Feeds:
Posts
Comments

Anda punya akun Twitter? Siapa yang anda promosikan lewat hashtag #FF (Follow Friday) hari ini? Saya menominasikan @TheReal_Abi_LPI untuk anda follow agar tahu apa yang boleh anda lakukan dan apa yang tidak boleh anda lakukan dalam corporate PR.

Anda tahu ada yang salah dalam strategi humas anda saat akun Twitter yang sejatinya diharapkan menjadi jembatan penghubung bagi LPI (Liga Primer Indonesia) dengan masyarakat malah membuat banyak orang marah. Seorang juru bicara (jubir) lazimnya adalah seseorang dengan kemampuan komunikasi diplomatis, yang menerima kritik dengan simpatik dan menyerang tanpa menyakiti. Tapi rupanya akun @TheReal_Abi_LPI menganut mazhab yang lain.

Kita tahu memang LPI didirikan dengan semangat pembaruan sepakbola Indonesia, salah satunya soal penghapusan ketergantungan dana APBD dalam pengelolaan klub sepakbola. Tapi menjadi konyol dan tidak bijak jika akun @TheReal_Abi_LPI berulang kali memprovokasi klub-klub ISL (Indonesian Super League) lewat ejekan-ejekan yang ia lontarkan terhadap klub-klub berbasis APBD. Akun @TheReal_Abi_LPI yakin sekali bahwa pelarangan APBD akan membuat LPI satu-satunya kompetisi liga yang bertahan di Indonesia. Kesimpulan yang prematur tentu saja.

Saya tidak tahu sudah berapa tahun @TheReal_Abi_LPI bergelut dalam dunia sepakbola sampai ia ditunjuk menjadi juru bicara, tapi dari berbagai kalimat tidak simpatik yang ia cetuskan di Twitter, nampak ia belum mengerti bahwa bagi suporter, klub adalah identitas yang akan dibela sampai mati. Oleh sebab itu berbagai provokasi yang ia lakukan, termasuk me-retweet kalimat yang ofensif, menjadikannya target kemarahan.

Bukannya tidak ada yang mencoba mengingatkan @TheReal_Abi_LPI soal pendekatan komunikasinya yang agresif itu, tapi nyatanya banyak yang mencoba berdiskusi dengannya malah berakhir dengan pemblokiran di Twitter, terlebih bila ia tidak lagi punya argumen untuk diberikan kepada lawan debatnya.

Saya percaya bahwa untuk menjadi menyenangkan di Twitter jauh lebih mudah daripada memberikan balasan provokatif yang ujung-ujungnya menjadi sasaran kemarahan. Maka pertanyaannya untuk apa @TheReal_Abi_LPI capek-capek melakukan gaya komunikasinya yang tidak simpatik itu?

LPI adalah kompetisi seumur jagung yang sedang dalam tahap mengenalkan diri. Ada banyak hal yang saya tidak sependapat dengan LPI, terlebih soal transparansi kepemilikan klub dan nama-nama di balik konsorsium pemodal kompetisi ini, tapi saya percaya penghapusan dana APBD dari sepakbola adalah hal yang harus didukung.

Dalam fase introduksi kepada masyarakat ini, menjadi aneh bagi LPI jika penghubung utama mereka kepada target pasar yang mereka sasar adalah @TheReal_Abi_LPI dengan segala agresivitasnya.

Bagaimana bisa LPI mengambil hati masyarakat Indonesia dan suporter sepakbola lainnya jika kesan yang ditampilkan @TheReal_Abi_LPI sebagai juru bicara adalah arogan dan pencibir?

Kenyataan bahwa dari semua akun Twitter punggawa teras LPI hanya akun @TheReal_Abi_LPI yang mencitrakan demikan menandakan bahwa arogansi sesungguhnya bukan esprit de corps dari kompetisi ini. Ironisnya, ia yang berpredikat sebagai juru bicara-lah yang memberikan kesan itu.

Semangat perubahan LPI direfleksikan dalam motto “Change The Game”, tapi belakangan banyak suara di Twitter yang menghendaki “Change The Jubir” karena ketidakpuasan akan gaya komunikasi si jubir. Sesungguhnya saya tidak melihat bahwa ia akan dimutasi dari posnya tersebut dalam waktu dekat, tapi setidaknya akan bermanfaat bila LPI menyisihkan dana konsorsiumnya yang katanya miliaran Rupiah itu untuk melakukan training pemakaian media sosial.

Bajingan kalian semua

Mengumpat kinerja wasit dan hakim garis adalah aktivitas rutin usai menonton tayangan sepakbola Indonesia, terlebih di layar kaca karena anda bisa melihat lebih jelas bagaimana payahnya performa mereka di lapangan. Selama ini saya selalu mengeluh melihat bagaimana bobroknya kinerja para pengadil di lapangan hijau, entah disengaja atau memang tidak adanya pemahaman yang baik akan peraturan sepakbola. Tapi hari ini saya benar-benar kesal performa wasit dan asistennya dengan gamblang terlihat merugikan klub yang saya dukung, PSMS Medan, yang berlaga melawan PSAP Sigli di babak 8 besar Divisi Utama.

Memang sudah jamak menyaksikan bagaimana lemahnya pemahaman para hakim garis Indonesia tentang peraturan offside, di mana bola tidak akan dianggap offside apabila pemain yang menerima bola berlari dari belakang garis pemain lawan meskipun ada rekan setimnya yang berada dalam posisi offside selama tidak mengganggu permainan. PSMS 2 kali divonis offside hari ini oleh hakim garis karena pemahamannya yang primitif akan peraturan tersebut.

Karena tidak ingin berburuk sangka, maka saya mengambil kesimpulan bahwa mayoritas hakim garis Indonesia tidak memiliki pengertian yang baik dan benar akan peraturan sepakbola sesungguhnya, khususnya offside. Para penonton awam yang hobi menonton sepakbola tentunya mafhum akan peraturan offside yang sudah dimodernisasi tersebut. Pertanyaannya, jika penonton awam saja tahu, mengapa hakim garis menjadi pengadil di lapangan hijau tidak tahu?

Juga menjadi perhatian adalah kinerja wasit Iis Isya Permana yang menjadi juru adil di lapangan pada pertandingan hari ini. Ia memberikan kartu merah kepada bek PSMS, Vagner Luis yang dituduh dengan sengaja melayangkan tinju kepada penyerang PSAP yang saya lupa namanya.

Dalam tayangan ulang terlihat bahwa Vagner hanya berusaha melepaskan diri dari jepitan pemain PSAP tersebut dan gerakan tangannya tidak bermaksud menyerang, hanya gerakan membebaskan diri. Yang lebih konyol, wajah penyerang PSAP tersebut sama sekali tidak terkena langsung “pukulan” Vagner, tapi ia jatuh mengerang memegangi wajah dan Iis Permana memberi kartu merah.

Dengan dasar yang sama pula, Iis Permana memberikan kartu kuning kedua kepada pemain PSAP, Fery Komel karena terlihat menyikut. Saya tidak tahu dengan anda, tapi jika saya yang jadi wasit, saya tidak akan memberi kartu merah kepada pemain PSAP tersebut. Terlalu ringan dan cukup dengan peringatan saja. Kedua tim tidak harus menerima kartu merah.

Keanehan berikutnya adalah perihal waktu injury time yang diberikan Iis Permana di penghujung babak kedua. Ada 2 kartu merah yang dikeluarkan di babak kedua dan berbagai pelanggaran yang memakan waktu, tapi Iis Permana hanya memberikan injury time 1 menit! Yang lebih ajaib lagi, Iis Permana menyudahi pertandingan saat injury time baru memasuki 50 detik dengan kondisi PSMS sedang menyerang dan bola hampir masuk di kotak penalti lawan!

Entah penjelasan apa yang logis terhadap tingkah wasit Iis Permana ini tapi saya barusan mengoprek beberapa arsip mengenai kinerja wasit ini di masa lampau dan tebak apa yang saya temukan.

Pada hari Sabtu 9 Oktober 2010, Iis Permana menjadi wasit pada pertandingan Persema Malang melawan Persibo Bojonegoro. Ia memberikan waktu 3 menit injury time dan ia menghadiahkan penalti kepada Persema saat waktu pertandingan menunjukkan 93:21!

Seusai pertandingan, pelatih Persibo Sartono Anwar murka dan mengatakan bahwa sebelum pertandingan ia menerima SMS yang menawarkan “bantuan” dari wasit. Karena ingin main fair dan tidak punya uang, ia tidak menerima tawaran tersebut. Setelah pertandingan yang hasilnya terkesan dipaksakan itu, wajar bila Sartono marah. Wasit Iis Permana dan kedua hakim garis pun dipanggil untuk diperiksa PSSI meski mungkin mereka hanya kongkow sambil makan gorengan bersama petinggi PSSI saat pemeriksaan.

Tingkah lain dari Wasit Iis Permana yang berhasil saya temukan adalah saat Bontang FC bertamu ke Sidoarjo melawan Deltras. Tim tuan rumah mendapat penalti pada menit 60 hanya karena Marcio Souza disenggol sedikit di dalam kotak penalti. Bodycheck biasa, bukan pelanggaran keras.

Manajer Bontang FC, Andi Satriya Adi Saputra geram dan mengatakan, ”Timnas Spanyol saja, asal wasit itu yang pimpin, ya menang Deltras.”

Pelatih Bontang FC, Fachry Husaini tak kalah kesal dan menggerutu, ” Sebelum laga wasit selalu bilang fair play, tapi wasit jangan fair play untuk tuan rumah saja. Sepakbola itu olahraga laki-laki, masa sedikit adu badan sudah free kick”

”Tadi, semua doa sudah saya ucapkan. Hanya satu yang tidak saya ucapkan, Wasit tersambar petir,” sambung Fachry.

Dengan sejarah seperti itu, kita dapat mafhum dengan keanehan wasit Iis Permana dalam pertandingan PSMS melawan PSAP Sigli hari ini. Mungkin memang ada pihak yang diuntungkan apabila PSMS tidak memperoleh kemenangan hari ini, oleh karena itu, injury time dibatasi 1 menit dan pertandingan disudahi pada detik ke-50 tepat saat Ayam Kinantan sedang menyerang.

Saat PSMS berlaga melawan tuan rumah Mitra Kukar hari Minggu nanti, mungkin saya tidak usah kaget dengan apa yang akan terjadi di lapangan.

Pangeran Siahaan

Sejak saya follow akun Twitter milik juru bicara Liga Primer Indonesia (LPI), Abi Hasantoso, sepertinya saya mendapat kesan yang salah mengenai liga profesional yang belum setahun berdiri itu. Karena selama ini tidak pernah tertarik untuk menonton pertandingan LPI di televisi, maka saya memutuskan untuk mencicipi langsung atmosfernya di Stadion Lebak Bulus kala Jakarta FC menjamu Persema Malang.

Saya sempat berpikir akan memarkir mobil di hipermarket seberang stadion sebelum ingat bahwa pertandingan LPI tidak akan mengundang animo massa sebesar pertandingan ISL. Maka tidak ada masalah untuk parkir di dalam area stadion. Memang terbukti sampai akhir pertandingan pun jalan keluar dari stadion sangat lengang.

Selembar uang lima puluh ribu saya tukar dengan tiket VIP (Gold Ticket, menurut istilah LPI) yang membawa saya masuk ke tribun tengah. Saya kira saya akan berbagi tribun dengan Jennifer Kurniawan dan deretan kembang stadion lainnya, tapi rupanya mereka ada di tribun VVIP, terpisahkan sekat dengan kami.

Anda bisa mendengar suara jarum jatuh.....

Tiger Ghoster, suporter loyal Jakarta FC

Bagi saya yang selalu menonton pertandingan sepakbola Indonesia yang riuh rendah dan sarat penonton, aneh rasanya berada dalam stadion yang minim penonton. Tribun kelas 1 terisi setengah, sedang tribun belakang gawang dihuni oleh suporter Jakarta FC yang menamakan dirinya Tiger Ghoster (Hantu harimau?). Tapi tribun VIP terisi penuh, rata-rata yang hadir adalah keluarga lengkap dengan anak-anak.

Sehari sebelum pertandingan Zen mengatakan bahwa atmosfer pertandingan LPI adalah pertandingan keluarga dan saya menemui hal itu benar adanya. Tidak ada potensi kekerasan suporter, tidak ada nyanyian dan seruan kasar, tidak ada lemparan botol, semua hadir untuk menonton sepakbola dan hanya itu. Maka orangtua bisa mengajak anak-anaknya untuk menyaksikan Irfan Bachdim, sang idola, dari dekat.

Sejak LPI pertama kali bergulir, hal pertama yang selalu ingin saya tanyakan kepada mereka adalah bagaimana strategi mereka untuk merebut hati suporter sepakbola Indonesia yang sudah memiliki tim sendiri, karena sebagus apa pun liga tidak berarti tanpa kehadiran penonton di stadion. Pertanyaan itu belum terjawab sampai sekarang, tapi dengan penuhnya tribun VIP dengan harga tiket yang lebih mahal dari yang biasa dibayar suporter, rasanya LPI harus lebih serius lagi menggarap segmen potensial mereka, golongan menengah dan keluarga.

Mbak, mbak, boleh minta foto gak?

Halo pak, jangan cemas gitu dong. Ada 78 pemilik suara kongres yang siap pasang badan untuk anda

Jakarta FC? Persema Malang? Orang ini Persija sampai mati

Suasana ”kekeluargaan” memang kental terasa pada partai hari itu. Para remaja perempuan dengan histeris meneriakkan nama Irfan Bachdim setiap bekas pemain FC Utrecht itu memegang bola. Anak-anak duduk manis di depan orangtuanya. Saat turun minum, para penonton menyerbu Jennifer Kurniawan untuk foto bersama. Bahkan polisi pun duduk santai di kursi sambil menghadap lapangan, tidak ada tensi dan ketegangan sama sekali.

Ekspektasi saya terhadap level kualitas permainan tidak muluk-muluk, jadi saya tidak begitu kecewa saat menyaksikan bagaimana permainan Jakarta FC. Bagaimana pun mereka adalah klub yang baru berdiri dan separuh dari anggota legiunnya baru jadi pemain profesional, kebanyakan anggota Angkatan Udara. Yang cukup mengganggu adalah bagaimana Persema bermain. Pemuncak klasemen adalah tim terbaik sebuah liga dan jelas bahwa masih banyak hal yang bisa ditingkatkan LPI dari sisi teknis.

Kiper Jakarta FC, Rahmat Nofri, bermain gemilang sepanjang pertandingan dengan beberapa kali melakukan penyelamatan spektakuler yang membuat frustrasi para pemain Persema. Seorang teman mengatakan bahwa sesungguhnya Rahmat adalah kiper cadangan karena kiper utama Jakarta FC kabur dari tim (Kabur?!).

Persema akhirnya memecahkan kebuntuan setelah striker asal Korea Selatan, Han Sang Min, memecah kebuntuan sesaat sebelum waktu normal habis. Bachdimania pun tidak merasa rugi telah membayar mahal tiket.

Penyelamat Persema dan Bachdimania

Bekas penyerang Persija, Emmanuel de Porras, hampir menyamakan kedudukan di injury time setelah tendangan jarak jauh dengan sisi kaki sebelah luar menaklukkan kiper Persema, sayang tendangannya hanya membentur mistar.

Satu pemain Jakarta FC mencuri perhatian saya, Salim Ohorella yang bernomor punggung 11. Ia bermain sebagai bek kiri sore itu, tapi dengan modal dribble dan akselerasi ciamik, beberapa kali ia menerobos hingga kotak penalti lawan. Jika saya seorang pencari bakat, maka Salim Ohorella akan dapat rekomendasi top dari saya.

Absennya atmosfer pertandingan yang gegap gempita karena suporter cukup mengganggu saya karena itu adalah alasan utama saya menonton sepakbola Indonesia. Tapi, apakah saya akan menonton lagi pertandingan LPI? Tentu saja. Ada faktor kenyamanan dan nuansa ”kekeluargaan” yang ingin saya cicipi lagi saat menonton sepakbola. Tapi jika saya ingin memacu adrenalin dan menggidik bulu kuduk, maka saya akan menonton ISL.

Pangeran Siahaan

Kerumunan orang ini bukan lagi kebelet, mereka sedang menunggu Irfan Bachdim keluar dari ruang ganti

Dalam sebuah tatanan negara demokrasi, sejatinya kuasa ada di tangan rakyat yang melakukan kegiatan politik lewat partai-partai politik sebagai kendaraannya. Lewat pemilihan umum, para pemimpin dan legislator terpilih melalui suara rakyat. Sebagaimana pun klise terdengar, ”dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat” mungkin benar adanya pada level tertentu. Sebagai pemberi mandat kekuasaan, rakyat bisa mengontrol penguasa yang mereka pilih seandainya tidak memenuhi harapan, yang paling mudah dengan tidak memberi suara lagi di pemilu selanjutnya. Secara umum rakyat punya kekuatan besar. Sayangnya, dunia sepakbola Indonesia bukan negara demokrasi.

Suporter sepakbola Indonesia sejatinya tidak berdaya. Jika mengandaikan badan sepakbola tertinggi Indonesia, PSSI, sebagai sebuah negara, maka suporter sebagai rakyat jelata tidak punya kuasa apa-apa. Kita, suporter sepakbola Indonesia adalah entitas terbesar dalam semesta sepakbola negara ini, tapi kita adalah makhluk terlemah di hadapan segelintir elit yang bertarung memperebutkan piring kekuasaan di puncak. Kita tak punya kuasa, tak punya daya. Suporter sepakbola adalah proletar mayoritas yang tidak diikutsertakan saat borjuis minoritas sedang asyik bermain.

Nurdin Halid, sang mamon besar itu tidak akan kembali lagi ke singgasananya, tapi pergerakan perbaikan sepakbola Indonesia jauh dari usai karena yang sedang terjadi sekarang adalah sindrom pasca revolusi, semua pihak beradu otot untuk naik ke puncak, termasuk orang-orang yang baru menumpang belakangan di gerbong revolusi ini. Nurdin Halid telah jatuh, tapi masalah malah berlipat ganda.

Ada 32 nama yang terdaftar dan siap bertarung memperebutkan kursi ketua umum PSSI yang baru, berarti ada 32 kepentingan berbeda yang siap berbenturan. Komite Normalisasi yang dibentuk dengan harapan sebagai mediator transisi kekuasaan di PSSI sejauh ini belum terlihat efektif. Kubu Arifin Panigoro – George Toisutta masih ngotot untuk ikut pemilihan ketua umum PSSI meski keputusan FIFA menyatakan sebaliknya.

Kelompok 78 (pemilik 78 suara kongres PSSI) kukuh mendukung AP-GT dan siap pasang badan. Jangan lupa, 78 orang ini adalah 78 orang sisa rezim terdahulu yang melompat keluar naik sekoci saat perahu induknya akan tenggelam. Belum lagi ada KONSEN, sebuah komite independen untuk rekonsiliasi sepakbola nasional. Keadaannya riuh, mirip tawuran massal, sulit membedakan mana lawan dan kawan, salah lempar batu bisa kena teman sendiri.

Saat para elit di menara gading sibuk baku hantam, apa yang terjadi pada suporter di level akar rumput? Tidak ada, karena mereka sibuk berpesta tapi kita, suporter, tidak diundang. Nama kita tidak pernah ada dalam daftar tamu karena mereka menganggap kita hanya pantas ada di jalanan untuk demonstrasi. Mereka bisa memakai aksi kita sebagai dasar argumen, ”lihat aksi suporter, rakyat Indonesia menginginkan perubahan sepakbola nasional”, tapi kepentingan mereka terhadap kita sebenarnya tak lebih dari itu.

Suporter sepakbola Indonesia memang tak diinginkan untuk maju, apalagi bersatu. Maka selamanya kita akan jadi penonton. Jadi kerbau yang dicucuk hidungnya yang manut saja ke mana pun ditarik. Selamanya kita akan puas hanya dengan membayar tiket pertandingan dan menguras peluh keringat tanpa punya pengaruh terhadap olahraga yang kita cintai ini. Suporter sepakbola Indonesia adalah mayoritas yang dilemahkan (weakened majority), golongan jelata yang dianggap tidak tahu apa-apa.

Sampai kapan?

Karena tidak adanya upaya dan keinginan dari elit untuk mendidik para suporter sebagai bagian terbawah dari piramida sepakbola Indonesia, maka para suporter harus mendidik dirinya sendiri. Program-program edukasi kepada sesama suporter harus digalakkan. Mereka harus diajari untuk sadar dan awas akan situasi sepakbola Indonesia di level elit. Ini penting, karena ketidaktahuan kita adalah kegembiraan mereka.

Kelompok-kelompok diskusi harus digalakkan, para suporter harus memperkaya khazanah masing-masing dengan pemikiran progresif. Jika dalam satu daerah hal ini bisa terjadi, niscaya efeknya bisa merembet ke daerah lain.

Selain itu, para suporter harus dilibatkan (atau melibatkan diri) pada lingkup kekuasaan sepakbola Indonesia, dalam hal ini PSSI. Peraturan hanya mengizinkan perwakilan klub dan pengda yang memiliki suara untuk ikut dalam kongres.

Suporter seharusnya dilibatkan dalam proses penentuan kekuasaan melalui mekanisme yang bisa dipikirkan lebih lanjut nanti. Tapi keterlibatan suporter penting adanya karena kita adalah bagian hutan rimba sepakbola Indonesia. Selain itu, suporter harus menciptakan kelompok-kelompok penekan (pressure group) sebagai alat kontrol kekuasaan dan media suara suporter.

Sekarang saatnya suporter sepakbola Indonesia untuk bangkit bersatu dan memperdengarkan suaranya. Sekarang, atau selamanya kita hanya jadi penonton, jadi kerbau yang diperas keringatnya, yang dikuras uangnya.

Satu kelas atas satu bangsa yang tidak mampu melemparkan peraturan-peraturan kolot serta perbudakan dengan perantaraan revolusi, niscaya musnah atau ditakdirkan menjadi budak buat selama-lamanya” – Tan Malaka, Massa Actie.

Pangeran Siahaan

Suporter bersatu tak bisa dikalahkan, tapi mengapa lebih sering bentrok satu sama lain? Thanon Aria Dewangga menuliskan pemikirannya.

Di alam baka Josip Broz Tito mungkin menangis. Bagaimana mungkin negara sebesar Yugoslavia yang dengan susah payah dibangun pecah begitu saja? Berawal dari masalah pemilihan lokal yang berujung pada kekerasan berakibat negara besar ini pecah menjadi beberapa negara. Banyak faktor yang membuat negara ini runtuh. Diawali dengan meninggalnya pemimpin pemersatu legendaris kelahiran Kroasia Josip Broz Tito, kondisi perekonomian yang carut marut awal 80-an, desentralisasi yang kebablasan dan satu hal yang mungkin terlupa oleh kita semua adalah pertentangan antar etnis yang menjalar salah satunya melalui sepakbola (Ingat peristiwa kerusuhan Dynamo Zagreb vs Red Star Belgrade tahun 1991).

Masih segar dalam ingatan kita kerusuhan sepakbola besar yang dicatat oleh sejarah terjadi di Zagreb, Kroasia. Saat itu tahun 1991 bertanding Dynamo Zagreb melawan Red Star Belgrade. Pertandingan ini termasuk pertandingan klasik dalam sejarah sepakbola Yugoslavia saat itu karena melibatkan dua klub besar yang berasal dari etnis yang berseteru dari masa lampau dan mempunyai basis pendukung fanatik yang tidak pernah akur. Kerusuhan akhirnya pecah dan pakar sejarah Yugoslavia meyakini pertandingan ini merupakan salah satu faktor yang berperan besar membuat Yugoslavia pecah seperti sekarang. Terjadi karena terjadi pembiaran oleh pemerintah Yugoslavia terhadap ketegangan antar pendukung sepakbola yang tidak pernah diupayakan untuk diselesaikan.

Indonesia mempunyai karakteristik yang sama dengan Yugoslavia. Negara yang besar secara geografis, mempunyai pemimpin besar kharismatis masa lalu, kondisi perekonomian yang timpang dan multietnis serta maniak sepakbola. Rasanya pernah kita mendengar berbagai ramalan beberapa saat setelah reformasi bergulir tahun 1998 dimana tidak lama lagi Indonesia akan bernasib sama seperti Yugoslavia. Alhamdullilah hal itu tidak terjadi karena kita masih percaya bahwa nasionalisme kita masih kuat. Namun demikian kita tidak boleh lengah dan tetap waspada akan bahaya laten separatisme yang mungkin bisa masuk lewat berbagai meia, termasuk olahraga.

Rasanya kita cukup berbangga bahwa ramalan banyak pakar mengenai separatisme Indonesia tidak terbukti. Namun demikian ada satu celah yang perlu mendapatkan perhatian khusus yaitu pertentangan antar supporter klub sepakbola di Indonesia. Ada gesekan antara pendukung Persib dengan Persija, Persebaya dengan Arema, Persis dengan Persebaya dan lain-lain. Bukan tidak mungkin ada upaya dari oknum yang tidak bertanggung jawab yang berupaya memecah belah bangsa Indonesia melalui sepakbola.

Dulu tenang rasanya kita menonton sepakbola di Jakarta atau dimana-mana. Betul seringkali ada adu ejek atau saling mencerca antar supporter namun tidak pernah rasanya mendengar ada kasus pemukulan yang bersifat masif apalagi sampai meninggal dunia. Kita berseteru selama pertandingan namun damai setelah selesai atas nama olahraga. Sekarang? Surat kabar tidak pernah lupa menampilkan beberapa kasus kekerasan dalam sepakbola nasional. Bahkan anak-anak kecil sejak dii sudah didoktrin untuk membenci kesebelasan tertentu, bahkan sudah mulai SARA karena mendiskreditkan suku-suku tertentu.

PSSI seharusnya cepat bertindak. Segera berinisiatif menjadi mediator untuk membangun rasa kedamaian diantara kelompok-kelompok supporter di Indonesia. Namun sayangnya mereka sepertinya sudah buta dan tuli. Sepertinya terjadi pembiaran kerusuhan supporter. Nyaris tidak ada action. Bila PSSI sudah tidak punya nurani untuk membenahi kerusuhan supporter, saya pikir KONI dan Kementerian Pemuda dan Olahraga dapat mengambil alih peran ini atas nama negara dan pemerintah.

Perlu ada kekhawatiran kemungkinan meluasnya kerusuhan supporter menjadi ke arah separatisme. Rasanya memang hal yang sepele dan rutin dalam konteks kacamata sepakbola Indonesia, namun bukan tidak mungkin ada upaya dari pihak luar yang mencoba memecah belah Indonesia melalui sepakbola setelah gagal melalui organisasi separatisme atau upaya ekonomi. Semoga apa yang terjadi di Yugoslavia masa lalu tidak terjadi di negara kita

Dari stadion mewah di Eropa hingga lapangan kampus di Jatinangor, kenikmatan sepakbola tidak mengenal kelas. Tulisan kedua Mahir Pradana di laman ini menceritakan serunya sepakbola dalam level yang sederhana sekalipun.

Ingar-bingar sepakbola Indonesia di beberapa hari terakhir ini memang dahsyat. Beberapa partai seru menyita perhatian publik sepakbola tanah air, terutama karena liga-liga di Eropa sedang libur, diselingi jadwal international call-up. Terhitung, rating televisi lokal sangat tinggi menonton parta-partai seru Liga Super Indonesia, antara lain, Persib vs Persipura, Arema vs Sriwijaya, dan juga beberapa pertandingan Liga Primer Indonesia.

Namun, bagi para mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) jurusan Hubungan Internasional (HI) di Universitas Padjadjaran (Unpad), panasnya dunia sepakbola nasional bertambah satu ruang lingkup lagi. Dalam sebulan terakhir, yaitu sejak minggu ketiga Februari sampai minggu ketiga Maret 2011, perhatian mereka terpusat di seputar persaingan antar-tim sepakbola di Pekan Olahraga Antar Angkatan (disingkat PORANG). Event ini memang hanya merupakan event internal tahunan yang diselenggarakan di ruang lingkup mahasiswa jurusan ini saja. Namun, ketatnya persaingan sama sekali tidak kalah dari sepakbola amatir di mana pun. (Bisa dilihat dari foto-foto yang saya lampirkan)

Lengkap dengan wasit, layaknya kompetisi profesional

Karena belum ada shelter, para pemain cadangan terpaksa duduk di bawah

 

 

Berhubung kampus HI berlokasi di Jatinangor, yaitu kawasan pendidikan yang terletak sekitar 30 kilometer di luar kota Bandung, maka seluruh pertandingan sepakbola di event PORANG ini dilaksanakan di sana. Khusus untuk cabang olahraga sepakbola, pesertanya ada 6 tim, yaitu dari angkatan 2006 sampai 2010, plus angkatan 2005 ke atas yang disebut tim ‘Oldstar’ (tua-tua tapi statusnya tetep bintang, hehehe).

Saya sendiri merupakan mahasiswa jurusan HI angkatan 2003, jadi otomatis tergabung ke dalam tim Oldstar. Saat menerima informasi mengenai dilaksanakannya event PORANG tahun melalui status Twitter salah seorang teman, saya tidak pikir panjang lagi. Saya harus ikut! Agar tidak selamanya hanya bisa jadi penonton pertandingan bola di televisi, hehehe. Beberapa hari kemudian, saya sudah mendapati diri saya kembali ke kampus Unpad Jatinangor. Namun, kali ini bukan untuk kuliah menuntut ilmu, melainkan untuk bermain sepakbola.

Pada pertandingan pertama, kami menghadapi tim 2006. Begitu tiba di lokasi pertandingan, saya terkesima dan takjub. Di tengah-tengah kampus Unpad ternyata telah dibangun sebuah stadion yang tergolong megah untuk ukuran lingkungan kampus. Yang bikin saya geleng-geleng kepala, ternyata stadion tersebut memiliki fasilitas yang tergolong lumayan. Bahkan saya yakin, stadion yang teadang dikenal dengan nama GOR Pakuan tersebut lebih bagus dari beberapa stadion ‘beneran’ yang kelihatannya sangat kacrut jika dilihat di TV. Rumput lapangan terawat dengan baik. Lapangannya dilengkapi tiang gawang dan jala gawang sesuai standar lapangan profesional. Tribun penonton dibangun dengan fasilitas lumayan mewah, lengkap dengan seat bersandaran punggung, meskipun mungkin kapasitasnya hanya memuat 500-an orang penonton. Ruang ganti dan shower juga tersedia. Yang kurang mungkin hanya lampu stadion, yang katanya masih dalam tahap pengerjaan. Bisa dibilang, dalam hal ini, rektor Unpad melakukan pekerjaannya dengan baik dalam hal memfasilitasi kebutuhan mahasiswa dalam berolahraga.

Penulis artikel ini konon pemalu, maka ia pun menutupi wajahnya dengan rompi. Eh, itu yang nomor dua dari kanan lagi ngapain?

 

 

Ketika saya sempat ngobrol dengan bapak penjaga stadion pun, terdapat sebuah fakta menarik. Katanya, tim kebanggaan Jawa Barat, Persib, sempat beberapa kali mengajukan proposal menggunakan lapangan Stadion Unpad tersebut untuk latihan. Hanya saja, pihak manajemen stadion menolak karena tidak ingin lingkungan kampus dipenuhi gerombolan massa. Mereka menginginkan suasana akademik tetap terjaga di sekitaran lingkungan kampus, sekaligus memelihara fasilitas kampus agar tidak rusak oleh orang-orang tak bertanggung jawab.

Saya sih hanya bisa menghela napas, sesal sekaligus lega. Heuh, sewaktu zaman saya kuliah dulu, belum ada fasilitas stadion sebagus ini. Yang ada hanya lapangan keras tanpa rumput dan berbatu, serta tentu saja, belum ada tribun penonton. Tapi yang jelas, saya pribadi merasa puas dan bersyukur diberi fasilitas selengkap ini, meskipun baru bisa menikmatinya seteah berstatus ‘alumni’ Unpad. Singkat kata, setelah menjalani beberapa pertandingan di event PORANG jurusan HI tersebut, saya cukup puas juga karena akhirnya bisa kembali merasakan ketatnya kompetisi sepakbola. Di sini, saya bisa berbangga karena langsung bermain, bukan hanya sekadar jadi penonton atau beradu kekuatan di konsol game Playstation.

Oh ya, setelah bergulir dalam sistem setengah kompetisi selama hampir sebulan, event turnamen sepakbola PORANG itu sendiri akhirnya menghasilkan angkatan 2007 sebagai juaranya. Tim saya dan teman-teman saya sendiri sesama alumni, harus puas menjadi runner-up alias juara dua. Not bad, for old team. Hehehe.

Apapun level pertandingannya, kegembiraan sepakbola itu universal

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.