic) kepada LA Mania tapi kali ini tidak.

Apakah ini terkait bersatunya Suporter Indonesia untuk Revolusi PSSI atu bukan saya tidak tahu, tetapi saya sangat bangga dengan hal ini. Slogan SADABE kini bukan hanya melalui tulisan saja tapi sudah berupa tindakan. Semoga dengan ini Suporter seluruh Indonesia dapat bersatu untuk mewujudkan Persepakbolaan Indonesia yang kondusif.

Sekitar 6 bus gelombang pertama yang kurang lebih 400 orang berangkat ke Jakarta, setelah itu 2 bus yang mengangkut 150 orang menyusul. Saya juga turut mengantarkan teman saya pada saat itu, teman saya yang bernama Helmi itu seperti modal nekat berangkat kesana karena hanya membawa uang Rp50.000 untuk bertahan hidup disana. Dia juga harus berbohong kepada ibunya, dia bilang Persibo hari ini ada laga tandang padahal dia akan berdemo, sungguh luar biasa dan salut saya kepadanya.

Bojonegoro itu memang kota kecil tapi beberapa tahun belakangan namanya terangkat berkat Persibo ini. Apalagi beberapa hari yang lalu Boromania selalu menghiasi media cetak & elektronik. Radio dikota kami juga sangat mendukung pergerakan Sepakbola Bojonegoro karena perlu diketahui tidak banyak orang yang mempunyai facebook. Kalaupun ada ya anak-anak ABG jaman sekarang. Setiap hari Selasa dan Jumat ada acara yang membahas Sepakbola di Indonesia khususnya Bojonegoro. Acara ini juga menjadi arena diskusi masyarakat pecinta bola bojonegoro dengan menghadirkan narasumber seperti Pelatih, Pemain, Pengurus dll.

Kembali ke Boromania, setelah 2-3 hari berada di Jakarta sekitar 500 Boromania pulang ke Bojonegoro. Setelah sampai di Bojonegoro apakah mereka langsung pulang ke rumah masing2? TIDAK. Mereka sudah ditunggu puluhan Boromania lainnya untuk melanjutkan aksi demo di Bundaran Adipura kota Bojonegoro. Perlu diketahui saat itu Bojonegoro dalam kondisi hujan dan mereka rela berbasah kuyup untuk menyuarakan Revolusi PSSI. Saya berani mengatakan bahwa sekarang Boromania bukan hanya Suporter tapi merupakan sebuah Pergerakan masyarakat Bojonegoro.

Saat Persibo akhirnya pindah ke LPI Boromania tetap setia mendukung, itulah yang membuat saya bangga terhadap Boromania & masyarakat Bojonegoro. Dulu kalau Persibo kalah atau pemainnya dikartumerah, Boromania selalu membuat rusuh/kekacauan. Tapi lihat kemarin saat melawan Bali De Vata, pemain Persibo dikartu merah oleh wasit Boromania tidak melakukan lemparan botol dan lainnya seperti tahun2 lalu. Saat itupun Persibo hanya bermain imbang 1-1 setelah Bali de Vata menjebol gawang Persibo di menit2 akhir. Sebenarnya gregetan juga, tapi Boromania menunjukakkan jiwa besar nya dengan tidak melakukan tindakan anarkis (sic). LUAR BIASA.

Senin mendatang Boromania menyiapkan 10 bus untuk ngeluruk Jakarta kembali untuk Revolusi PSSI…

Advertisements

Read Full Post »

Mereka bilang saya radikal, mereka bilang saya pemberontak. Tapi jarang sekali saya benar-benar turun ke jalan. Saya sering merasa tidak perlu-perlu amat ikut serta dalam kekuatan massa untuk memperjuangkan aspirasi politik praktis. Jikalau memang saya sampai turun ke jalan, pemicunya biasanya sehubungan dengan kebebasan beragama.

Dengan alasan kebebasan beragama pulalah saya bergabung dengan saudara-saudaraku suporter sepakbola yang prihatin dengan masa depan agama kita, sepakbola nasional, yang semakin tak tentu arah. Sepakbola kita telah kehilangan martabat karena dijadikan corong politik oleh para petinggi PSSI dan partai politik yang memboncengnya.

Siapa yang tidak sakit hati mendengar Nurdin Halid berkoar-koar bahwa kesuksesan timnas Indonesia di Piala AFF silam (jika memang benar itu kesuksesan) adalah berkat sumbangsih partai Golkar? Saya yang berdiri di Gelora Bung Karno hingga Bukit Jalil, anda yang meneriakkan pekik semangat di seantero stadion, mereka yang menabung dan berdesak-desakan mengantri tiket, para pemain yang menguras tenaga di lapangan, staf pelatih yang memutar otak, tapi kepada Golkar semua terima kasih dihaturkan. Tak punya otak.

Ketua PSSI memang tuna susila....

Saya tak peduli pada Arifin Panigoro dan George Toisutta. Tidak ada jaminan jika mereka naik ke tampuk kepemimpinan PSSI maka sepakbola kita akan menjadi lebih baik. Tapi semua orang berhak untuk mencoba memperbaiki kebobrokan ini, terlebih jika cara yang digunakan memang prosedural. Maka apa yang dilakukan PSSI lewat tim verifikasinya yang tidak meloloskan kedua nama tersebut untuk ikut pemilihan ketua umum PSSI pada kongres mendatang dengan alasan yang tidak jelas adalah sebuah langkah membungkam perubahan.

Tidak heran jika sejak hari Selasa (22/2) suporter dari berbagai penjuru Indonesia berdatangan ke kompleks GBK untuk demonstrasi di depan kantor PSSI. Aksi besar direncanakan baru akan dimulai esok harinya dan para suporter menggelar tenda di depan kantor PSSI untuk menginap.

Para suporter sedang menyanyikan lagu-lagu anti Nurdin Halid saat saya bergabung ke lokasi hari Rabu (23/2). Banyak suporter Persibo Bojonegoro yang memang datang ke Jakarta dengan beberapa bis. Polisi mengawal jalannya demonstrasi dengan baik, mereka tidak melakukan pengamanan berlebihan yang dapat memprovokasi massa.

Ramai-ramai karaoke anti-Nurdin

Daftar PR

Revolusi!

Secara bergantian para suporter dipersilakan melakukan orasi di atas mobil komando untuk menumpahkan kekesalannya pada rezim PSSI. Dari Persis Solo hingga klub divisi 3 asal Brebes yang saya lupa namanya, semua seirama dalam mengecam kezaliman Nurdin Halid.

Suasana menjadi lebih riuh saat teman-teman Jakmania datang bergabung bersama kami. Dikawal oleh barisan sepeda motor yang membawa bendera kuning, mereka bahkan membawa mobil jenazah yang berisi keranda yang dimaksudkan untuk Nurdin. Mereka lalu mengarak keranda tersebut dan meletakkannya di depan kantor PSSI.

Puncak unjuk rasa hari itu adalah saat para suporter menyegel kantor PSSI dengan gembok dan rantai besi. Lalu spanduk raksasa bertuliskan revolusi PSSI digelar menutupi bagian depan kantor persatuan sepakbola yang seharusnya membanggakan itu, tapi lebih sering bikin malu.

Inna Lillahi wa inna ilahi raji'un

Turut belasungkawa....

Ini harusnya jadi foto obituari

Saat saya undur diri dari lokasi, saya melihat kerumunan orang tanpa atribut tertentu yang duduk-duduk di sepanjang trotoar seberang Hotel Century Park. Mencurigakan karena suporter yang berdemo semuanya ada di dalam, lalu mereka siapa? Saya sempat mendengar koordinator mereka berteriak, ”Ayo Priuk ngumpul! Orang Priuk ayo ngumpul!”. Belakangan saya mengetahui bahwa ada kelompok massa dari daerah Tanjung Priuk yang digerakkan untuk menjadi kubu pendukung Nurdin Halid. Taktik kuno.

Hari ini (Jumat, 25/2) para suporter yang menyuarakan perubahan masih terus melaksanakan aksi menuntut revolusi PSSI. Tadi siang Komite Banding menolak banding Arifin Panigoro dan George Toisutta, dan mengembalikan keputusan kepada PSSI. Revolusi kita masih jauh dari usai, bung. Ayo terus bergerak!

Bung, ayo, bung!

Read Full Post »

Kontributor tamu, Viola Kurniawati, kembali menyajikan laporannya langsung dari Stadion Kanjuruhan, Malang.

Kamis, 10 Februari 2011. Begitu menginjak bandara Abdurahman Saleh, langsung ada tweet yang masuk ke Blackberry saya. “Selamat datang di Bumi Arema” Ya, kembali ke Malang selalu membuat hati senang, apalagi jika Arema sedang berlaga. Banyak orang yang saya kenal dan pernah merasakan atmosfir Stadion Kanjuruhan secara langsung selalu merasa rindu untuk kembali kesini.

Kebetulan, saya satu pesawat dengan rombongan ANTEVE yang akan Live. Mau tak mau, saya juga harus pergi ke Kanjuruhan lebih awal karena mereka juga harus mempersiapkan peralatan untuk siaran. Selesai berbenah, waktu menunjukkan pukul 12.00. Kick-off pk. 15.30. Dan begitu masuk gerbang Kanjuruhan, saya tertegun. Stadion sudah hampir penuh. Bahkan, beberapa ada yang mengaku sudah standby dari jam 10 duduk di dalam stadion demi mendapatkan spot terbaik menonton tim Singo Edan. Sayangnya, ada Aremania yang jatuh dari tribun karena pingsan dan harus ditandu oleh medis. Katanya, karena sudah menunggu dari pagi bahkan belum sempat makan.

Pertandingan melawan Persiwa Wamena ini merupakan pertandingan terakhir bagi Arema di putaran pertama Indonesia Super League. Itulah mengapa Aremania tetap bersemangat memenuhi stadion walaupun jatuh pada hari Kamis. Tapi, di Malang, Arema sudah menjadi sebuah ‘agama’. “Mau hari apa aja disini pasti penuh,” ujar salah satu pedagang syal Arema. Dan saya langsung membayangkan bagaimana nanti saat AFC Champions League. Pasti antusiasmenya akan lebih membludak lagi.

Arema memang selalu menjadi teladan kesuksesan klub di Indonesia. Baik dari segi manajemen, panitia pertandingan bahkan hingga supporter. Tradisi mengantre pada saat membeli tiket selalu membuat saya kagum. Mereka selalu rela membeli tiket berapapun harganya demi melihat Arema berlaga. Tiket yang paling murah seharga Rp. 25.000 dan selalu sold out. Sebagai apresiasi, panpel dan sponsor pun juga menggelar undian berhadiah motor dari nomor potongan tiket bagi Aremania yang beruntung. Ini juga menjadi pemacu Aremania untuk membeli tiket asli dan lebih menghargai tiket yang sudah dibeli, tidak hanya dibuang begitu saja.

Tentunya saya tidak melewatkan mengobrol dengan Mas Darmaji, media officer Arema. Singo Edan akan dipadati dengan jadwal AFC Champions League dan ISL. Tanggal 27 Februari, mereka akan langsung terbang ke Osaka, Jepang. Tanggal 16 Maret akan menjamu Jeonbuk. Berdasarkan pada pengalaman klub-klub lain yang pernah mewakili Indonesia di ajang internasional tersebut, padatnya jadwal dan kelelahan fisik merupakan faktor utama kurang maksimalnya tim. Lain halnya dengan klub Jepang, dimana mereka mensiasati dengan menurunkan pemain-pemain muda. Regenerasi disana memang berjalan, jadi gap antara pemain cadangan maupun inti tidak terlalu jauh dan selalu dibiasakan untuk tetap sinergi. Lain halnya dengan klub di Indonesia yang sering mengandalkan beberapa pemain hingga ‘titik darah penghabisan’. Apalagi Arema yang tergabung dalam Grup G, harus berhadapan dengan tim kuat seperti Jeonbuk dan Cerezo Osaka.

Hasil akhir 4-0 menjadi penutup manis untuk Arema di putaran pertama ini. Finish di posisi runner-up, Arema hanya terpaut selisih gol dengan Persija. Namun, kemenangan besar di musim ini membuat publik Aremania berpesta. Apalagi riwayat kalah saat bertemu Persiwa pada Inter Island lalu seakan sukses membalaskan dendam. Pemain terbaik yang dipilih adalah Achmad Kurniawan. Dan yang paling membahagiakan adalah gol perdana oleh salah satu pemain timnas kebanggaan kita, Bustomi. JSeusai pertandingan, seluruh tim Arema selebrasi dengan mengelilingi lapangan, mengucapkan terima kasih kepada seluruh Aremania. Bagi saya, itu merupakan momen yang indah dan penting karena mempererat batin bagi pemain dan supporter. Semoga banyak klub yang bisa mencontohnya.

Yang terakhir, berbagai spanduk Aremania juga selalu menarik perhatian saya. Aneka disain spanduk yang kreatif dan berukuran besar disusun rapi menghiasi sisi-sisi tribun. Namun ada satu yang menarik, yang mengingatkan saya pada spanduk di Inggris ‘This is Anfield’ namun yang ini bertuliskan “THIS IS AREMA”.

Salute Arema! Salute Aremania! Bergemalah selalu nyanyian Salam Satu Jiwa di bumi Kanjuruhan….

Read Full Post »