Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2010

Beberapa kali saya memarkir mobil di kompleks Stadion Utama GBK saat pertandingan Liga Champions Asia musim lalu, tapi saya tak pernah berani melakukannya saat pertandingan Liga Super. Pekan lalu saya menaruh mobil tak jauh dari depan kantor PSSI dan jantung saya berdegup kencang saat tersebar berita ada tawuran antar suporter Persija di Pintu 7. Saya tak tahu pasti di mana letak pintu 7, tapi saya tahu sudah banyak mobil yang dirusak saat keributan suporter bola. Untunglah keributan tipikal antar-kampung ini berskala minor sehingga tidak berdampak apa-apa. Tawuran antar suporter klub yang sama? Saya tahu terdengar aneh, tapi itulah realita.

Kurang dari jam 3 saya sudah mendarat di GBK. Ada karangan bunga yang menarik di depan kantor PSSI, isi keduanya kontradiktif. Saya tidak tahu apakah dua rangkaian flora ini berasal dari pengirim yang sama, karena jika memang begitu, saya patut mengapresiasi cita rasa humornya.

Saya masuk ke dalam stadion dan duduk di tribun pers sembari menunggu Gotcha dan Iwan yang belum datang. Gotcha Michel (dan Nindia Satiman) adalah dua orang dara pecinta sepakbola yang tak gentar datang langsung ke stadion untuk menonton sepakbola. Beberapa rekan pria saya yang mengaku gila bola menyatakan tak gemar menyambangi stadion karena takut akan potensi rusuh dan ketidaknyamanan. Dua orang dara ini tak pernah luput dari satu pertandingan sepakbola yang digelar di ibukota. Jika alasan anda ogah ke stadion karena takut, maka patutlah anda menyembunyikan muka dari mereka.

Gue dan Gotcha di tribun VIP. Sumpah, gue aslinya tidak segempal ini.

Gotcha datang sesaat setelah kickoff dimulai dan ia mengajak saya duduk di tribun kehormatan, tempat yang biasanya dihuni Nurdin Halid dan para kroconya saban pertandingan tim nasional. Karena saya tidak mempunyai keterikatan emosional apa-apa dengan kedua tim yang sedang berlaga, maka saya menyambut tawaran baik tersebut yang tidak akan pernah saya terima jika Indonesia atau PSMS Medan yang bermain.

Tribun yang terletak di depan box kaca ini memang nyaman. Kursinya empuk dan memiliki sandaran tangan. Tidak heran jika Nurdin dan para kroconya enggan turun. Tak jauh dari tempat duduk kami, ada seorang bapak dengan busana safari asyik menikmati penganan kecil yang tersaji di meja. Tongkrongannya jelas pejabat pemda, entah bagian apa. Ia sibuk mengunyah anggur sembari menyaksikan pertandingan yang tak jelas ia mengerti atau tidak.

Tidak pernah Andibachtiar Yusuf, saya tidak pernah mengasosiasikan diri dengan Persija meski lahir dan tinggal di Jakarta. Ini hanya perkara kiblat dan kedekatan spiritual saja. Tapi berada di dalam stadion dengan puluhan ribu Jakmania yang bernyanyi adalah kegembiraan. Pada dasarnya saya hadir di stadion untuk menikmati sepakbola, tidak peduli siapa yang menang. Saya akan bersorak jika pasukan berbaju jingga mencetak gol sekalian mengharapkan tim tamu membuat kejutan.

Segelintir suporter Deltras yang tak henti bernyanyi sepanjang pertandingan. Kudos!

Entah mereka suporter Deltras yang datang langsung atau kebetulan warga Sidoarjo yang bermukim di Jakarta, saya selalu memberikan apresiasi lebih pada pendukung tandang. Tak sampai 30 orang suporter Deltras yang berada di dalam GBK dan mereka membuat suara mereka terdengar di antara 20.000 The Jak hari itu.

Ini adalah partai comeback bagi Greg Nwokolo di Indonesia setelah sebelumnya merumput di Liga Portugal bersama klub yang lebih baik saya tanya Gotcha apa namanya. Sebelum hengkang dari Indonesia, Greg adalah pemain yang impresif selain kontroversial pula. Saya mengenal Greg lebih lama lagi karena ia dulu sempat bermain untuk PSMS Medan yang jaya itu.

Sesaat sebelum kickoff. Ribuan Jakmania yang membentangkan scarf di belakang bikin gue merinding

Kembalinya Greg ke Persija sempat tersendat karena proses pengurusan izin tinggal yang berbelit. Tapi masalah teratasi dan hari itu mereka yang berada di GBK dan menonton via layar kaca menjadi saksi bagaimana piawainya pemain asal Nigeria ini (untuk ukuran Indonesia tentu saja).

Greg menjadi figur yang merepotkan pertahanan Deltras setiap ia memegang bola dan menjadi arsitek gol pertama Persija setelah umpan silangnya diceploskan Aliyudin ke gawang Deltras. Berulang kali Greg membuat pertahanan Deltras kocar-kacir dan rasanya pelatih Rahmad Darmawan menemukan sosok yang tepat untuk tumpuan serangan setelah Persija kehilangan Firman Utina.

Tentu saja, lebaran sudah lewat....

Saat jeda, digelar upacara seremonial bagi tim Persija U-19 yang akan berkompetisi. Para pemain diperkenalkan satu persatu lewat pengeras suara yang tidak bisa saya dengar jelas. The Jak yang berada di stadion menanggapi upacara itu sekenanya. Si bapak pejabat yang duduk tak jauh dari kami itu turun ke lapangan untuk menyambut macan-macan muda itu. Ada kejadian lucu saat si pejabat sudah beranjak pergi dari lapangan sebelum sempat berfoto dengan tim junior Persija itu. Panggilan pemandu acara kepada si pejabat ternyata tak dihiraukan dan ia terlalu gentar untuk memanggil sekali lagi.

Yang ini lebih bikin gue merinding lagi....

Merah Putih dibentangkan sebelum babak kedua dimulai dan mengirimkan getaran ganjil ke sekujur tulang punggung saya. Mereka yang mengibarkan Merah Putih ini bisa jadi akan menjadi tertuduh bila pecah kerusuhan suporter. Ironis.

Persija kembali mendominasi babak kedua tapi mereka baru bisa menggandakan keunggulan tak lama sebelum pertandingan berakhir. Ramdani Lestaluhu sukses menjebol gawang Deltras setelah umpan terobosan Oktavianus melepaskannya dari jebakan offside, tapi predikat pemain terbaik pertandingan itu bagi saya pantas disematkan pada Greg Nwokolo.

Ini dia tarian menghadap belakang khas suporter kita yang cuma ada di Indonesia itu...

Tak terlalu peduli siapa yang keluar sebagai pemenang, saya kembali pulang dengan senyum di bibir karena teriakan-teriakan revolusi PSSI kembali membahana. Saya tak akan pernah bosan untuk mengatakan bahwa aksi suporter paling dahsyat itu terjadi di dalam stadion. Tidak hanya itu, dua spanduk bernada serupa pun terbentang di GBK sore itu.

Advertisements

Read Full Post »

It's so fuckin' easy, it's so fuckin' easy. Can we play you every week?

 

Pernahkah anda mengamati bagaimana cara kerja promotor musik internasional bekerja di Indonesia? Mereka akan memeriksa jadwal artis yang diincar dari jauh hari sebelumnya dan mengecek apakah mereka mempunyai jadwal tur Asia (lebih baik lagi Asia Tenggara). Jika dinilai bahwa artis tersebut potensial mendatangkan massa berlimpah, maka si promotor akan berusaha membujuk sang artis dan membajaknya agar singgah barang sejenak di Indonesia untuk menghibur para penggemar. Kenapa demikian? Karena menjadwalkan bermain di Indonesia tidak pernah terpikir oleh para artis mancanegara.

Demikian juga semifinalis Piala Dunia 2010, Uruguay. Tidak pernah terlintas dalam pikiran federasi sepakbola mereka di Montevideo bahwa Indonesia adalah negara yang akan mereka tuju dalam tur pertandingan persahabatan. Tidak mengherankan jika PSSI meminjam kiat Adrie Subono dan “membajak” Uruguay sebelum lawatan mereka ke China. Juara dunia dua kali tersebut pun menjejakkan kaki mereka di Jakarta pekan lalu.

Untuk ukuran pertandingan persahabatan, PSSI mematok harga tiket yang menggelikan. Harga tiket termurah adalah Rp 75.000 untuk kelas rata-rata dan Rp 150.000 untuk kelas II yang notabene terletak di belakang gawang. Harga tiket kelas I Rp 300.000 dan harga tiket kelas VIP yang mencapai angka Rp. 2 juta itu jelas-jelas di luar batas kewajaran. Saya tidak akan keberatan mengeluarkan uang Rp. 1 juta untuk menyaksikan sebuah pertandingan kompetitif, tapi untuk sebuah laga pemanasan? Keterlaluan.

....dan kursi-kursi yang kosong itu....

 

Di sinilah terasa sekali bahwa PSSI memperlakukan para penonton sepakbola Indonesia sebagai sapi perah yang dungu. Dengan mendatangkan tim sekelas Uruguay dan mematok harga tiket tinggi, penonton kita dianggap sama seperti penonton Java Jazz yang datang ingin menonton artis pujaan dan terhibur. Kita tidak dianggap sebagai bagian dari mereka yang bermain dengan lambang Garuda di dada sebelah kiri sehingga mereka tidak terlalu peduli bahwa sebagian besar kursi GBK kosong karena banyak orang yang tidak sanggup menebus harga tiket yang sedemikian mahal.

Beberapa hari sebelum pertandingan saya sudah mengurus akreditasi pers walaupun ragu mendapatkannya karena ada kesalahan teknis. Tapi dari jauh hari saya telah merasakan bahwa menonton sepakbola dari area wartawan sungguh seperti menonton film porno tanpa boleh masturbasi dan bersuara. Tidak ada emosi di sana. Sebelum saya mengajukan akreditasi pers, saya telah berpikir untuk membeli tiket saja dan bergabung dengan mereka yang berdiri di tribun. Akhirnya saya memutuskan untuk memesan tiket kelas II lewat seorang teman dan menjadi dilema saat akreditasi pers saya ternyata disetujui. Setelah menimbang dengan seksama, maka saya merelakan kartu pers tidak terpakai dan membiarkan seratus lima puluh ribu Rupiah raib dari dompet.

Pertandingan digelar jam 8 malam, tapi karena ada undangan screening film terbarunya Andibachtiar Yusuf, HOPE di Kemang pada jam 3 sore, maka sejak siang saya telah berkeliaran di Senayan dan memarkir mobil di pusat perbelanjaan terdekat. Menembus Jakarta di hari Jumat petang lebih sulit dari membongkar pertahanan tim lawan yang memarkir 10 pemain di dalam kotak penalti. Menonton HOPE sebelum menyaksikan tim nasional bermain menyulut semangat lebih besar untuk buru-buru datang ke GBK (Review film ini akan saya muat di blog yang lain). Sebelum jarum menunjukkan pukul 6 sore, saya dan Iwan Widjaya memutuskan menerjang hujan dan jalanan Jakarta yang laknat itu menuju katedral sepakbola Indonesia, Gelora Bung Karno. Ada perasaan yang tak terjelaskan saat anda dalam perjalanan untuk menyaksikan tim nasional sepakbola anda berlaga. Saya tidak tahu apakah anda merasakannya juga, tapi saban kali Indonesia akan berlaga, anda akan melihat banyak kendaraan bermotor yang memasang bendera Merah Putih. Tidak asing untuk melihat orang yang dibonceng di atas motor mengibarkan bendera Merah Putih, sesuatu yang tidak anda lihat pada 17 Agustus sekalipun.

Karena Iwan memilih untuk memakai akreditasi persnya, kami pun berpisah dan bergabung dengan rekan-rekan United Indonesia yang membantu saya mendapatkan tiket yang seperti biasa penjualannya agak ribet. Sejam sebelum pertandingan saya telah masuk ke tribun kelas II yang terletak di sebelah kanan layar televisi. Karena terletak tepat di belakang gawang, maka saya menganggap saya berada di Stretford End saat itu. Hal pertama yang mengganggu mata saya setiba di dalam stadion adalah spanduk menggelikan di bawah ini:

Saya PRIHATIN atas spanduk ini

 

Terima kasih kepada SBY? Atas dasar apa? Karena ia datang ke GBK untuk menghadiri partai seremonial ini? Atau karena ia mencetuskan Kongres Sepakbola Nasional di Malang tempo hari yang tidak lebih dari sekedar ajang silaturahmi pengurus PSSI dengan wartawan? Ada beberapa spanduk serupa di sepanjang tribun timur sehingga mengundang kecurigaan bahwa sebenarnya spanduk-spanduk tersebut adalah buatan oknum PSSI sendiri. Menyedihkan. Spanduk lainnya berbunyi “Maju Terus PSSI…”, absurd.

Saat pengumuman starter kedua tim, nama Luis Suarez yang paling banyak mendapat sambutan penonton. Aneh bagi saya melihat suporter kita bersorak untuk pemain lawan. Walaupun ia berkelas dunia, siapa pun yang memakai kostum selain Merah Putih adalah lawan. Sebelum pertandingan saya cemas apakah nanti para penonton malah akan bersorak gembira bila para pemain lawan yang selama ini kita lihat di layar kaca seperti Suarez atau Cavani menjebol gawang timnya sendiri. Belum lagi antusiasme berlebih masyarakat akan pertandingan ini seolah-olah ini adalah partai terakhir yang menentukan lolosnya kita ke Piala Dunia.

Tribun sebelah kanan dihuni mereka yang percaya Indonesia akan menang. Tribun sebelah kiri sebaliknya. Suara rakyat suara Tuhan.

 

Momen yang paling menggetarkan setiap menyaksikan tim nasional berlaga adalah saat Indonesia Raya berkumandang di udara. Saya dan puluhan ribu kompatriot di dalam stadion mengangkat syal Merah Putih kami tinggi-tinggi dan menyanyikan Indonesia Raya. Saya tidak pernah menganggap diri nasionalis dan satu-satunya event di mana saya menyanyikan lagu kebangsaan dengan sepenuh hati hanya pada saat pertandingan sepakbola. Nasionalisme bagi saya hanya eksis di arena olahraga.

"Teman-teman, kita boleh kalah kelas tapi jangan sampai kebobolan 7 gol. In-do-ne-siaaaaa!"

 

Saya tidak mengenali permainan tim negara saya pada 20 menit pertama. Semangat yang tinggi dan keberanian untuk mengolah bola serta memainkan bola pendek tidak mencerminkan Indonesia yang saya kenal selama ini. Adrenalin membuncah keluar saat Bambang Pamungkas melepaskan umpan terobosan brilian yang menyebabkan kartu as kita, Boaz Solossa berhadapan langsung dengan kiper Juan Castillo. Si Mutiara Hitam ini menggocek Castillo dan menceploskan bola ke gawang yang kosong. GBK meledak.

Boaz Solossa membuat versi sendiri dari adegan Forrest Gump lari dari lapangan American Football

 

Kita bertahan dengan sporadis sampai menit 30. Penampilan Nova Arianto dan Maman Abdurahman dikritik habis pada babak kedua, tapi sesungguhnya mereka sempat membuat Suarez dan Cavani frustrasi pada setengah jam pertama. Yang terjadi selanjutnya adalah kehabisan tenaga dan itu bukanlah sesuatu yang baru bagi kita yang dulu pernah menahan imbang Uni Soviet ini

Memang Edinson Cavani yang berpostur 184 cm itu membuat Nova dan Maman bagaikan dua orang point guard yang mencoba mengawal seorang center, tapi perbedaan fisik tidak pernah sah menjadi alasan. Dengan posisi di belakang gawang, saya bisa melihat jelas bagaimana koordinasi lini pertahanan kita yang sekenanya. Kita selalu kocar-kacir setiap Uruguay mengirim bola ke sayap dan buruknya pemahaman taktik kita bukanlah penemuan terhebat di dunia.

Alfred Riedl memasukkan dua pemain muda, Yongki Aribowo dan Oktovianus Maniani di babak kedua. Yongki adalah favorit saya dan ia membuktikan kelasnya ketika ia membuat sebuah turn yang akan membuat Wayne Rooney bangga. Okto menawarkan kecepatan dan rasanya kerjasamanya dengan Boaz di masa depan akan membuat barisan pertahanan mana pun bergidik. Tapi terlalu sedikit waktu yang mereka dapatkan untuk memberi impresi lebih.

Saya sedih dan kesal saat pemain kesayangan kita selama bertahun-tahun, Bambang Pamungkas dicemooh penonton saat ditarik keluar. Para penonton merasa tidak puas dengan performa Bepe yang dituduh malas di lapangan. Di sinilah titik yang saya tidak mengerti dari mayoritas suporter kita. Bagaimana bisa mereka mencemooh pemain mereka sendiri yang berkontribusi satu assist malam itu? Banyak orang menuduhnya pemalas karena enggan berlari dan minim ledakan, tapi bukankah Zinedine Zidane dan Dimitar Berbatov juga terlihat sama malasnya? Kita perlu menyadari bahwa bermain bagus dalam tim sepakbola itu tidak melulu harus berlari kencang dan mendribel bola ala Ronaldinho. Saat Piala Dunia kemarin banyak orang kita yang menuding Sergio Busquets tidak pantas menjadi starter karena ia hanya bisa membagi bola pendek kepada Xavi dan Iniesta, padahal tugasnya memang hanya itu! Kerangka berpikir yang sama mungkin dipakai oleh mereka yang mencemooh Bambang hari Jumat malam itu.

Uruguay menggelontorkan tujuh gol ke gawang Markus Horison dan penonton mulai bersorak pada dua gol terakhir karena mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi. Mereka merasa dipermalukan, tapi saya tidak. Skor 7-1 lebih baik dari selisih dua digit yang saya perkirakan sebelumnya.

Senyum bisa tersungging di bibir saya ketika sebelum pertandingan berakhir karena teriakan ”Nurdin Turun!” bergema di seantero GBK. Hanya beberapa tribun yang meneriakkannya, termasuk tribun rata-rata yang tepat di atas tribun saya. Beberapa waktu sebelumnya saya sempat berbincang dengan Arista dan memang rekan-rekan suporter ingin menggelar aksi anti Nurdin Halid. Saya percaya bahwa medium yang paling tepat untuk demonstrasi bagi suporter sepakbola adalah di dalam stadion saat pertandingan berlangsung. Anda tidak tahu betapa senangnya saya melihat hal itu terwujud. Lebih banyak penonton yang tersenyum mendengar seruan itu dibanding turut menebalkan suara, tapi saya merinding saat melihat tribun seberang yang mayoritas dihuni The Jak menyambut teriakan kami. Kemarin Nurdin Halid mengklaim bahwa para suporter yang menghendakinya turun tersebut adalah suporter bayaran. Feck off, saya membayar 150 ribu Rupiah untuk masuk ke dalam stadion dan jika itu adalah harga yang harus saya tebus untuk berteriak ”Nurdin Turun!”, maka merelakannya dengan senang hati.

Dalam perjalanan menuju lapangan parkir, saya berpapasan dengan segerombol ABG yang sedang bernyanyi I’m Forever Blowing Bubbles disambung chant ”United…United…” sambil bertepuk tangan. Saya terperangah takjub melihat pengaruh Green Street Hooligans kepada para remaja karena ini bukan pertama kalinya saya bertemu para ”penggemar” West Ham United di Indonesia. Saya gatal dan ingin iseng bertanya apakah mereka kenal nama Sir Trevor Brooking, tapi saya pikir, ya sudahlah…

NB: Saya bukan penggemar Bondan Prakoso.

Read Full Post »