Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2010

Akhir pekan lalu, tim nasional negara sebelah yang kedubesnya dilempari feses itu terbang ke Oman untuk melakoni laga uji coba. Negara tetangga kita lainnya, Vietnam, akan melakukan laga persahabatan melawan Korea Utara tak lama lagi. Tak perlu kita bicarakan dengan siapa Thailand menggelar laga ujicoba. Dengan berbagai geliat sepakbola negara-negara Asia Tenggara yang bergairah, tim nasional Indonesia melakukan laga uji coba melawan tim Divisi Utama (selevel di bawah Liga Super), Pro Titan.

Sungguh tak bisa dimengerti bagaimana bisa Indonesia hanya berujicoba melawan tim sekelas itu. Beberapa hari sebelumnya Indonesia juga bertanding melawan Persita Tangerang dalam laga yang berakhir 4-1 untuk Garuda di Dadaku. Jika berprasangka adalah dosa, maka terpaksa saya melakukannya karena saya tak bisa percaya segala omong kosong PSSI yang akan menggelar laga ujicoba melawan Brazil ataupun Pantai Gading. Paling banter nanti lawan ujicoba kita adalah persekutuan pedagang kain Tanah Abang yang diberi nama Africa Selection XI.

Tapi karena sakau menonton pertandingan sepakbola langsung di stadion, hari Minggu (5/9) saya bertekad datang ke Gelora Bung Karno untuk menyaksikan laga lucu-lucuan tersebut. Berangkat dari Casa de Siahaan pukul 18.30, jalanan yang lancar mengakibatkan jarak Cibubur – Senayan hanya ditempuh dalam tempo 35 menit. Pertandingan dimulai pukul 20.00 dan teman menonton, Gotcha dan Ucup, belum menampakkan batang hidungnya. Maka saya iseng masuk ke dalam stadion.

Saya tak segan melabeli pertandingan ini sebagai lucu-lucuan, salah satunya adalah karena tidak adanya tiket yang dijual. Anda bebas masuk ke dalam stadion untuk menonton. Siapa yang rela merogoh kocek untuk menonton partai mega bintang antara Nurdin Halid United tim nasional Indonesia melawan Zeus, Ares, Poseidon Pro Titan?

Karena pertandingan berstatus bebas terobos, maka satu-satunya pintu yang terbuka bagi penonton hanya Gerbang Merah yang biasanya juga digunakan untuk tempat masuk pemain dan parkiran bis.

Sekitar pukul 19.30 saya menyelinap masuk ke dalam stadion GBK dan mendapati pemandangan yang belum pernah saya lihat, GBK gelap gulita. Beberapa menit sesudahnya lampu stadion berangsur-angsur dinyalakan untuk menerangi kedua tim yang sedang pemanasan.

Suasana sepakbola Indonesia.....gelap gulita

Pro Titan adalah klub Divisi Utama yang musim lalu bernama Pro Duta. Klub ini dimiliki pengusaha gila bola, Sihar Sitorus dan baru saja memindahkan homebasenya dari Jogja ke Medan. Kostum klub ini yang berwarna kuning sekilas mengingatkan pada seragam Sriwijaya FC.

Saya hampir tersedak saat melihat kostum yang dikenakan tim nasional Indonesia. Mereka mengenakan seragam bekas yang font namanya di belakang dicabuti. Arista mengatakan bahwa kostum itu memang kostum lama. Saat saya melihat dari dekat, saya tidak mengenali nama-nama yang secara samar masih bisa terbaca di lokasi font yang tercabut itu. Misalnya pada kostum #15 yang dipakai Firman Utina, tertera nama Egi. Dalam beberapa tahun terakhir, saya tidak ingat ada pemain tim nasional yang bernama Egi.

Tidak diketahui alasan yang pasti mengapa tim nasional berlaga dengan kostum bekas pada malam itu. Penggunaan baju bekas pakai itu semakin meneguhkan opini saya bahwa pertandingan tersebut memang tidak serius. PSSI mempunyai kontrak dengan Nike dan seharusnya tidak ada alasan bagi Nike untuk tidak menyuplai seragam timnas dalam pertandingan gurem sekalipun. Lalu saya berpikir berbagai kemungkinan negatif di balik penggunaan baju bekas ini, tapi sudahlah.

Status pertandingan yang setengah resmi ini membuat saya bisa bebas berdiri di pinggir lapangan dan bebas mengambil gambar dari sudut mana pun. Saya melihat bagaimana pelatih timnas yang orang Austria itu, Alfred Riedl menghampiri korps wasit sebelum pertandingan dimulai dan menghimbau para pengadil agar bertindak tegas pada pelanggaran sekalipun laga ini hanya ujicoba. ”….to educate the players,” ujar Riedl.

Rudi Voeller sedang menjelaskan bagaimana cara meludahi Frank Rijkaard yang benar

Rudi Voeller (kanan) dan Wolfgang Amadeus.......Pikal

Para pemain sedang mendengarkan wejangan pelatih soal pentingnya bermain bagus agar dapat jersey baru"

Sebelum pertandingan dimulai, saya sempat mengobrol sebentar dengan asisten pelatih asal Jerman, Wolfgang Pikal. Ia mengomentari kaus St. Pauli yang saya pakai sembari terkejut bagaimana bisa ada yang mengenal klub tersebut di negara ini.

Sesungguhnya laga ujicoba tersebut sama sekali tidak menarik. Pertandingan yang digelar dalam format 4 x 30 menit itu benar-benar memprihatinkan untuk ukuran tim nasional, belum lagi lawannya yang hanya berstatus tim Divisi Utama. Ketika pertandingan usai, saya bahkan tidak tahu berapa skor akhirnya. Andai anda bertanya, betul, papan skor tidak dinyalakan pada pertandingan itu. Saya baru tahu kalau pertandingan tersebut berakhir 3-0 untuk kemenangan Nurdin Halid United Indonesia.

Atep sedang beraksi

Korban Friendly Fire

Taksiran saya tidak sampai 1000 orang yang hadir di GBK pada untuk menyaksikan partai itu. Paling hanya beberapa ratus dan kebanyakan adalah orang-orang yang ingin menghabiskan Minggu malam dengan murah, sama seperti saya.

Ekspektasi saya memang tidak tinggi dalam pertandingan itu, tapi tetap saja rasa kecewa timbul di dalam dada melihat tim yang mewakili negara yang akan saya bela sekuat tenaga itu bermain semenjana. Sejujurnya, skor akhir tidak merefleksikan perlawanan Pro Titan pada malam itu.

Garuda di dada kiriku, centang di dada kananku. Berlaku dua arah

Tanktop dan hot pants di stadion sepakbola? Hanya ada satu nama

Ini adalah artikel pertama Indonesian Football Diary, tempat di mana saya akan menulis cerita saya bepergian ke seantero negeri untuk menonton sepakbola. Sampai jumpa di stadion.

Pangeran Siahaan

Advertisements

Read Full Post »