Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2010

Bayangkan ini, anda pertama kali bertemu dengan seorang wanita yang berpenampilan biasa-biasa saja. Tidak ada yang luar biasa dari busana yang dikenakannya, rambutnya terkuncir sebahu, kulitnya langsat, tapi ia tak istimewa. Anda bertemunya setiap hari, tapi ia tak kasat mata.

Lalu pada sebuah kesempatan yang langka, si wanita tiba-tiba terlihat begitu magnetis. Ia mengenakan busana yang seksi sehingga lekuk tubuhnya terlihat, rambutnya tergerai, dan untuk pertama kalinya anda bisa melihat kakinya yang jenjang. Anda begitu terkesima dengan penampilannya dan bayang wajahnya tak bisa anda hapuskan dari kepala meski sudah berpisah. Anda pulang ke rumah dan semalaman mengidamkan dirinya di atas tempat tidur. Anda gemas, tak sabar untuk bertemu lagi dengan dirinya sebelum anda dikecewakan pada pertemuan berikutnya. Ternyata penampilannya yang aduhai sebelumnya adalah sebuah peristiwa langka yang terjadi 96 tahun sekali seperti Komet Halley. Anda dipaksa kembali pada kenyataan bahwa sang wanita tersebut tak akan pernah jauh dari citra yang terlekat sejak pertama bersua. Ia luar biasa untuk sekali waktu, tapi lebih sering tak mengesankan.

Itulah Persija. Saya dibuai ke atas awan saat menyaksikan mereka melumat Persib 3-0 (30/10) lewat sebuah permainan sensasional, tapi kembali terduduk ketika menyaksikan laga mereka melawan Sriwijaya FC. Pertandingan berakhir imbang tanpa gol dan pertandingan berlangsung datar-datar saja, kecuali saat (tentu saja) Greg Nwokolo menggiring bola.

Pria-pria ASUSILA (Asosiasi Suporter Siaran Langsung)

Pria dan Wanita ASUSILA

Rencana saya untuk menonton di tribun suporter kembali gagal terwujud. Kali ini karena saya kedatangan tamu, Jflow (right here!) dan Iman Sjafei. Terpaksa tawaran Gotcha untuk menonton di tribun saya tampik lagi dan kami pun duduk beramai-ramai di……tribun VVIP -___-

Karena hujan yang terus-terusan mengucur, para polisi yang menjaga pertandingan pun mengenakan seragam yang membuat mereka terlihat seperti gabungan samurai Jepang dengan Gestapo Nazi.

Camp Senayanwitz

Tak jauh dari tempat duduk kami, bersemayam Sutiyoso, bekas gubernur DKI Jakarta yang berperan mengubah warna tradisional Persija, merah, menjadi oranye karena konon ia menggemari tim nasional Belanda. Tepat di sebelahnya duduk Doddy Reza Alex Noerdin, Presiden Sriwijaya FC yang juga anggota DPR RI dan tentu saja anaknya Alex Noerdin, gubernur Sumatera Selatan.

Sedikit yang membekas dari pertandingan babak pertama, hanya teriakan-teriakan Doddy Reza dan entourage-nya setiap kali Laskar Wong Kito membangun serangan. Saya mengharapkan Bang Yos untuk menjerit-jerit histeris, tapi tentu saja itu tidak terjadi. Ada dua kelompok suporter Sriwijaya yang hadir di GBK, saya tidak tahu siapa yang mana, tapi mereka duduk berjauhan, terpisah 3 sektor satu sama lain. Yang satu mengenakan warna kuning, yang satu lagi mengenakan warna hijau. Mengapa mereka tidak berkumpul di tribun yang sama masih menjadi tanda tanya bagi saya.

Menyusul kotak-kotak sumbangan yang terus beredar sepanjang pertandingan, seremonial mengheningkan cipta untuk menghormati para korban bencana di Wasior, Mentawai, dan Merapi digelar saat jeda. Di sinilah saya merasa sangat kesal dengan para suporter yang ada di stadion. Entah karena mereka tidak mendengar seruan MC dengan mikrofon di tengah lapangan atau mereka memang tidak menghiraukannya, mereka terus bernyanyi dan menggebuk drum saat pengheningan cipta. Memalukan.

Saya juga tak bisa mengingat banyak dari laga babak kedua selain Persija yang sempat sekali menghantam mistar dan Doddy Alex yang terus berteriak tak tanpa putus. Ketika wasit meniup peluit panjang pengakhir pertandingan, Doddy Alex berdiri sambil mengepalkan kedua tangan dan berteriak, “Yes!”

Kedua rekan saya yang cantik, Nindia dan Gotcha mengajak turun ke lorong stadion karena Nindia ngebet ingin berfoto dengan Ivan Kolev. Setelah sekian lama tak pernah hadir di konferensi pers, akhirnya sore itu saya menyaksikan kedua pelatih, Kolev dan Rahmad Darmawan menceritakan kesan-kesannya selama pertandingan. Di tengah sesi, Bambang Pamungkas si atlet lompat tinggi bergabung. Selesai konferensi pers, kami menuju lorong ruang ganti untuk memburu foto. Nindia dan Gotcha mendapatkan yang mereka idamkan, sementara Iwan seperti biasa berubah jadi groupies sepakbola jika di stadion. Ia mengajak semua pemain untuk berfoto bersama. Saya sendiri tak tertarik dengan yang begituan.

Sekapur Sirih dari kedua pelatih

Nindia, Pria Paruh Baya, Gotcha

Hujan deras mengguyur Jakarta sejak siang dan anda tak bisa membayangkan kondisi chaos yang akan terjadi petang harinya. Hujan deras + jam pulang kantor + Persija bertanding adalah menu komplit untuk sebuah sore yang mengerikan. Tapi saya katakan di Twitter hari itu, Jakarta memang bukan untuk orang lemah…

Advertisements

Read Full Post »

Saya tidak tahu siapa yang menciptakan istilah ini, tapi dalam beberapa musim terakhir laga Persija melawan Persib selalu disebut sebagai Derby Indonesia. Antony Sutton dari Jakarta Casual menyamakan rivalitas dan kebencian antar kedua kelompok suporter dengan rivalitas Manchester United dan Liverpool di Inggris.

Jika Macan Kemayoran berhadapan dengan Maung Bandung di Senayan, lebih baik kendaraan berplat D jauh-jauh dari area tersebut. Begitu juga dengan mobil berplat B jika pertandingan digelar di Bandung. Belum lagi aksi beberapa suporter yang kerap merazia KTP untuk mengetahui mana suporter lawan yang berani menginfiltrasi hingga ke belakang garis musuh.

Now it would be nice to see "Viking Jakarta"

Entah apa yang ia makan, tapi sore itu Macan makan Maung

Pendidikan sepakbola sejak usia dini. Ayah teladan

Memang ada larangan bagi suporter tim lawan untuk hadir di stadion dengan warna identitasnya demi alasan keamanan. Kita memang belum mampu menjamin keamanan suporter tim lawan dengan faktor resiko yang sedemikian tinggi. Tak jarang beberapa suporter Persib yang datang ke GBK mengenakan warna oranye, demikian juga suporter Persija di Bandung.

Sebenarnya saya mengidamkan sebuah pertandingan bertensi tinggi di mana suporter lawan bisa bertandang tanpa harus sembunyi-sembunyi seperti itu. Harusnya ada jaminan dari pihak tuan rumah dan kepolisian bahwa suporter tim lawan dapat hadir. Mekanisme pengamanannya sebenarnya sudah jelas dan kita bisa menggunakan prosedur di Eropa sebagai acuan. Pada pertandingan yang dikategorikan ”high risk” seperti Persija – Persib ini, suporter tandang sudah harus dikawal sejak berangkat dari kota asal hingga tiba di kota tujuan. Sesampai di tujuan, mereka akan dikumpulkan di satu titik dan dikawal terus hingga masuk stadion. Mereka ditempatkan di tribun yang terisolasi dengan pihak keamanan dan stewards yang berjaga. Selesai pertandingan mereka akan menjadi pihak terakhir yang keluar setelah stadion kosong dan lingkungan sekitar steril.

Saya tak tahu apakah BLI dan PSSI memiliki manual seperti itu dalam prosedur tetap mereka, tapi itu adalah sebuah mekanisme yang sudah umum dalam dunia sepakbola modern. Makanya saya selalu bilang bahwa pengamanan sepakbola Indonesia itu setengah hati karena sebenarnya langkah-langkah yang harus dilakukan itu sudah jelas. Saya rasa prosedur itu pun telah distandarisasi FIFA. Percuma punya manual bagus jika tak sepenuh hati menjalankannya.

Menyadari atmosfer pertandingan yang akan luar biasa, saya sebenarnya janjian dengan Andibachtiar Yusuf untuk duduk di tribun. Ia bahkan telah memesan tiket untuk saya. Tapi karena satu dan lain hal (termasuk susahnya komunikasi dan tawaran mendadak untuk interview dengan seorang rekan), maka saya kembali duduk di kursi kuning yang sebenarnya tak nyaman untuk ditempati itu. Beberapa wajah yang selalu menemani saya menonton juga nampak di sana: Iwan Widjaya, Gotcha Michel, dan Nindia Satiman.

Gotcha, Nindia, dan pria Batak berperut buncit

Meninggalkan mereka bertiga yang duduk di VVIP, saya turun ke bawah untuk membaur bersama Jakmania lain yang memadati bagian VIP. Mereka bilang tribun VIP biasanya ditempati oleh orang tua dan suporter kelas kafe yang adem ayem, tapi hari itu semua orang nampak emosional. Tidak jauh dari tempat saya duduk seorang bapak tak hentinya memaki ketika para pemain Persib memasuki lapangan untuk pemanasan. Tak lama, seisi GBK mencemooh Persib dengan berbagai teriakan kasar dan berbalik menyoraki saat skuad Persija menjejakkan kaki di rumput.

Teriakan cinta membahana ketika mereka menjejakkan kaki di rumput

Agent Orange. I believe US troops used this back in Vietnam

Sumpeh lo?

Pertandingan sepakbola adalah sebuah arisan di mana semua orang merasa bersaudara dan seperasaan. Seorang pria menawarkan segenggam kacang kulit yang awalnya saya tolak tapi saya terima juga setelah ia bersikeras. Ia mengatakan bahwa hari itu, sebagai sesama orang Jakarta, apa yang miliknya akan menjadi milik semua orang yang mendukung tim Oranye juga. Saya tidak merasa perlu menjelasan kepadanya bahwa saya bukanlah suporter Persija atau Persib. Saya datang hanya untuk merayakan sepakbola, olahraga paling hebat sejagat.

Ini kacangku!

Ketika saya sedang sibuk mengamati sekeliling stadion, dari seberang saya bisa melihat segerombolan suporter berpakaian casual memenuhi sektor 16 dan meneriakkan, ”Persija! Persija”, sebuah chant yang tak lazim untuk suporter Indonesia yang biasanya lebih gemar menyanyikan lagu-lagu populer. Di pagar tergantung jelas spanduk yang menunjukkan identitas mereka, Tiger Bois. Anda bisa menyamakan mereka dengan casual firm di Inggris. Saya ingin berdiri bersama mereka di sektor 16 suatu saat nanti.

Sektor 3 hingga sektor 6 menyajikan aksi spektakuler sore itu dengan membakar flare dan bom asap berwarna oranye yang merasuki sekujur tubuh GBK. Saat beberapa suporter di sektor 3 memanjat pagar dan berbaris memegang flare secara paralel, saya langsung teringat pada tifo yang biasa dibakar Ultras di Serbia dan negara-negara Balkan lainnya.

Tifo, just like in Serbia

Konon kostum macan ini aromanya ajaib. Tak pernah dicuci

Demonstrasi singkat di depan tribun VVIP saat jeda soal kontroversi PS Blora

Pertandingan berlangsung ketat pada babak pertama, tapi Rahmad Darmawan membuktikan mengapa ia adalah pelatih terbaik Indonesia saat ini dengan mengubah strategi timnya di babak kedua. Greg Nwokolo, yang musim ini nampaknya akan menjadi momok bagi barisan pertahanan klub-klub Liga Super, memecah kebuntuan setelah lolos dari jebakan offside. Aliyudin yang masuk sebagai pemain pengganti menggandakan keunggulan Persija. Seusai pertandingan, lewat akun Twitternya Aliyudin mendedikasikan gol tersebut untuk ”komentator amatir”, Barry Sihotang yang pada pertandingan sebelumnya melawan Semen Padang mencap dirinya tidak berguna.

In your face, Barry Sihotang!

Gol terakhir dicetak oleh Bambang Pamungkas lewat sebuah tendangan melengkung berteknik tinggi. Mereka yang mengklaim bahwa Bepe lamban dan sudah habis tak bisa banyak cakap pada pertandingan. Saya sebenarnya bingung mengapa kelambanan Bepe baru sering diangkat sekarang karena ia memang tidak pernah dikenal sebagai pemain yang cepat. Ia adalah pemain yang cerdas dan visioner. Ia membuktikannya dengan beberapa kali melepaskan umpan terobosan yang merobek pertahanan Persib. Jika yang dipermasalahkan adalah kelambanan, Zinedine Zidane juga tidak dikenal sebagai pemain yang cepat…..

Bapak baju hitam yang pake kupluk mukanya sangar abis, padahal timnya menang

Pemandangan umum seusai laga Persija

Sempat terjadi kericuhan di beberapa tribun penonton. Saya sendiri tak melihat jelas tapi menurut kabar beberapa suporter Persib ketahuan membaur dengan suporter tim tuan rumah dan terjadi gesekan. Saya tak tahu pasti apa yang menimpa mereka selanjutnya.

Ini adalah kedua kalinya saya memarkir mobil di dalam stadion utama GBK dan memang tidak ada keributan saat saya hendak keluar. Tapi setiba di rumah saya mendapatkan kabar tidak mengenakkan soal aksi pemukulan terhadap Ronaldikin dan beberapa suporter Persib lain, belum lagi tindakan intimidasi terhadap wartawan Detiksport dan Pikiran Rakyat. Di sinilah sebenarnya saya masih agak keberatan dengan pendekatan kekerasan suporter kita. Saya sangat mengagumi segala teror mental dan intimidasi emosional dalam bentuk dukungan suporter di dalam stadion, tapi saya tidak pernah membenarkan kekerasan.

Harusnya kita semua bisa bergandengan dan tersenyum unyu seperti ini. Keep smiling, Gotch!

Untuk foto-foto lain bisa dilihat di sini

Read Full Post »