Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2010

Pengantar: Indonesian Football Diary dengan bangga mengumumkan bahwa entri artikel kali ini akan diisi oleh penulis tamu, Zen Rahmat Sugito, yang akan menceritakan kisahnya menyusun dan mengedarkan zine PLAK! hingga ia akhirnya gagal masuk ke dalam stadion saat semifinal leg 2 kemarin

Propagandis PLAK!

 

Setelah pontang panting menyebarkan zine PLAK!, disusul usaha sekuatnya untuk mendapatkan tiket tambahan, saya pun gagal masuk ke Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) untuk menyaksikan langsung semifinal kedua Indonesia vs Filipina. Saya berdiri di depan gerbang besi berjeruji  berwarna biru. Di depan saya, seorang bocah  yang sedang dipanggul di pundak ayahnya terlihat mengenakan jersey timnas bernomor punggung 10. Ia, anak kecil itu, berteriak-teriak penuh semangat, sementara saya berdiri dengan pasrah. Badan terasa lemas, terasa letih.

Lalu gemuruh suara dahsyat itu pun terdengar dari dalam GBK:

“Indonesia, tanah airku, tanah tumpah darahku….”

Sungguh, mendengar gemuruh suara nyanyian itu perasaan saya campur aduk. Sudah banyak yang bilang bahwa menyanyikan Indonesia Raya di dalam stadion bersama puluhan ribu orang akan selalu terasa menggetarkan. Saya sering mengalaminya, sangat sering, berkali-kali. Menggetarkan, memang. Tapi, sungguh, kecamuk perasaan yang menjalar saat mendengar gemuruh nyanyian itu sangat berbeda dalam posisi saya saat itu. Tak sekadar merasa tergetar, tapi juga sedih dan kecewa, juga marah.

Indonesia Raya di luar GBK

Saya diam beberapa detik. Orang-orang masih hilir mudik mencoba mencari sisa tiket. Petugas keamanan berjejer di pintu masuk. Iqbal Prakara, kawan saya yang paling keras kepala, sama-sama terlihat muram wajahnya. Lalu, dengan spontan, saya angkat syal merah putih ke atas kepala dan lalu dengan lantang bergabung bersama gemuruh nyanyian dari dalam itu, bedanya saya dari luar stadion, di depan sebuah gerbang berjeruji yang membuat sejumput kecil pemandangan di dalam GBK terlihat lamat-lamat.

“Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, bangsaku, rakyatku, semuanya….”

Iqbal mengepalkan tangannya dan mengangkatanya tinggi-tinggi ke udara dan bergabung dengan saya menyanyikan Indonesia Raya. Orang-orang di sekeliling yang tadinya diam mulai ikut angkat suara.

Saya tak ingin mengalami momen dan suasana macam itu. Saya ingin ada di dalam stadion, sangat ingin. Tapi nasib memang kesunyian masing-masing. Dan saya, bersama Iqbal juga beberapa yang lain, menyanyikan Indonesia Raya dalam kesunyiannya yang justru terasa lebih mengharukan, sejenis keharuan yang tak biasa, terasa lebih khas ketimbang yang pernah saya rasakan saat menyanyikan Indonesia Raya dari tribun selatan GBK.

“Asu, aku mbrebes mili (anjing, aku berkaca-kaca),” kata Iqbal kemudian.

Orang harus mengalami apa yang kami rasakan untuk sepenuhnya paham umpatan Iqbal.

***

Saya tahu, sangat tahu bahkan, kalau laga semifinal kedua akan jauh lebih ramai dan riuh ketimbang laga semifinal pertama. Kepada Baihaqi, saat dalam perjalanan menuju GBK pada pukul setengah 3 sore, saya bilang: “Kamu akan lihat sebuah festival.”

Baihaqi seorang suporter Barito Putra yang lama kuliah di Bandung. Dua bulan terakhir dia melakukan riset tentang sebuah masyarakat terpencil di Sulawesi, sembari traveling sampai ke daerah Luwu, hulu dari folklore agung La Galligo. Ia jadi saksi mata kisruh yang terjadi di Stadion Mattoangin saat PSM dikalahkankan tamunya, Semen Padang, pada awal 28 November kemarin. Sempat ia injakkan kakinya di kompleks lapangan Karebosi, salah satu lapangan paling legendaris dalam sejarah panjang sepakbola Indonesia, lapangan yang melahirkan pemain seperti Ramang dan Ronny Pattinasarani. Dia tiba di Jakarta Minggu pagi dan kami bertemu di daerah Langsat, Kebayoran Baru.

Sebelum kedatangan Bai – begitu saya biasa memanggilnya—saya lebih dulu menjemput kedatangan Islah, orang Sumbawa yang kuliah di Jogja, di Stasiun Jatinegara, pada pukul 6 pagi. Ia datang ke Jakarta bukan hanya untuk menonton laga timnas, tapi terutama untuk mengantarkan 1700 eksemplar zine PLAK! yang akan diedarkan di GBK menjelang pertandingan. Islah berangkat dari Jogja dengan kereta ekonomi Gaya Baru Malam, duduk di bordes kereta selama 12 jam, bersama suporter-suporter lain yang berangkat dari kota-kota di timur Jawa.

Sesampainya di Langsat, Islah tak sempat mandi dan sarapan. Bersamanya, saya, Ipung dan Ndaru langsung sibuk melipat-lipat zine PLAK! Butuh waktu sekitar 3 jam untuk melakukannya. Setelah kerjaan itu selesai, tepat pada tengah hari, sebuah pekerjaan lain sudah menunggu: menyelesaikan spanduk besar bertuliskan “PSSI SARANG KORUPSI” yang rencananya akan saya selundupkan dan bentangkan di dalam GBK saat pertandingan berlangsung.

Lalu, ke mana Iqbal? Dia yang bertanggungjawab mencarikan kami tiket. Sudah dua hari dia sekuatnya dan kelimpungan mencari belasan tiket. Ia sampai harus antri di sebuah gang sempit di kawasan Cempaka Putih, untuk antri mendapatkan tiket, dari orang dalam (entah orang dalam PSSI atau orang dalam Panpel lokal Piala AFF). Bayangkan, tiket bisa dijual di sebuah gang di kawasan Cempaka Putih!

Pukul setengah tiga sore, kami (saya, Islah dan Bai) bergerak menuju GBK. Iqbal masih pontang-pontang mencari tiket. Entah di mana posisinya. Jalanan sudah macet sedari Bundaran Senayan. Jalan dari arah Sudirman menuju GBK via Hotel Atlet Century sudah penuh dengan orang-orang berwarna merah.

Merah di mana-mana, di mana-mana merah.

“Penaka sebuah festival, bukan?” kata saya pada Bai. Dia mengangguk.

Spanduk hitam sudah terlipat rapi di dalam tas, di bungkus sebuah jaket yang juga berwarna hitam. 1700 eksemplar zine PLAK! sudah dibagi ke tas kami masing-masing, dengan porsi terbanyak tersimpan di tas ransel Islah. Sepanjang trotoar menuju Mesjid Albina, distribusi zine PLAK! langsung dilakukan. Kami bertiga menyebar ke titik-titik di seputaran Mesjid Albina. Islah bergerak di sisi selatan Albina, saya di depan tangga Albina dan Bai bergerak menuju pintu masuk GBK.

Pertarungan urat-syarat pun dimulai!

20 menit kemudian Islah memberitahu saya bahwa ada dua orang yang memaksanya menyerahkan zine PLAK! Sekitar 50 eksemplar pun melayang. “Seorang memegang bahu saya, satunya dengan cepat merampas segepok PLAK! yang sedang saya pegang. Kalau mereka nekat memaksa ngambil sisa PLAK! lainnya yang ada di tas, saya nekat akan melawannya,” kata Islah. Saya memintanya untuk lebih berhati-hati.

Saya juga menyerahkan segepok zine PLAK! pada Beni Maryanto, kawan Pasoepati. Belum lagi diedarkan, tiga sampai empat orang tiba-tiba langsung menyerobot PLAK! yang dipegang Beni. Suasana makin panas. Saya minta Beni menepi dan dari sudut yang agak sepi saya masukkan beberapa bundel PLAK! ke tasnya dengan gerak cepat.

Waktu terus bergerak. Orang-orang kian banyak yang datang. Saya pindah posisi ke arah luar Albina menjauhi GBK. Sepanjang trotoar itu saya membagikan PLAK! dengan gerak yang ringkas dan cepat. Tapi orang-orang itu memang sudah tersebar di mana-mana. Di depan Gedung Diknas, dua orang mendekati saya dan menarik tas yang berisi kamera (di dalamnya memang ada sekitar 400 eksemplar PLAK!).

“Kamu orang suruhan siapa?” bentak salah satu dari mereka. “Kau suruhan Nurdin!” balasku. PLAK! yang ada di tanganku, sekitar 10 eksemplar, saya lempar ke arah mereka. Mereka berlalu tanpa memunguti PLAK! yang berserak di trotoar. Saya memungutinya lagi. Diam-diam ternyata seorang polisi melihat adegan di atas. Saat saya lewat di depannya, ia berbisik: “Hati-hati, Bang!”

Lalu saya kembali ke Mesjid Albina. Sekitar 30an eksemplar PLAK! saya titipkan pada Resa untuk dibagi pada teman-teman wartawan di press area. Seratusan eksemplar lagi saya titipkan pada Arista Budiyono yang masih kelimpungan mencarikan 300an tiket  untuk kawan-kawan Pasoepati yang datang langsung dari Solo.

Saya khawatir dengan Bai dan berharap dia tak mengalami hal buruk. Dia tak banyak membawa PLAK!, tapi spanduk hitam itu ada di tasnya. Tugas dia untuk menjaganya sebisa-bisanya. Saya bersyukur Bai ternyata tak mengalami apa yang saya dan Islah alami.

Lalu Islah datang dengan muka kusut. “Saya demam, mas,” katanya. Saya paham. Sejak kemarin dia menunggu PLAK! di sebuah percetakan milik seorang kawan saya yang lain di Jogja sana. Sore kemarin sampai subuh Islah berjuang di atas kereta ekonomi, paginya langsung melipat PLAK!, siangnya membantu bikin spanduk, dan sorenya lagi bergerak menyebar PLAK! dan harus berkonfrontasi dengan preman-preman. Dua hari satu malam dia tak tidur. Saya memintanya istirahat di samping barat Albina.

Saat saya menengoknya setengah jam kemudian, dia terlihat tertidur dengan tas berisi zine PLAK! terpegang rapat dalam pelukannya. Dia menjaga tas berisi penuh PLAK! itu bahkan saat ia sedang tertidur.

Saya kembali menengok Islah sekitar pukul 5 setelah bertemu Agiel, anak Jakarta yang kuliah di Bandung. Dia yang mencetak massal kaos bertuliskan “Aku Berlindung dari Godaan Nurdin yang Terkutuk”. Saya memintanya membantu menyebarkan PLAK! Dengan gerak yang cepat, 300an eksemplar PLAK! berpindah dari tas Islah ke tas Agiel. Kami berpisah sambil saling berjabatan tangan.

“Hati-hati. Gak usah ladeni kalau ada preman-preman yang memaksa minta PLAK. Kasihkan  saja!” kata saya pada Agiel. Saya tak enak jika harus melibatkan Agiel dengan urusan konfrontasi fisik dengan preman-preman itu.

Tapi Agiel tidak menuruti permintaan saya. Malamnya saya baru tahu ia berkejar-kejaran dengan preman-preman Nurdin itu.

“Saya bagikan PLAK! sepanjang jalan dari Albina menuju Gate 2 tempat saya masuk. Ada dua orang yang ngeliatin dan ngikutin saya terus. Saya menyelinap di balik kerumunan orang. Saat kejar-kejaran itulah tiket saya jatuh. Jadinya saya gak nonton di dalam stadion, Mas,” ujar Agiel pada malam harinya.

Saya minta maaf padanya karena secara tak langsung ikut membuatnya gagal masuk ke GBK. Dengan halus dia menampik permintaan maaf saya. Melalui sebuah pesan pendek, Agiel berkata: “Sama sekali saya gak nyesal masuk GBK. Saya ikhlas.”

Propagandis PLAK!

***

Lalu di mana Iqbal? Lalu di mana tiket?

Jawabannya baru saya ketahui  sekitar pukul lima atau setengah enam. Iqbal datang dengan muka murung, juga terlihat letih dengan sangat. Tubuhnya yang tambun basah oleh keringat. Misinya tak mulus. Tiket masih kurang empat buah. Dengan agak berat dua tiket terakhir untuk tribun selatan yang sedianya akan saya dan Iqbal gunakan “terpakda” diserahkan pada Islah dan Bai. Saya dan Iqbal tak mungkin masuk ke GBK dengan meninggalkan Isla dan Bai di luar. Apa boleh bikin, tapi pilihan memang harus diambil.

Pukul enam tepat rombongan kami bergerak. Sebelum berpisah, saya berbisik pada Bai: “Hati-hati!” Ya, hati-hati. Tanggungjawab meloloskan spanduk dan membentangkannya di dalam GBK kini berpindah ke pundak keduanya.

Setengah tujuh saya dan Iqbal bergerak ke arah GBK dan berharap bisa mendapatkan tiket tambahan. 15 menit jelang kick off seorang calo menawarkan sebuah tiket, hanya sebuah tiket. Saya memintanya mencari satu tiket lagi. Nihil. Kami putuskan tidak membelinya. Kami harus masuk bersama atau tidak sama sekali.

Kami panik bukan main. Menit berlalu dengan cepat. Sorak sorai membahana terdengar dari dalam GBK. Dengan langkah cepat kami menyisir kemungkinan terakhir mendapatkan tiket tambahan. Lagi-lagi nihil. Lalu, di depan gerbang berjeruji yang menyisakan sejumput pemandangan di dalam GBK kami berhenti dan pasrah. Lalu, terdengarlah gemuruh Indonesia Raya yang membikin kami berdua terpaku selama beberapa detik, untuk kemudian dengan sisa-sisa tenaga kami berdua ikut sama-sama menyanyikannya dari arah luar GBK yang sudah mulai gelap.

Semua sudah dicoba, tapi barangkali kami berdua memang harus menyanyikan Indonesia Raya dari luar GBK. Lalu kami bergerak mencari layar lebar yang disediakan untuk para suporter yang tak bisa masuk ke GBK.

Saya akan selalu ingat umpatan Iqbal saat itu, ketika kami baru saja kelar menyanyikan Indonesia Raya dari luar GBK: “Asu, aku mbrebes mili!”

****

Dari paper John Bale berjudul “In the Shadow of the Stadium: Football Grounds as Urban Nuisance”, saya menemukan bagaimana istilah topophilia (“topos” = tempat, “philia” = cinta) digunakan untuk menjelaskan afeksi yang mendalam seorang suporter pada sebuah stadion.

Kuil dan Jamaahnya

Istilah itu menjelaskan bagaimana hubungan intim antara seorang suporter dengan stadion yang barangkali tak punya aspek estetik dan fungsional yang bagus. Keindahan stadion memang khas, khusus, sebentuk keakraban yang hanya berharga bagi mereka yang mampu menghubungkan dirinya dengan lapangan: atapnya yang mungkin terlihat tua dan rapuh, catnya yang kusam dan sudah mulai mengelupas, hingga lengkung luarnya yang doyong seakan hendak rubuh.

Saya merasakan topophilia itu pada GBK. Saya masih ingat satu sore di tahun 1996, menjelang laga antara tim pra Olimpiade Indonesia (masyhur disebut tim Primavera) melawan Korea Selatan. Sorenya cerah. Saya berdiri di sisi luar sebelah timur laut GBK. Semburat senja terlihat jelas, terpercik di tembok tua GBK yang catnya sudah mulai mengelupas. Lengkung luarnya dan pilar-pilarnya yang condong ke luar membuat GBK seperti sebuah mangkuk raksasa yang sedang kepayahan mencoba menampung senja.

Mendadak timnas...

Saya masih ingat momen itu. Setelah tinggal di Jakarta, saya selalu datang ke GBK tiap kali tim nasional berlaga. Saya selalu berusaha menemukan momen yang sama nikmatnya dengan pengalaman saya di tahun 1996 itu.Juga pada hari itu, dan semua laga Indonesia di Piala AFF 2010.

Saya dan Iqbal sama sekali tidak tenang duduk menatap layar besar di sisi timur GBK bersama 10 ribuan orang yang sama-sama gagal masuk. Di tengah babak pertama, kami tak tahan lagi. Kami beranjak menyisiri pintu-pintu masuk. Petugas keamanan memberitahu di dalam sudah sesak. Bahkan kendati sudah di dalam pun mustahil bisa nonton. Saya tahu. Tahu sekali. Saya bisa melihat dari atas stadion orang-orang yang sudah di dalam pun berderet-deret di sisi luar memilih menyaksikan pertandingan dari layar besar. Tapi gemuruh suara dari arah dalam GBK tak henti-hentinya memanggil, terus-terusan menggedor gendang pendengaran saya.

Saat menyisir kemungkinan mendapatkan tiket sisa, Gonzales mencetak gol. Suasana meledak dalam keriuhan. Saya dan Iqbal melompat kegirangan. Segera kami berlari mencari posisi untuk bisa melihat layar lebar. Gagal! Tempat kami berdiri dihalangi sebatang pohon palem. Kami makin semangat mencari tiket. Akhirnya dapat juga!

Beberapa menit setelah babak kedua dimulai, segera kami berlari dan masuk melalui salah satu pintu di sisi utara GBK. Iqbal berlari lebih dulu. Badannya yang bongsor tak menghalanginya melewati anak tangga demi anak tangga. Di lorong menuju tribun, Iqbal tiba-tiba menjerit. Ia terjungkal sambil berteriak: Kram, kram! Saya terbahak. Kubilang padanya, “Yang main bola itu Gonzales, dkk., kok malah kowe yang kram!”

Setelah otot di kaki kirinya mengendur, kami merengsek lorong tribun utara. Tak bisa. Sama sekali tak bisa. Di depan kami hanya ada punggung-punggung orang yang juga berdesak-desakan. Lalu Iqbal tiba-tiba berteriak: “Itu spanduknya!” Saya dipanggul oleh Iqbal untuk bisa melihat spanduk hitam “PSSI Sarang Korupsi” yang terpasang di sektor 5 tribun atas. Kami bersorak-sorak sendirian. Orang-orang memperhatikan kami dengan muka yang aneh. Kami tak peduli.

Mentok di pintu tribun

Pertandingan tersisa 20 menit lagi. Kami mencoba lorong yang lain dan hasilnya sama. Tak bisa merengsek masuk. Hanya ada punggung-punggung orang lain yang berdesakan di mulut lorong. Saya menepuk bahu Iqbal dan mengajaknya ke pinggiran tembok luar GBK untuk menonton pertandingan di layar besar dari atas GBK.

Tidak bisa masuk, di luar pun jadi

Dari situ saya tahu ternyata tadi menonton layar besar itu dari arah belakang. Pantas saja nama di punggung pemain terlihat terbalik. Dari atas GBK, saya juga sadar bahwa penonton yang menyaksikan layar besar itu sama banyaknya dari arah depan layar maupun belakang layar. Sejauh mata memandang hanya ada orang-orang yang menyemut menyaksikan pertandingan dari layar lebar.

Bahkan yang di dalam stadion pun menonton ke luar...

Saya menyandar di palang besi mencoba menikmati sisa-sisa pertandingan sebisanya. Tapi fisik sudah terasa sangat lelah. Iqbal tetap antusias dan beberapa kali terdengar memaki-maki, termasuk saat Markus Harison diterjang seorang pemain Filipina. Iqbal berteriak saat pluit panjang dibunyikan. Orang-orang di bawah sana yang menyaksikan pertandingan dari layar lebar terlihat bersorak, banyak yang melompat-lompat dan mengibar-ngibarkan bendera merah putih.

Iqbal mengajak saya masuk ke tribun karena lorong sudah mulai kosong. Kami masuk begitu saja dan berdiri di anak tangga di sesela 85-90 ribu suporter yang masih bertahan di dalam stadion, bernyanyi-nyanyi, bersorak-sorai. Saya melihat merah di mana-mana, di mana-mana saya melihat merah. Tapi ini bukan merah yang muram dan marah, tapi merah yang bercahaya, merah yang terang benderang.

Terang bulan di dalam GBK

Dalam hati saya berkata: Saya memang tidak masuk ke stadion, tapi saya sudah terlibat dan melibatkan diri dalam festival sepakbola ini. Saya sangat menikmatinya. Jouissance (kenikmatan), kata Mikhail Bakhtin, adalah sensasi yang lumrah muncul dalam semangat karnaval.

Saya ingat deskripsi Giulianotti tentang aura Stadion Maracana yang agung itu. Saya kutipkan utuh: “Permainan dimulai saat Maracana berada pada posisi setengah gerhana, melengkung agung terbagi antara siang dan malam, terterangi matahari dan bayangan. Permainan itu sendiri merupakan nyanyian pujian illahiah dan perdamaian, melantun secara ritmis antara lambat dan cepat, berjalan dan melangkah mengikuti pukulan drum para suporter. …(lalu) pluit final menyeret akhir upacara ini; tepuk sorak-sorai …memburu sang pemenang yang segera lenyap ditelan perut Maracana, diburu para fotografer yang sedang mengejar berhala. Kumpulan manusia lalu mencair ke dalam malam Rio de Jeneiro yang sejuk…”

Mungkin berlebihan, tapi untuk saya yang sudah memulai upacara dan karnaval itu sejak pagi hari sebelumnya: semua kata “Maracana” dalam paragraf di atas kok rasanya bisa diganti dengan “GBK”, dan kata “Rio de Jeneiro” di situ terasa bisa juga diganti dengan “Jakarta”.

Saya berlari ke luar dan memburu kembali kerumunan orang di bawah sana yang tadi menyemut di depan layar raksasa. Mata saya nanar memandang kerumunan itu, orang-orang yang menyemut sampai jauh. Gedung-gedung tinggi terlihat di kejauhan. Sesekali ada kilatan cahaya berpijaran di langit Jakarta.  Beberapa lampu menyala terang di kedua sisi kerumunan orang di bawah sana. Suasana cerah, sangat terang, benderang, bercahaya….

Malam yang terang di GBK

Untuk sejenak saya sangat ingin melupakan koruptor yang terkutuk satu itu. Setidaknya malam itu saja: sebuah malam terang di GBK.

Read Full Post »

Ini bukan cerita saya nonton pertandingan di stadion. Ini cerita saya yang jangankan menonton di stadion, menyaksikan siaran langsung di televisi saja harus curi-curi kesempatan.

Kegalauan telah melanda sejak berhari-hari silam setelah Indonesia dipastikan memuncaki grup A. Saya mengetahui dengan jelas bahwa saya tak akan bisa menyaksikan dua partai semifinal karena pekerjaan. Benar bahwa ”Tak ada kerja di hari sepakbola”, tapi prinsip saya berbasis pada komitmen yang tak bisa saya ingkari. Jika saya telah mengetahui dari jauh hari bahwa Indonesia akan berlaga tanggal 16 dan 19 Desember, saya tak akan ragu mengosongkan jadwal, sama seperti yang saya lakukan tanggal 1 Desember saat menghadapi Malaysia.

Saya tidak tahu rasanya PMS, tapi mungkin mirip dengan apa yang saya rasakan beberapa hari terakhir. Uring-uringan dan sensitif. Setiap kali ada bahasan soal tim nasional, saya mencoba menjauh karena kesal rasanya tak bisa menonton. Setiap kali ada SMS masuk yang berbunyi ”Elo beli tiket yang berapa lawan Filipina?” atau ”Ketemuan dong di stadion”, saya langsung menghapusnya segera sambil memaki-maki dalam hati. Dalam seminggu terakhir, saya tak ubahnya tukang gerutu kelas wahid.

Menabur garam pada kulit yang tersayat, saya akan berada di sebuah hotel seputaran Sudirman saat pertandingan berlangsung. Maka saya memutuskan untuk datang cepat ke lokasi event agar tidak berpapasan dengan rombongan suporter yang akan memenuhi jalan dengan bendera Merah Putih yang berkibaran. Terlalu menyakitkan. Dari rumah di bilangan Cibubur, saya bahkan memilih jalan memutar via tol JORR-Ampera-Kemang-Tendean-Senopati-SCBD karena jika melalui rute yang lebih dekat, tol dalam kota lalu turun lewat Semanggi, maka kompleks GBK akan berada dalam pandangan mata. Terlalu menyakitkan.

Saya tak bisa membentangkan syal bersama puluhan ribu saudara lainnya di dalam stadion, maka saya mengikatnya pada tas kerja karena meski raga tak menyaksikan laga, separuh jiwa ada di tribun penonton.

Saya berusaha keras untuk membereskan semua persiapan event yang harus dilakukan karena waktu penyelenggaran yang mundur memungkinkan saya untuk mencuri waktu 10-15 menit menonton pertandingan. Sebuah booth vendor telekomunikasi menyediakan beberapa buah TV yang menyiarkan pertandingan ini dan ratusan hadirin yang seharusnya masuk ke dalam sebelum acara dimulai terpaku di depan layar kaca.

”Pertandingannya udah mulai nih”, bunyi SMS Christabelle kepada saya.

”Nonton di mana?”

”Di booth Speedy ada TV. Ke sini gih!”

“Nanti, masih agak ribet. Kalau udah agak lowong baru ke sana. Berapa-berapa?”

“Masih 0-0.”

Beberapa menit kemudian saya SMS lagi.

“Udah menit berapa?”

“Berapa belas gitu, gak kelihatan. Masih 0-0.”

Oke, saya tak tahan lagi. Setelah memastikan segala persiapan aman terkendali, saya melangkah ke depan TV dengan syal melingkar di leher.

Tidak lebih dari 15 menit saya menyaksikan pertandingan karena harus segera kembali. Tapi Tuhan mengerti masalah umatNya dan Ia memberi saya kesempatan untuk melihat gol sundulan Christian Gonzales. Saya hilang kendali setelah gol tercipta dan berjingkrak seperti orang gila. Jika anda kebetulan hadir di event yang sama dan melihat seorang pria berkacamata, berambut cepak, mengenakan jas coklat muda dengan earpiece menempel di telinga dan berlari-lari kesetanan melambaikan syal Merah Putih, itu saya.

Teriakan ”Indonesia! Indonesia!” yang disambung dengan tepukan tangan membahana di lobby ballroom tersebut. Saya tak kalah merindingnya menyaksikan pemandangan tersebut dibanding di stadion. Betapa tidak, orang-orang ini tidak peduli mereka tidak mendapatkan kursi yang strategis di dalam event yang berdasarkan siapa cepat dia dapat dan mengorbankannya untuk menonton negaranya bertanding barang sejenak.

Babak pertama belum usai, saya sudah beringsut pergi karena harus mengurusi pekerjaan lagi. Belakangan saya tahu bahwa gol Christian Gonzales itu adalah satu-satunya dalam pertandingan tersebut.

Ah, Gusti ora sare. Tuhan tidak tidur. Tentu saja, Ia menonton sepakbola.

Read Full Post »

Dulu seorang rekan mengatakan kepada saya bahwa tribun belakang gawang adalah tempat paling magis dalam stadion sepakbola. Bagian yang paling tinggi desibelnya dari semua sektor di dalam stadion karena di situlah suporter yang paling lantang berdiri. Sebelum laga ini, saya baru sekali menonton pertandingan dari belakang gawang, saat partai persahabatan kontra Uruguay beberapa bulan silam. Iqbal tanpa henti memanas-manasi saya untuk bergabung dengannya dan beberapa teman yang akan mengokupasi sektor 20. Tanpa pikir panjang, saya terima ajakannya.

GBK, 3 jam sebelum laga

Bersama dengan Christabelle yang merangkap sebagai fotografer resmi Indonesian Football Diary,  saya tiba sekitar jam 5 di stadion. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari itu Gelora Bung Karno nampak lebih padat dari biasanya. Sebuah kenyataan yang aneh mengingat hasil pertandingan sudah tidak menentukan lagi. Apa pun hasil yang dipetik Indonesia hari itu, kita tetap akan menempati puncak klasemen dan melangkah ke semifinal dengan status juara grup.

Hanya sekitar 30 ribu penonton yang memenuhi GBK pada pertandingan perdana melawan Malaysia dan 43 ribu pada pertandingan kedua melawan Laos. Ada sekitar 65 ribu orang yang hadir di GBK saat Indonesia berhadapan dengan Thailand dan saya penasaran dari mana datangnya tambahan sekitar 20 ribu orang lagi? Yang paling mungkin tentu saja karena lawan malam itu, Thailand, adalah musuh bebuyutan di Asia Tenggara dan selalu jadi momok sepakbola kita selama ini. Alasan lain adalah mereka tertarik datang langsung ke stadion setelah sebelumnya menyaksikan Merah Putih menang besar dua kali lewat layar kaca. Euforia memang lumrah, tapi saya cukup tergelitik mendapati kemungkinan yang sangat besar orang-orang yang baru pertama kali datang ke stadion itu akan kecewa karena peluang kita untuk kalah cukup besar mengingat Thailand berada di posisi harus menang untuk lolos ke semifinal.

Berada di stadion sejak petang, saya bisa mengamati orang-orang yang secara kasat mata tak biasa hadir di stadion. Hedi menyebut fenomena ini sebagai wisata stadion dan benar GBK menampung banyak sekali turis sepakbola yang penasaran dengan atmosfer Senayan yang tersohor itu. Yang membuat saya geli adalah melihat beberapa penonton perempuan yang datang dengan alas kaki berhak. Mereka, saya yakin, adalah jemaah Irfan Bachdim.

Beribadah sebelum "beribadah"

Karena hadir lebih dulu dari rekan-rekan yang lain, saya bergabung dengan Arista di pelataran mesjid Al Bina di dalam kompleks GBK. Menarik sekali melihat penonton sepakbola melakukan ibadahnya terlebih dahulu sebelum melanjutkannya dengan ritual di dalam stadion. Sesaknya pelataran mesjid memaksa saya duduk di atas aspal, bergabung dengan rekan-rekan Pasoepati Jakarta. Saya tidak bisa berbahasa Jawa, tapi tingkah dan kelakar yang mereka lontarkan satu sama lain bisa membuat saya tertawa tanpa harus mengerti apa yang mereka maksud. Humor, seperti sepakbola, adalah universal.

Ketika matahari mulai turun dan gelap menjelang, saya bergabung dengan rekan-rekan sepertandingan yang sudah berkumpul, termasuk Iqbal, Hedi, dan Zen yang rupanya telah memangkas rambutnya sehingga tak lagi terlihat seperti pendekar silat. Dengan beriringan kami memasuki stadion di sektor 20 dan memilih tempat tepat di belakang gawang selatan. Tidak seperti tribun belakang gawang utara yang penuh dipadati The Jak, tribun belakang gawang selatan relatif melompong meski kelas rata-rata di tribun atas penuh sesak

Jakantor, mengesankan seperti biasa

Saya relatif kalem di babak pertama, efek dari Indonesia Raya yang membahana sebelum laga dimulai. ”Boys Don’t Cry” kata Robert Smith dari The Cure, tapi meneteskan air mata sebelum laga telah menjadi kebiasaan yang tak tertolongkan bagi saya. Kegaiban stadion hanya bisa anda rasakan bila berada di tribun penonton karena saya nyaris tak tergerak saat duduk di area pers saat pertandingan sebelumnya melawan Laos. Jika anda takjub melihat barisan flare merah yang menyala saban kali kita bertanding, yang menyuguhkan atraksi tersebut adalah Jakantor Community, komunitas suporter Persija berbasis pekerja kantor. Saya mendapat kehormatan untuk menyaksikan atraksi mereka dari dekat karena posisi mereka tepat berada di atas kepala kami.

Saya masih duduk anteng sambil menenangkan emosi sebelum babak kedua dimulai saat darah saya bergejolak menyaksikan satgas Nurdin Halid yang menjijikan itu melakukan sweeping spanduk di tribun atas. Jakantor terpaksa menarik spanduk mereka sejenak, padahal spanduk mereka hanya bernada dukungan bagi Bambang Pamungkas, sang ikon Persija. Kontan saya berdiri dan secara tak sadar melontarkan makian kepada pasukan Nurdin yang penuh tato itu di atas. Zen dan Iqbal juga ikut serta memberi dorongan bagi anak-anak Jakantor untuk segera menggelar spanduk mereka kembali, tapi nampaknya mereka menahan diri. Pemandangan luar biasa terjadi saat satgas Nurdin mencoba menyita spanduk Aremania yang digantung di sektor sebelah. Tidak seperti suporter-suporter lain yang memilih mengalah saat hulubalang Nurdin ini hendak menyita spanduk, Aremania melakukan perlawanan. Sadar mereka menang jumlah orang, mereka mengepung satgas Nurdin yang hendak melepas spanduk. Saya berlari ke sektor sebelah dan menyaksikan bagaimana satgas Nurdin tidak berdaya menghadapi Aremania. Insiden itu melecut semangat suporter lainnya karena Jakantor juga menggelar kembali spanduk mereka tak lama kemudian.

Spanduk Aremania yang tak bisa diturunkan preman-preman Nurdin itu

Memasang banner dan spanduk klub saat tim nasional sedang bermain memang bukan tindakan terbaik yang bisa dilakukan, tapi kediktatoran Nurdin yang ia tunjukkan dengan sweeping spanduk sana-sini itu butuh perlawanan dari suporter. Jika memang perlawanan baru muncul jika menyangkut identitas klub, biarlah demikian karena hal ini tak bisa didiamkan begitu saja. Bukan kebetulan setelah kami berteriak-teriak mengecam preman-preman Nurdin, tiba-tiba tribun kami dipenuhi oleh polisi yang tiba-tiba mengawal setiap sudut.

Nikmatnya berdiri menonton sepakbola. Tebak gue yang mana?

Sejak insiden spanduk, saya tak lagi duduk dan memilih berdiri di atas bangku. Sebagai orang yang selalu kesal setiap kali diteriaki dari belakang menyuruh duduk, berada di tribun ini sungguh melegakan karena saya bebas berdiri di mana saja dan kapan saja, tidak hanya jika Indonesia sedang mendapat peluang emas.

Celebrating the equaliser. I went mental

Gelora Bung Karno sempat terhenyak ketika Thailand mencetak gol yang akan meloloskan mereka ke semifinal. Indonesia nampaknya harus menerima kekalahan dalam partai yang tidak lagi menentukan tapi penuh gengsi ini. Teriakan ”Bambang Pamungkas sekarang juga!” terdengar menginginkan agar sang primadona diturunkan. BP20 yang diturunkan menggantikan Irfan Bachdim akhirnya sukses menyamakan kedudukan lewat titik penalti. Gol ini meruntuhkan semangat Thailand yang berada dalam posisi harus menang.

Indonesia mendapat penalti kedua beberapa menit kemudian dan sebelum penalti dieksekusi BP, entah kenapa saya tergerak untuk memanjat pagar pembatas dan bertengger di sana. Setelah penalti sukses diceploskan, saya lepas kendali, menggoyang dan menendang pagar hingga memancing perhatian dari polisi yang mengira saya hendak merobohkan pembatas.

Tak pelak lagi ini adalah pertandingan sepakbola terbaik yang pernah saya hadiri. Bubur hanya enak disajikan hangat dan es krim hanya nikmat disajikan dingin. Pertandingan sepakbola, kawan, berada dalam wujud yang terbaik jika anda menyaksikannya dari belakang gawang.

Bersama Zen

Die Nurdin die!

all photos are taken by Christabelle

Read Full Post »

Tidak banyak yang bisa dilakukan jika menonton dari area media selain terpaku pada bangku dan duduk santun. Tribun media memang memberikan sudut pandang terbaik untuk menyaksikan pertandingan sepakbola, bahkan lebih baik dari tribun VIP. Berada di sana menyebabkan saya seperti sedang menonton pertandingan di sebuah bioskop raksasa dengan tata suara dolby digital. Pandangan mata bisa menelusur ke segala penjuru lapangan dan suara atmosfer pertandingan yang menggema terasa dekat di telinga, tapi saya tak pernah menjadi bagian dari laga itu.

Saya selalu mengumpamakan menonton pertandingan dari tribun VIP atau tribun media seperti menonton film porno tanpa boleh masturbasi, hampir tidak berarti. Saya terpaksa menggunakan akreditasi pers kali ini karena pada pertandingan sebelumnya selalu gagal mengirimkan laporan yang saya kirim via Blackberry.

Sore itu saya duduk bersama saudara seiman, Gotcha, dan kamerad seperjuangan, Iwan beserta pasangannya, Mega. Walau saya dan Iwan hadir dalam kapasitas sebagai peliput, pada dasarnya kami adalah suporter sepakbola dan sulit sekali untuk menyingkirkannya meski hanya sejenak. Iwan bercerita bagaimana ia dipelototi oleh seantero tribun media ketika ia mencemooh Malaysia pada pertandingan sebelumnya.

Saya tidak betah menonton pertandingan sambil duduk, tapi apa boleh buat. Laptop yang tergeletak di depan mata mencoba menghalau kegusaran saya dan tombol F5 saya hantam berulang kali untuk refresh Twitter sambil menyaksikan pertandingan Thailand melawan Malaysia yang secara mengejutkan berakhir imbang tanpa gol.

Thailand mendominasi pertandingan dan menyerang tanpa henti tapi tidak mampu membobol gawang Malaysia yang bertahan dengan sengit. Sebaliknya, Malaysia beberapa kali memperoleh peluang emas di mulut gawang Thailand yang seharusnya bisa dikonversi menjadi gol bila mereka punya sedikit kecerdasan lebih.

Selesai laga tanpa gol tersebut, giliran Indonesia berlaga melawan Laos yang berhasil melawan Thailand pada pertandingan perdana. Saya tidak mengerti mengapa suporter kita harus mencemooh lagu kebangsaan negara lain yang dikumandangkan di GBK. Ini adalah perilaku kampungan dan cermin betapa tidak beradabnya kita.  Dengan berbagai latar belakang dan alasan, saya cukup mengerti mengapa lagu kebangsaan Malaysia diteriaki, meski itu tidak menjustifikasi perilaku barbar itu. Tapi apa yang salah dengan Laos sehingga sekitar 43 ribu penonton yang memadati GBK hari itu harus mencemooh mereka? Padahal suporter kita berada di belakang Laos saat mereka menghadapi Thailand, bahkan para pemain Laos memberi salam dengan membungkukkan badan usai laga itu sebagai tanda terima kasih.

Meski mampu membuat hasil kejutan di pertandingan pertama, saya telah memperkirakan sebelumnya kalau Indonesia akan menang besar. Enam gol digelontorkan Tim Merah Putih ke gawang Laos sekaligus memastikan kita lolos ke semifinal. Karena pesta gol sudah saya ramalkan, maka sajian utama yang saya nantikan malam itu tidak dari lapangan hijau.

We scored six tonight!

Rekan saya, Zen, adalah seorang penganjur revolusi PSSI dan berada dalam jajaran atas pembenci Nurdin Halid beserta kroni-kroninya. Ia menyablon kaus bertuliskan ”Lindungi Kami Dari Godaan Nurdin Yang Terkutuk” dan datang dengan ide provokatif untuk memindahkan karyanya tersebut ke spanduk yang akan dibentangkan di stadion saat pertandingan. Bersama dengan Iqbal, yang baru saya temui beberapa hari setelahnya, mereka berdua membuat spanduk vertikal dengan tulisan ”Lindungi Indonesia Dari Godaan Nurdin Yang Terkutuk” yang rencananya akan mereka gelar di tribun selatan belakang gawang.

Masalahnya adalah bagaimana mereka akan membentangkan spanduk tersebut karena Nurdin Halid yang pengecut itu menyebarkan satgas pribadinya yang menyaru sebagai suporter untuk sweeping spanduk-spanduk yang kontrak terhadap dirinya. Beberapa hari setelah pertandingan, Zen dan Iqbal menceritakan perjuangan mereka untuk menggelar spanduk tersebut. Untuk memasukkan spanduk tersebut melewati pintu penjagaan saja sudah cukup membuat jantung berdegup kencang karena beberapa spanduk revolusi PSSI tertahan di pintu masuk pada pertandingan sebelumnya. Syukur spanduk ”…Nurdin Yang Terkutuk” berhasil menembus pintu depan dan mereka berdua harus mengakali patroli satgas bayaran.

Saya secara berkala memalingkan wajah dari lapangan dan mengarahkan mata ke belakang gawang selatan kalau-kalau dua gerilyawan anti-PSSI itu akan melaksanakan aksinya. Tapi spanduk baru tergelar saat pertandingan sudah melewati menit 80 dan hanya bertahan sekitar lima menit saja. Zen dan Iqbal mengatakan bahwa pada awalnya mereka selalu diganggu satgas Nurdin setiap kali mendekati tepi tribun untuk memasang spanduk. Mereka akhirnya sukses menggelar spanduk vertikal tersebut setelah satgas Nurdin pengecut itu berpatroli keliling ke sektor lain dan lengah mengawasi mereka.

Teriakan spontan saya di tribun media saat spanduk tersebut digelar cukup mengagetkan area yang sunyi itu dan beberapa orang melayangkan pandangannya ke arah selatan sambil tersenyum meski kebanyakan tidak ambil pusing. Bertahan beberapa menit, spanduk tersebut sempat saya abadikan gambarnya meski segera disita oleh satgas Nurdin.

Ya Tuhan, dengarlah seruan kami!

Mengapa saya memandang penting spanduk-spanduk bernada anti Nurdin Halid dan PSSI meski seharusnya fokus kita tertuju pada tim nasional yang sedang berlaga? Karena kekuatan suporter bola berada pada titik puncak saat kita berada di dalam stadion ketika pertandingan berlangsung. Kita, suporter, adalah pemegang kedaulatan penuh saat pertandingan berlangsung dan kita bebas bersuara apa saja. Suara presiden pun tidak akan terdengar di stadion karena satu-satunya suara yang membahana di udara hanya keluar dari suporter. Sadarlah kawan bahwa suara kita di dalam stadion adalah sebuah kekuatan masif yang bisa memecahkan gendang telinga orang tuli sekalipun.

Jiwa kepengecutan Nurdin Hald yang tingkat keberaniannya tak lebih tinggi dari anak TK adalah cerminan ketidaksiapan PSSI untuk menerima kritik. Nurdin tahu benar bahwa dirinya akan jadi sasaran protes, maka ia membayar ratusan orang jebolan ormas yang namanya mencatut keagungan Pancasila, masing-masing 60 ribu perak per orang, untuk mengamankan reputasinya. Menyita spanduk hanyalah salah satu tindakan represif Nurdin dan pengawal-pengawalnya.

Our Father which art in heaven…..lead us not into temptation…but deliver us from Nurdin.

 


Read Full Post »

Saya ingat betul apa yang ada dalam kepala saya begitu lagu Indonesia Raya yang kami nyanyikan bersama baru sampai pada larik ”…..disanalah kami berdiri, jadi pandu ibuku…”. Lidah mendadak tercekat dan saya tidak mampu menahan air mata yang menetes. Saya menolak menyeka air mata yang meluruh membasahi pipi dan tetap mengangkat syal Indonesia dengan kedua tangan meski kedua bibir terkatup rapat.  Apa yang mendadak muncul dalam benak saya begitu lebih dari 30 ribu saudara sebangsa menyanyikan lagu itu adalah soal gagasan kebangsaan dan konsep Indonesia Raya sesungguhnya yang mungkin tidak akan pernah terwujud. Seiring dikumandangkannya Indonesia Raya, beberapa flare berwarna merah menyala di tribun bagian atas. Benda yang sebenarnya ilegal di dalam stadion itu terlihat seperti api semangat yang menyala-nyala. Kata-kata terlalu lemah untuk menggambarkan betapa emosionalnya saya saat itu.

Tidak pernah sangsi saya katakan bahwa saya merasa paling Indonesia saat berada di stadion menyaksikan Merah Putih berlaga. Dari semua representasi Indonesia di berbagai bidang dan cabang olahraga, celakalah saya yang merasa paling terwakili oleh 11 orang pemain dengan emblem Garuda di dada kiri yang hampir tidak pernah menang apa-apa. Tapi iman memang diuji tidak saat jaya, tapi dalam keterpurukan dan kubangan lumpur.

Dari jauh-jauh hari tanggal 1 Desember 2010 sudah saya kosongkan agar bisa hadir di katedral Gelora Bung Karno untuk menyaksikan pertandingan ini dan tiada yang bisa mengganggu-gugat. Jika kiamat tiba pada tanggal 1 Desember, maka saya akan mengajukan mosi keberatan dan bersikeras agar dipindahkan ke hari selanjutnya saja.

Akreditasi pers saya kantungi tetapi apalah artinya menonton partai penuh tensi antar dua negara tetangga dengan rivalitas di berbagai level jika hanya duduk membatu di belakang meja wartawan. Maka saya memutuskan untuk mengacuhkan akreditasi pers dan membeli tiket kelas 1 seharga Rp 100.000. Saya sadar benar bahwa kemungkinan padatnya lalu lintas sinyal telekomunikasi di dalam stadion akan berdampak pada terhambatnya laporan yang harus saya kirimkan ke Inggris, tapi…..persetan.

Pertandingan utama hari itu baru digelar jam setengah 8 malam, tapi sedari pukul 4 lewat sedikit saya telah menginjakkan kaki di kompleks GBK yang selalu terasa lebih magis bila tim nasional akan bermain. Di hari pertandingan, melihat bendera Merah Putih dikibarkan pengendara sepeda motor atau diusung pejalan kaki adalah pemandangan biasa, sesuatu yang tidak akan terjadi pada perayaan 17 Agustus sekalipun.

Saya baru masuk stadion sekitar setengah 6, saat pertandingan Thailand melawan Laos hampir memasuki jeda. Sektor 3 adalah tribun kami dan hal pertama yang kami lakukan begitu masuk adalah memasang bendera Merah Putih milik Andreas yang ia bawa jauh-jauh dari Solo. Dengan keyakinan kuat bahwa menjahit bendera tidak hanya bisa dilakukan Ibu Fatmawati, maka bendera Merah Putih yang kami gantungkan hari itu dijahit sendiri oleh Ibunya Andreas. Saya lupa ukuran spesifik bendera tersebut, tapi cukup besar sampai kami harus melipat bagian merahnya agar bisa terpasang sempurna. Andreas, seorang akuntan yang bekerja di Jakarta, baru saja kembali dari kota asalnya, Solo usai menjalani pernikahan pada hari Minggu. Baru tiga hari menikah, istrinya sudah ditinggal sebentar untuk menonton sepakbola. Pengertian yang luar biasa dari seorang istri yang wajib dimiliki istri saya kelak di masa depan siapa pun dirinya.

Mengecek bendera layaknya Paskibra. Andreas yang paling kiri dengan baju merah

Paskibra GBK sedang menjalankan tugas. Foto diambil Megah Wisnu Ardhana

Indonesia belum berlaga, tapi suporter tuan rumah yang memadati GBK sudah bergemuruh memberikan dukungan kepada Laos yang berlaga menghadapi Thailand. Di luar dugaan, Laos mampu menahan imbang Thailand 2-2, bahkan hampir menang jika negerinya Thaksin Sinawatra itu tidak mencetak gol di penghujung pertandingan. Para pemain Laos memberikan apresiasi dan memberikan hormat kepada suporter Indonesia atas dukungan yang mereka berikan.

Saya lupa ternyata Bayern Muenchen hari itu juga main di GBK

Hal yang paling menggelikan yang saya temui di dalam GBK adalah spanduk-spanduk propaganda karya PSSI yang beberapa di antaranya mengagungkan Nurdin Halid. Selain spanduk dengan skill copywriting memprihatinkan seperti ”….Serang Lawan Bagai Eksoset”, ada pula spanduk pemujaan sang pesakitan seperti ”Nurdin Halid: Sekali Layar Terkembang, Surut Kita Berpantang”. Saya hampir muntah membacanya.

Ada 2 spanduk pro-Nurdin di dalam stadion dan suporter yang menempati tribun atas dengan cepat mengantisipasi kejijikan luar biasa itu. Pertama mereka melipat spanduk tersebut agar tidak lagi terbaca, tapi belakangan spanduk tersebut dirobek, yang disambut dengan sorak sorai oleh seisi penghuni GBK. Oh, kecuali Nurdin dan pengurus PSSI tentu saja.

Menjijikkan!

.....karena itu pantas dirobek!

.....dan terus dirobek!

Benci dan angkara adalah 2 elemen yang tak terpisahkan dalam pertandingan Indonesia melawan tetangganya yang berisik itu. Saat para pemain Malaysia masuk lapangan untuk pemanasan, paduan suara cemooh membahana di udara. Teriakan ”Maling! Maling!” tak henti-hentinya dilayangkan kepada para pemain negeri jiran tersebut. Sebaliknya, tepuk tangan dan sorakan ”In-do-ne-sia!” mengguntur saat para pemain kita menginjak lapangan.

Tanda cinta kepada Malaysia

We love you Malaysia, we do!

...bahkan pemain yang cedera pun tak luput dari teriakan cinta

Saya sudah memperkirakan bahwa cemoohan dan ejekan tidak akan berhenti saat lagu kebangsaan Malaysia, Negaraku, dikumandangkan sekalipun dan benar itu yang terjadi. Lagu kebangsaan Malaysia pun tertutup dengung ”booo!” yang diteriakkan suporter Indonesia. Apakah mengejek lagu kebangsaan negara lain etis dan dibenarkan? Sebagai penulis dan jurnalis, tentu saja hal tersebut tidak santun, tapi sebagai seorang suporter sepakbola, hal tersebut bisa saya pahami.

Ada 5300 lembar tiket yang dialokasikan kepada suporter Malaysia tapi tidak sampai 40 orang dari mereka yang menempati sektor 21-22 di tribun selatan. Masalah keamanan tentu menjadi isu utama. Segelintir suporter Malaysia yang datang itu mencoba mengibarkan bendera di tribun mereka dan tidak ada yang salah dengan itu, tapi dengan segera mendapat teror dan intimidasi dari pendukung tim tuan rumah yang berada di sekeliling mereka. Mereka bahkan harus dievakuasi dari tribun tersebut karena mendapat lemparan botol dari dalam atas. Menurut kabar, mereka dipindahkan ke bagian VIP.

Dan dari kursi VIP, puluhan suporter Malaysia yang malang itu harus menahan pedih karena malam itu kita berpesta dengan lima gol berbalas satu…….

This is how it feels to be Malay...This is how it feels to be small...

We are the fuckin Indons you’ve been talking about and we’ve just whooped your ass!

All photos are taken by Christabelle

Read Full Post »