Feeds:
Posts
Comments

Setelah sekian lama tidak ada entri baru di blog berdebu ini, Aditya Nugroho dari Football Junkie menuntaskan kerinduan anda

Playmaker. Trequartista. Fantasista. Atau apapun sebutannya dalam sepakbola adalah seorang pemain yang memiliki karakteristik spesial. Spesial karena lewat pemain di posisi inilah sering kali permainan sebuah tim bergantung. Pemain ini menghubungkan lini depan dan belakang, biasanya bernomor punggung 10, memiliki visi yang jelas dalam permainan dan utamanya adalah mempraktekkan strategi pelatih kedalam lapangan. Pemain seperti Johan Cruyff, Zinedine Zidane maupun Maradona seringkali sendirian menentukan hasil pertandingan timnya. Pemain ini adalah roh dari tim, pemain ini adalah strategi dari tim itu sendiri. Itulah playmaker pada tingkat tertingginya.

Ada juga pemain yang menentukan alur permainan tim. Bermain cepat, lambat, direct maupun dari kaki ke kaki layaknya seorang dirigen dalam simfoni musik. Andrea Pirlo, Xavi Hernandez, Xabi Alonso adalah contoh dari sedikit pemain tersebut. Bahkan ada sebutan lazy wizard, sebutan untuk seorang pengatur serangan yang malas berlari tapi punya skill luar biasa seperti Juan Roman Riquelme ataupun almarhum Socrates.

Di Indonesia, pemain dengan posisi dan peran seperti maestro diatas sebenarnya cukup banyak dihasilkan pada tahun 80-90an, hanya dengan tingkatan prestasi dan kebintangan yang berbeda dari playmaker-playmaker dunia tersebut. Terhitung Yoesoef Bachtiar, Fachry Husaini, Ansyari Lubis, Francis Wewengkang hingga Eduard Ivakdalam. Mereka adalah pengatur permainan papan atas Indonesia pada masa jayanya.

Tetapi dalam 10 tahun terakhir ini, pemain Indonesia berkarakter demikian sangat langka. Tercatat hanya Firman Utina, Ahmad Bustomi dan kini Egi Melgiansyah saja yang memiliki kemampuan mengatur permainan. Mantan pelatih Alfred Riedl bukannya tidak menyadari permasalahan ini. Dia mengeluhkan terbatasnya pemain lokal berposisi playmaker di kompetisi Liga Indonesia.

Anehnya, ini adalah fenomena yang mulai terjadi sejak kepemimpinan rezim sebelum sekarang. Posisi pemain-pemain ini di klub Liga Indonesia sudah nyaman diduduki pemain-pemain asing. Zah Rahan, Danilo Fernando, Ronald Fagundez, Milijan Radovic sampai Robertino Pugliara semuanya bukan pemain lokal. Gelandang-gelandang lokal kebanyakan berposisi sebagai gelandang bertahan yang berkarakter keras, bukan karakter flamboyan, karena memang posisi pengatur permainan seolah sudah dipatenkan untuk pemain asing. Ada juga pendapat kerasnya permainan di Indonesia juga menjadi faktor terkikisnya peran seorang fantasista. Keras karena karakter atau keras karena wasit sering membiarkan pelanggaran berbahaya terjadi tanpa dihukum? Tanya kenapa.

Seperti apapun strategi tim, dan se-rigid apapun formasi sebuah tim, peranan playmaker tetaplah penting. Manchester United walaupun terkenal memberikan nomor 10nya kepada striker utama, tetap merindukan Paul Scholes yang memiliki kemampuan memegang kendali permainan. Seperti halnya Jerman yang mampu memaksimalkan Bastian Schweinsteiger dan Mesut Ozil di akhir era Michael Ballack.

Untuk itu semoga klub-klub Indonesia, khususnya ISL berani memberikan kepercayaan posisi strategis ini kepada pemain lokal. Hanya Firman, Bustomi dan Egi sebagai output dari kompetisi dalam bentuk playmaker bukanlah hal baik bagi persepakbolaan Indonesia, khususnya tim nasional. Kita butuh playmaker lokal berkualitas internasional. Malaysia sekarang punya Baddrol dan Safiq. Indonesia tentu butuh sesosok playmaker yang bisa bermain di wilayah setengah lapangan lawan, sehingga serangan tidak melulu melalui long-pass dari full-back ataupun gelandang bertahan, serta tidak sporadis mengandalkan kecepatan lari striker. Permainan seperti itu jelas sudah usang, dan pastinya tidak menarik dan terbaca lawan.

Pemain tidak bisa disalahkan, karena timnas yang kita saksikan adalah produk dari kompetisi. Apa yang kita saksikan bersama adalah cerminan kompetisi kita. Permainan keras, tekel berbahaya, umpan lambung, serangan sporadis, mental labil adalah pemandangan yang akan kita tetap saksikan, dan kekalahan akan tetap kita akrabi. Kata-kata pelipur lara akan terus jadi sahabat kita, dan adik-adik kita penggemar sepakbola dan calon penerus penghuni timnas hanya akan bisa mendengar cerita pedih kekalahan senior-seniornya. Jika ingin melihat pemain dengan visi sebaik Paul Scholes, umpan seakurat Andrea Pirlo dan daya jelajah sejauh Ramires dan punya prestasi secemerlang mereka, atau perkembangan sepesat timnas Jepang, kita harus merubah semuanya. Merubah sikap dan pendekatan, dimulai dari merubah kompetisi.

“Indonesia masih bisa lolos ke Piala Dunia 2014!”, “Indonesia bebas korupsi tahun depan!” “Singapura membekukan aset koruptor Indonesia”, “Syahrini berhenti memakai make-up”. Minuman apa pun yang anda pesan, saya mau segelas juga.

Kita kalah postur! Dari zaman ompung saya masih menerabas hutan Tarutung sampai sekarang, tinggi badan rata-rata orang Indonesia tidak pernah berubah, demikian juga dengan tinggi rata-rata pemain tim nasional kita. Maka alangkah tidak bijaknya menyalahkan postur badan ketika Javad Nekounam sukses dua kali menyundul bola yang merobek jala Markus Horison kemarin.

Markus sebenarnya bermain baik, terlebih di babak pertama saat berulang kali ia menyerobot umpan-umpan silang Iran yang tahu benar bahwa lawan mereka tidak diberkahi dengan postur menjulang.

Untuk tim sedominan Iran, sebenarnya mereka cukup cemen karena kurang garang di dalam kotak penalti. Di babak pertama, strategi offside Indonesia sukses berulang kali menjebak Iran, kecuali satu kali saat Zulkifli Syukur tertinggal di belakang layaknya pemudik yang ketinggalan kereta sapu jagat. Dari 4 pemain bertahan Indonesia, Zulkifli rasanya yang paling mengkhawatirkan semalam. Terlihat grogi saat kehilangan bola, tak heran Iran berulang kali menyerang lewat sisi kanan pertahanan Indonesia.

Kita memang kalah postur, tapi daripada mengutuk tinggi badan pemain kita yang pas-pasan, bukankah lebih baik mencari cara untuk mengatasi kekurangan itu? Tadinya saya mengharapkan Indonesia akan bermain taktis dengan bola pendek sebagai kompensasi tinggi badan, tapi para gelandang Indonesia kerap kalah bertarung di tengah sehingga lebih suka mengirim bola langsung ke depan.

Strategi route one macam itu sebenarnya tidak sepenuhnya inefektif karena Cristian Gonzales mempunyai kemampuan menjaga bola yang tidak dimiliki striker Indonesia lainnya. Gonzales juga yang set-up satu-satunya peluang Indonesia di babak pertama saat ia menyodorkan bola kepada Bambang Pamungkas yang tendangannya sayang masih melambung.

Tanpa adanya Boaz Solossa, Indonesia kehilangan variasi serangan. Apalagi Firman Utina sebagai dirigen gagal bersinar karena pressing ketat dari Iran. Dari kedua sayap Indonesia, M. Ilham terlihat lebih menjanjikan saat penetrasinya di kanan beberapa kali merepotkan bek lawan. Tapi capek-capek melewati bek lawan akan sia-sia jika keputusan terakhirnya adalah melepaskan umpan lambung ke kotak penalti yang dengan senang hati dihalau oleh bek-bek Iran.

Dua kali kebobolan lewat set-piece di babak kedua, postur badan tidak sepenuhnya bisa dijadikan kambing hitam, terlebih gol kedua. Aturan elementer bertahan dari bola mati adalah pilih pemain mana yang akan dijaga dan tempel terus kemana ia bergerak seperti Ashanty menempel Anang. Nyatanya, Nekounam bisa bergerak bebas dan menyundul bola tak terkawal.

Pelatih Wim Rijsbergen mencoba mengorek asa dengan memasukkan Irfan Bachdim di babak kedua, tapi yang membingungkan, ia menarik M Ilham yang cemerlang untuk memberi tempat bagi Tendangan Dari Langit. Butuh 80 menit bagi Rijsbergen untuk meyakini bahwa sudah saatnya Firman Utina diganti dengan Oktovianus Maniani. Saya pikir Okto bisa dimasukkan lebih cepat usai ketinggalan karena toh lini serang kita tak jalan.

Kredit patut diberikan pada Bambang Pamungkas dan Cristian Gonzales yang berulang kali terlihat ingin memainkan bola pendek satu-dua sentuhan walau berulang kali juga gagal. Ini jauh terlihat lebih masuk akal dibanding deretan umpan lambung yang sia-sia ke kotak penalti.

Ketiga lawan Indonesia di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia ini semuanya dari jazirah Arab dengan postur yang superior. Apakah kita harus berserah pada kenyataan fisiologis yang menyebabkan sehari sebelum pertandingan para wartawan sepakbola diyakini telah menulis template artikel, “Kita kalah postur dari <masukkan nama tim lawan di sini>”.

Kita adalah negara yang gemar membajak, dari zaman kartu telepon magnetik, DVD hingga jailbreak iPad. Orang Indonesia selalu menemukan celah untuk menembus proteksi/regulasi apa pun yang dirasa membatasi. Tugas Wim Rijsbergen (dan siapa pun pelatih tim nasional) adalah menemukan cara untuk “membajak” tinggi badan. Postur lawan selalu menyulitkan kita. Mencari cara untuk mengakali keterbatasan lebih berguna dibanding menyerah pada takdir tinggi badan.

 

 

 

 

 

 

Aldhi Febrianto menumpahkan uneg-unegnya soal pemecatan mendadak Alfred Riedl sebagai pelatih tim nasional Indonesia

Kemarin sore (Rabu 13 Juli) saya sedang iseng gak ada kerjaan di rumah. Seperti biasa, akhirnya saya hanya buka – buka timeline Twitter saya. Ada satutweet dari @detikcom yang berbunyi “Riedl Bukan Lagi Pelatih Timnas Indonesia” beserta link beritanya. Pertama saya baca biasa saja. Tapi kemudian berpikir “Riedl dipecat??!!”. Saya sangat terkejut

Berita itu kemudian diikuti tweet-tweet berita berikutnya yang lebih mendetail.

Alasan pemecatan Alfred salah satunya adalah untuk “Penyegaran”. Ya, kata itu yang keluar dari mulut Bapak Djohar Arifin selaku ketua PSSI yang baru. Penyegaran? Apa yang mau disegerin coba? Dan apakah memecat pelatih di H – 11 pertandingan Pra Piala Dunia akan membuat tim menjadi segar?

Kemudian tertulis juga bahwa PHK terhadap Alfred juga disebabkan oleh kontrak beliau yang tidak jelas. Alfred mengikat kontrak terhadap individu (yang kabarnya adalah salah satu pengusaha terkaya di dunia yang sering berkecimpung di dunia sepakbola nasional, anda tahulah siapa.) dan bukan terhadap PSSI. Jadi, pengurus PSSI yang baru tidak dapat memeriksa keabsahan kontrak itu, kontrak itu menjadi tidak jelas.

Eaaaa… kok jadi gini? Apakah masalah ini tidak bisa ditunda sampai sesudah pertandingan Pra Piala Dunia Melawan Turkmenistan? Timnas U-23 yang sudah dipersiapkan jauh – jauh hari saja masih keok di Pra Olimpiade (sama Turkmenistan juga) apalagi sekarang pakai ganti pelatih di tengah jalan segala ( H – 11 men..)?

Apakah PSSI kurang mengapresiasi jasa Alfred (Beliau lebih suka dipanggil Alfred, daripada Riedl)? Karena timnas yang dipoles oleh beliau, timnas mampu bermain cantik. Animo masyarakat Indonesia terhadap timnas pun menjadi gila. Pertandingan AFF Cup timans Indonesia selalu dibludaki oleh suporter, bahkan sampai ada (banyak) yang melawat ke Malaysia saat timnas bermain disana. Sedikit banyak ini adalah jasa Alfred. Bukankah itu adalah rapor pekerjaan yang memuaskan?

Untuk menukangi timnas di dua laga PPD, PSSI menunjuk Wim Rijsbergen, yang sebelumnya menukangi PSM Makassar di LPI. CV nya sih lumayan oke, pernah melatih beberapa klub Eredivisie dan menjadi asisten pelatih Leo Beenhakker saat menukangi Trinidad-Tobago di Piala Dunia 2006. Okelah. Hanya, dalam waktu 11 hari dan dengan pemain yang bukan pilihannya (Alfred sudah memanggil pemain untuk PPD) bisakah dia meramu komposisi tim yang oke?

Ada kabar lagi bahwa Alfred Riedl mengaku meneken kontrak bersama PSSI, bukan ke individu seperti yang dituduhkan. Dan beliau ingin mengajukan kasus ini ke FIFA. Duh, ada – ada saja ya masalah di sepakbola kita.

Walaupun begitu, negara kita pernah dibuat terpesona oleh pekerjaan Alfred. Beliau hampir membawa kita ke mimpi yang tertinggi. Kekalahan di final AFF kemarin juga bukan kesalahan beliau sepenuhnya (bukan salah dia sama sekali malah menurut saya). Tapi bila pemecatan ini adalah hal terbaik bagi kedua belah pihak, saya (dan mungkin seluruh rakyat Indonesia) hanya ingin mengucapkan..

Terima Kasih Opa Alfred Riedl :)

Setelah sekian lama kering dari artikel kiriman, Indonesian Football Diary dengan senang hati memuat tulisan dari Sirajudin Hasbi soal kompetisi sepakbola amatir di level daerah yang sebetulnya memiliki potensi peran baik dalam pembinaan pemain.

Ketika Liga top Eropa berhenti sejenak memutar roda kompetisi untuk memberikan rehat bagi para pemain profesional, sepakbola sejatinya tak pernah benar – benar berhenti. Saat kompetisi yang diikuti oleh klub – klub sepakbola profesional istirahat, negara menggantikan peran mereka di waktu senggang untuk mengikuti kejuaraan internasional. Tahun ini setidaknya ada lima perhelatan besar di rentang bulan Juni – Juli. Copa America kejuaraan untuk negara – negara di Amerika Latin, Piala Dunia Wanita yang berlangsung di Jerman, Gold Cup sebagai kompetisi tertinggi di kawasan Amerika Utara, Tengah, dan Karibia yang diselenggarakan di Amerika Seikat, Piala Eropa U – 21 yang dihelat di Denmark, serta Piala Dunia U – 17 di Meksiko.

Kejuaraan tersebut memang sudah diatur sedemikian rupa hingga tak saling mengganggu kepentingan klub dan pemain. Kompetisi semacam ini juga memanjakan para pecinta sepakbola di seluruh dunia. Mereka yang sudah kadung jatuh cinta tak perlu cemas kehilangan tontonan sepakbola kelas dunia karena masih banyak kejuaraan sepakbola di dunia. Setali tiga uang dengan sepakbola dunia, dalam lingkungan domestik pun kita masih memutar roda kompetisi saat liga nasional telah usai.

Ya, di tingkat daerah kejuaraan sepakbola justru sedang hidup. Jangan dibayangkan akan kemegahan kompetisi ini. Jangan pula beranggapan bahwa ini merupakan liga profesional. Liga amatir yang di gelar di tingkat kabupaten / kota ini “hanya” kejuaraan kecil yang tak melibatkan banyak uang maupun pemain hebat. Ketimbang menghabiskan dana APBD seperti klub – klub “profesional”, setiap klub yang ambil bagian di kejuaraan daerah menopang pembiayaan secara swadaya dengan mengharap dana bantuan dari donatur orang kaya daerah, syukur – syukur dapat sponsor. Di sini saya hendak sedikit cerita soal liga amatir yang berlangsung di wilayah Kabupaten Semarang.

Kebetulan saya sendiri pernah ambil bagian dalam kejuaraan seperti ini tahun lalu. Kompetisi tersebut bertajuk “Liga Divisi I / II PSSI Kabupaten Semarang”. Tahun ini sebenarnya saya turut ambil bagian, tapi karena kesibukan belajar dan bekerja hanya sempat untuk ikut bertanding di pertandingan terakhir. Ya, pemain yang ikut kompetisi ini memang mayoritas memiliki pekerjaan lain dan menjadikan sepakbola sebagai pekerjaan kedua. Sulit untuk mengharapkan hasil secara materi dari kompetisi kelas amatir seperti ini. Bisa mengikuti sebuah kejuaraan resmi seperti ini saja sudah sangat membanggakan sekaligus memberikan kepuasan yang sangat bagi kami yang memang sudah terlanjur mencintai sepakbola.

Liga Divisi I/II PSSI Kabupaten Semarang ini bergulir sejak awal Juni lalu ketika liga nasional, seperti liga Super Indonesia maupun divisi utama sudah berakhir menjalankan roda kompetisinya. Waktu jeda kompetisi seperti ini yang dimanfaatkan dengan pertimbangan pengurus cabang PSSI maupun perangkat pertandingan seperti wasit dan inspektur pertandingan sedang tak memiliki agenda lain sehingga bisa fokus mengelola berjalannya liga internal semacam ini. Kejuaraan ini terbagi menjadi dua divisi, yaitu divisi satu dan dua. Untuk menghemat biaya masing – masing klub maka dipergunakan sistem setengah kompetisi di setiap divisinya dan dibagi ke dalam beberapa grup. Juara grup dan runner – up akan melaju ke babak berikutnya untuk saling berkompetisi memperebutkan gelar juara. Untuk empat tim terbaik dari divisi dua akan diganjar hadiah lolos ke divisi satu.

Kegiatan ini pendanaannya bersumber dari kas / anggaran PSSI Kabupaten Semarang dan dana sponsor. Masing – masing peserta juga dipungut biaya keikutsertaan. Uang tersebut dipergunakan untuk membiayai pelaksanaan pertandingan dan uang hadiah. Sedangkan pembiayaan dari klub seperti yang sudah disebutkan sebelumnya dana berasal dari swadaya. Selain itu juga ada dana dari sponsor, meski sangat jarang didapat. Jikapun dapat dana dari sponsor biasanya dalam bentuk pemberiaan kostum tim ataupun peralatan sepakbola lainnya. Tetapi sejauh ini lebih banyak uang yang masuk berupa donatur, karena kebanyakan enggan mencantumkan nama di media sponsor kami. Para donatur ini selalu bilang “ini sifatnya hanya bantuan saja untuk kegiatan positif seperti sepakbola”.

Ya, sejauh ini tak masalah, kami memang amatir tetapi kami selalu berusaha untuk profesional dengan mengakomodasi setiap keinginan sponsor, jadi ya ketika ada pihak yang bersedia menjadi sponsor kami siap membicarakan dengan mereka. Kami berusaha bertanggung jawab dan konsekuen dalam menjalin kerjasama. Kami pun siap meberikan kontraprestasi denang pihak sponsor. Misalnya, jika anda memberikan sumbangan berupa kostum tim maka nama perusahaannya / pihak sponsor berhak ditulis kostum tersebut dan lain sebagainya.

Kegiatan seperti ini sangat bagus dan bermanfaat bagi persepakbolaan tanah air. Kompetisi yang bergulir akan mampu menempa calon pemain yang bisa digunakan oleh klub profesional atau daerah yang cakupannya lebih besar. Perlu diketahui masing – masing tim yang ikut serta dalam kejuaraan ini diwajibkan memainkan setidaknya empat pemain berusia 21 tahun (tahun lalu saya menjadi pemain dengan kategori ini) dengan harapan akan memunculkan bakat – bakat daerah dan bisa dipergunakan sebagai pemain Persikas (Persatuan Sepakbola Kabupaten Semarang) yang mengikuti kompetisi di tingkat nasional. Sejauh ini langkah seperti itu cukup berhasil karena Persikas sendiri berkomitmen untuk memajukan sepakbola daerah, salah satunya dengan membuka kesempatan seluas – luasnya untuk para pemain putra daerah.

Disamping cerita itu, di sini saya juga ingin sharing hal – hal lain seputar sepakbola namun tidak soal teknis kejuaraan atau permainan sepakbola. Yang bagi saya masih menjadi kendala atau masalah adalah masih masuknya oknum pejabat publik di ranah sepakbola. PSSI cabang Kabupaten Semarang ini kini dipimpin oleh bapak Warnadi, beliau merupakan seorang wakil bupati Kabupaten Semarang. Bagi anda mungkin terdengar biasa dan lumrah di persepakbolaan nasional tetapi sebenarnya hal seperti tak bisa dibenarkan. Keterlibatan pejabat publik secara langsung akan membuat organisasi sepakbola terkesan sangat politis dan bisa memunculkan permasalahan di masa mendatang, seperti pendanaan yang bisa sewaktu – waktu tersendat karena hanya mengandalkan figur pejabat publik, kepengurusan tidak efektif karena adanya rangkap jabatan yang tidak memungkinkan fokus mengurusi sepakbola, dan berbagai permasalahan lainnya.

Mungkin hal seperti ini bisa diperhatikan oleh kepengurusan PSSI yang baru sehingga bisa dirumuskan solusi yang tepat karena saya yakin tak hanya di Kabupaten Semarang, di banyak daerah PSSI cabang juga dipolitisasi seperti ini.

Persoalan yang kedua lebih unik. Saya katakan unik karena ini menyangkut soal budaya masyarakat kita yang masih sangat amat mempercayai hal – hal yang berbau mistis atau klenik. Konon ada banyak tim yang mempergunakan jasa “orang pintar” untuk membantu tim mereka di kejuaraan daerah ini. Saya pernah sekali menonton pertandingan yang konon kabarnya salah satu tim ada yang mempergunakan cara seperti ini. Biasanya “orang pintar” ini adalah seorang sesepuh yang turut serta menjadi official tim atau berada di bangku penonton tepat di belakang tim yang dibantunya.

Ketika itu saya menyaksikan pertandingan Tempoe Doeloe FC vs Sumowono Putra. Nah, tim yang disebut kedua itulah yang katanya mempergunakan jasa klenik. Saya yang tak percaya kemudian diyakinkan seorang rekan yang menunjuk seorang kakek yang duduk tak jauh dari kami dan berada tepat di belakang bench tim yang dibantunya. Teman saya lalu berujar “perhatikan saja nanti kalau Tempoe Doeloe dapat peluang emas yang harusnya gol pasti akan kena tiang atau melenceng”. Saya tak terlalu percaya, tapi ya tetap mengiyakan perkataan teman saya karena dia memang mengikuti kejuaraan ini sedari awal.

Ini dia pemain ke-12 yang bertugas mengamankan gawang secara metafisik

Rasa ketidakpercayaan saya akhirnya dibayar tuntas di babak pertama, Tempoe Doeloe yang strikernya dua kali mendapat kesempatan emas dengan tinggal berhadapan dengan kiper gagal mencetak gol, dua – duanya terkena tiang gawang ! Entah benar karena si dukun atau tidak yang jelas apa yang dikatakan teman saya sungguh benar terjadi J. Dan denger – denger juga masih banyak cerita mistis semacam ini,

Di era globalisasi yang teknologi sudah berkembang sedemikian pesat masyarakat kita masih percaya hal semacam itu. Memang sih sudah menjadi budaya, jadi sulit menghilangkan. Tetapi bukankah kita harus terbuka untuk menerima masukan baru yang lebih baik ? Daripada mengandalkan jasa klenik lebih baik pembinaan pemain ditingkatkan dan pelatihan untuk pelatih diperbanyak. AC Milan punya Milan Lab yang bisa membuat pemain bermain hingga usia uzur atau Barcelona dengan La Masia kini sudah menjelama menjadi tim terkuat dunia. So, sebaiknya kita tinggalkan cara seperti ini.

Kalaupun benar jasa dukun dengan segala perklenikannya benar bisa membantu tim sepakbola menang, mengapa timnas kita tak pernah ke Piala Dunia ? Atau setidaknya bisa menang di Piala AFF lha, karena sekalipun kita belum pernah. Ya, semoga semuanya tersadarkan dan tak menggunakan cara – cara seperti ini lagi.

Beginilah sedikit cerita tentang sepakbola Indonesia yang tak pernah berhenti berdenyut. Cerita dari Kabupaten Semarang ini hanya sedikit cerita dari beragamnya kehidupan sepakbola nasional. Banyak hal yang terjadi di sini yang mungkin pula terjadi di daerah lain. Mari kita berbagi cerita tentang sepakbola Indonesia. Akhir kata, saya berharap acara – acara sepakbola seperti ini bisa memberikan nilai positif bagi perkembangan sepakbola tanah air.

*) Sirajudin Hasbi adalah penulis e-book Demokrasi Sepakbola yang bisa diunduh di sini

Spanduk tahun lalu masih terpasang (sekarang udah 2011 pak!)

 

“Ya, Bung. Kalau mau revolusi, banyak yang mundur. Tapi kalau sudah menang, banyak yang mau ikut.” – Sjam Kamaruzaman

Gerbong revolusi kerap kali ditemukan mengangkut kontainer yang berbeda dengan harapan ketika sampai ditujuan. Revolusi  sering kali hanya memindahkan mahkota dari satu kepala despot ke despot lainnya, layaknya menjatuhkan Tsar Nicholas untuk mengangkat Lenin lalu Stalin atau mendepak Shah Reza Pahlevi untuk merajakan Khomeini. Biasanya rakyat dituntut mafhum, yang melawan akan dilabeli “musuh revolusi”.

Sepakbola Indonesia baru saja melewati akhir dari sebuah rezim yang begitu lama mencokok PSSI. Revolusi, kata mereka. Ketua dan wakil ketua PSSI beserta 9 anggota Executive Committee telah terpilih dan di atas pundak merekalah kita menaruh segala harapan, termasuk angan-angan kembali jadi Macan Asia yang sering kali ketinggian.

Dengan terpilihnya para pengurus PSSI yang baru, maka lazim jika berbagai perubahan kebijakan drastis dilakukan termasuk penunjukan pelatih tim nasional yang baru meski harus ditelaah lebih lanjut apakah bijak melakukannya selang 10 hari dari pertandingan perdana.

Tapi tuan-tuan, apa yang harus kita awasi dengan seksama adalah segala kebijakan baru yang diambil harus dilandasi semangat perubahan ke arah sepakbola Indonesia yang lebih baik. Kita tak bisa lagi menolerir aksi-aksi pengayaan parsial rezim terdahulu yang terbukti memarjinalkan jutaan pendukung sepakbola Indonesia.

Banyak yang sudah dan akan tergilas dengan gerbong revolusi yang menolak berhenti sebelum sampai di tujuan. Pertanyaan untuk kita cermati, untuk benefit siapakah hal tersebut dilakukan. Jika untuk kepentingan nasional yang luas, biarkanlah hal itu terjadi, tapi jika untuk pemuasan nafsu personal, apa bedanya dengan rezim terdahulu, tuan?

Perubahan yang kita idam-idamkan hendaknya bukan berupa sekedar masturbasi jargon, rangkaian diskursus politik sepakbola, dan aksi massa yang dengan cepat terlupakan ketika singgasana telah tercapai.

Tidak, tuan-tuan, kita sudah cukup dizalimi dengan kesewenang-wenangan dan penonton sepakbola Indonesia berhak mendapat perlakuan yang lebih baik. Selagi anda merasakan hari-hari pertama empuknya tampuk kepemimpinan, kami setia menunggu perbaikan sepakbola nasional yang kita harapkan bersama.

Hendaknya kita terus menancapkan pandangan mata kita pada mereka di PSSI dan mengingatkan jika lupa, karena mudah untuk tak mengingat saat berada di atas angin.

Kita harus memastikan dengan betul bahwa revolusi sepakbola ini bukan sekedar memindahkan mahkota dari satu kepala despot ke kepala despot lainnya.

Saat ada permintaan bahwa sesi diskusi akan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya disusul dengan rangkaian lagu-lagu Pasoepati yang dipimpin oleh dirigen mas Gondrong, saya menyambutnya dengan mafhum. Tapi ketika di tengah-tengah acara diskusi diminta diskors sebentar agar audiens bisa bernyanyi lagi sambil berjoget, saya terkekeh, “Pasoepati edan tenan!”. Beberapa detik kemudian, saya tenggelam berjoget bersama teman-teman Pasoepati sambil menggerakkan tubuh yang kaku ini di area Taman Balekambang, Solo (12/6).

Saat hadirin menari, para pembicara menatap nanar layar Blackberry

Solo adalah kota kedua dalam rangkaian Diskusi Revolusi PSSI Untuk Sepakbola Bersih yang rencananya akan digelar di beberapa kota. Sebelumnya diskusi digelar di Semarang (5/6) dan akan ada beberapa kota lagi yang disasar. Terakhir Surabaya menghelat acara diskusi ini kemarin (16/6) di Monumen Kapal Selam. Reputasi Pasoepati sudah sering hinggap di telinga tapi selaku moderator diskusi, baru kali itu saya menyaksikan betapa mereka tahu benar cara bersenang-senang, seirama dengan slogan mereka, Edan Tapi Mapan.

Itu adalah kali pertama saya menjejakkan kaki di kota Solo dan hampir menyangka saya salah mendarat di Medan berkat agresivitas supir taksi yang mengantar dari Bandara Adisumarmo. Sumarno, nama supir taksi itu, akan membuat banyak pengemudi angkot dan Metromini di Jakarta terkesan.

B-A-L-E-K-A-M-B-A-N-G

Diskusi hari itu digelar di Taman Balekambang, tak jauh dari Stadion Manahan dan sebagai orang Jakarta, kota yang miskin akan lahan terbuka untuk publik, saya terkesan dengan suasana dan lanskap taman tersebut. Tak jauh dari pintu masuk ada panggung terbuka dengan band yang menghibur pengunjung pada hari libur itu – dan lagu pertama yang mereka mainkan, Hysteria-nya Muse. Orang-orang duduk bersila beralas tikar sambil menyantap makanan dan bersantai, anak-anak berlarian, muda-mudi berpacaran. Pemandangan yang menyejukkan. Kasihan jadi orang Jakarta memang.

Mereka-mereka yang menjadi pembicara diskusi hari itu adalah, mas Anwar dan mas Langgeng (Pasoepati), Akmal Marhali (setengah wartawan setengah komedian profesional), Apung Widadi (ICW), Andi Peci (KORUPSSI), dan tamu istimewa hari itu, legenda Arseto Solo dan Indonesia, Rochy Putiray.

Na na na na na...Rochy Putiray...Putiray....Rochy Putiray....

Sebagai orang yang tumbuh menyaksikan Rochy beraksi di lapangan hijau, sebuah kebanggaan bisa berbagi panggung bersama striker yang pernah 2 kali membobol gawang AC Milan saat berbaju Kitchee (Hongkong) dalam pertandingan ujicoba.

Rochy adalah Dennis Rodman sepakbola Indonesia dalam hal keeksentrikan. Hanya Tuhan dan ia sendiri yang tahu apa warna rambut Rochy setiap pertandingan. Ia juga salah satu pemain Indonesia pertama yang ditindik telinganya. Sekali waktu, telinganya pernah sobek karena tertarik pemain lawan saat pertandingan.

Dalam diskusi, Rochy ternyata salah satu pesepakbola Indonesia paling artikulatif yang pernah saya lihat. Ia berbicara banyak mengenai pengalamannya saat bermain dulu, termasuk tentang berbagai dugaan suap, pengaturan skor, dan berbagai kekejian sepakbola lainnya yang ia akui terjadi. Ia sendiri menolak ikut dalam skema kotor itu, tapi tak menyangkal bahwa hal-hal semacam itu lumrah.

Andi Peci, Mas Gondrong, Fat Bastard, Andreas Marbun

Dengan kecenderungan yang terlihat di awal dan tengah acara, tak mengagetkan bila diskusi diakhiri dengan sesi nyanyi-nyanyi bersama 2 biduan lokal diiringi organ tunggal dan gendang. Semua orang tenggelam dalam kegembiraan seiring lantunan lagu-lagu Pasoepati dinyanyikan. Mungkin Kongres PSSI nanti bisa menerapkan susunan acara yang sama. Sidang, dangdutan, sidang, dangdutan, sidang, ditutup dengan dangdutan. Agum, nyok kita ngibing!

Nyok!

Anda punya akun Twitter? Siapa yang anda promosikan lewat hashtag #FF (Follow Friday) hari ini? Saya menominasikan @TheReal_Abi_LPI untuk anda follow agar tahu apa yang boleh anda lakukan dan apa yang tidak boleh anda lakukan dalam corporate PR.

Anda tahu ada yang salah dalam strategi humas anda saat akun Twitter yang sejatinya diharapkan menjadi jembatan penghubung bagi LPI (Liga Primer Indonesia) dengan masyarakat malah membuat banyak orang marah. Seorang juru bicara (jubir) lazimnya adalah seseorang dengan kemampuan komunikasi diplomatis, yang menerima kritik dengan simpatik dan menyerang tanpa menyakiti. Tapi rupanya akun @TheReal_Abi_LPI menganut mazhab yang lain.

Kita tahu memang LPI didirikan dengan semangat pembaruan sepakbola Indonesia, salah satunya soal penghapusan ketergantungan dana APBD dalam pengelolaan klub sepakbola. Tapi menjadi konyol dan tidak bijak jika akun @TheReal_Abi_LPI berulang kali memprovokasi klub-klub ISL (Indonesian Super League) lewat ejekan-ejekan yang ia lontarkan terhadap klub-klub berbasis APBD. Akun @TheReal_Abi_LPI yakin sekali bahwa pelarangan APBD akan membuat LPI satu-satunya kompetisi liga yang bertahan di Indonesia. Kesimpulan yang prematur tentu saja.

Saya tidak tahu sudah berapa tahun @TheReal_Abi_LPI bergelut dalam dunia sepakbola sampai ia ditunjuk menjadi juru bicara, tapi dari berbagai kalimat tidak simpatik yang ia cetuskan di Twitter, nampak ia belum mengerti bahwa bagi suporter, klub adalah identitas yang akan dibela sampai mati. Oleh sebab itu berbagai provokasi yang ia lakukan, termasuk me-retweet kalimat yang ofensif, menjadikannya target kemarahan.

Bukannya tidak ada yang mencoba mengingatkan @TheReal_Abi_LPI soal pendekatan komunikasinya yang agresif itu, tapi nyatanya banyak yang mencoba berdiskusi dengannya malah berakhir dengan pemblokiran di Twitter, terlebih bila ia tidak lagi punya argumen untuk diberikan kepada lawan debatnya.

Saya percaya bahwa untuk menjadi menyenangkan di Twitter jauh lebih mudah daripada memberikan balasan provokatif yang ujung-ujungnya menjadi sasaran kemarahan. Maka pertanyaannya untuk apa @TheReal_Abi_LPI capek-capek melakukan gaya komunikasinya yang tidak simpatik itu?

LPI adalah kompetisi seumur jagung yang sedang dalam tahap mengenalkan diri. Ada banyak hal yang saya tidak sependapat dengan LPI, terlebih soal transparansi kepemilikan klub dan nama-nama di balik konsorsium pemodal kompetisi ini, tapi saya percaya penghapusan dana APBD dari sepakbola adalah hal yang harus didukung.

Dalam fase introduksi kepada masyarakat ini, menjadi aneh bagi LPI jika penghubung utama mereka kepada target pasar yang mereka sasar adalah @TheReal_Abi_LPI dengan segala agresivitasnya.

Bagaimana bisa LPI mengambil hati masyarakat Indonesia dan suporter sepakbola lainnya jika kesan yang ditampilkan @TheReal_Abi_LPI sebagai juru bicara adalah arogan dan pencibir?

Kenyataan bahwa dari semua akun Twitter punggawa teras LPI hanya akun @TheReal_Abi_LPI yang mencitrakan demikan menandakan bahwa arogansi sesungguhnya bukan esprit de corps dari kompetisi ini. Ironisnya, ia yang berpredikat sebagai juru bicara-lah yang memberikan kesan itu.

Semangat perubahan LPI direfleksikan dalam motto “Change The Game”, tapi belakangan banyak suara di Twitter yang menghendaki “Change The Jubir” karena ketidakpuasan akan gaya komunikasi si jubir. Sesungguhnya saya tidak melihat bahwa ia akan dimutasi dari posnya tersebut dalam waktu dekat, tapi setidaknya akan bermanfaat bila LPI menyisihkan dana konsorsiumnya yang katanya miliaran Rupiah itu untuk melakukan training pemakaian media sosial.

Bajingan kalian semua

Mengumpat kinerja wasit dan hakim garis adalah aktivitas rutin usai menonton tayangan sepakbola Indonesia, terlebih di layar kaca karena anda bisa melihat lebih jelas bagaimana payahnya performa mereka di lapangan. Selama ini saya selalu mengeluh melihat bagaimana bobroknya kinerja para pengadil di lapangan hijau, entah disengaja atau memang tidak adanya pemahaman yang baik akan peraturan sepakbola. Tapi hari ini saya benar-benar kesal performa wasit dan asistennya dengan gamblang terlihat merugikan klub yang saya dukung, PSMS Medan, yang berlaga melawan PSAP Sigli di babak 8 besar Divisi Utama.

Memang sudah jamak menyaksikan bagaimana lemahnya pemahaman para hakim garis Indonesia tentang peraturan offside, di mana bola tidak akan dianggap offside apabila pemain yang menerima bola berlari dari belakang garis pemain lawan meskipun ada rekan setimnya yang berada dalam posisi offside selama tidak mengganggu permainan. PSMS 2 kali divonis offside hari ini oleh hakim garis karena pemahamannya yang primitif akan peraturan tersebut.

Karena tidak ingin berburuk sangka, maka saya mengambil kesimpulan bahwa mayoritas hakim garis Indonesia tidak memiliki pengertian yang baik dan benar akan peraturan sepakbola sesungguhnya, khususnya offside. Para penonton awam yang hobi menonton sepakbola tentunya mafhum akan peraturan offside yang sudah dimodernisasi tersebut. Pertanyaannya, jika penonton awam saja tahu, mengapa hakim garis menjadi pengadil di lapangan hijau tidak tahu?

Juga menjadi perhatian adalah kinerja wasit Iis Isya Permana yang menjadi juru adil di lapangan pada pertandingan hari ini. Ia memberikan kartu merah kepada bek PSMS, Vagner Luis yang dituduh dengan sengaja melayangkan tinju kepada penyerang PSAP yang saya lupa namanya.

Dalam tayangan ulang terlihat bahwa Vagner hanya berusaha melepaskan diri dari jepitan pemain PSAP tersebut dan gerakan tangannya tidak bermaksud menyerang, hanya gerakan membebaskan diri. Yang lebih konyol, wajah penyerang PSAP tersebut sama sekali tidak terkena langsung “pukulan” Vagner, tapi ia jatuh mengerang memegangi wajah dan Iis Permana memberi kartu merah.

Dengan dasar yang sama pula, Iis Permana memberikan kartu kuning kedua kepada pemain PSAP, Fery Komel karena terlihat menyikut. Saya tidak tahu dengan anda, tapi jika saya yang jadi wasit, saya tidak akan memberi kartu merah kepada pemain PSAP tersebut. Terlalu ringan dan cukup dengan peringatan saja. Kedua tim tidak harus menerima kartu merah.

Keanehan berikutnya adalah perihal waktu injury time yang diberikan Iis Permana di penghujung babak kedua. Ada 2 kartu merah yang dikeluarkan di babak kedua dan berbagai pelanggaran yang memakan waktu, tapi Iis Permana hanya memberikan injury time 1 menit! Yang lebih ajaib lagi, Iis Permana menyudahi pertandingan saat injury time baru memasuki 50 detik dengan kondisi PSMS sedang menyerang dan bola hampir masuk di kotak penalti lawan!

Entah penjelasan apa yang logis terhadap tingkah wasit Iis Permana ini tapi saya barusan mengoprek beberapa arsip mengenai kinerja wasit ini di masa lampau dan tebak apa yang saya temukan.

Pada hari Sabtu 9 Oktober 2010, Iis Permana menjadi wasit pada pertandingan Persema Malang melawan Persibo Bojonegoro. Ia memberikan waktu 3 menit injury time dan ia menghadiahkan penalti kepada Persema saat waktu pertandingan menunjukkan 93:21!

Seusai pertandingan, pelatih Persibo Sartono Anwar murka dan mengatakan bahwa sebelum pertandingan ia menerima SMS yang menawarkan “bantuan” dari wasit. Karena ingin main fair dan tidak punya uang, ia tidak menerima tawaran tersebut. Setelah pertandingan yang hasilnya terkesan dipaksakan itu, wajar bila Sartono marah. Wasit Iis Permana dan kedua hakim garis pun dipanggil untuk diperiksa PSSI meski mungkin mereka hanya kongkow sambil makan gorengan bersama petinggi PSSI saat pemeriksaan.

Tingkah lain dari Wasit Iis Permana yang berhasil saya temukan adalah saat Bontang FC bertamu ke Sidoarjo melawan Deltras. Tim tuan rumah mendapat penalti pada menit 60 hanya karena Marcio Souza disenggol sedikit di dalam kotak penalti. Bodycheck biasa, bukan pelanggaran keras.

Manajer Bontang FC, Andi Satriya Adi Saputra geram dan mengatakan, ”Timnas Spanyol saja, asal wasit itu yang pimpin, ya menang Deltras.”

Pelatih Bontang FC, Fachry Husaini tak kalah kesal dan menggerutu, ” Sebelum laga wasit selalu bilang fair play, tapi wasit jangan fair play untuk tuan rumah saja. Sepakbola itu olahraga laki-laki, masa sedikit adu badan sudah free kick”

”Tadi, semua doa sudah saya ucapkan. Hanya satu yang tidak saya ucapkan, Wasit tersambar petir,” sambung Fachry.

Dengan sejarah seperti itu, kita dapat mafhum dengan keanehan wasit Iis Permana dalam pertandingan PSMS melawan PSAP Sigli hari ini. Mungkin memang ada pihak yang diuntungkan apabila PSMS tidak memperoleh kemenangan hari ini, oleh karena itu, injury time dibatasi 1 menit dan pertandingan disudahi pada detik ke-50 tepat saat Ayam Kinantan sedang menyerang.

Saat PSMS berlaga melawan tuan rumah Mitra Kukar hari Minggu nanti, mungkin saya tidak usah kaget dengan apa yang akan terjadi di lapangan.

Pangeran Siahaan

Sejak saya follow akun Twitter milik juru bicara Liga Primer Indonesia (LPI), Abi Hasantoso, sepertinya saya mendapat kesan yang salah mengenai liga profesional yang belum setahun berdiri itu. Karena selama ini tidak pernah tertarik untuk menonton pertandingan LPI di televisi, maka saya memutuskan untuk mencicipi langsung atmosfernya di Stadion Lebak Bulus kala Jakarta FC menjamu Persema Malang.

Saya sempat berpikir akan memarkir mobil di hipermarket seberang stadion sebelum ingat bahwa pertandingan LPI tidak akan mengundang animo massa sebesar pertandingan ISL. Maka tidak ada masalah untuk parkir di dalam area stadion. Memang terbukti sampai akhir pertandingan pun jalan keluar dari stadion sangat lengang.

Selembar uang lima puluh ribu saya tukar dengan tiket VIP (Gold Ticket, menurut istilah LPI) yang membawa saya masuk ke tribun tengah. Saya kira saya akan berbagi tribun dengan Jennifer Kurniawan dan deretan kembang stadion lainnya, tapi rupanya mereka ada di tribun VVIP, terpisahkan sekat dengan kami.

Anda bisa mendengar suara jarum jatuh.....

Tiger Ghoster, suporter loyal Jakarta FC

Bagi saya yang selalu menonton pertandingan sepakbola Indonesia yang riuh rendah dan sarat penonton, aneh rasanya berada dalam stadion yang minim penonton. Tribun kelas 1 terisi setengah, sedang tribun belakang gawang dihuni oleh suporter Jakarta FC yang menamakan dirinya Tiger Ghoster (Hantu harimau?). Tapi tribun VIP terisi penuh, rata-rata yang hadir adalah keluarga lengkap dengan anak-anak.

Sehari sebelum pertandingan Zen mengatakan bahwa atmosfer pertandingan LPI adalah pertandingan keluarga dan saya menemui hal itu benar adanya. Tidak ada potensi kekerasan suporter, tidak ada nyanyian dan seruan kasar, tidak ada lemparan botol, semua hadir untuk menonton sepakbola dan hanya itu. Maka orangtua bisa mengajak anak-anaknya untuk menyaksikan Irfan Bachdim, sang idola, dari dekat.

Sejak LPI pertama kali bergulir, hal pertama yang selalu ingin saya tanyakan kepada mereka adalah bagaimana strategi mereka untuk merebut hati suporter sepakbola Indonesia yang sudah memiliki tim sendiri, karena sebagus apa pun liga tidak berarti tanpa kehadiran penonton di stadion. Pertanyaan itu belum terjawab sampai sekarang, tapi dengan penuhnya tribun VIP dengan harga tiket yang lebih mahal dari yang biasa dibayar suporter, rasanya LPI harus lebih serius lagi menggarap segmen potensial mereka, golongan menengah dan keluarga.

Mbak, mbak, boleh minta foto gak?

Halo pak, jangan cemas gitu dong. Ada 78 pemilik suara kongres yang siap pasang badan untuk anda

Jakarta FC? Persema Malang? Orang ini Persija sampai mati

Suasana ”kekeluargaan” memang kental terasa pada partai hari itu. Para remaja perempuan dengan histeris meneriakkan nama Irfan Bachdim setiap bekas pemain FC Utrecht itu memegang bola. Anak-anak duduk manis di depan orangtuanya. Saat turun minum, para penonton menyerbu Jennifer Kurniawan untuk foto bersama. Bahkan polisi pun duduk santai di kursi sambil menghadap lapangan, tidak ada tensi dan ketegangan sama sekali.

Ekspektasi saya terhadap level kualitas permainan tidak muluk-muluk, jadi saya tidak begitu kecewa saat menyaksikan bagaimana permainan Jakarta FC. Bagaimana pun mereka adalah klub yang baru berdiri dan separuh dari anggota legiunnya baru jadi pemain profesional, kebanyakan anggota Angkatan Udara. Yang cukup mengganggu adalah bagaimana Persema bermain. Pemuncak klasemen adalah tim terbaik sebuah liga dan jelas bahwa masih banyak hal yang bisa ditingkatkan LPI dari sisi teknis.

Kiper Jakarta FC, Rahmat Nofri, bermain gemilang sepanjang pertandingan dengan beberapa kali melakukan penyelamatan spektakuler yang membuat frustrasi para pemain Persema. Seorang teman mengatakan bahwa sesungguhnya Rahmat adalah kiper cadangan karena kiper utama Jakarta FC kabur dari tim (Kabur?!).

Persema akhirnya memecahkan kebuntuan setelah striker asal Korea Selatan, Han Sang Min, memecah kebuntuan sesaat sebelum waktu normal habis. Bachdimania pun tidak merasa rugi telah membayar mahal tiket.

Penyelamat Persema dan Bachdimania

Bekas penyerang Persija, Emmanuel de Porras, hampir menyamakan kedudukan di injury time setelah tendangan jarak jauh dengan sisi kaki sebelah luar menaklukkan kiper Persema, sayang tendangannya hanya membentur mistar.

Satu pemain Jakarta FC mencuri perhatian saya, Salim Ohorella yang bernomor punggung 11. Ia bermain sebagai bek kiri sore itu, tapi dengan modal dribble dan akselerasi ciamik, beberapa kali ia menerobos hingga kotak penalti lawan. Jika saya seorang pencari bakat, maka Salim Ohorella akan dapat rekomendasi top dari saya.

Absennya atmosfer pertandingan yang gegap gempita karena suporter cukup mengganggu saya karena itu adalah alasan utama saya menonton sepakbola Indonesia. Tapi, apakah saya akan menonton lagi pertandingan LPI? Tentu saja. Ada faktor kenyamanan dan nuansa ”kekeluargaan” yang ingin saya cicipi lagi saat menonton sepakbola. Tapi jika saya ingin memacu adrenalin dan menggidik bulu kuduk, maka saya akan menonton ISL.

Pangeran Siahaan

Kerumunan orang ini bukan lagi kebelet, mereka sedang menunggu Irfan Bachdim keluar dari ruang ganti

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.