Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2011

Secara historis, sebenarnya saya mempunyai kedekatan dengan Persib Bandung. Ibu saya lahir dan besar di Bandung. Dahulu SD tempatnya bersekolah terletak di depan Stadion Siliwangi dan beliau bercerita bahwa ia sering bermain di pekarangan stadion bersama teman-temannya. Ibu bukan seorang penggemar sepakbola, tapi karena besar di Bandung, ia mengerti bagaimana fanatisme orang Bandung (dan Jawa Barat) terhadap Persib.
Saya tidak ingat tahun berapa Persib berlaga melawan AC Milan pada laga ujicoba, tapi saya ingat bahwa keluarga kami baru pindah ke Cibubur kala itu dan rumah kami sedang direnovasi. Pekerja yang merenovasi rumah kami rata-rata berasal dari Garut dan mereka memohon diizinkan masuk ke dalam ruang keluarga hanya untuk menonton pertandingan tersebut. Benar memang bahwa sepakbola itu egaliter, maka majikan dan bawahan pun duduk bersebelahan menyaksikan bagaimana Persib digunduli 8-0 oleh Dejan Savicevic dan kawan-kawan.
Tidak hanya itu, Persib adalah klub Indonesia pertama yang saya tonton di televisi. Saya masih berumur 8 tahun saat Persib mengalahkan Petrokimia Gresik lewat gol tunggal Sutiono pada tahun 1995 di Stadion Utama Senayan yang dibanjiri lautan biru – sesuatu yang mustahil terjadi sekarang.
Setelah tertunda sekian lama, akhirnya hari Minggu (23/1) akhirnya saya menjejakkan kaki di stadion tempat ibu bermain sewaktu kecil itu. Saya berangkat dari Jakarta bersama dua saudara seiman lainnya, Gotcha dan Obe. Tiba di Bandung lewat tengah hari, kami langsung menuju Stadion Persib lama di Jalan Ahmad Yani untuk bertemu Isnan Ali di mess pemain. Mungkin karena identitas ke-Jakarta-an kami begitu kental, rasanya merinding juga masuk ke kandang Maung seperti itu. Obe, bekas pemegang tiket terusan di St. James’ Park itu bahkan berkata, “Ini lebih mengerikan dibanding away ke Sunderland.” Rasanya saya lebih relaks dibanding dua teman saya yang wajahnya senantiasa nampak waswas tersebut.
Kami baru lega bernapas setelah Andreas Marbun datang menjemput tak lama kemudian. Sebagai bobotoh dan warga setempat, Andreas adalah kontak kami di Bandung. Ini adalah kali kedua saya menonton sepakbola bersamanya. yang pertama di Bukit Jalil, Kuala Lumpur saat Andreas hampir diciduk Polis Diraja Malaysia. Tujuan berikutnya adalah markas Viking karena Andreas hendak mengambil tiket kami. Lagi-lagi Gotcha dan Obe terlihat waspada meski menunggu di dalam mobil. Saya sebenarnya ingin turun dan menengok markas suporter Persib tersebut tapi Andreas terlanjur kembali. Maka kami pun bergerak menuju stadion Siliwangi.

5 jam sebelum pertandingan

Menurut Andreas, banner ini baru terlihat lagi setelah sekian lama

Kickoff masih 5 jam lagi, tapi jalan-jalan di sekitar stadion Siliwangi telah ramai dipadati bobotoh dan penjual atribut sedari siang. Kebanyakan bobotoh yang datang cepat ke Siliwangi adalah mereka yang berasal dari luar kota Bandung dan berangkat sedini mungkin dari kota asalnya. Sebut saja Subang, Garut, Purwakarta, Cirebon, hingga daerah pinggiran Jakarta seperti Bekasi dan Bogor.
Anggota rombongan kami yang berangkat dari tempatnya sendiri-sendiri, Zen, Iqbal, Jalu, dan Baihaqi berdatangan tak lama kemudian. Satu-satunya anggota rombongan kami yang mengenakan atribut Persib hanyalah Zen karena ia memang suporter Maung Bandung. Sebuah paradoks mengingat blangkon Jawa yang kerap ia kenakan. Ia lalu bercerita bagaimana semasa kecil di Cirebon ia sering diajak ayahnya ke Bandung menonton Persib sepulang sekolah dan kembali ke Cirebon sesudahnya. Indoktrinasi sepakbola sejak usia dini oleh orang tua, saya juga merupakan korbannya.

Mengantri masuk tribun utara

Bertobatlah, Nurdin! (dan ANTV juga!)


Tribun utara Siliwangi yang menjadi tempat kami telah penuh sesak sejak pukul 4 sore, padahal kickoff baru pukul 7 malam. Memerlukan perjuangan tersendiri untuk membelah lautan manusia di pintu masuk. Banyak bobotoh yang membawa poster bernada kebencian terhadap ANTV, stasiun TV nasional yang menyiarkan pertandingan Liga Super. Gara-garanya adalah TV tersebut tidak menayangkan siaran ulang apa yang menjadi penyebab striker Persib, Christian Gonzales diusir wasit pada pertandingan sebelumnya. Saya cukup mengerti kekesalan mereka karena sesungguhnya ANTV kerap kali menanggalkan tanggung jawabnya untuk menyiarkan kebenaran dengan tidak menayangkan replay kejadian-kejadian penting selama pertandingan. Hal ini juga berlaku pada tayangan ulang offside, di mana angle kamera ANTV jauh dari ideal untuk bisa menilai apakah keputusan hakim garis mengangkat bendera offside benar atau tidak. Konspirasi?
Tribun utara adalah sebuah tribun tradisional tanpa atap yang bisa ditemui di banyak stadion sepakbola di Indonesia. Bencana terjadi saat hujan turun karena penonton tidak punya tempat untuk berteduh. Terpaksa kami menggunakan apa saja yang kami miliki, jaket, syal, bahkan tas untuk menutupi kepala kami dari hujan yang untungnya tidak deras. Ketiadaan tempat berteduh bukan satu-satunya kendala di tribun utara, tapi tingkat ketinggian tribun yang sejajar dengan lapangan, belum lagi pagar yang menghalangi pandangan kami. Walhasil kami harus menunduk, menyamping, kadang jinjit agar bisa melihat kejadian di lapangan.


Seperti lazimnya tribun di Indonesia, ada beberapa konduktor di tribun utara yang menjadi pimpinan paduan suara suporter. Zen mengategorikan mayoritas konduktor di tribun utara sebagai amatir karena hanya bisa berdiri dan duduk di atas pagar tanpa kharisma untuk memimpin nyanyian suporter. Ia lalu membandingkan dengan tribun timur Siliwangi yang legendaris itu, di mana hanya Ayi Beutik, Panglima Viking yang boleh berdiri di atas pagar.


Rata-rata nyanyian suporter di seantero Indonesia sama saja, hanya liriknya yang diganti. Tapi ada satu lagu mengenai Arema Indonesia yang belum pernah saya dengar dan menurut saya cukup menggelitik. Saya lupa liriknya dengan pasti, tapi kira-kira isinya berbunyi, “Siapa bilang Indonesia punya Arema? Yang bilang Indonesia punya Arema, pasti gak sekolah. Indonesia milik kita semua.”
Sebenarnya saya menginginkan kursi di Tribun Timur, tempat suporter Persib paling fanatik bersemayam, tapi kehabisan tiket. Pilihan berikutnya adalah tribun selatan, tapi hasilnya pun sama. Maka kami pun hanya kebagian tiket di tribun utara, sesuatu yang tak saya sesali mengingat beberapa menit kemudian karena tribun tempat saya berada adalah salah satu titik mula keributan malam itu.
Babak pertama berakhir imbang tanpa gol meski Arema nampak lebih dominan dalam penguasaan bola. Persib berusaha bangkit melawan pada babak kedua, tapi malah kebobolan pada menit 66 melalui gol Roman Chmelo. Tidak lama kemudian sayap kanan Arema, M Ridhuan melanggar pemain Persib, Wildansyah hingga terkapar di kotak penalti dan menyulut kericuhan sehingga pertandingan harus berhenti.

Polisi, main yuk!

...dan polisi pun datang

....semakin banyak

....banyak banget

Hujan botol dari berbagai tribun mengarah ke lapangan karena wasit Najamuddin menolak memberi penalti atas pelanggaran tersebut. Di tribun utara lemparan botol diarahkan kepada kawanan polisi yang berjaga di belakang gawang. Anjuran polisi untuk menghentikan lemparan tidak diindahkan dan lemparan semakin menghebat. Lalu terjadilah pemandangan fantastis saat bobotoh dari tribun utara menghujani lapangan dan polisi dengan tembakan mercon kembang api sehingga polisi harus membangun barikade layaknya tentara Romawi di komik Asterix. Tembakan mercon juga dilakukan dari tribun lain dan sampai titik itu polisi masih menahan diri dengan sikap defensif. Seorang polisi, kemungkinan perwira, tumbang akibat lemparan suporter dan harus dievakuasi dari pinggir lapangan. Saya rasa Antony Sutton yang juga hadir di Siliwangi pasti orgasme melihat pemandangan tersebut.
Amuk suporter semakin menjadi setelah beberapa bobotoh memanjat pagar dan mulai melempari polisi dari jarak dekat. Terjadi lempar-lemparan antara suporter dan polisi sebelum akhirnya polisi mulai mengambil sikap agresif dan merangsek maju memukul barisan suporter yang maju. Asap mengepul di beberapa titik karena suporter mulai membakar bangku, termasuk di tribun utara. Pagar-pagar berusaha dirobohkan dan bobotoh menggulingkan menara kamera TV setelah kru televisi tersebut melarikan diri. Teriakan “LPI! LPI! LPI!” berkumandang di Siliwangi, bahkan papan iklan Liga Primer Indonesia sempat terpasang di pinggir lapangan sebelum dihalau wasit.
Legiun asing Persib, Pablo Frances menjadi pahlawan bobotoh setelah ia memukul polisi yang menganiaya seorang suporter. Aksi ini menyebabkan Pablo menjadi sasaran pemukulan polisi sebelum akhirnya dipisahkan. Pablo mengatakan bahwa alasan dibalik aksi heroiknya tersebut adalah ia tidak bisa tinggal diam melihat suporter dipukuli. Mirip ketika Zvonimir Boban menendang polisi Serbia yang memukuli suporter Dinamo Zagreb pada tahun 1990.
Aksi semakin menjadi setelah tidak hanya botol yang dilemparkan ke lapangan, tapi juga batu. Menimbang situasi yang sudah tidak kondusif dan kemungkinan pertandingan tidak dilanjutkan, akhirnya kami memutuskan keluar dari stadion, terlebih karena wajah Gotcha sudah pucat pasi melihat seorang suporter berdarah di sebelahnya.

Aksi bakar-bakar di tribun utara

Di luar stadion banyak bobotoh yang memilih pulang, tapi tidak sedikit yang mulai memunguti batu dan bambu untuk dijadikan senjata melawan polisi. Kami menghela napas sejenak dengan memesan minuman di restoran terdekat, tapi segera kembali masuk ke dalam stadion begitu mengetahui pertandingan ternyata kembali dilanjutkan.

TNI mengawal pintu masuk ke lapangan

Penonton tribun VIP


Karena situasi sudah chaos, kami memilih masuk ke tribun VIP dan di depan pintu berpapasan dengan Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf yang nampaknya buru-buru pulang. Massa relatif tenang ketika pertandingan kembali dilanjutkan dan Siliwangi meledak ketika Atep menyamakan kedudukan bagi Persib pada menit 77.

Pemain Persib mengerubungi wasit

Tapi keadaan kembali memanas ketika wasit mengakhiri pertandingan. Para pemain Persib mengerubungi wasit Najamuddin karena menganggap wasit tidak memberikan injury time yang cukup. Nampak dari kejauhan seorang pemain yang tidak begitu jelas wajahnya mencoba mencekik wasit. Para suporter pun bereaksi melihat insiden tersebut dan kembali melempari botol ke dalam lapangan. Pemain Arema yang hendak masuk ruang ganti terpaksa melarikan diri kembali ke lapangan karena dihadang suporter tuan rumah.
Beberapa suporter Persib yang nekat pun masuk ke lapangan dan melayangkan beberapa pukulan yang mendarat telak di wajah Najamuddin. Polisi buru-buru melindungi Najamuddin, tapi hal itu tidak menghalangi penonton untuk terus mengintimidasi wasit. Aksi membakar bangku pun kembali terjadi di tribun lain, bahkan di tribun VIP, seorang penonton yang kesal menghancurkan bangku.


Pihak keamanan kali ini bereaksi keras dan TNI pun dikerahkan untuk meredam amuk suporter. Saya tidak tahu bagaimana nasib wasit Najamuddin karena ia langsung dievakuasi dari lapangan dengan pengawalan super ketat dari pihak keamanan.

Para peziarah sepakbola: Viola, Andreas, Saya, Gotcha, Obe, Iqbal (berdiri), Baihaqi, Zen (tidak tampak)

Dalam perjalanan pulang saya merenung dan mencoba melihat perang di Siliwangi barusan dari perspektif yang berbeda. Dalam kerusuhan seperti ini, pihak yang selalu disalahkan selalu suporter. Tak heran suporter sepakbola dianggap sebagai makhluk primitif yang beringas. Tapi harus diakui bahwa perilaku suporter adalah refleksi keadaan sosial masyarakat kita secara umum. Dalam konteks suporter Persib dan Liga Indonesia, bobotoh selalu merasa sebagai pihak yang tertindas. Di Siliwangi saya melihat suporter Persib yang mengenakan baju bertuliskan “15 years of hurt”. Tidak sekali dua kali suporter Persib mengeluh bahwa timnya selalu mendapat perlakukan tidak adil dari wasit dan PSSI.
Sebagai orang yang mengamati dinamika sepakbola Indonesia, saya mengerti sepenuhnya isi keluhan suporter Persib di atas meski tidak selalu setuju bahwa kekerasan adalah jawaban atas ketidakadilan. Tapi insiden di Siliwangi pada Minggu malam itu cukup untuk menggambarkan bahwa sistem sepakbola kita di berbagai sektor memang tidak beres.
Seiring langkah kaki beranjak dari Siliwangi, saya menengok kembali ke arah stadion tempat ibu dahulu bermain sewaktu kecil. Entah apa yang akan ia katakan bila menyaksikan tempat tersebut baru saja menjadi medan pertempuran.


Read Full Post »

Pengantar: Indonesian Football Diary kembali kedatangan penulis tamu. Kali ini Viola Kurniawati, media officer Persija yang menuliskan laporannya untuk anda. Selamat menikmati

Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Setelah selama kurang lebih sebulan publik sepakbola lokal terpaksa ‘puasa’ dan terfokus pada euphoria timnas, liga sepakbola lokal di Jakarta kembali bergeliat dengan sebuah partai besar: PERSIJA VS AREMA.

Jujur saja, saya sangat bersemangat pergi ke GBK di hari Minggu ini. Mungkin karena saya rindu dengan atmosfer supporter dan ‘kemistikan’nya itu. Saya rindu ‘penyembahan’ mereka, para Jakmania dan Aremania. Saya bisa bilang ketika di AFF atau pertandingan internasional, suasananya berbeda. Saya pribadi lebih menikmati liga lokal ketimbang saat timnas bermain. Bukan berarti saya tidak cinta timnas, tapi atmosfernya memang berbeda. Dan saya benar-benar bersemangat hari ini.

Seperti biasa, setiba di GBK, saya langsung menuju kantor pers, menyiapkan akreditasi untuk wartawan, mengambil line-up pemain dan mempersiapkan ruangan untuk press conference. Dan begitu saya sampai, saya langsung tersenyum jahil melihat spanduk di depan kantor PSSI. Herannya, banyak orang yang lalu lalang dan melihat spanduk tersebut. Namun, tak ada yang bertindak anarkis. Mungkin, semua orang sudah apatis atau hanya geleng-geleng kepala. Saya pun hanya sekilas melihat dan langsung keliling menuju ruang wasit untuk mengambil line up dan bertemu tim Arema. *Belakangan saya baru melihat spanduk tersebut disobek oleh sekelompok orang pada saat pertandingan sudah selesai.*

Spanduk itu sebelum dirobek. Logo LPInya aja masih yang lama. Hihi

Tak sabar rasanya bertemu media officer Arema, Mas Darmaji. Dia merupakan salah satu sahabat saya yang luar biasa, mungkin salah satu media officer terbaik di Indonesia. Beliau dekat dengan wartawan dan selalu berusaha mengakomodir semua kebutuhan wartawan dari Malang. Sebelum kick off, dia sempat bilang mau mengobrol dengan saya. Saya gak berani janji, bukan sok sibuk tapi tiap pertandingan, saya malah tak bisa leluasa menonton atau punya waktu yang santai. Nah, saat ‘santai’ kami justru pada saat kick off sudah dimulai. Di pinggir lapangan, sambil menemaninya mengambil foto-foto Aremania yang sedang berdansa, dia mulai cengar-cengir ke saya. Topik kami selalu sama, tentang sepakbola Indonesia, tentang Persija dan Arema. Kami berdua mungkin memang bekerja di sebuah klub yang berada dalam liga yang sama. Dan jujur saja, banyak pihak yang ingin memanfaatkan kesempatan ini, apalagi situasi sekarang sedang ‘panas-panas’nya. Dan saya selalu meledek Arema bagai kembang desa yang sedang diperebutkan oleh banyak pemuda.

Siapa yang tak kenal Arema? Klub yang bahkan sudah dianggap seperti ‘agama’ di Malang ini merupakan salah satu daya tarik bagi setiap pihak yang ingin membuat sebuah kompetisi atau liga. Saya tak mau menyebut pihak mana, karena saya dan Mas Darmaji sejujurnya sangat netral. Kami lebih terfokus bagaimana bekerja seprofesional mungkin dan tak mengecewakan supporter. Persija dan Arema bisa menjadi besar karena dari pendukung, bukan hanya dari nilai materiil semata. Untuk apa punya klub kaya jika tak ada penggemar? Dan kami berdua memiliki pemikiran sama bahwa penggemar tak bisa tergantikan oleh uang. Karena disanalah terletak loyalitas. Uang belum tentu bisa menggantikan itu semua.

Dan, tiba saat mengambil line up, saya kecewa. Ternyata, line up pemain Arema bertuliskan tangan! Hal ini jauh berbeda jika pertandingan timnas atau bahkan jika saya bertandang ke Arema. Badan saya langsung lemas karena pasti teman-teman pers mulai meledek lagi, “Gimana sih nih panpel Persija?” Tapi, ya sudahlah. Yang penting, ADA. J Kinerja panpel Persija memang selalu mendapat kritikan tajam. Tak sedikit orang yang complain kepada saya namun saya hanya bisa berkata saya bukan siapa-siapa disini. Saya hanya pekerja, belum mencapai level decision maker dalam panitia. Saya pun menyadari kondisi yang ada di dalam internal Persija. Jadi, ya serba salah. Sedih dan miris jika melihat keadaan seperti ini, klub selegenda Persija dan diurus kurang professional. Ya, ini dari kacamata saya pribadi yang terlibat di dalamnya.

Masih ditulis tangan

Sebenarnya, permasalahan panpel di hampir seluruh klub di Indonesia itu sama. Dominasi senior yang masih berpikiran konservatif dan dengan zona nyamannya membuat mereka menciptakan sejuta alasan untuk tidak taat peraturan. Saya belajar Manual Liga Indonesia (masih mencari manual LPI nih, ada yang punya?). Manual Liga Indonesia yang kita anut mengacu pada UEFA. Tentunya dengan beberapa penyesuaian di Indonesia. Dan dimana-mana, yang namanya peraturan atau Manual pastinya ideal dan diciptakan sesempurna mungkin. Nah, uniknya, sebagian besar orang yang diamanatkan menjadi panitia penyelenggara pertandingan selalu merasa Manual adalah sebuah beban dan dianggap berlebihan. Sehingga mereka merasa malas dan dalihnya biasanya: Tak ada biaya. Itulah alasan pamungkas dan akhirnya banyak yang merugikan tim, baik tim tamu maupun tim tuan rumah.

Dan, akhirnya ketika sesi press conference, ada hal yang unik (lagi). Coach Arema, Miroslav Janu, benar-benar menunjukkan ke-BETE-annya dengan sengaja ngomong gak jelas. Sebagian besar wartawan mengeluh tidak mendengar dan kurang jelas, namun ia tetap saja berceloteh. Jelas sekali dia kecewa dengan pemainnya. Saya pun terpaksa mencatat dengan detil untuk bahan wartawan nantinya karena saya duduk pas di sebelahnya. Namun, saya sempat terhenti pada satu kalimatnya yang lirih. “Seandainya sebelum turun minum belum ada gol, kami pasti menang,” ucapnya sambil menunduk lesu.

Dan saat itulah saya baru sadar. Hanya tim yang bermental yang besar-lah yang bisa memenangkan pertandingan. Itulah sepakbola.

 

 

Read Full Post »

I love thee, I love but thee, with a love that shall not die till the sun grows cold, and the stars grow old – William Shakespeare

Seperti yang mereka ajarkan kepada saya, ada beberapa jenis cinta yang didasarkan pada kata aslinya dalam bahasa Yunani:

  1. Eros, cinta romantis yang berapi-api yang anda temukan saat anda tertarik pada lawan jenis
  2. Philia, cinta persahabatan yang anda rasakan kepada keluarga, teman, dan segala bentuk persaudaraan
  3. Agape, cinta sejati tak bersyarat yang terlihat pada hubungan Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya, ibu kepada anaknya, atau………..suporter sepakbola kepada timnya.

”Buat apa sih pergi ke Malaysia? Paling-paling nanti diejek satu stadion,” ujar mereka sinis ketika saya mengutarakan rencana ingin bertandang ke Kuala Lumpur mengikuti tim nasional Indonesia. Kultur bepergian untuk menonton sepakbola memang tidak dikenal luas dalam masyarakat kita. Wilayah Indonesia yang membentang luas terpisahkan lautan membuat kita tak akrab dengan fakta bahwa dalam dunia sepakbola dikenal suporter tandang.

Dalam level pertandingan apa pun, suporter tandang selalu membuat saya kagum. Mereka menyisihkan uang dan waktu untuk berkelana ke mana pun tim pujaan mereka pergi tidak peduli menang atau kalah. Suporter tandang merasa bahwa timnya butuh mereka dan mereka butuh timnya.

Beberapa suporter klub lokal memang rutin melakukannya – meski dalam jumlah kecil sekalipun, tapi dalam konteks tim nasional, bepergian untuk menonton Merah Putih berlaga masih asing di telinga kita. Sejak beberapa bulan lalu saya mencoba menggali informasi apakah pernah ada catatan suporter Indonesia bertandang keluar negeri, dan hasilnya memang tidak ada. Beberapa orang mengatakan kepada saya bahwa beberapa tahun lalu pernah ada beberapa suporter yang bertandang ke Singapura, tapi mereka disponsori oleh sebuah perusahaan apparel ternama. Selebihnya, setiap kali Indonesia berlaga di luar negeri, yang menonton hanya sebatas pekerja Indonesia di negara setempat plus staf KBRI. Faktor geografis dan ekonomi yang menyebabkannya.

Sejak pertengahan tahun saya telah bertekad bahwa sebelum tahun 2010 berakhir, saya akan mengikuti Indonesia bertanding di luar negeri setidaknya sekali. Saya memenuhinya.

***

”Di mana orang Indonesia yang lain?” tanya Andibachtiar Yusuf (Ucup) saat kami berkeliaran di Bukit Bintang pada Minggu dini hari selepas mendarat di Kuala Lumpur. Dalam bayangan saya yang dijejali dengan berbagai literatur suporter sepakbola plus video Youtube dan bayangan Ucup yang sudah berulang kali menonton sepakbola di Eropa, suporter tandang selalu ”menjajah” kota tujuan mereka. Mereka akan memenuhi pusat keramaian dan membuat kebisingan sendiri. Tapi malam itu, hanya kami berlima yang terlihat di jalanan dengan syal merah tersampir di tas ransel kami.

Yang saya tahu sebenarnya kami hanya berangkat berempat dari Jakarta. Saya dan Ucup memang sudah berikrar sejak lama untuk melancong sepakbola, ditambah dengan Aang dan Mega, dua kolega Ucup. Di Soekarno-Hatta rupanya Rusmin, Ongston (Obe), dan Andreas Marbun bergabung menambah jumlah anggota laskar kami.

Pesawat Air Asia yang kami tumpangi memang mengangkut beberapa suporter Indonesia yang datang khusus untuk menonton sepakbola. Kaus berlogo Garuda adalah busana yang lazim malam itu, tapi tidak seorang pun dari kami yang mengenakannya. Hanya syal merah lambang identitas kami.

Waktu hampir tengah malam saat kami tiba di LCCT, bandara internasional Malaysia untuk penerbangan murah. Beberapa jam sebelumnya seorang teman yang sedang transit di Kuala Lumpur dari Swiss menuju Jakarta mengabarkan bahwa ia melihat ratusan suporter Indonesia mengusung bendera Merah Putih. Larutnya malam membuat saya mengerti mengapa pemandangan serupa tak terlihat.

Lazimnya bandara di kota besar, lokasi LCCT terletak di pinggir kota. Walaupun Soekarno-Hatta juga demikian, rasanya lokasi LCCT jauh lebih ke pinggir dari pusat kota karena dengan jalan yang sedemikian lancar kami membutuhkan satu jam untuk mencapai tempat perhentian kami, KL Sentral, stasiun kereta pusat di Kuala Lumpur.

Kereta sudah berhenti beroperasi lewat tengah malam dan terpaksa kami menaiki taksi yang mentalnya sama persis dengan mental supir taksi bedeng di Jakarta: borongan. Karena rombongan kami yang cukup banyak, kami terpaksa memakai dua taksi. Saya lupa berapa nominal harga yang harus kami bayar, tapi rasanya cukup mahal. Saya, Ucup, dan Rusmin menumpang taksi satu, sedang sisanya yang lain.

Saya cukup terkejut mendapati seorang gadis duduk di bangku depan dan mulai berpikir keras apakah ini termasuk servis taksi mahal ini. Rupanya sang gadis adalah pacar sang supir yang memang masih muda itu. Saya tidak tahu pengalaman anda, tapi baru kali ini saya melihat supir taksi membawa pasangannya ke tempat kerja.

Dalam perjalanan kami bersenda gurau tentang pertandingan besok dengan sang supir yang cukup ramah. Si supir mengatakan bahwa Malaysia akan menang besok 3-0 sedang Ucup ngotot Indonesia akan menang 7-0. Secara spesifik juru mudi kami itu menanyakan apakah Bambang Pamungkas masih bermain. Karir Bepe yang sukses bersama Selangor FC rupanya menyisakan kenangan manis bagi kebanyakan warga Malaysia. Ucup lalu menjelaskan bahwa Bepe sekarang cadangan tapi langsung menambahkan bahwa Bepe akan masuk sebagai pemain pengganti dan mencetak 5 gol ke gawang Malaysia.

Tentu saja sang supir agak keberatan dengan prediksi skor asal-asalan dari Ucup, tapi ia tak memungkiri kemampuan Bepe mencetak gol.

”Di sini namanya bukan Bambang Pamungkas, kita sebut dia Bambang Pemusnah,” ujar sang supir.

Ucup yang suporter Persija sejati itu terkekeh-kekeh saat tahu jagoannya ternyata ditakuti di negara lawan. Saya dan Rusmin tak banyak bicara dalam perjalanan. Kami berdua takjub menyimak perdebatan kocak antara Ucup dengan supir taksi. Saya sendiri geli mendengar Ucup berbicara bahasa Melayu karena kadang-kadang hanya aksennya saja yang dicengkokkan Melayu, kosakatanya tetap bahasa Indonesia.

***

Kami telah memesan hotel dari Jakarta dan saya memang tak pernah membayangkan penginapan yang mewah, tapi apa yang kami dapatkan cukup mencengangkan. Kawana Tourist Inn adalah sebuah penginapan di Jalan Pudu, pengelolanya seorang ibu paruh baya yang nampaknya masih saudara jauh Rajagobal.

Saya tak tahu apakah citra orang Indonesia di sana sedemikian jahat, tapi si ibu ini kelihatan kaget dan takut melihat kami datang bertujuh. Ia bersikeras bahwa kami hanya memesan kamar untuk berempat dan tidak ada ruang lagi bagi sisanya. Pintu masuk ke hotel lebih mirip pintu penjara, dengan jeruji tebal dengan kunci grendel. Hanya 4 dari kami yang diizinkan masuk untuk melihat kamar.

Melihat kondisi hotel yang tidak kondusif dan mengaku dirinya Claustrophobic, Ucup menyerah dan mengatakan ia tidak bisa tinggal di ruang terisolasi seperti itu. Yang lain pun mengamini dan akhirnya kami melanjutkan perkelanaan kami meninggalkan Mega dan Aang yang memang sedang tidak fit.

Kami berlima berjalan menyusuri jalan hingga kawasan Bukit Bintang. Awalnya saya mengira bahwa kawasan Bukit Bintang ini adalah padanannya Jalan Jaksa di Jakarta, kawasan untuk turis budget rendah. Tapi keramaiannya dan luas areanya lebih besar dari Jalan Jaksa yang hanya satu gang itu.

Untuk sebuah negara yang katanya memegang teguh nilai agama, Bukit Bintang sebagai bagian dari Kuala Lumpur adalah sebuah tempat yang sangat sekuler. Saya cukup terkejut karena awalnya memperkirakan Kuala Lumpur tak lebih dari sekedar Depok yang dipimpin Nur Mahmudi Ismail.

Setelah mengisi perut dengan Chinese Food di pinggir jalan, kami menyambangi semua penginapan yang kami temui dan semuanya jawabannya sama, tidak ada kamar kosong. Saya merasa seperti Yusuf dan Maria yang ditolak semua hotel di Betlehem malam itu.

Kami berjalan mengitari Bukit Bintang dan hasil yang kami temui tetap nihil. Kami membutuhkan tempat untuk meluruskan kaki dan istirahat sejenak kami membutuhkan tenaga untuk berperang esok malam di Bukit Jalil. Berdasarkan pengalamannya melancong ke berbagai daerah di Indonesia, Obe datang dengan ide brilian untuk mencari masjid atau gereja untuk tempat menumpang beberapa jam. Entah kenapa ide tersebut diacuhkan, Ucup tak begitu antusias.

Karena lelah berjalan kaki, kami harus mencari tempat untuk menarik napas. Ide brilian lain muncul untuk menjadi duta budaya dan memperkenalkan kultur urban Jakarta kepada warga Kuala Lumpur. Kali ini idenya kami sambar dan beberapa menit kemudian kami mendapati diri kami sedang melakukan apa yang dilakukan mayoritas anak muda Jakarta: nongkrong di depan 7-11 !

Semua orang yang hilir mudik mengamati kami dengan aneh. Empat orang pemuda plus satu bapak-bapak (Ucup, tentu saja) dengan syal Merah duduk di lantai sambil menenggak bir, minuman ringan, dan mengunyah cemilan. Kami sudah lelah dan kantuk menyerang. Ucup bahkan tertidur dalam posisi duduk tanpa sandaran. Kami telah mencari hotel sejak pukul 2 dini hari dan kami berada di depan 7-11 hingga pukul 6.

Akhirnya kami bangkit dan memutuskan untuk mencari penginapan lagi. Target kami sederhana, tempat apa pun yang memiliki atap dan pintu serta bisa menampung kami berlima. Jika memang tersedia kandang binatang seperti yang ditemui Yusuf dan Maria, jadilah itu.

Satu jam lagi matahari muncul, tapi tempat menginap belum kami dapat juga. Andreas yang memang pernah tinggal di Kuala Lumpur menjadi juru bicara kami dan selalu kembali dengan berita yang sama. Di tengah keputusasaan, tiba-tiba seorang pria India muncul dan memberikan titik terang. Andreas sempat mengiranya sebagai supir taksi, tapi rupanya ia hendak menyewakan kamarnya di Hotel 168 kepada kami separuh harga. Selidik punya selidik, ternyata si om India ini baru saja memakai kamar tersebut untuk kegiatan seksualnya dan seperti katanya Russell Peters, orang India tak akan melewatkan kesempatan untuk tidak rugi.

Karena terlampau lelah, kami langsung menyambut tawarannya meski sulit bagi kami menepikan pikiran bahwa beberapa jam yang lalu seorang pria India dan pasangannya baru saja berkopulasi di tempat tersebut.

Di dalam kamar yang sempit itu kami berlima berjejalan. Ucup dan Obe kebagian tempat di kasur, sementara saya, Andreas, dan Rusmin terpaksa merebahkan diri di lantai. Meski harus merasakan kerasnya ubin, paling tidak mereka yang tidur di lantai terhindarkan dari kemungkinan bercak cairan yang menempel di seprai.

***

Bangun pagi sekitar pukul 10, permufakatan jahat yang tak disengaja menyebabkan Obe tertinggal di kamar ketika kami keluar mencari sarapan. Kami mendapatkan santapan pagi di sebuah restoran nasi hainam sekaligus janjian dengan Assidra, mahasiswa Indonesia yang mengurus pembelian tiket kami. Pagi itu juga kami kedatangan pasukan lagi, Didit yang baru mendarat di Kuala Lumpur dari Jakarta bergabung dengan kami.

Karena jumlah anggota rombongan bertambah ditambah rasa enggan untuk bermalam di tempat yang sama lagi, kami berpindah ke penginapan lain dan mendapatkan kamar berupa barak dengan 8 tempat tidur bertingkat.

Spanduk yang kelak bermasalah itu sedang dibentangkan di kamar hotel kami

Inilah Andreas Marbun yang tersohor itu. Dasar orang Batak, tersenyum pun masih kaya mau mukul orang

Selesai beres-beres, kami segera memulai perjalanan menuju stadion. Bukit Jalil terletak sedikit di luar kota dan untuk mencapainya kami perlu berganti kereta dua kali: naik monorail hingga ke stasiun Hang Tuah dan berganti LRT hingga stasiun Bukit Jalil.

Ada sebuah perasaan yang tak terlukiskan yang menerpa saat kami berjalan kaki dengan syal dan bendera Merah Putih. Kami adalah orang Indonesia yang kalian remehkan itu dan sekarang kami sedang menginvasi negara kalian. Tak usah dibayangkan bagaimana jumawanya kami saat orang-orang yang kami temui memberi tatapan aneh kepada batalion kami yang sedang berbaris menuju medan perang. Hari itu kami mendapat izin untuk menjadi chauvinis sejati yang lebih fasis dari laskar Manohara sekalipun.

Hari ini kami sah untuk jadi chauvinis

Dalam perjalanan kami menemui beberapa orang Indonesia yang sedang berlibur, beberapa datang untuk sepakbola, beberapa tidak. Tapi di stasiun LRT menuju Bukit Jalil lah terjadi momen terbaik dalam perjalanan sepakbola saya sejauh ini.

Dengan suporter Indonesia lain, kebanyakan pekerja lokal

Kami bertemu dengan beberapa suporter Indonesia di stasiun dan kami ketahui bahwa mereka adalah pekerja kasar di Malaysia. Kebanyakan kuli bangunan atau pekerjaan yang setara. Mereka menyisihkan gajinya yang tak seberapa itu untuk menonton negara yang sudah lama mereka tinggalkan itu berlaga di lapangan hijau. Orang-orang ini mungkin akan tergagap jika ditanya arti kata ”patriot”, tapi yang mereka tahu mereka harus hadir di stadion hari itu.

Bersiap menunggu kereta

Tak lama kemudian beberapa suporter Indonesia lainnya turut mengantri tiket kereta. Saya mengenal beberapa dari mereka yang tergabung dalam Arsenal Indonesian Supporters (AIS) itu. Kami mengantri tiket bersama dan beberapa menit kemudian peron stasiun tersebut memerah, penuh dengan suporter Indonesia. Warna kuning terlihat samar karena beberapa suporter Malaysia juga menunggu kereta yang sama, tapi stasiun tersebut jelas telah jatuh ke tangan suporter Indonesia.

Situasi berbalik saat kereta tiba dan pintu gerbongnya terbuka. Kereta tersebut dipadati massa beratribut kuning yang lebih pekat dari kuningnya Jalan Sudirman saat Golkar sedang kampanye. Berbekal jiwa ultra-nasionalisme dan semangat jingoistik yang menyala-nyala, kami menapakkan kami ke dalam gerbong di tengah lautan kuning. Setelah gagal menyemburkan adrenalin sejak kemarin, kali ini kami menemukan apa yang kami cari-cari: musuh!

Awalnya atmosfer tetap dingin, tapi ketika kereta mulai berjalan, suporter Indonesia di gerbong sebelah mulai nge-chant, ”In-do-ne-sia! In-do-ne-sia!” dan bernyanyi Garuda di Dadaku. Tidak ada jawaban dari suporter Malaysia yang kebanyakan terperangah melihat makhluk-makhluk primitif ini teriak-teriak di kereta.

Saya ikut menimpali dan bersama Ucup nge-chant ”Five and one, you know you’re shit!”, merujuk pada skor pertandingan penyisihan di Jakarta. Lagi-lagi tidak ada jawaban dari suporter Malaysia. Obe, yang pernah tinggal di Newcastle dan bekas pemegang tiket terusan St James Park, malah menyanyikan beberapa chant Newcastle United.

Menjelang tiba di stadion, tensi di dalam kereta semakin memanas. Suporter Indonesia di gerbong sebelah tetap bernyanyi Garuda di Dadaku dan berteriak, ”In-do-ne-sia!”, kali ini sambil memukul-mukul dinding kereta. Kami menyambut mereka dengan teriakan yang sama dan turut memukul dinding kereta.

Kali ini suporter Malaysia nampaknya sudah gerah dengan kami dan setiap selesai satu nyanyian, mereka serentak meneriaki kami balik, ”Wooo!!”. Kejadian itu berulang terus hingga kereta tiba di Bukit Jalil dan nampaknya hanya itu yang mereka bisa.

***

Stadion Bukit Jalil terlihat lusuh dari luar, seperti pembangunannya terhenti saat baru dicor dan tidak sempat dicat. Warnanya kusam dan terkesan tidak megah. Bila dibandingkan dengan tiang-tiang besi Gelora Bung Karno yang terlihat jelas dari luar, stadion Bukit Jalil nampak seperti barang KW.

Kami tiba di stadion pukul 5 sore dan suporter kedua belah pihak sudah memadati lingkungan stadion. Suporter Indonesia yang kebanyakan pekerja setempat berkumpul di satu sisi, sedang Ultras Malaya, suporter garis keras Malaysia di sisi satunya lagi. Saat berbicara mengenai suporter ultras di Malaysia, jangan bayangkan ultras di Italia atau Aremania di Indonesia. Suporter Ultras di negeri jiran ini tak lebih dari sekelompok orang dengan alat musik tabuh, bendera raksasa, dan mercon yang kebetulan lebih berisik di banding yang lainnya.

Meski kalah jumlah, anda tak akan bisa meragukan militansi orang Indonesia. Mereka akan membuat kebisingan di mana pun mereka berada. Saya bisa membedakan mana suporter Indonesia yang memang bermukim di Malaysia dan mana yang khusus datang dari Jakarta untuk menonton. Mereka yang terbang dari penjuru nusantara menuju Kuala Lumpur kebanyakan berwujud turis sepakbola, terlihat dari berbagai simbol kenyamanan yang mereka kenakan. Berbeda dengan kami, gembel-gembel yang lusuh dan kurang tidur.

Anak kecil aja tahu!

Teeettt! Salah kaos! YSB

Polisi-polisi Malaysia di belakang tidak terlalu antusias dengan pemandangan yang dilihatnya

Santa goes rasta

Anak-anak punya cara tersendiri memahami sepakbola

Seandainya lawan kita malam itu cuma Upin-Ipin.....

Tipikal aksi provokasi suporter Malaysia hari itu, menyelip-nyelip di antara suporter Indonesia sambil bawa bendera Malaysia

Sumpah, di Malaysia juga ada calo!

Obe dan Didit dengan suporter Indonesia tercantik hari itu di Bukit Jalil. Ada yang kenal ini cewe siapa gak? *serius nanya

Macam di Inggris, pengamanan pun termasuk pasukan kavaleri

Larangan membawa petasan tertulis gede-gede di pintu masuk. Suporter Malaysia sendiri yang melanggarnya

Walaupun penuh semangat meneriakkan yel-yel dan semangat, kebanyakan suporter Indonesia ini hanya bisa meneriakkan ”In-do-ne-sia!” (tanpa lanjutan tepukan tangan pada intervalnya), tidak ada lagu lain. Tidak juga lagu Garuda di Dadaku dan Kita Harus Menang. Mereka sudah terlalu lama tidak menonton sepakbola Indonesia dan asing dengan segala macam budaya stadion. Atmosfer sepakbola Malaysia yang payah sudah mempengaruhi mereka.

Menjelang gelap, kami bergerak menuju pintu stadion. Satu gerbang khusus didedikasikan untuk suporter tandang, persis di stadion-stadion Inggris. Saat sedang menunggu di pintu gerbang itu, tiba-tiba konvoi beberapa bis besar lewat. Kami bersemangat karena mengira bis tersebut ditumpangi pemain. Kekecewaan besar terjadi karena pada kaca depan bis tersebut tertempel kertas bertuliskan, ”Rombongan DPP Partai Demokrat”. Anas Urbaningrum terlihat tersenyum melambaikan tangan ke arah suporter serasa pahlawan. Suporter yang muak dengan politisi meneriaki, mencemooh rombongan pengurus Partai Demokrat tersebut. Beberapa mengacungkan jari tengah dan menendang bis. Anas Urbaningrum tak lagi tersenyum.

Lusuhnya Stadion Bukit Jalil dari luar rupanya tidak menggambarkan isi dalamnya. Di luar dugaan stadion ini nampak megah dari dalam dengan arsitektur mentereng. Saya rasa stadion ini memenuhi standar Eropa dan dari jauh pun saya bisa memastikan bahwa rumputnya lebih baik dari di GBK.

Pemandangan Stadion Bukit Jalil dari tempat saya berdiri

Indonesian Red Army....satu-satunya yang merusak adalah spanduk muka-muka politisi yang berwarna hijau itu

Satu sisi tribun khusus disiapkan untuk suporter Indonesia dan kami memilih tingkat 2. Jatah tiket suporter Indonesia adalah 15.000 lembar dan semuanya habis terjual, tapi tetap saja tidak semua bangku pada tribun Indonesia terisi penuh. Saya menduga memang pihak panitia sengaja tidak melepas jumlah tiket sama dengan kapasitas tribun. Hal ini menjadi masalah saat suporter Malaysia merangsek masuk ke tribun Indonesia (karena memang masih ada bagian kosong) yang berdampak pada aksi lempar-lemparan botol.

Saya betul-betul kecewa saat Indonesia Raya berkumandang dan mayoritas suporter Indonesia tidak bernyanyi, lebih sibuk berteriak-teriak tak jelas. Benar memang bahwa panitia sengaja tidak memasang volume maksimal, tapi menyanyikan lagu kebangsaan adalah sesuatu yang selalu saya tunggu sehingga selalu awas menantinya. Mayoritas suporter kita baru mulai bernyanyi di tengah lagu.

Saat lagu kebangsaan Malaysia, Negaraku berkumandang, Bukit Jalil bergemuruh. Saya hanya tergelak geli saat Ultras Malaya membentang bendera Malaysia raksasa dengan posisi terbalik! Saya tidak tahu kalau Kuala Lumpur sudah jatuh ke tangan musuh malam itu. Tidak hanya itu, flare yang dinyalakan para suporter Malaysia pun berwarna merah. Aneh jika negara yang bisa membangun twin tower Petronas tidak mampu memproduksi mercon berwarna kuning.

Suporter Malaysia mempunyai cara yang unik untuk menyemangati timnya. Entah komando dari mana (hanya suporter Indonesia yang memiliki dirigen yang berdiri di depan untuk mengarahkan gerakan), orang-orang Malaysia ini akan mengangkat bendera Malaysia yang terbentang dengan perlahan menggunakan kedua tangannya, lalu ketika sampai di atas kepala, mereka akan mengibar-ngibarkan bendera sambil meneriakkan yel-yel yang tidak bisa jelas saya dengar.

Di tingkat bawah suporter Indonesia dan Malaysia lempar-lemparan botol. Perhatikan di tingkat 2 tidak ada buffer pemisah kedua suporter karena fans Malaysia menginvasi wilayah kita

Berbeda dengan berita di media massa keesokan harinya bahwa suporter kita ditimpuki suporter Malaysia, yang benar terjadi adalah suporter Indonesia lempar-lemparan botol dengan suporter Malaysia, sebuah perang yang seimbang. Hal ini tak terelakkan karena suporter Malaysia menginvasi beberapa titik tribun kita. Apalagi di tribun belakang gawang, suporter Malaysia masuk ke tingkat 3 dan dengan mudah melempari suporter Indonesia di bawahnya. Saya menyayangkan suporter kita yang membiarkan suporter Malaysia menginvasi tribun kita, tapi saya mengerti karena kebanyakan mereka adalah pekerja lokal yang sebisa mungkin menghindari masalah. Seandainya 15.000 lembar tiket jatah kita diberikan kepada The Jak, Viking, Aremania, yang memang jemaah sepakbola reguler di tanah air, bentrok hebat pasti terjadi dan Bukit Jalil sudah pasti jatuh ke tangan kita.

Drama di luar lapangan terjadi saat beberapa petinggi PSSI dikawal Polisi Diraja Malaysia naik ke tribun kami untuk melepas spanduk “Turunkan Nurdin Halid” yang kami bentangkan beberapa jam sebelum pertandingan. Pengurus-pengurus PSSI tersebut, yang diidentifikasi bernama Mafirion dan Togar Manahan Nero, marah-marah sambil mencari-cari siapa yang berani memasang spanduk yang menghina bosnya tersebut. Ucup adalah figur yang paling dikenal dan Mafirion menghardiknya. Ucup mengelak dan Mafirion serta Togar mengalihkan pandangan kepada Andreas yang memang mengenakan kaus “Turunkan Nurdin Halid”.

Duo PSSI ini lalu menginstruksikan Polisi Malaysia untuk menahan Andreas. Luar biasa. Orang Indonesia menyuruh polisi Malaysia untuk menahan orang Indonesia lainnya. Brengsek. Ucup berusaha untuk membela Andreas dan menawar agar spanduk dan kaus saja yang dilepas, orangnya tidak ditahan. Tapi rupanya Mafirion dan Togar tidak bergeming dan terus menekan Polisi Malaysia agar menggelandang Andreas.

Melihat gelagat buruk, saya berusaha mencegah penahanan Andreas. Saya memprovokasi ribuan suporter Indonesia yang awalnya secara ajaib tidak terusik sedikit pun melihat saudaranya sesama suporter hendak ditahan. Orang-orang Indonesia yang bermukim di Malaysia ini tidak begitu familiar dengan isu Nurdin Halid dan reformasi PSSI, tapi mereka langsung gerah melihat Polisi Diraja Malaysia dan sontak ribuan orang di belakang saya berdiri dan meneriaki Mafirion dan Togar sambil mengarahkan telunjuk. Saya tempat dihardik dan hendak ditarik oleh beberapa anggota rombongan PSSI ini karena membangkitkan massa, tapi provokasi saya berhasil karena Mafirion, Togar, dan Polisi Malaysia akhirnya sepakat untuk menyita spanduk dan kaus Andreas saja.

Mood saya untuk menonton pertandingan rusak dalam sekejap karena orang-orang dungu itu. Kemarahan bisa sedikit terobati karena Indonesia mendominasi babak pertama dan hampir mencetak gol pada beberapa kesempatan. Optimisme saya membubung tinggi dan saya percaya kita bisa pulang dari Bukit Jalil dengan kemenangan.

Indonesia kembali menyerang ketika babak kedua dimulai dan hampir unggul jika gol Cristian Gonzales tidak dianulir karena berdiri offside. Perilaku suporter Malaysia yang kurang ajar dengan menyorotkan laser kepada pemain Indonesia sudah terjadi sejak babak pertama, tapi baru pada babak kedua Indonesia melakukan protes dengan keluar dari lapangan. Belakangan baru diketahui bahwa aksi protes itu tidak dinstruksikan oleh pelatih Alfred Riedl, tapi oleh Nurdin Halid sendiri yang turun ke pinggir lapangan.

Saat pemain Indonesia keluar dari lapangan itu sebuah petasan besar dilemparkan suporter Malaysia dan meledak di dalam lapangan. Hal tersebut kembali terulang beberapa menit kemudian saat pemain Indonesia sudah kembali ke lapangan dan menurut saya harusnya pertandingan dihentikan saat itu juga karena membahayakan pemain.

Tribun Indonesia mulai kosong setelah tercipta gol ketiga...

Ritme permainan Indonesia terganggu dan kita tak pernah bermain sebaik sebelumnya pada pertandingan itu. Indonesia kebobolan tiga gol dalam 20 menit terburuk dalam perjalanan sepakbola saya. Mayoritas suporter Indonesia meninggalkan stadion usai gol ketiga tercipta padahal waktu masih menyisakan 15 menit lagi. Saya tidak peduli anda penggemar sejati atau penonton dadakan, tapi suporter tidak seharusnya meninggalkan stadion sebelum pertandingan selesai. Saya mencoba mengerti perasaan mereka dan berkesimpulan bahwa mereka kecewa karena tujuan mereka datang ke stadion tidak tercapai. Mereka adalah orang-orang yang kalah dalam kehidupan sehari-hari, saat mereka datang untuk menang dan kembali kalah, tak ada guna mereka berlama-lama di sana.

Saya terus berdiri di tribun sampai sekitar 10 menit setelah pertandingan usai. Saya terpukul dan tak mampu berkata apa-apa. Saya memandangi Ucup, Andreas, Obe, Didit, Rusmin, dan Aang dengan tatapan nanar. Kita menyeberangi lautan untuk melihat Garuda dipermalukan tiga gol tanpa balas. Lidah saya kelu.

Dengan langkah gontai kami melangkah keluar dari stadion. Di luar kami melihat reporter sebuah TV Indonesia sedang mewawancarai fans Indonesia dengan pertanyaan tipikal, ”Bagaimana perasaan anda setelah kalah?” Emosi dan mental yang sedang labil menyebabkan darah saya menggelegak sehingga saya langsung menyambar mikrofon dari tangan si reporter dan berteriak di depan kamera, ”Bakrie jangan ikut campur sepakbola Indonesia!”

Ucup yang tak kalah emosi langsung merebut mikrofon dari tangan saya dan menumpahkan makiannya, ”Kalian a*****! Media a*****! Kalian yang bikin kita kalah! Bangsat kalian semua!” Hampir terjadi bentrok antara kami dengan kru tv tersebut sebelum dipisahkan oleh suporter Indonesia lainnya.

Sebelum berangkat ke Malaysia kami memang sudah kesal sekali dengan berbagai terpaan yang dilakukan seluruh media nasional terhadap timnas Indonesia. Entah mereka sadar atau tidak, tapi segala sorotan yang berlebihan kepada tim nasional hanya menambah beban berat kepada para pemain yang diharapkan bisa membawa pulang kemenangan. Tidak terkecuali TV yang krunya kami maki-maki itu, berkat koneksi pemiliknya yang mendadak peduli sepakbola karena dijadikan ajang cari muka, mereka bisa satu pesawat dengan skuad timnas saat bertolak ke Kuala Lumpur. Pertama kali terjadi di dunia, tim nasional berangkat bersama kru media.

Perjalanan kami keluar dari kompleks stadion adalah perjalanan penuh nestapa. Karena mayoritas suporter Indonesia sudah pulang sebelum pertandingan usai, kami bersembilan harus membelah lautan kuning suporter Malaysia. Ucup berjalan paling depan memimpin pasukan kami. Bendera Merah Putih yang menutupi punggungnya terikat di lehernya. Kami mengikuti dari belakang. Tidak satu pun dari kami yang menanggalkan atribut Indonesia.

Setiap kali berpapasan dengan kerumunan suporter Malaysia, teriakan mengejek dialamatkan kepada kami. Mereka mengibar-ibarkan bendera Malaysia ke arah kami, beberapa bahkan beranjak dari tempatnya berdiri untuk menghampiri kami dan melakukan hal yang sama. Kepala kami tetap tegak, mereka terus-menerus memprovokasi kami tapi kami berusaha tenang tidak terpancing.

Pada satu titik kesabaran saya habis dan memutuskan nekat untuk menabrak kerumunan suporter Malaysia yang sengaja jalan melambat untuk menghalangi kami. Saat itu saya sudah mengharapkan bentrokan fisik, minimal adu jotos. Tapi mereka hanya melihat sejenak, lalu tertawa dan pergi tanpa berbuat apa-apa.

Di situlah saya merasakan bagaimana kita dan bangsa Malaysia mempunyai pandangan yang berbeda tentang sepakbola. Seandainya situasi dibalik, kita tak akan bisa melihat orang Malaysia dibiarkan berjalan bebas mengusung bendera negaranya di kompleks GBK. Tapi kami bisa berjalan selamat keluar dari Bukit Jalil dengan atribut Indonesia yang tetap melekat.

Pasukan yang kalah perang itu berbaris pulang ke barak...

Setelah turun dari kereta menuju hotel, beberapa warga setempat menertawai kami sambil mengejek, ”3-0, 3-0…”. Menyebalkan memang, tapi sekedar demikian yang mereka lakukan. Tidak ada intimidasi fisik. Jika kejadian tersebut terjadi di Jakarta, minimal botol sudah beterbangan di atas kepala kami.

Kita kalah telak malam itu, tapi ada sesuatu perasaan ganjil yang membuat kami tetap bangga mengibarkan Merah Putih malam itu di jalanan Kuala Lumpur. Sebuah kebanggaan menjadi minoritas yang tak terlukiskan. Saya tahu anda tak akan mengerti perasaan itu sampai anda sendiri yang pergi menyeberangi lautan menonton negara anda bertanding di lapangan sepakbola.

Read Full Post »