Feeds:
Posts
Comments

Here’s my entry for Standard Chartered 90 Seconds to Anfield competition.

90 Seconds to Anfield

In the world of uncertain things where new stuff pop out every day, i always think history is the best tool to distinguish the pretenders from the real deals. I can always rely on history to take a look at one’s pedigree. It’s true that we live in the present, but what happens now is the reflection of what already happened in the past. The journey of one entity through time is an invaluable proof of steadiness. You can’t really argue with history.

Standard Chartered Bank has years of history as proof of its proud existence. It was formed in 1969 through the merger of two separate banks, The Standard Bank of British South Africa and The Chartered Bank of India, Australia, China. Both banks had operated for more than 100 years, capitalising on the world’s fastest-growing markets  since the turn of the century. When these banks merged in the middle of 20th century, it resulted in what presently know as one of the leading banks and financial services in the world. Standard Chartered Bank has seen its business expanded and these days aim to lead the market in the hot bed of current economy: Asia, Africa, and the Middle East.

As a global company, Standard Chartered Bank believes that business should makes positive impact on the communities and surroundings where they operate.To achieve this objective, Standard Chartered Bank sponsors inspirational persons, events, and projects anywhere in the world.

One of the entities that is being sponsored by Standard Chartered Bank is Liverpool FC. Standard Chartered Bank has been sponsoring Liverpool FC for 2,5 years and only a few eyebrows would raised upon this fact. Both Standard Chartered Bank and Liverpool FC share similarities in history as their previous track records have proven. Liverpool FC has won 18 English league titles and the proud owner of 5 European Cups, a continental achievement that hasnt been equaled by any other English club and prompts the Liverpool faithfuls to utter their famous “5 Times” phrase.

Standard Chartered Bank and Liverpool FC know that the fans is an inseparable element of a football club. Without the fans, the football club will not exist. To highlight their passion and commitment to football, Standard Chartered Bank launched a rewarding competition called “90 Seconds to Anfield”.

By participating in 90 Seconds to Anfield, you will stand a chance to go to Anfield and watch Liverpool FC play live next season with all expenses paid. Sounds like a mouth-watering deal, doesnt it?

What you need to do to participate is quite simple. You only need to create a 90-second video showing your passion for football. It doesnt have to be precisely 90 seconds, less is okay, but make sure what you show on video is just as crazy as your usual Saturday nights. Passion is the keyword here.

The competition will be run from April 5th through a Facebook app named “90 Seconds to Anfield”. You have to upload your video through this Facebook app and share it with your friends to get votes. The top 20 videos will be shortlisted and sent to the judging panel who will pick the most passionate fan to watch Liverpool FC live in Anfield next season!

What are you waiting for? Prepare your camera and start drawing your plan. Come the 5th of April, you’re only 90 seconds away from watching Liverpool live in Anfield.

Sponsored Post

….since our last published post and our football is barely different than the last time we checked. Indonesians must have been doomed to some kind of eternal purgatory that makes our football suffers such predicament.

I’ve been busy the past year developing new ventures elsewhere as well as managing my columns in various media outlets, but lately i’ve realized that this neglected project, that had been around for quite a long time, should be revived.

In this time of troubles and uncertainties, we have more tons of information to share to the outer world than ever.

As i’m committed to other jobs, i cant do this by myself. Hereby i announce that if you can write in English and into local football,  i’d be more than happy to have you on board. You may click the About page to find the address and send me an email so i can have you shortlisted.

Together we can do this. The place is here and the time is now.

Pangeran

Setelah lama ditunggu, akhirnya bayi podcast Indonesian Football Diary ini lahir juga dengan susah payah. Edisi perdana podcast ini mengambil topik soal situasi umum sepakbola Indonesia dewasa ini dengan narasumber: Wolga Setyanto dari @gilasepakbola, Aditya Nugroho (@aditchenko), dan Aleh Assegaf (@aleh21)

Sebagai edisi perdana, podcast yang satu ini lebih mirip bahan lawakan sebenarnya. Bagaimana tidak, host talkshownya saja tidak sadar di mana posisi kamera utama. Dasar amatir.

Sebenarnya podcast perdana ini terdiri dari 3 part yang tadinya hendak dibundel jadi 1, tapi berhubung kendala teknis, terpaksa dipecah menjadi 3 bagian terpisah yang akan diupload bergantian. Maklum, produksi gerilya.

Podcast ini gue produksi sendiri dengan bantuan Shani Budi Scorsese dari SaveAs TV.

Selamat menonton, menyimak, dan tertawa. Mudah-mudahan di edisi yang kemudian, presenternya sudah tahu posisi kamera di mana.

Setelah sekian lama tidak ada entri baru di blog berdebu ini, Aditya Nugroho dari Football Junkie menuntaskan kerinduan anda

Playmaker. Trequartista. Fantasista. Atau apapun sebutannya dalam sepakbola adalah seorang pemain yang memiliki karakteristik spesial. Spesial karena lewat pemain di posisi inilah sering kali permainan sebuah tim bergantung. Pemain ini menghubungkan lini depan dan belakang, biasanya bernomor punggung 10, memiliki visi yang jelas dalam permainan dan utamanya adalah mempraktekkan strategi pelatih kedalam lapangan. Pemain seperti Johan Cruyff, Zinedine Zidane maupun Maradona seringkali sendirian menentukan hasil pertandingan timnya. Pemain ini adalah roh dari tim, pemain ini adalah strategi dari tim itu sendiri. Itulah playmaker pada tingkat tertingginya.

Ada juga pemain yang menentukan alur permainan tim. Bermain cepat, lambat, direct maupun dari kaki ke kaki layaknya seorang dirigen dalam simfoni musik. Andrea Pirlo, Xavi Hernandez, Xabi Alonso adalah contoh dari sedikit pemain tersebut. Bahkan ada sebutan lazy wizard, sebutan untuk seorang pengatur serangan yang malas berlari tapi punya skill luar biasa seperti Juan Roman Riquelme ataupun almarhum Socrates.

Di Indonesia, pemain dengan posisi dan peran seperti maestro diatas sebenarnya cukup banyak dihasilkan pada tahun 80-90an, hanya dengan tingkatan prestasi dan kebintangan yang berbeda dari playmaker-playmaker dunia tersebut. Terhitung Yoesoef Bachtiar, Fachry Husaini, Ansyari Lubis, Francis Wewengkang hingga Eduard Ivakdalam. Mereka adalah pengatur permainan papan atas Indonesia pada masa jayanya.

Tetapi dalam 10 tahun terakhir ini, pemain Indonesia berkarakter demikian sangat langka. Tercatat hanya Firman Utina, Ahmad Bustomi dan kini Egi Melgiansyah saja yang memiliki kemampuan mengatur permainan. Mantan pelatih Alfred Riedl bukannya tidak menyadari permasalahan ini. Dia mengeluhkan terbatasnya pemain lokal berposisi playmaker di kompetisi Liga Indonesia.

Anehnya, ini adalah fenomena yang mulai terjadi sejak kepemimpinan rezim sebelum sekarang. Posisi pemain-pemain ini di klub Liga Indonesia sudah nyaman diduduki pemain-pemain asing. Zah Rahan, Danilo Fernando, Ronald Fagundez, Milijan Radovic sampai Robertino Pugliara semuanya bukan pemain lokal. Gelandang-gelandang lokal kebanyakan berposisi sebagai gelandang bertahan yang berkarakter keras, bukan karakter flamboyan, karena memang posisi pengatur permainan seolah sudah dipatenkan untuk pemain asing. Ada juga pendapat kerasnya permainan di Indonesia juga menjadi faktor terkikisnya peran seorang fantasista. Keras karena karakter atau keras karena wasit sering membiarkan pelanggaran berbahaya terjadi tanpa dihukum? Tanya kenapa.

Seperti apapun strategi tim, dan se-rigid apapun formasi sebuah tim, peranan playmaker tetaplah penting. Manchester United walaupun terkenal memberikan nomor 10nya kepada striker utama, tetap merindukan Paul Scholes yang memiliki kemampuan memegang kendali permainan. Seperti halnya Jerman yang mampu memaksimalkan Bastian Schweinsteiger dan Mesut Ozil di akhir era Michael Ballack.

Untuk itu semoga klub-klub Indonesia, khususnya ISL berani memberikan kepercayaan posisi strategis ini kepada pemain lokal. Hanya Firman, Bustomi dan Egi sebagai output dari kompetisi dalam bentuk playmaker bukanlah hal baik bagi persepakbolaan Indonesia, khususnya tim nasional. Kita butuh playmaker lokal berkualitas internasional. Malaysia sekarang punya Baddrol dan Safiq. Indonesia tentu butuh sesosok playmaker yang bisa bermain di wilayah setengah lapangan lawan, sehingga serangan tidak melulu melalui long-pass dari full-back ataupun gelandang bertahan, serta tidak sporadis mengandalkan kecepatan lari striker. Permainan seperti itu jelas sudah usang, dan pastinya tidak menarik dan terbaca lawan.

Pemain tidak bisa disalahkan, karena timnas yang kita saksikan adalah produk dari kompetisi. Apa yang kita saksikan bersama adalah cerminan kompetisi kita. Permainan keras, tekel berbahaya, umpan lambung, serangan sporadis, mental labil adalah pemandangan yang akan kita tetap saksikan, dan kekalahan akan tetap kita akrabi. Kata-kata pelipur lara akan terus jadi sahabat kita, dan adik-adik kita penggemar sepakbola dan calon penerus penghuni timnas hanya akan bisa mendengar cerita pedih kekalahan senior-seniornya. Jika ingin melihat pemain dengan visi sebaik Paul Scholes, umpan seakurat Andrea Pirlo dan daya jelajah sejauh Ramires dan punya prestasi secemerlang mereka, atau perkembangan sepesat timnas Jepang, kita harus merubah semuanya. Merubah sikap dan pendekatan, dimulai dari merubah kompetisi.

“Indonesia masih bisa lolos ke Piala Dunia 2014!”, “Indonesia bebas korupsi tahun depan!” “Singapura membekukan aset koruptor Indonesia”, “Syahrini berhenti memakai make-up”. Minuman apa pun yang anda pesan, saya mau segelas juga.

Kita kalah postur! Dari zaman ompung saya masih menerabas hutan Tarutung sampai sekarang, tinggi badan rata-rata orang Indonesia tidak pernah berubah, demikian juga dengan tinggi rata-rata pemain tim nasional kita. Maka alangkah tidak bijaknya menyalahkan postur badan ketika Javad Nekounam sukses dua kali menyundul bola yang merobek jala Markus Horison kemarin.

Markus sebenarnya bermain baik, terlebih di babak pertama saat berulang kali ia menyerobot umpan-umpan silang Iran yang tahu benar bahwa lawan mereka tidak diberkahi dengan postur menjulang.

Untuk tim sedominan Iran, sebenarnya mereka cukup cemen karena kurang garang di dalam kotak penalti. Di babak pertama, strategi offside Indonesia sukses berulang kali menjebak Iran, kecuali satu kali saat Zulkifli Syukur tertinggal di belakang layaknya pemudik yang ketinggalan kereta sapu jagat. Dari 4 pemain bertahan Indonesia, Zulkifli rasanya yang paling mengkhawatirkan semalam. Terlihat grogi saat kehilangan bola, tak heran Iran berulang kali menyerang lewat sisi kanan pertahanan Indonesia.

Kita memang kalah postur, tapi daripada mengutuk tinggi badan pemain kita yang pas-pasan, bukankah lebih baik mencari cara untuk mengatasi kekurangan itu? Tadinya saya mengharapkan Indonesia akan bermain taktis dengan bola pendek sebagai kompensasi tinggi badan, tapi para gelandang Indonesia kerap kalah bertarung di tengah sehingga lebih suka mengirim bola langsung ke depan.

Strategi route one macam itu sebenarnya tidak sepenuhnya inefektif karena Cristian Gonzales mempunyai kemampuan menjaga bola yang tidak dimiliki striker Indonesia lainnya. Gonzales juga yang set-up satu-satunya peluang Indonesia di babak pertama saat ia menyodorkan bola kepada Bambang Pamungkas yang tendangannya sayang masih melambung.

Tanpa adanya Boaz Solossa, Indonesia kehilangan variasi serangan. Apalagi Firman Utina sebagai dirigen gagal bersinar karena pressing ketat dari Iran. Dari kedua sayap Indonesia, M. Ilham terlihat lebih menjanjikan saat penetrasinya di kanan beberapa kali merepotkan bek lawan. Tapi capek-capek melewati bek lawan akan sia-sia jika keputusan terakhirnya adalah melepaskan umpan lambung ke kotak penalti yang dengan senang hati dihalau oleh bek-bek Iran.

Dua kali kebobolan lewat set-piece di babak kedua, postur badan tidak sepenuhnya bisa dijadikan kambing hitam, terlebih gol kedua. Aturan elementer bertahan dari bola mati adalah pilih pemain mana yang akan dijaga dan tempel terus kemana ia bergerak seperti Ashanty menempel Anang. Nyatanya, Nekounam bisa bergerak bebas dan menyundul bola tak terkawal.

Pelatih Wim Rijsbergen mencoba mengorek asa dengan memasukkan Irfan Bachdim di babak kedua, tapi yang membingungkan, ia menarik M Ilham yang cemerlang untuk memberi tempat bagi Tendangan Dari Langit. Butuh 80 menit bagi Rijsbergen untuk meyakini bahwa sudah saatnya Firman Utina diganti dengan Oktovianus Maniani. Saya pikir Okto bisa dimasukkan lebih cepat usai ketinggalan karena toh lini serang kita tak jalan.

Kredit patut diberikan pada Bambang Pamungkas dan Cristian Gonzales yang berulang kali terlihat ingin memainkan bola pendek satu-dua sentuhan walau berulang kali juga gagal. Ini jauh terlihat lebih masuk akal dibanding deretan umpan lambung yang sia-sia ke kotak penalti.

Ketiga lawan Indonesia di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia ini semuanya dari jazirah Arab dengan postur yang superior. Apakah kita harus berserah pada kenyataan fisiologis yang menyebabkan sehari sebelum pertandingan para wartawan sepakbola diyakini telah menulis template artikel, “Kita kalah postur dari <masukkan nama tim lawan di sini>”.

Kita adalah negara yang gemar membajak, dari zaman kartu telepon magnetik, DVD hingga jailbreak iPad. Orang Indonesia selalu menemukan celah untuk menembus proteksi/regulasi apa pun yang dirasa membatasi. Tugas Wim Rijsbergen (dan siapa pun pelatih tim nasional) adalah menemukan cara untuk “membajak” tinggi badan. Postur lawan selalu menyulitkan kita. Mencari cara untuk mengakali keterbatasan lebih berguna dibanding menyerah pada takdir tinggi badan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 32 other followers