Anda punya akun Twitter? Siapa yang anda promosikan lewat hashtag #FF (Follow Friday) hari ini? Saya menominasikan @TheReal_Abi_LPI untuk anda follow agar tahu apa yang boleh anda lakukan dan apa yang tidak boleh anda lakukan dalam corporate PR.
Anda tahu ada yang salah dalam strategi humas anda saat akun Twitter yang sejatinya diharapkan menjadi jembatan penghubung bagi LPI (Liga Primer Indonesia) dengan masyarakat malah membuat banyak orang marah. Seorang juru bicara (jubir) lazimnya adalah seseorang dengan kemampuan komunikasi diplomatis, yang menerima kritik dengan simpatik dan menyerang tanpa menyakiti. Tapi rupanya akun @TheReal_Abi_LPI menganut mazhab yang lain.
Kita tahu memang LPI didirikan dengan semangat pembaruan sepakbola Indonesia, salah satunya soal penghapusan ketergantungan dana APBD dalam pengelolaan klub sepakbola. Tapi menjadi konyol dan tidak bijak jika akun @TheReal_Abi_LPI berulang kali memprovokasi klub-klub ISL (Indonesian Super League) lewat ejekan-ejekan yang ia lontarkan terhadap klub-klub berbasis APBD. Akun @TheReal_Abi_LPI yakin sekali bahwa pelarangan APBD akan membuat LPI satu-satunya kompetisi liga yang bertahan di Indonesia. Kesimpulan yang prematur tentu saja.
Saya tidak tahu sudah berapa tahun @TheReal_Abi_LPI bergelut dalam dunia sepakbola sampai ia ditunjuk menjadi juru bicara, tapi dari berbagai kalimat tidak simpatik yang ia cetuskan di Twitter, nampak ia belum mengerti bahwa bagi suporter, klub adalah identitas yang akan dibela sampai mati. Oleh sebab itu berbagai provokasi yang ia lakukan, termasuk me-retweet kalimat yang ofensif, menjadikannya target kemarahan.
Bukannya tidak ada yang mencoba mengingatkan @TheReal_Abi_LPI soal pendekatan komunikasinya yang agresif itu, tapi nyatanya banyak yang mencoba berdiskusi dengannya malah berakhir dengan pemblokiran di Twitter, terlebih bila ia tidak lagi punya argumen untuk diberikan kepada lawan debatnya.
Saya percaya bahwa untuk menjadi menyenangkan di Twitter jauh lebih mudah daripada memberikan balasan provokatif yang ujung-ujungnya menjadi sasaran kemarahan. Maka pertanyaannya untuk apa @TheReal_Abi_LPI capek-capek melakukan gaya komunikasinya yang tidak simpatik itu?
LPI adalah kompetisi seumur jagung yang sedang dalam tahap mengenalkan diri. Ada banyak hal yang saya tidak sependapat dengan LPI, terlebih soal transparansi kepemilikan klub dan nama-nama di balik konsorsium pemodal kompetisi ini, tapi saya percaya penghapusan dana APBD dari sepakbola adalah hal yang harus didukung.
Dalam fase introduksi kepada masyarakat ini, menjadi aneh bagi LPI jika penghubung utama mereka kepada target pasar yang mereka sasar adalah @TheReal_Abi_LPI dengan segala agresivitasnya.
Bagaimana bisa LPI mengambil hati masyarakat Indonesia dan suporter sepakbola lainnya jika kesan yang ditampilkan @TheReal_Abi_LPI sebagai juru bicara adalah arogan dan pencibir?
Kenyataan bahwa dari semua akun Twitter punggawa teras LPI hanya akun @TheReal_Abi_LPI yang mencitrakan demikan menandakan bahwa arogansi sesungguhnya bukan esprit de corps dari kompetisi ini. Ironisnya, ia yang berpredikat sebagai juru bicara-lah yang memberikan kesan itu.
Semangat perubahan LPI direfleksikan dalam motto “Change The Game”, tapi belakangan banyak suara di Twitter yang menghendaki “Change The Jubir” karena ketidakpuasan akan gaya komunikasi si jubir. Sesungguhnya saya tidak melihat bahwa ia akan dimutasi dari posnya tersebut dalam waktu dekat, tapi setidaknya akan bermanfaat bila LPI menyisihkan dana konsorsiumnya yang katanya miliaran Rupiah itu untuk melakukan training pemakaian media sosial.
















